
" Apa kau menerimaku dan mau menikah denganku?"
Rasanya aku ingin tertawa mendengar kalimat itu dari Pak Axel, entah mengapa rasanya lucu sekali. Tidak pernah terbayangkan olehku jika aku akan di cintai oleh bosku sendiri. Dimana status kami sangat jauh berbeda abahaikan langit dan bumi, dia orang kaya sedangkan aku tak punya apa apa. Dia orang yang baik dan aku orang hina yang rela menyerahkan harga diriku kepada pria dengan alasan cinta. Sungguh konyol sekali, bahkan sekarang aku menertawakan kebodohanku sendiri. Kebodohan yang menghancurkan hidupku sehancur hancurnya.
" Lean." Pak Axel menyenggol tanganku membuatku tersadar dari lamunanku, ia menatapku begitupun aku, aku tersenyum melihatnya.
" Maaf Pak aku tidak bisa." Sontak raut wajah Pak Axel langsung berubah masam. Tersirat kekecewaan di dalamnya. Bukan karena aku munafik menolak cinta dari pria sesempurna dirinya, tapi karena di dalam hatiku masih tertulis nama om Tama. Meskipun aku tidak bisa memilikinya, tapi aku masih mencintainya. Mungkin memang terlihat bodoh, tapi biarlah waktu yang akan mengubahnya, setidaknya aku senang bisa mencintai ayah dari janin yang aku kandung saat ini.
Mengingat hal itu hatiku terasa pedih. Sakit memang... Bahkan sangat sakit jika kita mencintai seseorang namun tidak bisa bersama karena di paksa oleh keadaan. Bersamanya merupakan hal mustahil bagiku tapi kehilangannya merupakan hal paling menyakitkan untukku. Tapi aku sadar, hadirnya hanya untuk mengukir kenangan bukan untuk membangun masa depan.
" Apa kau tidak mau memikirkannya lagi Lean? Siapa tahu kau akan berubah pikiran?" Tanya pak Axel kepadaku.
" Tidak Pak." Aku menjawabnya sambil menggelengkan kepala.
" Dalam kondisiku yang seperti sekarang ini, aku tidak memikirkan menikah ataupun jatuh cinta lagi. Kenyataan ini meninggalkan trauma dalam hidupku. Sekali mencintai justru hanya meninggalkan sakit hati." Ucapku.
" Lean, tidak semua pria seperti om kamu. Contohnya aku, aku akan bertanggung jawab padamu. Aku akan memberikan seluruh cinta ini untukmu dan anak anak kita nanti. Aku akan berusaha untuk membuatmu bahagia bersamaku, aku mohon!" Ucapnya menghiba.
" Semua orang pasti berusaha Pak, tapi Tuhan lah yang menentukannya. Dan penentuan Tuhan kadang tidak sesuai apa yang kita harapkan. Jadi jangan pernah janjikan apapun kepada siapapun karena bisa jadi Bapak tidak bisa menepatinya."
__ADS_1
Seperti janji om Tama padaku, batinku.
" Tidak Lean, percayalah padaku! Aku akan benar benar membuatmu bahagia. Kalau tidak percaya, obalah menikah denganku, maka kau akan menjadi wanita yang paling bahagia dan beruntung di dunia." Ucapnya sedikit mendesak.
Entah mengapa aku merasa ada yang aneh di sini, kenapa pak Axel begitu ingin menikah denganku? Padahal banyak perempuan di luar sana yang bersedia jadi istrinya, bahkan sekedar simpanannya. Tapi kenapa malah dia memintaku dan ingin menikah denganku? Berbagai pertanyaan bersarang di dalam kepalaku.
Tapi masa bodohlah dengan alasan pak Axel, daripada aku memikirkan hal itu lebih baik aku memikirkan diriku dan janin ini.
" Lean, aku tahu kamu pasti masih mencintai om kamu itu. Itu sebabnya kamu menolakku dengan berbagai alasan. Kamu harus bisa move on dari pria sepertinya, kamu..."
" Jangan paksa aku Pak!" Aku memotong ucapannya karena aku merasa tersudutka. Jujur aku tidak suka situasi seperti ini.
" Baiklah tidak apa apa, aku tidak akan memaksamu. Tapi walaupun kamu menolakku aku harap kamu tidak melarangku untuk tetap dekat denganmu. Aku akan menjagamu sebagai teman, jangan sungkan meminta bantuan kepadaku. Apapun yang kau inginkan aku akan memenuhinya, aku akan menggantikan peran ayah selama masa kehamilanmu. Walaupun aku tidak bisa memilikimu tapi aku cukup bahagia bisa selalu ada untukmu."
Aku sedikit terkejut dengan ucapannya. Sampai begitunya dia mau melakukan apapun untukku agar bisa dekat denganku. Mungkin jika orang lain pasti akan merasa senang, tapi aku tidak setega itu. Aku tidak akan memanfaatkan orang lain demi keuntunganku sendiri. Dan aku tidak mau memberikan dia harapan yang akan berakhir dengan kekecewaan. Biarlah masalah aku dan anakku nanti akan aku pikirkan sendiri.
" Maaf Pak, aku mau menyusul yang lain. Aku harap pertemuan kita setelah ini Bapak bisa bersikap seperti sebelumnya. Jangan pernah membahas tentang perasaan Bapak kepada saya lagi, saya berterima kasih karena Bapak telah berempati pada saya, tapi saya merasa tidak nyaman dengan perhatian yang Bapak berikan selama ini. Aku harap Bapak tidak lagi mengganggu waktu kerja saya seperti selama ini."
Setelah mengatakan itu aku segera pergi meninggalkan bosku sendiri, aku menyusul teman teman ke kedai biasa tempat kami nongkrong. Biar saja toko pak Axel yang menjaganya.
__ADS_1
Pov Axel..
Kecewa...
Tentu saja, siapa yang tidak kecewa dan sakit hati jika cintanya di tolak oleh sang pujaan hati? Jujur aku mencintai Lean sejak pertama kali bertemu, pertemuan pertama kami adalah saat Lean melamar kerja di sini, itu bagi Lean. Tapi tidak bagiku, karena pertemuan pertama kami yang sebenarnya adalah saat sekolah Lean melakukan kunjungan proyek. Dan kebetulan dia mengunjungi pabrik parfum milikku.
Aleana gadis yang waktu itu masih sekolah menengah atas, mungkin hampir mendekati ujian, yang mampu mencuri hatiku. Ya.. Saat itu aku yang sedang berada di toilet tiba tiba aku terpeleset dan kepalaku terbentur kloset. Rasanya kepalaku hampir pecah, pandanganku berkunang kunang, aku tidak bisa melihat dengan jelas. Ingin rasanya aku berteriak meminta tolong namun seolah suaraku tercekat.
Tapi tanpa aku duga, Lean menggedor pintunya, aku merasa bersyukur saat itu karena ada orang yang menyadari kemalanganku.
" Ada orang di dalam, tadi aku mendengar seseorang jatuh. Jika benar beri aku tanda jika kau butuh pertolongan." Aku mendengar teriakan Lean dari luar.
Aku mencoba mencari cari apa yang bisa menjadi tanda jika aku memang membutuhkan pertolongan. Saat aku melihat kran, aku segera memutarnya sehingga air yang keluar ke bak mandi menimbulkan suara yang bisa terdengar dari luar sana.
Lean segera mendobrak pintunya, dalam hitungan ketiga pintu berhasil terbuka dengan sempurna meskipun masih terhalang kakiku. Lean terus berusaha hingga ia bisa masuk ke dalam. Ia membawaku ke klinik yang ada di pabrikku. Dari situlah kami bisa berkenalan, tapi saat itu aku tidak mengaku jika aku yang punya pabrik melainkan aku hanya mengaku sebagai karyawan biasa.
Sejak pertemuan itu, aku terus terbayang wajahnya hingga berbulan bulan. Aku mencoba mencarinya bermodalkan alamat yang aku kantongi dari sekolah Lean, aku bahagia membayangkan pertemuan ku dengannya waktu itu namun saat aku sampai di tujuan rupanya Lean sudah tidak ada. Kata orang yang menjadi tetangganya ia pindah ke kota Jakarta ikut tantenya namun tidak ada satupun dari mereka yang tahu alamatnya.
Saat itu aku hanya bisa pasrah, aku selalu berdoa agar aku bisa bertemu dengannya suatu saat nanti. Hingga Tuhan mengabulkan permintaanku dengan mempertemukan kami, aku sangat bahagia dan berharap bisa memilikinya. Namun rupanya impian tinggallah impian saja, entah akan menjadi kenyataan atau tidak aku hanya bisa pasrah pada yang Maha Kuasa. Karena jodoh seseorang berada di tangannya. Aku cukup bahagia bisa mencintainya meskipun tanpa bisa memilikinya.
__ADS_1
TBC....