Menikahi Pangeran Kucing

Menikahi Pangeran Kucing
Bab 14


__ADS_3

Melihat Dilla terombang-ambing diatas kuda, membuat panglima Kerajaan Kucing Arya Bayu menghampirinya dan menolongnya.


"Kenapa kau membahayakan dirimu yang mulia?"


"Aku harus menyelamatkan suamiku, aku tidak bisa tinggal diam saat tahu ia mengorbankan nyawanya hanya untuk menyelamatkan aku,"


Meskipun sedikit kecewa mendengar jawaban Dilla, namun sebagai panglima kerajaan ia tak bisa membiarkan Dilla pergi ke Medan perang seorang diri.


"Kalau begitu biarkan aku yang akan mengawal mu yang mulia,"


"Gas!" seru Dilla


"Apa maksudnya yang mulia?" tanya Panglima kebingungan


"Ayo jalan!" seru Dilla


"Tapi kita tidak akan menang jika hanya berdua saja, aku akan meminta pasukan ku untuk ikut bersama kita," ujar Bayu


Bayu kemudian memerintahkan kepada pasukannya untuk bersiap ke medan perang.


Saat pemuda itu tengah memberitahukan rencananya kepada pasukannya, Dilla kemudian membisikkan sesuatu padanya.


"Apa kau yakin?" tanya Bayu


"Aku sudah pernah melakukannya saat di kepung pasukan kerajaan anj*ng bersama Rendra,


Bayu kemudian menjelaskan tak tik perang yang di sampaikan oleh Dilla kepada pasukannya.


Setelah semuanya siap, mereka kemudian bergegas menuju medan perang.


Rendra begitu terkejut melihat kedatangan Dilla ke Medan Perang.


"Kenapa kamu kembali lagi?" tanya Rendra


"Karena aku merindukanmu," jawab Dilla


"Jangan konyol, Kau hanya akan menyerahkan nyawamu jika datang ke tempat ini?"


"Kata siapa?"


Dilla kemudian melemparkan puluhan tulang belulang membuat semua pasukan bangsa anj*ng langsung berlarian mengejarnya.


Melihat pasukan musuh mulai terkecoh sang panglima dan anak buahnya langsung menarik busur panahnya dan menjatuhkan mereka satu persatu.


Dengan menggunakan kemampuannya dalam menjinakkan anj*ng, Dilla berhasilĀ  membantu Narendra dan pasukannya mengalahkan bangsa anjing.


Semua pasukan kerajaan kucing bersorak gembira saat melihat Patih Mahambara lari meninggalkan medan Perang.


Dilla segera turun dari kudanya dan menghampiri Rendra.


"Sekarang saatnya kita pulang sayang," ucap Dilla mengerlingkan matanya


Rendra kemudian membawa istrinya kembali ke Pendopo Agung.


Setibanya di sana Rendra segera membersihkan tubuhnya di sungai yang berada tak jauh dari kediamannya.


"Kamu tidak mau mandi?" tanya Rendra

__ADS_1


"Aku takut ada ular lagi!" seru


"Kan ada aku, jadi jagan takut,"


"Iya juga sih," Dilla kemudian segera melompat menyusul Rendra yang lebih dulu berendam


Ia mulai memercikkan air kearah Rendra membuat pria itu langsung membalasnya hingga terjadilah perang air antara keduanya. Puas bermain air Dilla kembali ke Pendopo lebih dulu.


Tidak lama Rendra kemudian menyusulnya.


Dilla seketika menganga saat melihat Rendra memasuki kamarnya dengan bertelanjang dada, ia sampai menelan salivanya saat melihat roti sobek Rendra.


"Astaghfirullah," ucapnya sambil terus memelototinya


Malam mulai menjelang, Dilla mulai merasa gelisah saat Rendra merebahkan tubuhnya di sampingnya.


Keringat dingin mulai membasahi keningnya meskipun cuaca begitu dingin.


Saat Rendra menoleh kearahnya Dilla langsung memalingkan wajahnya, ia tak mau pria itu melihat kegugupannya malam itu..


"Jika kamu tidak merasa nyaman lebih baik aku tidur di luar saja," ucap Rendra


"Jangan dong, bukan itu masalahnya?" ucap Dilla mencegah saat Rendra akan beranjak dari ranjangnya


"Lalu?"


"Aku lapar?" jawab Dilla tersenyum memamerkan giginya


"Tapi hari sudah malam, tidak mungkin kita berburu malam-malam seperti ini," jawab Rendra


"Nah itu dia, aku tidak bisa tidur dalam keadaan lapar," ucap Dilla gusar


Dilla langsung bernafas lega saat suaminya sudah meninggalkannya.


"Ya Allah akhirnya bisa nafas juga, ternyata benar kalau malam pertama itu sangat menyeramkan daripada malam jumat. Sampai-sampai gue gak bisa nafas kalau ada Rendra, kenapa juga gue tiba-tiba jadi gugup, padahal dia juga gak ngapa-ngapain, apa karena gue ke geeran atau terlalu berharap lebih padanya. Ya Allah sadar Dilla, sadar ... Rendra hanyalah tokoh halu dia tak mungkin menjadi nyata dan kalian hak bakal bisa bersatu,"'


Meskipun akal sehat Dilla selalu memperingatkannya, namun siapa yang bisa mengendalikan hati?.


"Bodo amatlah, gue tahu Rendra gak nyata, gue tahu suatu saat gue pasti harus kembali ke dunia, untuk itu aku harus memanfaatkan waktu bersama Rendra sebaik mungkin karena ini tak bisa terulang lagi, jangan sampai kamu menyesal Dilla," ucap Dilla mencoba meyakinkan dirinya


Dilla kemudian bergegas keluar menyusul Rendra.


Ia melihat pemuda itu sedang mencoba memasak di dapur.


"Kamu lagi masak apa?" tanya Dilla


"Entah, aku hanya memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sini,"


Dilla melihat-lihat bahan makanan yang ada di dapurnya. Hanya ada dedaunan dan juga buah.


Ia kemudian mengupas buah-buahan itu dan membawanya ke ruang makan.


Rendra kemudian menyusulnya membawa sepiring makanan yang sudah di raciknya.


"Cobalah?" ucap Rendra memberikan sesendok salad sayur yang dibuatnya


Dilla segera membuka mulutnya saat pemuda itu menyuapinya.

__ADS_1


"Hmm, enak," ucap Dilla begitu senang


Ia kemudian bergantian menyuapi Rendra buah-buahan yang sudah dikupasnya. Keduanya terlihat begitu senang meskipun hanya makan malam seadanya.


Selesai makan malam Dilla yang mengantuk kembali ke kamarnya, sedangkan Rendra memilih menghabiskan malam dengan berlatih pedang.


Selesai berlatih ia kemudian menuju ke kamarnya. Rendra tersenyum melihat Dilla yang sudah pulas di ranjangnya.


Ia kemudian mengecup kening gadis itu sebelum memejamkan matanya.


"Selamat malam Dinda," ucapnya lirih


Saat ia akan memejamkan matanya Dilla menggeliatkan tubuhnya hingga gadis itu hampir jatuh. Rendra Langsung menariknya, kedalam pelukannya agar ia tak jatuh lagi.


Ia kemudian memejamkan matanya sambil memeluk Dilla.


Hari-hari Dilla terasa bahagia setelah perang berakhir. Ia pun semakin dekat dengan Pangeran Narendra, meskipun pria itu belum pernah mengungkapkan perasaannya.


Malam itu Raja Airlangga sengaja membuat pesta perayaan untuk menyambut kembalinya Dilla dan Rendra dari bulan madu. Pria itu sengaja menyuruh kedua pengantin baru itu untuk meminum arak yang memang sudah dipersiapkan untuk keduanya.


*Byuuur!!!


Dilla langsung memuntahkan arak itu saat merasakan rasanya yang begitu pahit.


"Arak apaan ini, seumur hidup gue baru merasakan minuman keras yang gak enak kaya gini!" seru Dilla kemudian meninggalkan pendopo utama menuju kamarnya.


"Akhirnya aku bisa tidur nyaman disini," ucap Dilla


Saat ia hendak memejamkan matanya tiba-tiba ia merasakan seseorang memeluknya membuat ia sontak mendorongnya.


"Kenapa kau mendorongku, bukankah kau paling suka jika tidur dalam pelukan ku!" seru Rendra kembali menghampirinya


"Kamu pasti mabuk ya," ucap Dilla mengendus aroma arak dari tubuh suaminya itu


"Siapa bilang aku mabuk?" jawab Rendra menatap wajah Dilla


Ia kemudian mengusap lembut wajah istrinya itu dan mencium bibirnya dengan lembut.


**********


Pagi harinya Dilla langsung terkejut saat bangun tidur dalam keadaan tanpa busana.


Ia langsung menutup mulutnya saat melihat Rendra masih terlelap sambil memeluknya.


Ia pura-pura tidur saat melihat Rendra mulai membuka matanya.


Rendra tersenyum melihat tingkah lucu Dilla yang pura-pura tidur. Ia sengaja menciumnya hingga membuat gadis itu terpaksa membuka matanya.


"Selamat pagi Dinda?" ucap Rendra membuat Dilla malu dan menutupi wajahnya


"Pagi Kanda," jawab Dilla membuat Rendra yang gemas kembali memeluknya.


Setelah hari itu keduanya selalu terlihat harmonis, kemanapun Rendra pergi Dilla selalu mengikutinya. Ia memang sudah bertekad untuk menikmati kehidupannya sebagai Putri Hanindilla. Ia rela meninggalkan dunianya demi pria yang dicintainya.


Sebulan kemudian Dilla dinyatakan hamil oleh tabib kerajaan membuat semua orang begitu bahagia hingga Raja Airlangga membuat pesta besar untuk menyambut kedatangan cucu mereka.


Kebahagiaan Dilla menjadi derita bagi Putri Saraswati mantan kekasih Rendra.

__ADS_1


Ia sengaja datang ke pesta perayaan kehamilan Dilla untuk mencelakai wanita itu.


Ia berusaha menaruh racun di makanan Dilla agar wanita itu mati.


__ADS_2