Menjadi Ibu Diusia Muda

Menjadi Ibu Diusia Muda
PELUKAN HANGAT


__ADS_3

“kak bisa bantu aku ngerjain bahasa inggris nggak?” ucap Aurora saat menghampiri Kara yang tengah duduk digazebo sekolah yang tengah sibuk dengan laptopnya.


“hah?” kaget kara dan langsung menutup laptopnya, entah apa yang tengah ia sembunyikan.


“hayoooo… kakak lagi ngapain itu? Lagi nyari film wikwik nih” ucap Aurora spontan


“kamu! Kenapa berani ngomong gitu sekarang.


“Siapa yang ngajain kamu nakal begitu.?” Ucap kara dan langsung mencubit pipi Aurora.


“ihhh sakit tau kak. Lepasin” rengek Aurora.


“nggak bakal, kecuali kamu Bilang siapa yang ngajarin kamu ngomong begitu”


“anu itu, dua makhluk astral”


“mauren sama josel?”


“kok kakak tau?”


“kan kemaren sempet kenalan, gimana sih” sambil menyentil dahi Aurora.


“adohhh ini mah kekerasan terhadap murid namanya”


“cepet mana yang mau dibantuin?” tanya Kara


“ah iya, ajarin aku grammar. Aku nggak paham” jawab Aurora dengan nada sedih.


Disisi lain, Seno tidak sengaja melihat aurora dan Kara yang sedang berdua digazebo sekolah sambil tertawa.


“hei bro, yok deh kekantin. Kita laper nih” ucap andre kepada Seno. Mereka pergi kekantin bersama pemain basket lainnya. Ya begitulah anak basket ini, mereka sangat kompak, pergi kekantin saja harus bareng-bareng. Untung saja nggak suka sama cewe bareng-bareng hehe


“no kamu kenapa sih?” tanya reno teman dekat Seno dikelas. Reno merupakan seorang perempuan berparas cantik dan merupakan anak dari teman papa seno.


“nggak Ren, lu sama siapa kekantin?”


“aku sendiri, soalnya tadi kamu duluan sih bareng temen-temenmu”


“maaf ya, tadi gue diculik andre”


“mau banget gue nyulik lu no, kalau nyulik Reno gue mah mau apa lagi nyulik buat dikawinin,ehem” goda andre sehingga membuat suasana dikantin heboh saat itu.


“cihuyyy lanjut bos, sikaaat” ucap dimas sehingga menambah seruan lagi yang lainnya.


“mimpi jangan ketinggian lu ndre”balas Reno


“buset gue ditolak, belum juga gue tembak lu ama senapan maut gue”


“lu mau bunuh anak orang, blok?”celetuk dimas


“dasar goblok emng teman lu yang satu ini” balas Reno


“udah diem lu pada, lu kenapa diem mulu sih” tanya dimas kepada Seno


“nggak gue belum tidur semalaman jadi agak lemes”


“yaudah yuk kepuskesmas, gue anterin sini” ucap reno.


“nggak ren gue nggak perlu ke puskesmas”


“yaudah yuk kekelas aja, bentar lagi juga masuk ini”ucap dimas.


Mereka pun bergegas menuju kelas XII IPS 1. Sebenarnya Seno awalnya masuk dikelas IPA namun ia memilih pindah ke kelas IPS. Alasan seno memilih IPS karena ia ingin mendalami pelajaran ekonomi karena saat nanti kuliah ia ingin mengambil jurusan ekonomi dan bisnis sehingga ia bisa bergabung dalam perusahaan papanya.


………..


“kita pulang bareng ya” ucap Seno saat menghampiri Aurora dikelasnya


“siap bos” jawab Aurora sambil tersenyum dan segera bergegas merapikan barangnya.


“kita main dulu yuk!”ajak Aurora sambil memegang tangan Seno.


“ayok” balas Seno sambil mempererat genggaman tangan mereka.

__ADS_1


Selama perjalan didalam mobil, suasana begitu hening. Tidak ada percakapan sama sekali, seolah sedang terjadi pertengkaran diantara dua manusia ini.


Mereka pun memutuskan menuju taman kota namun tetap berada didalam mobil.


“kamu kenapa Sen?” tanya Aurora memecahkan keheningan diantara mereka


“enggak, aku cuman ngantuk. Boleh pegang tangan kamu?” tanya seno.


Aurorapun menjawab dengan menganggukkan kepalanya dan memberikan tangannya kepada seno.


“makasih” ucap seno sambil tarsenyum, kemudian memejamkan matanya dengan menyandarkan badannya kebangku.


“kamu tuh kalau ada apa-apa cerita aja, jangan simpan sendiri” ucap Aurora sambil mengusap rambut seno.


Namun Seno hanya diam tanpa memberikan jawaban apapun, ia mungkin sudah terlelap dalam tidurnya sambil tetap menggenggam erat tangan Aurora.


……..


“nak kamu tau Aurora dimana?” tanya Santi kepada Kara melalui telepon


“enggak tan, emang kenapa tante?”


“Aurora belum pulang nak, padahal udah jam 8 malam. bisa bantu tante nyariin Aurora?”


“ya ampun, okay tan, ini kara berangkat ya nyari Auroranya sekarang”


“makasih ya nak dan maaf tante ngerepotin kamu. Mobil tante masih dibengkel soalnya”


“nggak papa tan. Kara tutup teleponnya ya tan”


“iya nak, hati-hati yah”


Kara pun bergegas mengeluarkan mobilnya dari parkiran apartemennya.


…………


“lagi tidur aja cantik” batin seno saat menatap wajah Aurora. Tangan seno mulai membelai rambut serta pipi lembut Aurora.


“bisa nggak kamu jangan bikin aku cemburu terus ra?” batin seno.


“eh seno, kok kamu nggak bangunin aku sih”


untunglah Aurora langsung bangun.


“maaf ya, aku nggak tega bangunin kamu. Soalnya kamu tidurnya lelap banget”


“udah jam berapa sen? Kok udah gelap sih”


“udah jam 8”


“HAH? ayok pulang sen. Bisa mampus aku kena marah ini” cemas Aurora


“astaga, aku lupa. Okay kita meluncur sekarang”


……..


“Kemana aja kamu Ra?” ucap Santi saat melihat Aurora keluar dari mobil bersama Seno.


“maaf ya tante, kami tadi pergi ke cafe sambil ngerjain pr”


“benar Aurora?”


“i-iya bu”


“awas ya kalau kalian sampai bohong”


“nggak tan, Seno nggak bohong”


“okay, Aurora kamu masuk. Dan kamu hati-hati dijalan seno” ucap Santi


“makasih tante, seno balik dulu ya tante” ucap seno sambil bersalaman dengan Santi.


Namun, disudut kota Bandung lainnya, Kara uring-uringan mencari keberadaan Aurora. ia sesekali mengusap wajahnya sendiri dan sambil berfikir, apa yang harus ia lakukan selanjutnya untuk menemukan Aurora. saat hendak keluar mobil tiba-tiba telepon Kara berbunyi.

__ADS_1


“halo tan? Maaf tan Kara belum bisa nemuin Aurora. bahkan Kara sudah…”


“nak kara, terima kasih ya sudah membantu tante, alhamdulilah Aurora sudah pulang. Makasih ya kamu udah khawatir sama Aurora. Kamu ada kesibukan lagi kah? Soalnya ada yang perlu tante bicarakan.”


“bagus lah tan kalau Aurora sudah dirumah. Enggak tan, Kara nggak ada kesibukan lagi kok, emang kenapa tan?”


“boleh kamu datang kerumah sekarang?”


“okay tan”


……….


“nak apa tante boleh minta tolong sama kamu sekali lagi?” ucap Santi saat Kara sudah sampai dirumahnya.


“minta tolong apa tante?”


“kamu udah seperti anak tante juga, tante juga nggak tau harus minta tolong siapa lagi. Keluarga tante nggak ada yang tinggal di Bandung. Boleh tante minta tolong agar kamu jagain Aurora dan nginap dirumah tante saat tante pergi keluar kota?.”


“hah? Tante yakin mau nitipin Aurora sama Kara?”


“tapi kan tan, Kara itu bukan..” ucap kara lagi


“tante tau nak, tapi hanya kamu orang yang bisa tante percaya saat ini. kalau Aurora bareng Josel dan Mauren mereka pasti pergi main terus. Tante percaya sama kamu. Karna tante sudah mengenalmu dan keluargamu”


“tapi kan tan, ini tu nggak baik”


“iya nak tante tau, tapi kalau tante bawa Aurora ke luar kota. Lalu bagaimana dengan sekolah Aurora.”


“Kara pikirin dulu ya tan, kara takut bakal mengecewakan tante”


“iya nak, tante tunggu jawabannya sampai besok yah soalnya lusa tante harus berangkat”


“baik tan”


“eh ada kak Kara, kakak ngapain kesini kak?” ucap Aurora yang tiba-tiba muncul dari kamarnya.


“tadi ibu minta tolong sama kara buat nyari kamu” jawab Santi


“o ohhh gi-gitu ya hehe, maaf ya kak udah ngerepotin” balas Aurora dengan gagap


“Kak kara, boleh ngomong sebentar?”


Ajak Aurora menuju halaman depan rumahnya.


“kenapa Ra?”


“sebenarnya kakak ada rencana apasih sama ibu?”


“hah? Maksud kamu?”


“kenapa kakak muncul lagi sih dihadapan aku?”


“kenapa kakak harus jadi guru aku?” tanya Aurora bertubi-tubi.


“bukannya tadi siang kamu baru aja minta diajarin bahasa inggris? Kenapa nanya begini? Aneh deh”


“iya aku aneh, kenapa kakak mesti balik lagi sih? bukannya kakak udah seneng hidup diluar sana?”


“ra, kok kamu ngungkit masa lalu sih”


“O jelas, emang setelah kakak pergi gitu aja, trus bakal seenaknya buat balik lagi ke kehidupanku? Mending kakak berenti deh jadi guru disekolah aku”


“Ra, kamu bisa dengerin penjelasan kakak dari awal nggak?”


“bodo amat gue nggak pedulu, awas muncul lagi dihadapan gue”


“Ra,…”


Tangan Aurorapun ditarik oleh kara agar masuk kedalam pelukannya. Pelukan yang hangat bagi keduanya, entah mungkin sedang melepas rindu yang telah lama mereka tahan.


“Ra aku kangen, bisa kita seperti dulu lagi?”


“mimpi!” Aurorapun melepaskan pelukan Kara dengan paksa.

__ADS_1


Kara hanya bisa diam ditempatnya dan menatap gadis itu pergi.


_Bersambung_


__ADS_2