
Pov Tama
Satu bulan sudah kepergian Lean dari hidupku. Aku merasa hidupku tidak berarti lagi seperti ada sesuatu yang hilang dalam diriku. Bayang bayang wajahnya selalu terlintas di dalam pikiranku. Rasa bersalah dan dosa terus menghantui hatiku karena telah menelantarkannya dan calon buah hatiku. Ingin sekali aku menghampiri Lean secepatnya, namun aku tidak tahu harus menemuinya dimana. Aku sudah mencarinya kemana mana namun ia bagai hilang di telan bumi. Rasanya aku hampir putus asa karenanya.
Proses perceraianku pun sudah selesai, aku resmi menyandang status duda saat ini. Kepergian Lean membuat Anita kembali mendekatiku. Ia sering memberikan perhatian lebih kepadaku walaupun aku tidak pernah meresponnya. Dia punya seribu alasan untuk bisa menemuiku tapi aku tidak peduli, aku bahkan selalu mengacuhkannya. Aku sama sekali tidak selera untuk meladeninya.
Seperti siang ini, dia datang ke kantor membawakan makan siang untukku. Tapi aku sama sekali tidak menyentuh makanannya. Hal itu membuatnya merasa kesal.
" Tama makanlah sedikit saja! Akhir akhir ini selera makanmu menurun. Aku tahu kamu memikirkan Lean, tapi tidak seharusnya seperti ini. Kamu bisa sakit sendiri nanti." Aku begitu jengah mendengar ocehannya. Ia nampak duduk dengan kesal di atas sofa sambil menatap beberapa hidangan yang ia tata di atas meja. Padahal selama menjadi istriku, ia tidak pernah melakukan hal semacam ini. Makan saja aku selalu ambil dan masak sendiri. Rupanya ia ingin menghasutku agar aku mau kembali padanya. Tapi hal itu tidak akan pernah terjadi, walaupun sampai aku mati.
" Selera makanku semakin hilang setelah aku melihat wajahmu. Sudah berapa kali aku bilang padamu, jangan pernah temui aku lagi. Kita sudah tidak punya hubungan apa apa. Aku takut kedatanganmu akan jadi gosip yang tidak mengenakkan di kantor ini. Aku harap kamu bisa mengerti maksud ucapanku ini. Jika kau masih keras kepala maka jangan salahkan jika aku berbuat kasar padamu." Sudah sering kali aku memberikan ancaman padanya namun ia tidak pernah peduli. Sepertinya aku harus mengambil tindakan tegas agar dia tidak menggangguku lagi.
" Kenapa? Statusmu single begitupun denganku. Jadi tidak ada salahnya kalau aku mendekati kamu. Kecuali kalau kamu sudah jadi suami orang, itu baru akan menimbulkan gosip."
Sungguh tidak tahu diri memang, entah perempuan seperti apa yang pernah aku nikahi itu.
Aku mengambil ponsel di atas meja lalu segera menelepon petugas keamanan. Hanya butuh waktu lima menit, security kantor tiba di ruangan ku. Aku memintanya untuk menyeret wanita tidak tahu diri itu keluar dari kantor. Tak lupa aku juga membuang semua makanan yang ia bawa ke dalam bak sampah di depan kedua matanya.
Aku melihatnya nampak kesal dan terus mengumpatku, aku tidak peduli. Aku kembali duduk di kursi kebesaranku sambil memijat pelipisku yang terasa berdenyut nyeri. Bahkan rasanya kepalaku hampir pecah saat ini karena memikirkan Lean. Aku menelepon anak buah yang aku tugaskan untuk mencari Lean, namun sama saja. Hasilnya tetap nihil.
Prakkkkk....
__ADS_1
Aku melempar ponselku ke dinding hingga pecah tak berbentuk lagi. Aku tidak peduli seberapa mahal dan berharganya ponselku, aku merasa kesal karena tidak bisa menemukan wanita pujaan hatiku. Padahal aku orang yang cukup berkuasa di sini, namun usahaku selalu gagal. Satu hal yang aku ingat yang belum aku lakukan yaitu menyewa intelegent profesional.
Ya... Aku harus melakukannya sekarang. Ponselku... Ah ponselku malah hancur. Aku menepuk jidatku sendiri. Aku menggunakan telepon kantor untuk menghubungi Roslan, asisten pribadiku. Tak lama Roslan masuk menghampiriku, aku segera memberinya tugas untuk menyewa intelegent profesional. Aku memberinya waktu satu minggu untuk menemukan Aleana ku.
Pov Anita
Aku sangat kesal saat security menarik paksa keluar dari kantor Tama. Usahaku selama satu bulan mendekatinya rupanya sia sia. Aku tersenyum simpul saat mengingat pertemuan ku dengan Lean terakhir kali.
Ya...
Satu minggu setelah kepergian Lean, aku menemukan tespeck di atas ranjang miliknya. Aku yakin itu miliknya, rasanya aku ingin marah saat itu. Tapi tidak tahu harus marah pada siapa. Aku tidak kehilangan akal, aku ikut mencari dimana keberadaan Lean saat itu. Entah suatu keberuntungan atau takdir Tuhan, aku bertemu Lean di sebuah klinik tanpa sengaja. Saat itu tanpa sengaja aku menabrak seorang tukang becak di depan klinik, sampai aku membawanya ke dalam untuk mengobati lukanya.
Aku lihat Lean membawa kantong plastik berisi buku berwarna pink, buku kesehatan ibu dan anak. Ia nampak kaget melihatku ada di sana, namun aku berusaha tenang dan membujuknya untuk berbicara berdua.
" Katakan! Apa janin itu milik om Tama?" Sebenarnya tanpa aku bertanya pun aku sudah bisa menebaknya, namun aku ingin mendengar langsung dari bibirnya.
" Iya." Sahutnya singkat.
" Kau dengar sendiri kan kalau om kamu hanya menjadikanmu pelarian? Lalu bagaimana jika dia tahu mengandung anaknya?" Aku mencoba meracuni pikirannya agar ia tida berani muncul di hadapan Tama lagi. Karena dia satu satunya penghalang hubunganku dan Tama yang sedang di ambang kehancuran. Aku tidak peduli bagaimana nasib anak itu, anggap saja Lean sedang menerima karmanya.
" Apa kamu tahu alasan sampai sekarang Tante tidak juga punya anak?"
__ADS_1
Dia hanya menggelengkan kepalanya saja.
" Itu karena Tama tidak suka jika dia memiliki seorang anak. Dia bilang anak hanya akan membuat kerusuhan dalam hidupnya. Itu sebabnya selama ini tante meminum pil penunda kehamilan." Aku harap Lean percaya dengan kebohongan yang aku ucapkan.
" Tante tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi dia kalau sampai dia tahu kamu mengandung anaknya, padahal dia hanya bermain main saja denganmu. Dia pasti memintamu untuk menggugurkan kandunganmu."
Matanya terbelalak dengan sempurna mendengar ucapanku. Aku yakin dia percaya begitu saja.
" Tapi kamu tenang saja! Tante tidak akan memberitahunya asalkan kamu mau menurut kepada Tante." Ucapku.
" Apa yang harus aku lakukan Tan?" Inilah pertanyaan yang ingin aku dengar dari bibirnya. Memudahkan usahaku untuk memprovokasinya.
" Pergilah dari kota ini! Jangan pernah muncul di hadapan kami. Tante jamin kamu dan janinmu akan aman. Om Tama tidak akan tahu kalau kamu mengandung darah dagingnya. Tapi kalau sampai kamu bertemu dengannya, tante tidak bisa menolongmu dari kekejamannya." Ucapku seolah aku merasa iba padanya.
Aku melihatnya nampak sedang berpikir. Aku tersenyum smirk menatap perutnya yang masih rata. Sungguh rasanya ingin sekali aku memukulnya hingga janinnya keluar. Sungguh aku tidak rela Tama bersatu dengannya.
" Lean, tante tahu kamu salah. Tapi tante tidak membencimu. Tante sadar jika sebenarnya kesalahan ada pada diri tante sendiri karena telah mengabaikan om kamu. Tante juga masih menyayangimu seperti sebelumnya. Kamu sudah tante anggap seperti anak tante sendiri. Kau begitu malang hingga harus hamil di luar nikah, tante tidak mau melihatmu lebih menderita lagi. Bagaimana jika Tama memaksamu untuk membuang janin itu? Tante tidak akan sanggup melihatnya Lean. Sekarang pergilah dari kota ini, bahkan kalau perlu pergilah sejauh mungkin. Kejarlah kebahagiaanmu, doa tante selalu menyertaimu."
Sungguh pintar sekali aku berakting, padahal aku model bukan aktor. Aku membuka dompetku lalu memberikan uang sebanyak dua juta kepadanya untuk ongkos. Awalnya dia tidak mau tapi aku memaksanya.
Akhirnya dia pergi tanpa bisa berkata apa apa. Aku tersenyum senang karena sepertinya usahaku berhasil. Semoga dia benar benar tidak muncul di depan kami lagi.
__ADS_1
TBC....