MENJADI SIMPANAN OM TAMA

MENJADI SIMPANAN OM TAMA
MISI PENYELAMATAN


__ADS_3

" Beraninya kau macam macam padaku Anita!!!" Bentak Tama. Tiba tiba emosinya memuncak begitu mendengar suara mantan istrinya.


Mendengar kemarahan bisnya, Roslan segera menepikan mobilnya.


" Wish... Sabar sayang! Jangan membentakku begitu donk. Apa kau ingin aku berbuat kasar pada gadismu ini hmm?"


" Eh dia bukan gadis lagi, tapi wanitamu." Sambung Anita di sebrang sana.


" Bagaimana kau bisa lebih dulu menemukan Lean, Anita? Kau benar benar wanita licik. Jika sampai Lean lecet sedikit saja, maka aku akan membunuhmu." Ucap Tama dengan nada tinggi.


Anita tersenyum smirk sambil menatap Lean yang sedang duduk di kursi dengan tangan dan kaki terikat. Tidak lupa mulut Lean ia bungkam menggunakan lakban.


Beberapa jam lalu...


Saat Anita ke kantor Tama, ia melihat mobil Tama keluar dari perusahaan. Ia segera mengikutinya dari belakang sampai ke kota B. Dengan sembunyi bunyi ia menunggu hingga Tama selesai meeting dengan clientnya. Ia berpikir akan menghampiri Tama, namun ia malah melihat Tama dan yang lainnya meninjau proyek. Ia terus mengikutinya hingga Tama masuk ke dalam mall tempat Lean bekerja. Dari kejauhan ia mengamati gerak gerik Tama hingga tanpa sengaja ia melihat Tama hendak menghampiri Lean.


" Sial!!! Ternyata Lean ada di sini, aku tidak akan membiarkan mereka sampai bertemu. Aku harus membujuk Lean agar menjauh dari Tama. Ya.. Aku harus melakukannya sebelum mereka bertemu." Anita berlari mendekati Lean, namun ia melihat Lean pergi ke suatu ruangan.


" Mau kemana dia?" Pikir Anita. Ia segera mengikuti Lean dari belakang sampai ia melihat Lean masuk ke dalam ruangan. Ia segera mengetuk pintunya.


Betapa terkejutnya Lean saat melihat Anita ada di depannya.


" Tan.. Tante." Ucap Lean gugup.


" Stt!!! Tama ada di sini dan dia sudah melihatmu, sekarang ikut Tante. Kita harus segera pergi dari sini." Tanpa membuang waktu, Anita langsung menarik tangan Lean lalu membawanya pergi dari sana sebelum ada yang melihat.


Lean berpikir Anita hendak menolongnya dari Tama, itu sebabnya ia menurut dan mengikuti Anita saja.


Anita membawa Lean ke sebuah rumah tua yang dulu pernah menjadi tempat pemotretan nya. Di dalam perjalanan ia nampak gelisah. Ia tidak bisa terus terusan menyembunyikan Lean dari Tama apalagi Tama sudah melihatnya. Jalan satu satunya agar Tama mau kembali padanya yaitu menjadikan Lean sandera.


Dan di sinilah mereka berada, di sebuah rumah tua yang sudah tidak berpenghuni puluhan tahun. Pengap dan berdebu. Lean tidak mengerti kenapa tantenya menyekapnya seperti ini.

__ADS_1


" Empt... Empt... " Lean berusaha mengendurkan tali yang mengikat tangannya.


" Kau dengar suara itu?" Tanya Anita.


Tama yang mendengarnya merasa gelisah, ia hafal benar suara siapa itu. Suara sang pujaan hati.


" Itu suara wanitamu." Sambung Anita tersenyum lebar.


" Lepaskan dia Anita! Jika sampai kau menyakitinya aku akan membuat perhitungan denganmu." Ucap Tama kesal.


" Bukan kau, tapi aku." Sahut Anita tanpa takut.


" Jika kau mau rujuk denganku, maka Lean dan bayinya akan selamat. Tapi jika tidak, jangan salahkan aku jika aku melenyapkan mereka." Ancam Anita.


" Jangan konyol Anita! Bagaimanapun dia keponakanmu dan itu berarti bayi dalam kandungan Lean calon cucumu." Ujar Tama mencoba membujuk Anita.


" Dia bukan siapa siapa lagi sejak dia mengkhianatiku." Teriak Anita membuat Tama menjauhkan telepon dari telinganya.


" Bukan dia yang mengkhianatimu tapi kau yang lebih dulu mengkhianatiku. Jangan menutupi kesalahanmu dengan mencari kesalahan orang lain Anita." Ujar Tama.


" Berani kau menyakiti Lean, aku akan membeberkan perselingkuhanmu dengan kekasihmu Anita. Aku..


" Aku sudah tidak peduli dengan karierku lagi, aku rela kehilangan karierku jika kau juga kehilangan anak dan wanita yang kau cintai. Meskipun dia keponakanku sendiri." Ucap Anita.


Lean merasa bingung di sini, kenapa tantenya berkata jika Tama mencintainya? Apa yang sebenarnya terjadi setelah kepergiannya? Karena dari tadi Anita tidak memberitahunya apa apa, pikir Lean.


" Kemarilah! Aku sudah menyiapkan semuanya untuk pernikahan kita yang kedua jika kau ingin menyelamatkan Lean." Setelah mengatakan itu Anita memutus sambungan teleponnya.


Di dalam mobil Tama nampak kebingungan begitupun dengan Lean.


" Kenapa? Kau merasa bingung dengan percakapan kami? Apa kau ingin tahu yang sebenarnya?" Tanya Anita menatap Lean. Lean hanya bisa menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


" Baiklah akan aku katakan padamu yang sebenarnya, tapi intinya saja karena aku harus bersiap siap untuk menyambut calon pengantin priaku." Ucap Anita duduk di kursi depan Lean.


" Sebenarnya yang Tama katakan waktu itu hanya kebohongan saja. Dia bilang hanya menjadikanmu pelarian, tapi sebenarnya dia mencintaimu. Setelah kepergianmu aku ketahuan selingkuh dan dia menceraikan aku. Dan sialnya... Ternyata aku hanya di memanfaatkan oleh selingkuhanku itu, itulah sebabnya aku kembali mengejar Tama. Tapi sampai sekarang aku tidak juga mendapatkannya, dan aku merasa sekarang lah kesempatan yang terbaik. Aku akan menjadikanmu sandera agar Tama mau kembali rujuk padaku." Lean benar benar tercengang mendengar penjelasan dari Anita. Ingin sekali ia mengeluarkan banyak pertanyaan, namun ia tidak bisa melakukannya.


" Kau sudah jelas kan? Untuk itu kau menurut lah denganku agar kau bisa selamat." Sambung Anita.


" Sekarang aku harus bersiap, kau berani kan di sini sendiri? Keponakanku tersayang." Ucap Anita menekan kalimat terakhirnya.


Anita berjalan meninggalkan Lean. Sedangkan di dalam mobil, Roslan sedang berusaha melacak keberadaan Lean berdasarkan nomer telepon yang baru saja di gunakan oleh Anita. Begitupun dengan Aliando.


Ya saat Tama dan Anita telepon, Clara menghubungi Axel dan meminta bantuannya untuk melacak nomer Anita. Alhasil kini mereka berdua sedang bekerja sama.


" Bagaimana Lan? Apa kau menemukannya?" Tanya Tama.


" Titik terakhir mereka berada di rumah tua, di jalan xx Tuan. Itu artinya lokasi nona Lean dan alamat yang di kirimkan oleh nona Anita berbeda." Sahut Roslan.


" Baiklah kita langsung ke sana saja." Ujar Tama.


" Tapi nona Anita meminta anda ke alamat yang dia kirim Tuan, saya rasa lebih baik anda ke sana saja. Biarkan kami yang menyelamatkan nona Lean."


" Tidak bisa! Aku sendiri yang akan menyelamatkan Lean." Sahut Tama cepat.


" Lalu siapa yang akan pergi ke alamat itu Tuan? Aku takut mantan istri anda akan mencelakai Lean." Ujar Clara.


Mereka bertiga nampak sedang berpikir mencari jalan keluarnya. Tiba tiba ponsel Clara berdering. Ia mendapat panggilan dari Axel yang mengabarkan jika Axel sedang menuju ke lokasi Lean di sekap. Mendengar hal itu Tama merasa tidak terima, ia segera meminta Roslan melajukan mobilnya menuju ke sana juga.


Di dalam rumah tua itu Lean nampak terus berdoa.


" Ya Tuhan.. Siapapun yang menolongku jika dia perempuan akan aku jadikan saudara, tapi jika laki laki akan aku jadikan suami."


Nah loh kira kira siapa nih yang datang lebih dulu? Tama atau Axel? Atau bukan keduanya?

__ADS_1


Tunggu di bab selanjutnya ya...


Miss U All...


__ADS_2