MENJADI SIMPANAN OM TAMA

MENJADI SIMPANAN OM TAMA
INSIDEN PENYELAMATAN


__ADS_3

Pov Tama...


Ingin rasanya aku melenyapkan Anita sekarang juga karena telah bermain main denganku. Biarkan saja dia menungguku di tempat itu, aku tidak memikirkannya. Yang aku pikirkan saat ini adalah menyelamatkan Lean. Ah iya Lean.. Mengingat namanya saja bisa membuatku tersenyum. Aku merasa bahagia karena kini pertemuanku dengannya sudah berada di pelupuk mata.


Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya, aku meminta Roslan untuk mengebut agar tidak keduluan oleh Axel. Aku yakin jika Axel juga memiliki perasaan yang sama denganku, dia juga mencintai Lean. Namun yang aku pikirkan, apakah Lean juga memiliki perasaan yang sama dengannya? Bagaimana jika memang itu benar? Apakah kesempatan untuk bersama Lean dan anakku akan hilang karena adanya Axel?


Jantungku berdebar kencang membayangkan hal itu. Aku tidak mau hidup lagi jika sampai hal itu terjadi. Aku tidak akan sanggup melihat anakku dan wanita yang aku cintai bersama orang lain. Hanya aku yang boleh menjadi diriku sendiri.


Di dalam perjalanan, ponselku terus berdering. Aku yakin itu dari Anita yang sudah menungguku di rumah siapa itu aku tidak tahu. Aku mengabaikannya, bahkan aku mematikan daya ponselku. Aku terus berdoa semoga pertemuanku dengan Lean merupakan jalan kebahagiaan untuk kami bersatu.


Pov Anita..


Ingin sekali aku membanting ponselku di depan banyak orang sekarang juga. Aku marah, aku kesal dengan sikap Tama yang seolah tidak mempedulikan ancamanku. Aku sudah berdandan cantik layaknya pengantin wanita sesungguhnya menunggu kedatangan Tama. Pak penghulu, kedua saksi dan beberapa tamu undangan menatap ke arahku seolah mencemooh diriku karena pengantin pria yang tidak kunjung datang.


Tiba tiba perasaanku mengatakan jika Tama telah mengetahui keberadaan Lean, aku bergegas meninggalkan tempat itu kembali ke rumah tua dimana aku menyekap Lean. Aku akui, aku memang sangat kejam karena terhadap keponakanku sendiri, tapi aku tidak peduli karena yang aku pedulikan bagaimana caranya aku bisa kembali pada Tama. Pria baik yang tidak pernah menuntutku selama ini.


Aku merutuki kebodohanku sendiri karena rumah yang aku sewa untuk pernikahan kami, sangat jauh dari lokasi Lean saat ini. Di saat aku ingin cepat sampai sana malah aku terjebak macet. Aku benar benar merasa sangat kesal, ingin rasanya aku punya ilmu menghilang sekarang juga.


Pov Author


Pada kenyataannya perjuangan menuju tempat Lean di sekap tidaklah mudah. Mereka harus meninggalkan mobil dan berjalan di jalan bebatuan dengan jarak satu kilometer dari jalan raya. Tama, Roslan, Clara, Axel dan Aliando berjalan bersama menuju rumah tua yang Anita jadikan tempat penyekapan.


" Ya Tuhan... Lindungilah Lean ya Rob, jangan sampai terjadi hal buruk padanya." Doa Clara yang di amini oleh semuanya.


" Kalau sampai tante Anita mencelakai Lean, aku akan membuat perhitungan padanya. Aku akan menjambak rambutnya dan mencakar wajahnya." Clara terus mengomel sepanjang jalan hingga tanpa sengaja ia menubruk Roslan yang sedang mengencangkan tali sepatunya.


Dugh...


" Awh maaf maaf!" Ucap Clara.


Roslan menatapnya dengan tajam, ia beranjak di depan Clara.


" Kalau jalan lihat lihat Nona! Jangan asal nabrak orang sembarangan." Ketus Roslan kembali berjalan.

__ADS_1


" Dih dingin amat." Cibir Clara menatap punggung kekar Roslan.


" Eh kalau di lihat lihat, tampan juga dia ha ha... " Clara melanjutkan langkahnya menyusul para pria yang semakin dekat dengan lokasi.


Di dalam rumah, nafas Lean merasa tercekat. Ia merasa sesak berada di dalam ruangan yang gelap dan berdebu.


" Ya Tuhan.. Kirim malaikat untuk menolongku, aku sudah tidak kuat lagi jika harus berada lebih lama di sini. Rasanya aku hampir tiada karena tidak bisa bernafas, aku mohon ya Rob! Tolong selamatkan kami berdua." Doa Lean dalam hati.


Tak lama terdengar suara pintu di dobrak dari luar. Terdengar juga sayup sayup orang berbincang. Lean merasa panik, ia takut itu orang suruhan Anita yang di tugaskan untuk melenyapkannya. Lean terus melafalkan doa hingga pintu terbuka dengan sempurna menampakkan sorot sinar matahari yang masuk ke dalamnya.


Lean membuka mata dan..


Deg...


Ia melihat sosok Axel yang saat ini berada di depan pintu, entah mengapa hatinya merasa kecewa. Ia berharap Tama lah yang berada di sana. Namun saat Lean memalingkan muka, sekilas ia melihat sosok Tama masuk ke dalam, ia pun kembali menatap ke arah pintu.


" Sayang kau baik baik saja?" Tama berjalan cepat mendekati Lean. Ia segera membuka lakban dan tali yang mengikat tangan dan kaki Lean.


Lean tidak bisa berbicara apa apa, jujur hatinya berbunga bunga melihat seseorang yang sangat ia rindukan berada di depannya namun ia enggan untuk menunjukkannya.


" Sayang aku merindukanmu." Tama menarik tubuh Lean ke dalam pelukannya.


Lean tidak membalasnya, ia menatap Clara yang berdiri di samping Axel. Clara menganggukkan kepalanya seolah memberi isyarat semua baik baik saja.


" Jangan pernah pergi lagi meninggalkan aku! Atau kau akan melihat jasadku saat itu juga. Aku tidak bisa hidup dengan baik tanpa kamu sayang. Maafkan aku! Maafkan aku yang terlalu bodoh hingga membuatmu pergi meninggalkan aku. Maafkan aku!" Tama mengeratkan pelukannya, sesekali ia menciumi pucuk kepala Lean.


" Tuan Tama, sebaiknya kita segera pergi dari sini sebelum nona Anita menyadari kedatangan kita. Anda bisa menyelesaikan masalah anda nanti di rumah." Ujar Axel.


" Iya, tuan Axel benar. Mari kita segera tinggalkan tempat ini." Timpal Roslan.


" Baiklah." Sahut Tama.


" Ayo sayang aku gendong." Tama hendak menggendong Lean namun Lean menolaknya.

__ADS_1


" Tidak perlu Om, aku bisa berjalan." Sahut Lean beranjak dari posisinya.


" Kamu terlihat lemah sayang, biar aku gendong saja." Ujar Tama.


" Aku tidak mau." Sahut Lean. Ia harus menjaga jarak dengan Tama karena ia belum tahu duduk permasalahan sebenarnya. Ia takut Tama memberikan perhatian hanya untuk mengelabuhinya seperti sebelumnya.


" Clara tolong bantu aku!" Ucap Lean.


" Baiklah." Sahut Clara.


Clara membantu Lean berjalan keluar meninggalkan rumah itu di ikuti oleh kaum lelaki di belakangnya. Tama nampak tersenyum bahagia menatap punggung pujaan hatinya. Gadis yang selama ini ia rindukan dan ia nantikan kedatangannya.


Cukup melelahkan bagi Lean berjalan dengan jarak sejauh itu. Namun akhirnya mereka pun sampai di mobil bertepatan dengan mobil Anita yang berhenti di sebrang jalan.


Melihat Tama sudah bersama Lean, emosinya memuncak. Ia langsung turun dari mobil lalu menyebrang jalan.


" Beraninya kau membohongiku Tama!!!!" Bentak Anita mendekati mereka semua.


" Aku tidak pernah menjanjikan apapun padamu Anita, jadi jangan berpikir aku membohongimu." Sahut Tama.


" Kini semuanya sudah berakhir, aku sudah menemukan Lean. Dan kini saatnya aku bersatu dengannya dan anak kami."


Lean cukup terkejut dengan ucapan Tama, namun ia tidak mau terlibat dengan perdebatan keduanya.


" Lean, masuklah mobil! Kita harus pulang secepatnya." Ucap Tama.


Lean menganggukkan kepalanya. Clara membukakan pintu mobil untuk Lean, melihat itu Anita mengambil sebilah pisau lipat dari tasnya. Ia tidak rela Tama bersatu dengan Lean, ia tidak mau hidup menderita tanpa fasilitas dari Tama. Ia berjalan mendekati Lean, namun tanpa Anita sadari Axel melihat pisau di tangannya.


" Lean awas!!!" Axel berlari mendekati Lean. Melihat itu, Tama. langsung menoleh ke arah Axel dan Anita.


Tama tanggap dengan apa yang hendak Anita lakukan, ia ingin melindungi Lean namun sayang semuanya telah terlambat hingga....


Jleb....

__ADS_1


Nah loh.. Siapa nih yang terluka? Axel, Tama atau Lean? Tunggu di bab berikutnya ya...


Miss U All...


__ADS_2