MENJADI SIMPANAN OM TAMA

MENJADI SIMPANAN OM TAMA
PENELEPON MISTERIUS


__ADS_3

Axel menatap Clara seolah meminta pendapatnya di balas anggukan kepala olehnya.


" Baiklah kita cari sama sama." Sahut Axel.


" Aku akan mencoba meneleponnya dulu, barang kali dia sedang membeli sesuatu, kau ambillah tasmu." Ucap Axel menatap Clara.


" Baik Pak." Clara segera mengambil tasnya di ruang istirahat, saat itu juga ia mendengar ponsel Lean berdering dari dalam tas.


" Astaga Lean tidak membawa tasnya, pergi kemana sih tuh anak." Clara sekalian membawa tas Lean bersamanya kembali menghampiri Axel dan yang lainnya.


" Saya telepon Lean tapi...


" Lean tidak membawa tasnya Pak, ini ada pada saya." Clara menunjukkan tas Lean.


" Kalau Lean tidak membawa tasnya, kemungkinan dia tidak pergi jauh dari sini." Ujar Tama.


Mereka semua nampak berpikir, memang ada benarnya juga ucapan Tama.


" Tapi dia pergi kemana?" Pikir Axel.


" Kalau Lean tidak membawa tasnya, ada kemungkinan dia pergi bersama seseorang Pak. Karena tidak biasanya dia pergi selama ini." Ujar Clara menambah kebingungan mereka.


" Seseorang? Siapa?" Tanya Axel menatap Clara.


" Saya tidak tahu." Sahut Clara.


" CCTV... Apa di sini ada CCTV yang terhubung dengan ruang istirahat? Kita bisa melihatnya dari sana." Ujar Roslan angkat bicara.


" Tidak ada, karena saya menjaga privasi karyawan saya." Sahut Axel.


" Sekarang lebih baik kita berpencar mencarinya, saya khawatir terjadi. hal buruk padanya." Ucap Axel.


" Biarkan Clara bersamaku, aku takut Lean menghindariku jika dia melihatku sendiri." Ujar Tama.


Axel menatap Clara.


" Iya Pak tidak apa apa, saya bersama tuan Tama saja." Axel sangat terkejut mendengar nama Tama dari bibir Clara.


" Apa? Tama?" Tanya Axel memastikan.


" Iya Pak, beliau tuan Tama yang...


Tiba tiba Axel mendekati Tama lalu menarik kerah bajunya dan...


Bugh...


Satu pukulan keras mendarat sempurna di pipi kiri Tama. Tama terhuyung hingga menabrak meja yang ada di sebelahnya.

__ADS_1


Brak...


Tama meringis kesakitan saat perutnya menghantam pinggiran meja, rasa perih juga merambat di bibirnya yang terluka.


" Jadi kau pria yang tidak bertanggung jawab itu!!!" Bentak Axel penuh amarah.


Axel kembali menarik kerah Tama, ia menatap Tama dengan nyalang seolah ingin menguliti Tama hidup hidup. Roslan hendak membantu bosnya, namun Clara segera memeganginya.


Tama mengusap darah yang menetes di sudut bibirnya. Rasanya perih namun ia berusaha untuk tidak membalasnya. Ia yakin pria di hadapannya ini telah mengenal dekat Lean dengan baik hingga ia melakukan semua ini padanya.


" Apa ini yang membuat Lean pergi?" Selidik Axel.


" Aku tidak tahu." Sahut Tama.


" Aku yakin Lean telah melihatmu di sini sehingga dia berusaha menghindarimu. Jika sampai terjadi hal buruk padanya maka jangan harap kau bisa lepas dariku, aku akan melenyapkanmu hingga tak tersisa." Axel mendorong tubuh Tama.


" Dan ya... " Axel menunjuk wajah Tama dengan telunjuknya.


" Kau tidak perlu mencarinya, karena dia tidak mau bertemu denganmu. Pria brengsek yang telah mencampakkannya." Sambung Axel.


" Anda salah paham, itu sebabnya saya kemari untuk menyelesaikan masalah kami." Sahut Tama.


" Ada kesalahpahaman antara aku dan Lean. Selama ini aku sudah mencari Lean kemana mana, bahkan saat ini intelegent yang aku sewa masih mencari keberadaan Lean. Aku ingin meluruskan masalah kami dan membawanya pulang. Aku berencana untuk menikahinya." Ujar Tama mencoba memberi penjelasan.


" Bulshit!!!" Umpat Axel.


" Aku sudah berpisah dengan istriku, aku bertekad untuk menikahi Lean setelah aku tahu kalau dia hamil anakku, tapi sayang Lean keburu pergi dariku." Ucap Tama membuat Clara terkejut.


" Anda tahu Lean hamil?" Tanya Clara memastikan.


" Iya." Sahut Tama tersenyum bahagia membayangkan ia akan menjadi seorang ayah.


" Sejak kapan anda tahu tentang kehamilan Lean?"


" Bertepatan saat Lean pergi dari rumah." Jawab Tama.


" Apa anda bahagia?" Clara bertanya lagi.


" Kenapa tidak? Aku sangat bahagia karena aku akan menjadi seorang ayah dari gadis yang sangat aku cintai." Sahut Tama. Clara melongo tak percaya.


" Bukannya anda tidak suka anak kecil? Anda akan meminta Lean untuk menggugurkan kandungannya kan?" Tama mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan dari Clara yang menurutnya konyol.


" Bagaimana kamu bisa berpikiran seperti itu Nona, dia anakku. Darah dagingku, bagaimana aku bisa sekejam itu pada anakku sendiri?"


" Lalu bagaimana istri anda menceritakan tentang keburukan anda kepada Lean?" Tama kembali mengerutkan keningnya mendengar ucapan Clara. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa gadis itu menyebut nama istrinya? Pikir Tama.


" Apa maksudmu?" Selidik Tama.

__ADS_1


" Begini tuan Tama, sebelum Lean datang kemari, dia.. "


Akhirnya Clara menceritakan tentang pertemuan Anita dan Lean kepada Tama, seperti apa yang Lean ceritakan padanya tanpa ia kurangi atau tambahi sedikit pun.


" Mereka bertemu satu minggu setelah kepergian Lean dari rumah?" Tanya Tama memastikan.


" Iya Tuan." Sahut Clara.


" Kepergian Lean berarti karena rencananya, pantas saja dia terlihat senang dan selalu berusaha mendekatiku lagi, ternyata dia dalang di balik semua ini. Benar benar wanita busuk." Tama mengepalkan erat tangannya. Ingin sekali ia menonjok wajah Anita saat ini juga.


" Apa maksud anda semua yang di katakan oleh istri anda sebuah kebohongan Tuan? Apa Lean telah di bodohi olehnya? Maaf, saya harus memastikan keselamatan sahabat saya sebelum saya mempertemukannya dengan anda." Ucap Clara.


" Dia bohong! Selama ini bukan saya tidak mau memiliki anak, tapi dia. Alasannya karena dia menjalin hubungan dengan laki laki lain. Dan saya tidak mencintainya melainkan mencintai Lean." Ungkap Tama.


" Saya harus bertemu dengan Lean dan menjelaskan semuanya. Tolong bantu saya bertemu dengannya! Saya janji akan membuatnya bahagia setelah ini. Cukup sudah aku dan dia menderita karena perpisahan ini." Ucap Tama menghiba.


Mendengar hal itu Axel merasa kehilangan harapannya. Harapan untuk bersama dengan Lean karena ternyata Lean dan Tama saling mencintai. Hanya saja mereka terpisah karena keadaan.


" Baiklah mari kita cari Lean sama sama, semoga Lean dan bayinya baik baik saja." Ucap Clara.


" Amin."


Clara, Roslan dan Tama berada dalam satu mobil yang sama. Sedangkan Axel meminta Aliando menemaninya. Mereka mulai menyusuri jalanan kota dengan kecepatan lambat berharap bisa menemukan Lean secepatnya. Nampak kecemasan di wajah Clara dan Tama. Mereka mengamati setiap orang yang beraktifitas di pinggir jalan.


Drt... Drt.... Drt...


Ponsel Tama berdering, ia segera mengambilnya di saku celananya. Ia menatap layar ponsel yang menunjukkan nomer tak di kenal.


" Siapa Tuan?" Tanya Clara.


" Tidak tahu, nomer tidak di kenal." Sahut Tama.


" Angkat saja Tuan, siapa tahu dia membawa informasi tentang nona Lean." Ujar Roslan yang sedang fokus mengemudi.


" Baiklah." Sahut Tama.


Tama segera menggeser icon berwarna hijau dan terdengarlah suara si penelepon.


" Jika kau ingin Lean selamat, maka datanglah ke alamat yang akan aku kirimkan! Serta setujui semua syarat yang aku berikan padamu."


" Beraninya kau.... "


TBC....


Gantung ya kayak jemuran hhh


Jangan lupa untuk selalu mensuport author, terima kasih...

__ADS_1


Miss U All...


__ADS_2