
Tahun penuh kejutan pada 2017 di Indonesia.
Keluarga Clair. Keluarga idaman banyak manusia. Kehangatan, keramahan, dan kesederhaan tercipta utuh disana.
Tinggal di rumah dengan lahan 90 meter persegi yang berisikan 5 anggota keluarga. Nenek Clair, Tuan Clair, Nyonya Clair, Aleesha, dan Hans.
Kurang 1, Kakek Clair, tetapi ia telah kembali kepada Sang Pencipta, tepat lahirnya Aleesha ke dunia.
Meski begitu, kebahagiaan tetap terpancar pada mereka. Dengan keadaan serba cukup, Tuan Clair bekerja sebagai dosen di Universitas Negeri dan Nyonya Clair membuka klinik di rumahnya.
Seharusnya mereka bisa kaya, karena pekerjaan mereka yang cukup menjanjikan, tetapi rata-rata keuntungan yang dihasilkan diberikan 65 persen bagi orang yang membutuhkan.
Alias mereka menggantungkan hidup dari 35 persen keuntungan tersebut.
Angka terlalu besar memang untuk berbagi. Tapi keyakinan bahwa 'jangan takut untuk berbagi' mengakar dan turun temurun di keluarga Clair.
Apalagi, semenjak Kakek Clair tiada, keuntungan makin disisihkan untuk berbagi. Nenek Clair berpesan agar kehidupan Kakek Clair makin lancar di alam selanjutnya. Selain itu, kebaikan tidak boleh berhenti. Harus terus berjalan.
Jika tidak, dunia akan begitu kejam.
"Bu, aku buatkan sarapan telur orak-arik dengan sambal bawang kesukaan Nenek"
Nyonya Clair mengelus rambut cokelat tua—lebih mirip cokelat ala bule, dengan lembut dan berkata, "Terima kasih ya anak baik. Jangan lupa kamu harus mengurus visa ke Singapura, kantor imigrasi mempunyai jadwal yanh padat. Kalau kesiangan takut tidak dapat giliran"
Aleesha mengangguk paham. "Baik Bu, setelah ini aku akan pergi kesana"
"Perlu diantar?" Tawar Tuan Clair. Dia tengah menuruni tangga, bersiap untuk mengajar.
Gadis manis dengan wajah perpaduan itu tertawa kecil. "Tidak perlu Ayah. Bukannya Ayah sendiri yang mengatakan sudah telat?"
Tuan Clair memukul wajahnya pelan, senang menjaili gadis remajanya yang tengah beranjak dewasa. "Oh iya, Ayah sampai lupa. Terima kasih anak baik sudah mengingatkan"
"Sama-sama Tuan Clair yang tampan dan rupawan" Balas Aleesha yang membuat seisi rumah mendadak pecah.
Tawa menggema di seluruh ruangan dengan cepat. Kehangatan makin tercipta di tengah mereka. Ah, sungguh indahnya.
"Kak, kamu menggunakan sepatuku tidak bilang-bilang ya? Hari ini mau digunakan ke sekolah. Tapi sekarang kotor, seharusnya kamu tuh..."
"Hans.." Nyonya Clair menegur puteranya lembut. "Kakakmu memang salah tapi sebaiknya tidak menggunakan nada keras seperti itu. Siapapun yang mendengarnya akan tidak nyaman, betul tidak?"
Hans mengangguk, menunduk, ia mengaku salah. "Maafkan aku Bu, maafkan aku Kak. Aku hanya ingin bilang tolong beritahu dulu kalau mau digunakan, sekarang sepatuku kotor dan tidak tahu harus menggunakan yang mana lagi"
Mata cokelat muda itu terlihat panik. Dengan segera ia berlari ke luar, ke arah rak sepatu, untuk mengecek kondisi. Ah, ternyata benar. Sepatu milik Hans kotor.
Sementara ukuran sepatu milknya tidak sesuai dengan milik Hans. "Maafkan aku Hans, aku harus berbuat apa biar kamu mau memaafkan Kakak?" Tanya Aleesha lembut. Hatinya merasa tak enak.
Hans terdiam, ia juga bingung apa yang seharusnya dilakukan. "Ehm, baiklah aku maafkan. Mungkin tolong bantuku untuk membersihkan sepatu dengan tisu basah. Karena sebentar lagi harus berangkat"
"Tidak perlu, Ayah ada sepatu. Bisa Hans gunakan dulu. Kalau sedikit kebesaran bisa disiasati dengan menggunakan kaos kaki yang lebih tebal. Maaf ya belum bisa memenuhi kebutuhan Hans, nanti kalau ada rezeki lebih ya"
Hans dan Aleesha saling tertegun. Begitu beruntungnya mempunyai Ayah luar biasa seperti Tuan Clair. "Terima kasih Ayah, Ayah memang luar biasa"
"Sama-sama. Ayah juga beruntung punya anak hebat seperti kalian"
__ADS_1
"Kalau mempunyai nenek seperti aku, beruntung ngga?" Sahut Nenek Clair. Spontan Aleesha dan Hans langsung melepas pelukan dan berjalan ke arah nenek Clair yang secara fisik masih jauh dibilang seorang nenek. Berkat makanan sehat, pikiran positif, dan rutin beribadah membuat Nenek Clair sungguh sehat.
"Nenek!" Hans dan Aleesha memeluk Nenek Clair.
"Aduh cucuk-cucuk ku sudah tumbuh besar. Jangan-jangan Aleesha mau dilamar nih. Terus Hans juga sudah naksir wanita ya?"
"Nenek, aku masih berusia 18 tahun. Masih banyak mimpi yang hendak ku kejar. Aku juga baru lulus pengumuman kuliah jurusan Administrasi Publik di Singapura. Selain itu, berteman dengan banyak pria masih lebih mengasyikan dibandingkan harus menjalani hubungan"
"Aku juga masih mau fokus dengan mimpi-mimpiku dulu Nek, masih banyak hal yang harus aku lakukan" Timpal Hans.
Nenek Clair mengangguk. Ia menghargai keputusan kedua cucuknya. "Baiklah kalau begitu. Oh ya, Aleesha kamu harus segera ke kantor imigrasi dan Hans harus segera berangkat sekolah?"
"Iya Nek, baiklah aku berangkat dulu. Doakan lancar. Wassalamu'alaikum"
"Aamiin, doa baik selalu menyertaimu Insya Allah. Wa'alaikumussalam juga anak baik"
🌼🌼🌼
Aleesha akhirnya berangkat ke kantor imigrasi. Kata Nyonya Clair, lebih pagi lebih baik. Kantor imigrasi buka jam 8 pagi dan ia telah berangkat dari jam setengah 7 pagi.
Untuk menghindari macet Jakarta yang sungguh sesak di pagi hari akibat jalanan dipenuhi aktivitas orang bekerja.
"Bagaimana bisa?" Aleesha sangat terkejut mendapati kantor imigrasi sudah ramai padahal jam masih menunjukan pukul 7 pagi.
"Ngga papa Sha, pasti dapat kok. Kalau sudah diatur hari ini kamu berhasil maka kamu akan berhasil. Yuk semangat!" Aleesha memberi afeksi pada dirinya sendiri.
Akhirnya Aleesha bergabung dengan antrian para masyarakat lain yang sudah menunggu. Namun, sayang, masih ada oknum yang tidak bertanggung jawab. Asal mengambil antrian sembarangan.
Seharusnya mereka berdiri di barisan yang sesuai. Aleesha beberapa kali harus mengelus dada. Menanyakan dalam diri mengapa mereka bisa melakukan itu. Hitung-hitung mengasah pikiran kritisnya mengingat jurusan yang akan dia masuki berkutat seputar 'bagaimana mengelola kebijakan yang efektif dan efisien'.
"Oke, beasiswa aman, visa aman, sekarang tinggal mengurus dorm saja"
Dorm atau asrama adalah salah satu komponen penting yang tak boleh dilupakan. Sebenarnya urusan asrama sudah termasuk ke dalam daftar beasiswa, tetapi pihak beasiswa memberikan keleluasan bagi peserta penerima beasiswa agar bisa memilih mau tipe kamar apa yang diinginkan dan dimana letaknya agar bisa menyesuaikan dengan kebutuhan.
Maklum, gedung terdapat 10 lantai dan lift hanya sampai lantai 7. Sementara tiap mahasiswa memiliki kondisi tubuh masing-masing. Mahasiswa yang mudah kelelahan tentu tidak akan mendapatkan di lantai 10 dengan posisi kamar paling pojok.
Karena itu adalah posisi yang paling menyulitkan.
Dan Aleesha beruntung karena ia dapat memilih itu. Bukan Aleesha mudah kelelahan hanya saja dia berniat untuk part time selama di Singapura. Kalau letak kamarnya di lantai 10 maka setiap hari dia harus menaiki 3 lantai lagi setelah lift berhenti di lantai 7.
Dijalani satu atau dua kali mungkin belum berasa, tetapi jika berkali-kali tentu akan sedikit merepotkan.
Selagi bisa mendapatkan kesempatan itu, Aleesha akan mencoba menggunakannya dengan sebaik mungkin.
Namun, sebelum semua itu dilakukan, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Ibu?" Aleesha nampak bingung. Ada apa Nyonya Clair menelfonnya?
"Assalamu'alaikum, ada apa Bu?"
"Wa'alaikumussalam, ehm, Nak..," Nyonya Clair nampak ragu melanjutkannya. "Ka-kamu dimana sekarang?"
"Aku baru saja selesai mengurus visa, sekarang mau arah pulang. Ada apa Bu? Apakah telah terjadi sesuatu buruk?" Aleesha merasa cemas.
__ADS_1
"Tidak, tidak, tidak ada hal buruk. Hanya saja ada pilihan yang harus kamu pilih dan sebenarnya ini sudah lama ingin kami ceritakan. Cuman, kejadian ini mempercepat kami untuk memberitahumu"
"Maaf kalau terkesan buru-buru, tetapi kami benar-benar takut kamu merasa tidak nyaman, Sha"
Aleesha bingung. "Satu satu Bu, ada apa? Atau aku pulang dulu ke rumah ya? Kalian bisa menjelaskanku disana"
"Baik. Hati-hati ya Nak. Wassalamu'alaikum"
Aleesha segera bergegas seusai membalas salam dari Nyonya Clair. Hatinya berkecamuk. Tidak biasanya Nyonya Clair menggunakan nada resah seperti itu.
Kecuali kalau ada hal besar sedang terjadi. Tapi apa?
Pikiran Aleesha mulai bekerja keras. Memikirkan setiap kemungkinan yang ada. Semoga bukan berita buruk. Aamiin.
🌼🌼🌼
"Bu, Ayah, Nenek, Assalamu'alaikum" Aleesha buru-buru ke dalam rumah selepas turun dari motor dan menaruhnya di garasi.
"Sha!" Nyonya Clair menyambut kedatangan puterinya, ia memeluk dan mencium kening puterinya, lalu mencium kerudung Aleesha yang belum diganti beberapa hari. "Kamu belum mengganti kerudungmu berapa hari Nak?"
"Ehm, 3 hari? Atau 4 hari? Kenapa Bu?"
Nyonya Clair nampak tercekat. "Ya Allah, aduh gimana ini ya"
"Kenapa Bu?"
"Yaudah ngga papa deh. Kamu masuk dulu aja ya"
"Ada apa Bu?"
"Kamu masuk dulu ya Nak biar tahu apa yang terjadi" Pinta Nyonya Clair. Aleesha menurut saja.
Baru kakinya melangkah ke dalam rumah, Aleesha nampak dikejutkan dengan seseorang berpakaian sangat rapih dan berkelas?
Atasan menggunakan warna dominasi putih, celana bahan berwarna cokelat muda, dan rambut tertata rapih. Parfum yang digunakan tidak menyengat.
Bisa dipastikan ia menggunakan semua bahan yang berkualitas.
"Selamat pagi Nona Aleesha. Perkenalkan saya Ariel. Salam bertemu dengan Anda" Pria itu berdiri lalu menyambut dengan hangat.
Aleesha menerima sambutan hangat itu. Tapi raut wajahnya tidak bisa berbohong bahwa ia sedang bingung dengan situasi ini.
Semua terjadi begitu saja.
"Maaf, Tuan Ariel, ada apa?" Tanya Aleesha. Beberapa kali pandangannya tertuju ke arah Orang tua nya, mencari jawaban lebih dulu.
"Baik Nona Aleesha. Kedatangan saya disini mungkin sedikit mengejutkan Anda tapi tetap harus disampaikan. Jadi, Raja Cliff meminta Nona Aleesha untuk menjadi menantunya atau menikah dengan Pangeran Muda dari Ravengold, Arthur Edmund Leoline"
Mata Aleesha membulat, mulut menganga, hati dan pikirannya berkecamuk seketika. Tu-tunggu, apa yang baru saja dikatakan?
Me-menikah dengan Pangeran Muda?!
Pasti ini mimpi!
__ADS_1
Aleesha mencubit pipinya keras-keras. Mencoba menyadarkan diri.