
Tidak banyak diskusi di antara mereka berdua. Pangeran Muda Edmund mengajukan nama tempat lalu dengan mudahnya disetujui Aleesha.
Selain tipikal gadis yang tidak ribet, Aleesha juga merasa bahwa Pangeran Muda Edmund tidak benar-benar menginginkannya. Ini hanya sebuah bentuk menghargai untuk keluarga.
Memang, Aleesha juga melakukan hal yang sama, tetapi rasanya tentu berbeda. Ibaratkan buat apa dia susah payah menginginkan semuanya terjadi jika dari pihak lelakinya saja tidak benar-benar menginginkannya.
Aleesha tidak mau memaksa kehendak.
Itu saja.
"Kamu mau es krim?" Tanya Pangeran Muda Edmund.
Aleesha menoleh lalu mengangguk. "Boleh"
"Mau rasa apa?"
"Ikut saja"
Pangeran Muda Edmund nampak jengah. Tubuhnya berbalik ke arah Aleesha dan diam menatap. "Bisakah kamu menggunakan kata selain 'boleh', 'bebas' atau 'iya' ?"
Ekspresi kesal yang sangat menggambarkan perasaan Pangeran Muda Edmund. Batin Aleesha sedikit berontak. Dengan susah payah, ia mencoba tersenyum. "Terima kasih atas pengingatnya. Aku rasa cokelat saja"
"Oke" Jawaban singkat yang cukup menusuk hati Aleesha. Namun, gadis itu cenderung enggan menunjukannya. Ia hanya tidak mau memperkeruh keadaan.
Tidak ada pembicaraan kembali sampai es krim telah di tangan Pangeran Muda Edmund. "Nih"
"Terima kasih"
"Sama-sama"
Canggung sekali rasanya.
Momen yang sebetulnya tidak Aleesha sukai. Untuk mencobar mencairkan suasana, matanya menelaah setiap sudut tempat. Barangkali ada objek yang bisa dijadikan solusi atas dinginnya pembicaraan.
"Ehm, disana ada tempat makan yang berdekatan dengan kandang rusa, mau kesana?"
Tanpa menoleh, pria itu mengangguk dan melangkahkan kaki begitu saja. Sangat dingin. "Maaf aku tidak bisa menggandengmu" Sambungnya setelah menoleh sejenak ke arah Aleesha.
__ADS_1
Mata Aleesha membulat. Tidak berekspektasi akan mendapatkan jawaban seperti itu. "Heh? T-tidak papa kok. Lagipula, kita berdua belum sah juga"
Spontan, Pangeran Muda Edmund berhenti. Kali ini tubuhnya benar-benar berbalik. "Maksudnya, kamu meminta untuk segera ku resmikan?"
Aleesha menggeleng cepat. "Tidak, bukan itu.."
"Lalu?" Tanya pria itu. Jantung Aleesha berdetak lebih cepat.
"Kalau iya, aku bisa melakukannya" Balasnya kemudian yang membuat jantung Aleesha makin berdetak lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Mendengar jawaban tiba-tiba tersebut, Aleesha meringis dan batinnya memberontak, "Bukankah waktu di mobil dia mengatakan tidak mau. Mengapa tiba-tiba berucap hal itu. Apa maksudnya?"
"Kok diam?" Tanya Pangeran Muda Edmund lagi.
Deg.
Oke, pertanyaan kesekian dari pria itu telah membuat Aleesha hampir tidak dapat bernafas. "Kamu ingin aku menjawab apa?" Ujar Aleesha begitu saja—entah mengapa tiba-tiba ingin berucap begitu.
Alis Pangeran Muda Edmund terangkat. "Maksudmu?"
"Bisa jawabnya sambil duduk dan menikmati es krim ini? Takut cair" Pinta Aleesha. Pangeran Muda Edmund menurut saja.
Bangku taman panjang yang terletak pada urutan kedua dari pojok sengaja Aleesha pilih agar pembicaraan mereka tidak terlalu terdengar orang lain. "Disini saja, bagaimana? Atau mau cari tempat lain?"
"Disini saja" Jawaban singkat kembali terlontar. Aleesha mengangguk, mencoba maklum.
Selepas duduk Aleesha sengaja menaruh kedua tangannya di atas paha. Beberapa kali ia meneguk ludahnya, keringatnya bercucuran, kakinya tak bisa diam, lalu menghabiskan es krimnya. Kecanggungan masih berlanjut.
Jika kata 'seharusnya' diperbolehkan ingin rasanya ia terus mengucapkan kata itu. Namun, nyatanya apa yang terjadi sekarang berbanding terbalik dengan ekspektasi.
Memang dia tidak menaruh ekspektasi 'yang gimana gimana' hanya ini benar-benar membuat hatinya tidak nyaman.
"Kamu bisa menjawabnya sekarang" Ujar Pangeran Muda Edmund.
Aleesha terdiam sejenak. "Ehm, sebelumnya aku ingin bertanya. Apakah kamu melakukan ini semua karena terpaksa?"
Pertanyaan dari Aleesha sontak membuat tubuh pria itu bergetar hebat. "Sebenarnya sulit untuk menjawabnya. Antara bentuk menghargai dan terpaksa menjadi sukar dilihat. Tapi, aku merasa untuk mencobanya lebih dulu. Namun, jangan menaruh ekspektasi terlalu tinggi"
__ADS_1
"Baiklah," Aleesha mengangguk-anggukan kepalanya. "Kalau begitu, menurutku lebih baik kita berhenti saja. Sesuatu yang tidak benar-benar berasal dari hati akan membuat diri menjadi sangat tidak nyaman,"
Edmund masih menyimak.
"Aku bisa membacanya melalui sorot matamu, Ed. Mulutmu mungkin bisa di setting, tetapi tidak pada hati" Sambung Aleesha. Gadis itu mencoba untuk mengendalikan dirinya.
"Lakukanlah apa yang membuatmu bahagia, Ed"
Edmund tertawa sarkas dan menyipitkan matanya. "Apa yang kamu ketahui dari bahagia?" Nadanya terdengar ketus.
Aleesha meneguk ludah. Pahit. "Menurutku, bahagia itu adalah hal penting. Nenek, Ayah, Ibu, Hans, bahkan Almarhum Kakek selalu mengingatkan untuk mencari kebahagiaan kita. Salah satunya dengan tidak membenci orang. Dan, menurutku itu tidak ada salahnya. Karena dengan tidak membenci orang lain akan menjadikan hidup jauh lebih tenang"
"Bagiku tidak," Balas Edmund. Tatapan tajamnya belum pudar. "Untuk masyarakat biasa sepertimu mungkin mudah untuk mencari kebahagiaan sendiri. Tapi tidak bagi keluarga kerajaan terutama aku yang sudah dipaksa mengemban tugas negara sejak kecil. Dimana semua harus diatur dan menentukan pilihan pun harus ada campur tangan keluarga kerajaan,"
Derai nafas Edmund terdengar marah. "Dan tidak ada rasionalisasi lain lagi bagiku agar tidak membenci mereka. Menjodohkanku denganmu adalah salah satu di antara banyaknya hal yang membuatku membenci mereka"
Hati Aleesha sungguh sakit mendengarnya. Kalimat pelan, tajam, tapi menusuk. Ingin rasanya Aleesha menumpahkan semua air mata yang sedaritadi dipendam—tetapi ia urungkan.
Aleesha tahu itu bukan waktu yang tepat untuk melakukannya.
Untuk kesekian kalinya, Aleesha kembali mengenakan topeng. "Kalau begitu, sudahilah Ed. Aku akan membicarakan ini baik-baik, tenang saja perihal ini akan aku sembunyikan bahkan ke keluarga ku. Kamu tidak perlu khawatir jika keluarga kerajaan memarahimu, kalau itu terjadi beritahuku agar aku siap pasang badan. Jadi, tenanglah dan mari kita hentikan ini semua,"
Edmund nampak terkejut dengan jawaban tenang dari Aleesha. Batinnya bertanya "Bagaimana bisa ia tetap bersikap baik setelah dirinya mengeluarkan kata yang sangat menyakiti"
Namun, Edmund mengurungkan untuk menanyakan perihal isi hatinya. Bersikap diam menjadi andalannya saat ini.
"Terkait kata-kataku tadi mengenai 'Kamu ingin aku jawab apa' maksudnya adalah aku sangat membebaskanmu, Ed. Kamu ingin serius denganku, aku bisa mengatakan 'mau'. Kalau tidak, aku bisa juga mengatakan 'mari berpisah'. Aku tidak ingin menyakitimu lebih dalam lagi. Insya Allah aku bisa mengerti semuanya, terutama keadaan hatimu yang sulit kamu ungkapkan," Aleesha terdiam sejenak. Ia mengatur nafasnya. Mencoba mengendalikan sesak.
"Tapi ku mohon jangan makin membenci mereka hanya perihal perjodohan ini. Bagaimanapun, mereka tetap keluargamu, Ed. Kalau kamu tidak mau, kamu bisa berterus terang. Sekali lagi aku tidak mau memaksakan kehendak. Aku yakin, setelah ini, keluarga bangsawan cepat atau lambat akan menerimanya dan kamu dapat menemukan sosok yang benar-benar pilihanmu" Lanjut gadis itu dengan tatapannya yang sendu.
Seakan terpana dengan balasan tenang dari Aleesha, Edmund tertegun cukup lama. Namun, semua perkataan dan sikap Aleesha diabaikannya begitu saja.
Edmund merasa...trauma.
"Oke, terima kasih Sha," Balas Edmund lalu diam sejenak. "Dan maaf, sepertinya mari kita sudahi ini semua. Senang bertemu denganmu"
Aleesha tersenyum kecil. Terus mencoba maklum. "Sama-sama Ed. Senang bertemu denganmu juga"
__ADS_1
🌼🌼🌼