
Aurora Putri atau biasa dipanggil Aurora, adalah seorang gadis remaja berusia 17 tahun. Aurora tinggal di Bandung dan bersekolah di salah satu sekolah favorit yaitu SMA Adiwijaya Bandung.
Kepribadian Aurora yang periang dan selalu percaya diri membuatnya mudah berbaur dengan siapa saja. Bahkan dengan tingkah polosnya, kerap kali Aurora dipanggil anak paud oleh sahabat-sahabatnya atau teman-teman dikelasnya. Aurora adalah sosok gadis remaja yang penuh semangat dan tidak akan mudah goyah hanya karna perkataan orang-orang.
Berasal dari keluarga sederhana, Aurora sering diremehkan oleh sebagian orang yang tidak menyukainya, lebih tepatnya iri dengan kehidupan Aurora.
Memiliki seorang ibu yang bekerja diperusahaan swasta membuat kehidupan Aurora terlihat sederhana dibandingkan teman-teman disekolahnya yang mayoritas merupakan anak-anak dari keluarga terpandang. Hal itu tidak membuat Aurora gentar, karena Aurora merasa dia juga memiliki hak untuk menjadi apa yang dia inginkan dan memilih hal apa yang akan ia lakukan.
………………
Aditya Kara Abraham seorang lelaki mapan yang menjadi penerus hotel ternama di jakarta selatan, yaitu Hotel Abraham. Kara merupakan keturunan Indonesia Jerman yang berusia 22 tahun, memiliki tinggi sekitar 182 cm, bahu bidang dan paras yang tampan. Kepribadian yang cuek dan tidak begitu peduli dengan wanita karena ia sangat begitu fokus dengan pekerjaannya saat ini.
Ayah Kara bernama Mr. Abraham dan sudah tidak bisa lagi memimpin Hotel mereka karena penyakit ayahnya yang sering kali kambuh jika kelelahan, mungkin karena sudah memasuki usia 60 tahun.
Kara merupakan anak tunggal sehingga membuatnya begitu terbebani dengan semua pekerjaan yang saat ini diembannya. Setelah lulus dari Hardvard university untuk jenjang S1 dalam bidang bisnis ia langsung menggantikan ayahnya sebagai CEO Hotel Abraham.
……………..
Seno Adiwijaya adalah seorang lelaki berusia 17 tahun dan merupakan penerus perusahaan kontraktor Adiwijaya dan beberapa yayasan lainnya. Seno sangat populer disekolahnya, mahir dalam bermain basket dan memiliki paras yang rupawan membuatnya banyak disukai oleh siswi-siswi di SMA Adiwijaya Bandung.
__ADS_1
Seno memiliki tinggi badan 178 cm dan berkulit putih dengan mata sipit. Ia merupakan anak pertama dari Mr. Adiwijaya dan adek Seno bernama Tiara Adiwijaya sangat dekat dengan Aurora karena Aurora kerap kali mengajarkan Tiara tarian adat.
Seno merupakan pacar pertama Aurora dan merupakan seorang lelaki yang romantis, namun terkadang mengekang Aurora karena kecemburuannya.
………..
Ini hanya gambar dari Author agar memudahkan pembaca dalam memvisualisasikan wajah dari tokoh utama, namun jika ingin berhalu-halu dengan wajah yang lain tidak masalah. jangan lupa like dan komennya ya. Terima kasih dan selamat menikmati
…………………
“Gilak! ini siapa sih yang buat soal sesusah ini, biar gue sentil ususnya” gumam Aurora di sela-sela mengerjakan soal matematika.
Aurora dengan lekas keluar dari kamar, menuruni anak tangga dan menuju dapur untuk melihat apakah ada makanan yang dapat mengganjal perutnya. Mi goreng dengan sepotong telur dadar dipiring terpisah, itulah makanan yang tersisa dibawah tudung sajinya. Tidak berfikir lama Aurora membawa makanan tersebut kedalam kamar sambil melanjutkan PR-nya.
Bunyi pesan masuk diponsel Aurora membuatnya buyar, lalu menggapai ponsel yang berada di ujung mejanya. Seno mengirimkannya sebuah pesan singkat dan hal itu membuat Aurora bedegup kencang.
Seperti sedang berada disebuah roller coaster yang tiba-tiba mesinnya berhenti disaat sedang berada dipuncaknya. Seketika Aurora tidak dapat melanjutkan pekerjaannya. Hati dan pikiran Aurora bertanya-tanya, bagaimana foto itu didapatkan oleh Seno.
“Ternyata yang dibilang temenku bener ya? Kamu selama ini bohongin aku ya, Ra?” pesan singkat Seno dengan mengirimkan gambar Aurora yang sedang berbincang dan tertawa dengan seorang laki-laki yang berada dihadapannya, yaitu Kara.
Pesan itu hanya dibaca oleh Aurora karena ia tidak tahu apa yag harus dibalasnya. Sepuluh menit kemudian, pesan dari Seno terus menerus berdatangan sudah seperti pemeberitahuan dari penagih hutang karena pesannya sudah hampir 10 pesan dan panggilan berkali-kali dari Seno, namun Aurora tidak mengangkatnya. Ia memilih diam terlebih dahulu untuk menenangkan pikirannya agar tidak tersulut emosi.
__ADS_1
“Balas woi, lu kok jahat banget jadi orang, nggak mikirin perasaan gua sedikitpun. Salah gua apa sama lu sampai lu tega selingkuhin gua, ajg?” Pesan Seno kepada Aurora.
“gue nggak selingkuh dan Kara udah seperti kakak sendiri bagi gue dari SMP bahkan sebelum kenal lu!” balas Aurora.
Melihat pesan terakhir Seno yang menggunakan lu gue ditambah kata kasar yang membuat Aurora kecewa, walaupun ia sudah sangat begitu kecewa dengan tingkah Seno yang kadang selalu otoriter dalam hubungan mereka tapi Aurora selalu berfikir positif dan terus ingin membuat hubungan mereka baik-baik saja.
Tangisan Aurora pecah sore itu. Ribuan pertanyaan bermunculan dalam tangisnya, apakah ia harus mengakhiri hubungan yang sudah seperti neraka baginya tapi dilain sisi ia masih mencintai Seno. Seno adalah orang pertama yang mengenalkannya pada sebuah hubungan yang disebut pacaran. Namun Kara juga benar, bahwa Seno sudah memanipulasi pikiran Aurora sehingga sulit bagi Aurora melepaskan Seno.
Aurora pun mengusap wajahnya dan memutuskan untuk mandi agar pikirannya lebih tenang. Setelah selesai mandi, Aurora duduk di tepi tempat tidurnya untuk memikirkan apa yang harus dilakukannya untuk menyelesaikan masalah ini. Beberapa menit kemudian, ia merasa mual dan ingin muntah, ia pikir ini mungkin akibat ia berlama-lama di kamar mandi dan akhir-akhir ini ia sering telat makan. Setelah muntah beberapa kali ia pun keluar kamar untuk meminta obat tolak angin kepada ibunya.
“Bu, ada tolak angin nggak? Rara telat makan jadinya mual terus” tanya Aurora kepada ibunya.
“Coba lihat didalam kotak obat nak, sepertinya masih ada sisa satu lagi. Jangan dibiasakan telat makan, nanti bisa sakit maag. Dari kemaren kamu mintak obat tolak angin terus.” jawab ibu.
“baik bu, nggak tau nih soalnya berasa masuk angin terus bu” balas Aurora dan langsung mengambil tolak angin yang berada didalam kotak obat.
Selesai makan malam dengan keluarga, Aurora pun melanjutkan tugasnya karena masih ada soal matematika yang belum ia selesaikan. Saat menutup pintu kamar Aurora kembali merasa mual dan ia dengan cepat berlari menuju kamar mandi, lalu memuntahkan seluruh makanan yang dimakannya. Akhir-akhir ini memang terasa aneh bagi Aurora, karena seringkali mual dan setelah makan ia juga kerap memuntahkan seluruh makanan yang dimakannya.
Beberapa waktu kemudian, Aurora tersadar dan badannya bergetar hebat mengingat apa yang telah ia lakukan sebelumnya. Seperti hari sial bagi Aurora karena dalam satu hari Aurora bertemu dengan perasaan menyesal dan kekecewaan menjadi satu. Tangis Aurora pecah kedua kalinya dalam satu hari ini, ia harus menerima kenyataan bahwa ia mungkin sedang hamil.
Semua permasalahan datang bertubi-tubi dalam satu waktu dan tanpa memberi jeda untuk menerima kenyataan bahwa semua mimpi yang ia susun sebelumnya sedang berada di tepi jurang keniscayaan untuk dapat menggapainya.
“Yam, kakak main kerumah kamu ya. Ada yang mau kakak omongin, sekalian kakak bawain kamu pisang goreng. Tenang keju sama coklatnya banyak kok soalnya tadi chicken kesukaan kamu udah habis.” pesan Kara melalui whatsapp pada Aurora.
__ADS_1