
“Eh kok gitu ngomongnya, dia kan senior kamu dulu. Minta maaf cepet!” perintah Santi ibu Aurora.
“Maaf” ucap Aurora kepada Kara lalu berlari meninggalkan mereka menuju kamarnya.
“Anak ini ya makin hari makin bandel, awas ya kamu nanti ibu sita hp-nya”
“Nggak papa tante, oya tan ini belanjaan tante tarok dimana?”
“Aduh tante sampai lupa nak, yok bantuin bawa ke dapur yah sekalian malam ini kamu makan disini!” ajak Santi menuju ke dapur.
“Tapi sekarang masih jam 6 sore tan, mungkin bisa lain kali Kara mampir lagi disini ya tante”
“Eh nggak boleh nolak perintah orang tua, malam ini kamu makan disini. Kamu bisa istirahat dulu di kamar tamu ya. Kalau nak Kara mau mandi, tapi nanti bajunya pakai baju kaos Aurora dulu ya?”
“Nggak usah tan, Kara duduk di ruang tamu aja sekalian ngerjain tugas”
“Boleh boleh, kamu duduk dulu di ruang tamu ya, bentar tante mau manggilin Aurora”
“Iya tante”
Saat Kara berjalan menuju ruang tamu, ia tak sengaja melihat foto Aurora saat masih kecil, mungkin sekitar umur 5 tahun.
“Cantik” batin kara sambil tersenyum dan terus menatap foto tersebut.
“Kakak kenapa sih nolongin ibuk segala, trus nganter ibuk pulang lagi?!” ucap Aurora yang muncul tiba-tiba sehingga membuat Kara terkejut.
“Astaga, kalau kakak punya riwayat penyakit jantung mungkin udah kambuh nih. Ibu kamu yang nyamperin kakak waktu di mall dan minta tolong dianterin soalnya mobilnya di bengkel”
“Ya kan bisa kakak nyari alasan apa kek”
“Kalau kakak mau bantuin ibu kamu emang masalahnya dimana?”
“Ya masalah!” bentak Aurora
“Kamu masih marah soal kejadian tadi siang ya? Kakak minta maaf ya?” Ucap Kara sambil mengulurkan tangannya
“Halah paling besok diulangin lagi, kakak kan gitu orangnya”
__ADS_1
jleb.
seperti sedang terkena tembakan yang mengenai perasaan kara.
“enggak! serius kakak minta maaf ya”
“hmm” tanpa memedulikan uluran tangan Kara
“Orang pemarah dan pendendam bakal cepet tua, emang kamu mau lebih keliatan tua dari pada ibumu?”
“Iiiiiiiiiii kan nyebelin lagi”
“hahahaha makanya jangan marah lagi, peace?” kali ini Kara mengulurkan kelingkingnya.
“iyaaa bawel” mengaitkan kelingkingnya dengan Kara.
“nah gitu dong, nanti aku beliin chicken sama pisang goreng kesukaan kamu”
“kok kakak masih inget, padahal aku udah gk pernah makan pisang goreng lagi semenjak pindah kebandung”
“oiya utang kamu mana?” tanya Kara tiba-tiba
“apa kamu bilang? Tua? Sini kamu biar aku getok kepalanya”
“hahaha tua. pak tua pak tua wewewewe” ledek Aurora sambil berlari menjauhi Kara
“Awas ya kamu” kejar Kara sambil meletakkan kedua tangannya kepinggang.
Tiba-tiba…
“sudah dulu mainnya, Ra bantuin ibuk didapur nak!” sahut Santi. Dengan muka lesu Aurora berjalan menuju dapur, sedangkan kara tersenyum melihat ekspresi Aurora yang menggemaskan menurutnya.
Kara POV.
Pertama kali melihatmu di tempat itu, aku seperti hidup kembali, seolah-olah kamulah alasan aku masih bernyawa sampai saat itu. Aku tidak menyangka kita dipertemukan lagi ra, rasanya seperti semesta sedang berpihak kepadaku dan aku tidak akan menyia-nyiakannya. Namun ternyata aku salah, semuanya telah berubah dan seperti takdir sedang mempermainkan perasaanku. Kamu telah dimiliki oleh orang lain dan aku sudah terlambat. Sekali lagi pikiranku bertolak belakang dengan hati, perasaanku mengatakan sakit, sedangkan pikiranku meyakinkan untuk menetap sebentar lalu mencoba beramai dengan keadaan. Karena pada kenyataannya kamu adalah kebahagiaanku saat ini. harapan untuk memilikimu tak lagi begitu kuharapkan seperti sebelumnya, entah aku bisa memilikimu suatu hari nanti atau tidak. Yang jelas saat ini aku bahagia karna aku berada didekatmu kembali.
Flashback on
__ADS_1
“kakak kok jahat sih bakal ninggalin aku tanpa ngasih tahu terlebih dahulu” ucap Aurora
“Maaf ra, aku kira aku gk bakal keterima di universitas itu”
“Tapi kakak diterima, kakak jahat katanya gk bakal ninggalin Rara tapi kakak adalah orang pertama yang ninggalin Rara setelah Rara percaya sama kakak. I hate you dan jangan pernah muncul lagi di hadapan Rara” Ucap Aurora lalu berlari meninggalkan Kara.
Lari Aurora begitu kencang diikuti Kara yang mengejarnya dibelakang hingga membuat seluruh orang di acara tersebut melihatnya, penuh keheranan dan saling bertanya apa yang sedang terjadi pada dua sejoli itu. Saat itu adalah acara perpisahan kelas 3 SMA dan Aurora mengikutinya karena diajak oleh Kara. Sayangnya saat Aurora keluar dari acara tersebut muncullah taxi sehingga membuat Kara tak dapat berbuat apa-apa. Kara hanya bisa melihat kepergian Aurora dari kejauhan namun ia masih tetap berlari bahkan kecepatannya lebih kencang dari sebelumnya. Namun nihil, Kara tak dapat menggapai taksi tersebut. Bagaimana mungkin seseorang dapat mengejar mobil yang begitu laju dikendarai.
Kara kehilangan kesempatan untuk mengatakan perasaannya karena emosi dan amarah Aurora.
“HAH! BANGSAT KENAPA SIH HARUS BEGINI, KENAPAAAA?” teriak kara setelah tak dapat mengejar taksi tersebut dan hanya bisa melihat kepergian Aurora.
“BANGSAT” teriak kara seperti orang yang sedang putus asa. Ia terjatuh ditempatnya, lalu ia menunduk dan jari-jarinya menyusuri setiap helai rambut sambil mengepal tangan, terlihat seperti orang yang paling begitu frustasi malam itu. Segala umpatan ia lontarkan untuk dirinya, lalu menangis seperti seorang anak yang lupa kemana arah untuk pulang. Ya begitulah perumpamaannya, karna Aurora sudah seperti rumah bagi kara. Tempatnya untuk berbagi cerita dan kadang ia lebih sering menerima rengekan Aurora karna pelajaran matematika yang sulit ia pahami, namun mendengar rengekan itu seperti sebuah semangat bagi Kara. Karna ia harus lebih paham tentang matematika agar ia bisa mengajarkan Aurora.
Dalam keadaan kacau, malam itu Kara memutuskan untuk pulang tanpa menyelesaikan acara perpisahannya.
Saat itu lima tahun yang lalu, rasanya hatiku begitu hancur dan sangat kecewa dengan diriku sendiri. Aku mengecewakanmu dan menghancurkan kepercayaanmu, tapi sekarang aku begitu bahagia bahwa kamu masih mau berbicara denganku bahkan seperti sudah melupakan kejadian malam itu. Terima kasih bahwa kamu telah melupakan kejadian buruk tentang kita Aurora. Aku akan menjaga hubungan ini dengan baik.
Flashback off
………………….
“gimana nak makanannya?” tanya Santi
“Enaklah masa nggak, nanti kalau dijawab enggak bakal dimarahin, ya kan kak?” celetuk Aurora dan dibalas senyum oleh Kara.
“Bukan kamu yang ditanya! ngomong sekali lagi ibuk lempar ini terong kekamu”
“Enak tante, masih sama enaknya kayak 5 tahun yang lalu” jawab kara sambil tersenyum
HEY ADA TELEPON MASUK PENTING MANA TAU DARI PACARMU. CEPAAAAAAAAAAT!
Bunyi panggilan telepon dari seseorang ke hp Aurora sehingga memecahkan suasana.
“YA ALLAH, bisa nggak kamu rubah ringtone kamu ra? Ibu geli sendiri dengernya. Pasti dari Seno lagi, apa dia nggak belajar?”
“hehehe permisi, Aurora keatas dulu ya, byeeee.”
__ADS_1
Kara yang mendengar akan hal itu hanya terdiam dan menyelesaikan makanannya agar ia bisa pulang dan beristirahat.
__Bersambung__