Menikahi Pangeran Kucing

Menikahi Pangeran Kucing
Bab 7


__ADS_3

Saat semua orang sibuk membereskan sisa-sisa peperangan. Pangeran Narendra membawa Dilla berjalan-jalan. Ia bermaksud menghilangkan rasa trauma wanita itu, hingga mengajaknya ke sebuah hutan pinus di sekitar kerajaan.


Mendengar gemericik suara air, membuat Dilla mendekati sebuah sungai yang airnya begitu jernih. Sehingga membuat gadis itu langsung turun ke sungai untuk bermain air.


"Andai saja, di Jakarta ada air sejernih ini," ucapnya begitu riang karena bisa bermain air


Selama hidup di Jakarta Dilla memang belum pernah melihat sungai sejernih itu, jadi wajar saja jika dia sedikit norak.


Melihat Dilla yang bermain air begitu riang membuat Rendra tersenyum senang. Pemuda itu kemudian mengawasinya dari kejauhan.


Melihat seekor ikan mas membuat Dilla berusaha menangkap ikan tersebut, hingga rela mengejarnya sampai ke hulu sungai.


Ia tidak sadar jika ikan itu membawanya menuju ke sebuah hutan mistis.


Rendra terkejut saat melihat Dilla tidak ada di sungai.


Pemuda itu segera melompat turun dari pohon dan menyusuri sungai untuk mencari Dilla.


Rendra menghentikan langkahnya saat menyadari jika aliran sungai itu menuju ke hutan mistis.


"Jangan bilang jika Hanin sekarang sudah memasuki hutan mistis itu,"


Lelaki itu sedikit ragu saat akan melangkah maju memasuki perbatasan kerajaan kucing dan kerajaan anj*ng.


Sementara itu, Dilla akhirnya berhasil menangkap ikan mas itu.


Namun saat ia berhasil menangkap ikan itu, beberapa pasukan anj*ng sudah mengepungnya.


Gadis itu tersenyum kecut saat melihat prajurit bangsa Anj*ng, mengacungkan tombak kearahnya.


"Wah gawat, aku bisa mati sia-sia di tempat ini," Dilla berusaha mencari cara untuk bisa kabur


"Dia adalah wanita yang membunuh Panglima Bahu Amekti!" seru salah seorang perajurit


"Kalau begitu bunuh dia dan bawa kepalanya untuk kita gantung di alun-alun!" seru seorang lelaki lain


"Astoge, kepalaku mau di penggal. Ngeri amat!" seru Dilla bergidik ngeri


Beberapa orang perajurit mulai mengeluarkan pedangnya membuat gadis itu langsung berjalan mundur berancang-ancang untuk kabur.


Melihat Dilla dalam bahaya membuat Rendra tanpa pikir panjang langsung menerobos hutan Mistis demi menyelamatkannya.


"Hiaaattt!!"


Ia segera melompat dan menebaskan pedangnya kearah prajurit yang mengelilingi Dilla.


*Praaanggg!!


Semua Prajurit terhempas, membuat Dilla langsung berlari dan berlindung di belakang Rendra.

__ADS_1


"Tetaplah di belakangku!" seru Rendra kembali bersiap menyerang musuh-musuhnya.


Dilla menatap takjub kehebatan Rendra yang berhasil melumpuhkan puluhan prajurit bangsa anj*ng dengan begitu singkat.


"Sebaiknya kita segera pergi dari sini, sebelum bala tentara kerajaan anj*ng datang mencari kita!" ucap Rendra


Ia kemudian menggandeng Dilla meninggal hutan itu. Keduanya berusaha mencarinya jalan kembali ke kerajaan kucing. Namun siapa sangka mereka malah terjebak dalam hutan itu.


"Bagaimana ini, kita sudah melewati jalan ini berkali-kali, sepertinya kita tersesat!" ucap Dilla


"Hutan ini memang terkenal mistis, tidak seorangpun bisa keluar dari sini tanpa seizin sang penguasa hutan," jawab Rendra


"Kalau boleh tahu siapa penguasa hutan ini?" tanya Dilla


"Entahlah, tidak seorangpun yang tahu wujud aslinya. Aku hanya pernah mendengar dari cerita kakek buyutku, kalau penguasa hutan ini adalah sejenis anj*ing," terang Rendra


"Kalau begitu kita tidak bisa keluar dari sini karena sudah jelas bangsa kucing adalah musuh utama bangsa anj*ng bukan?"


"Berdoa saja semoga kita bisa keluar dari hutan ini, sebab kalau kita tidak bisa keluar dari maka kita akan menjadi persembahan bagi kerajaan Anj*ng,"


"Apa bangsa Anj*ng bisa keluar masuk hutan ini dengan bebas?" tanya Dilla lagi


"Tentu saja, konon leluhur mereka adalah satu-satunya yang bisa keluar dari hutan ini dengan selamat,"


"Jadi apa rencana mu sekarang?" tanya Dilla lagi


"Karena hari sudah malam, sebaiknya kita segera mencari tempat untuk istirahat,"


"Kalau begini terus sampai malam pun kita tidak akan menemukan tempat berteduh. Biar aku saja yang akan menjadi penunjuk jalan," Dilla segera berjalan di depan


Ia tersenyum simpul saat melihat sebuah gua di depannya.


"Emang insting anak pramuka selalu tepat," ucap Dilla segera bergegas masuk kedalam gua


Rendra kemudian memeriksa gua itu, setelah memastikan semuanya aman ia mengajak Dilla masuk ke dalam gua.


Pria itu kemudian mengumpulkan kayu bakar dan membuat perapian.


"Aku akan keluar sebentar untuk mencari makanan, tetaplah di sini dan jangan kemana-mana," ucap Rendra berpamitan


Dilla mengangguk paham dan duduk di depan perapian.


Menunggu Rendra mencari makanan membuat gadis itu terlelap.


Bau harum daging bakar membuat gadis itu langsung membuka matanya.


Terdengar suara bunyi perut Dilla yang kelaparan membuat gadis itu langsung menutupi perutnya.


Rendra langsung mengambil seekor ayam hutan yang sudah matang dan memberikannya kepada Dilla.

__ADS_1


"Makanlah," ucap Rendra memberikan ayam bakar kepadanya


"Terimakasih,"


Dilla segera menyantapnya dengan lahap. Jika biasanya ia selalu menghindari makan malam karena harus menjaga berat badan tubuhnya. Sekarang tidak lagi, ia bahkan terlihat begitu rakus hingga menghabiskan satu ekor ayam sendirian.


Ia bahkan sampai bersendawa Setelah menghabiskan ayam bakar tersebut.


"Sorry kelepasan?" ucap Dilla tersenyum simpul


Rendra hanya tersenyum melihat tingkah konyol Dilla, yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Malam semakin larut membuat Rendra menyuruh Dilla untuk segera tidur.


"Sebaiknya kamu tidur, karena kita masih harus mencari jalan keluar dari hutan ini. Jadi istirahatlah,"


Dilla mengangguk pelan, kemudian merebahkan tubuhnya diatas dedaunan yang sudah dipersiapkan oleh Rendra untuknya.


"Aku dengar tongkat itu bisa mengabulkan permintaan pemiliknya, apa itu benar?" tanya Dilla


"Tentu saja,"


"Kalau begitu coba perlihatkan agar aku percaya," jawab Dilla


"Tapi tidak semua keinginan kita akan terkabul, karena tongkat ini hanya bisa mengabulkan satu permohonan saja setiap bulannya,"


"Oh begitu, apa bulan ini kamu sudah pernah meminta sesuatu?" tanya Dilla


Rendra kemudian menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kau tidak meminta tongkat sakti untuk menunjukkan jalan keluar dari hutan ini saja?" tanya Dilla


"Aku hanya akan memakai kekuatan tongkat ajaib hanya untuk masalah yang benar-benar penting saja," jawab Rendra


"Namun kita keluar dari tempat ini juga penting kok," tegas Dilla


"Aku yakin bisa keluar dari hutan ini tanpa bantuan tongkat sakti ini,"


"Hmm," Dilla kemudian memalingkan wajahnya


Dia sangat perhitungan sekali, bagaimana aku bisa mengambil kembali tongkat itu darinya??


Malam itu, Dilla sengaja tidak tidur untuk menunggu Rendra lengah agar bisa mengambil tongkatnya.


Ia pura-pura tidur saat Rendra memeriksanya. Saat melihat pria itu mulai terlelap, ia kemudian mengendap-endap mendekati pemuda itu untuk mengambil tongkat saktinya.


Dillapun berhasil mencuri tongkat pangeran Kucing.


"Yes, pucuk di cinta, akhirnya kudapatkan tongkat saktinya juga,"

__ADS_1


Dilla kemudian diam-diam meninggalkan Rendra yang masih terlelap.


__ADS_2