Menjadi Ibu Diusia Muda

Menjadi Ibu Diusia Muda
TELUR ATAU AYAM


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Aurora Putri memasuki semester satu di kelas tiga. Aurora sudah berada di tahun akhir sebagai siswa SMA Adiwijaya Bandung yang merupakan sekolah favorit di kota Bandung. Ia sangat senang dan hari ini diawali oleh Aurora dengan bangun pagi yaitu pukul 4 pagi, mempersiapkan segala macam perlengkapan yang akan ia bawa ke sekolah.


Semangat Aurora pagi ini sangat dapat dirasakan oleh ibu Aurora, siapa sangka anaknya yang biasanya selalu dibangunkan kini bangun di awal pagi bahkan Aurora ikut membantu ibu membersihkan rumah.


“Ra, kamu habis kesambet apa?” ucap ibu Aurora yang masih menyisakan perasaan penuh heran kepada Aurora.


“ih, kenapa sih bu? Anaknya bisa bangun pagi begini malah dikira kesambet. Harusnya Ibu itu seneng karena Aurora bisa bantuin ibu” balas aurora dengan senyum tipis ditepi bibirnya.


“gimana ibu nggak heran, biasanya kamu diteriakin dulu dan kalau gk dibilang udah jam 7 pagi, kamu nggak bakal bangun. Tapi ibu seneng kok kamu bisa bangun sepagi ini apa lagi tiap hari, jadi ibu gk perlu bangun pagi-pagi lagi, kan ada kamu” goda ibu yang telah berumur 45 tahun tersebut, namun masih terlihat sangat muda karena sering dikira kakak Aurora ketika mereka pergi belanja bersama.


“ih nggak jadi deh. Besok-besok Aurora bangun jam setengah delapan aja” canda Aurora.


“Yowes!, ibu bakar sekalian barang-barang kamu, atau gk ibu keluarin dari KK. Ingat kamu udah memasuki kelas tiga, kalau nggak mau kuliah yaudah ibu jodohin aja sama aki-aki kaya” balas canda ibu Aurora.


“HAH, gini banget ya punya ibuk. Masa doain anaknya sama aki-aki” rengek Aurora sambil memanyunkan bibirnya.


“Hahahaha makanya jadi anak ya nurut. Kamu beres-beres gih buat berangkat ke sekolah. Bilang ke Seno, nanti ibu yang anter” ucap ibu kepada Aurora.


“yahhh, padahal nanti Rara mau berangkat bareng Seno biar bisa pacaran dulu baru ke sekolah” goda aurora sambil berlari kecil menaiki anak tangga.


“Ooooo Mau ibu lempar ini panci ke arah kamu?” teriak ibu yang berbalik arah untuk melihat Aurora sambil memegangi panci.


Mendengar teriakan tersebut dari dapur, Aurora hanya tertawa hingga dapat didengar oleh ibunya. Ibu Aurora hanya geleng-geleng kepala karena anak semata wayangnya itu kerap kali menggodanya dengan topik ingin pacaran dulu.


Sebenarnya ibu Aurora belum ingin Aurora mengenal lebih jauh tentang laki-laki apalagi pacaran. Ibu Aurora ingin anaknya fokus dengan kegiatan sekolah terlebih dahulu, mengikuti berbagai kegiatan di sekolah dan menjadi anak yang berpresasi.


“No, hari ini aku dianter ibu” pesan singkat Aurora lewat whatsapp.

__ADS_1


“yaudah nanti pulang bareng yah, sampai ketemu disekolah princess <3” balas Seno dengan diakhiri emot love berwarna hitam.


“okay beb <3” balas Aurora.


Sepasang kaki berhenti di depan pintu kelas tiga IPA satu, terlihat rapi menggunakan blezer donker berkancing putih berjumlah tiga. Mengenakan rok pendek coklat serta dasi berwarna dongker biru yang membuatnya terlihat berwibawa namun juga imut dan cantik secara bersamaan. Gadis itu menguraikan rambut lurusnya yang hitam lekat. Memiliki mata bulat cokelat dan bulu mata yang lentik serta bibir pink merangkai senyum tipis ditepi bibirnya, ia adalah Aurora.


“WOI ANAK PAUD, MAKAN YOK” panggil sebuah suara. Aurora yang terkejut mendengar suara tersebut hampir membuatnya jantungan. Siapa lagi kalau bukan si suara cempreng yang tidak tahu malu itu, Josel sahabatnya. Terlihat dari arah kiri Aurora dua manusia langka yang sangat patut untuk dimuseumkan sedang berdiri dan melambaikan tangan ke Aurora. Rasanya saat itu juga dia ingin menojos dua sahabatnya itu karena telah membuatnya malu.


“WOI AYOK MAKAN PAUD” panggil suara cempreng itu lagi. Tanpa aba-aba Aurora langsung berlari ke arah mereka.


“woi anjir, bisa nggak sih lu kalem semenit aja?” bentak Aurora.


“Bodo Amat gue laper, yok temenin kita” tanpa mendengar persetujuan Aurora, dua sahabatnya itu langsung menariknya untuk pergi makan ke kantin.


.........


“mas pesen super besar 3 ya” josel.


“baik mbak, nanti di antar ya soalnya ayamnya lagi digoreng sekalian nomer mejanya ini ya” jawab kasir tersebut sambil memberikan struk pembayaran. Setelah itu Josel pergi kebangku bersama dengan sahabatnya untuk menunggu pesanan mereka datang.


Setelah merapikan penampilannya di kamar mandi, dengan tergesa-gesa Aurora keluar sambil bercermin di kaca bedaknya tanpa memerhatikan orang didepan.


Bugh


Aurora tidak sengaja menabrak seorang lelaki, sehingga tas aurora serta bedak maybellin miliknya terjatuh dan bedak padat itu pecah. Aurora sedikit kesal dan berdecik karena bedak itu baru ia beli kemarin sore tapi sudah hancur berkeping-keping serta kacanya juga pecah.


“Ups sorry sorry” dengan lekas laki-laki itu mengambil bedak Aurora dan memberikan kepadanya. Saat mereka saling bertatapan, seperti waktu sedang berhenti sejenak dan mereka saling berfikir dalam pikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


“Ayam ?” ucap laki-laki itu.


“Telur?” ucap Aurora yang tiba-tiba merespon perkataan laki-laki itu.


Mereka saling tersenyum dan tertawa kecil seperti sedang merasa tidak percaya bahwa mereka dipertemukan kembali. Setelah hampir 3 atau 4 tahun ini hilang kontak karena kesibukan masing-masing. Laki-laki itu bernama Kara, senior Aurora saat mereka satu sekolah dulu di Cendana School Jakarta Selatan.


“Jadi, ayam atau telur duluan yang diciptain?” tanya laki-laki itu dengan senyum merekah disudut bibirnya. Pertanyaan ini merupakan awal mula Aurora dan Kara saling mengenal, saat itu lantaran Aurora kalah dalam suatu taruhan dan ia ditantang untuk bertanya kesenior kelas tiga SMA, untunglah saat itu ia bertemu dengan kara dikantin sekolah dan langsung menanyakan pertanyaan konyol itu pada Kara.


“ya ayam lah kak” jawab Aurora dengan jawaban yang masih sama seperti lima tahun yang lalu. Merekapun saling tertawa.


“kamu bareng siapa disini?” Kara.


“bareng sahabat aku kak, kakak sendiri?” Aurora.


Saat Kara akan menjawab, Hp Aurora berbunyi dan membuat Kara terdiam.


“Halo no, aku lagi di KFC bareng Josel sama Mauren.” kata Aurora untuk menjawab pertanyaan dari seseorang dalam telepon tersebut.


“maaf ya beb aku nggak bisa tepatin janji buat nganterin kamu pulang. Nggak tau nih tiba-tiba pak eko nyuruh aku ngelatih anak-anak yang mau join Basket” ucap Seno diseberang sana.


“iya, aku nggak marah kok. Yaudah aku mau makan dulu ya” Aurora


“iya beby, selamat makan dan nanti malam aku hubungi lagi ya” jawab Seno kemudian mematikan panggilannya.


Kara yang mendengar percakapan singkat Aurora dengan seseorang tersebut hanya diam dan entah sedang memikirkan apa didalam pikirannya. Sedangkan Aurora sekarang merasa canggung setelah menerima panggilan dari seno barusan.


“Yaudahkah, Rara balik ke meja dulu ya kak” ucap Aurora memecahkan keheningan dan langsung membalik badan dan berlari.

__ADS_1


Kara yang belum sempat mengiyakan sudah ditinggalkan oleh Aurora. Kara hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum dengan tingkah Aurora yang masih sama saja, pecicilan dan sedikit aneh menurutnya tapi menggemaskan.


__ADS_2