MENJADI SIMPANAN OM TAMA

MENJADI SIMPANAN OM TAMA
UNGKAPAN CINTA UNTUK LEAN


__ADS_3

Pov Lean


Pagi ini aku kembali muntah muntah seperti biasanya, sudah satu bulan aku merasakan hal seperti ini setiap saat, rasanya benar benar sangat menyiksa. Semenjak hamil aku sering merasa pusing dan mual tiba tiba. Terkadang aku merasa tidak enak hati dengan karyawan lain, karena aku lebih banyak duduk daripada bekerja.


Ya aku bekerja sebagai SPG parfum di sebuah mall ternama di kota kembang. Aku mengubah penampilanku menjadi lebih dewasa agar tidak ada yang mengenaliku. Rambut aku cat sedikit pirang, bulu mata palsu yang lentik selalu terpasang menambah indahnya mataku, wajah penuh dengan riasan natural. Dan pakaianku, terlihat sedikit seksi memang. Aku memakai rok span selutut hingga menampakkan kaki menjangkau yang putih mukus serta di padukan dengan blazer hitam. Tak lupa dengan high heels lima centi yang setiap hari aku pakai.


Sejak pertemuanku dengan tante Anita, aku segera menghubungi temanku yang bernama Clara lewat telepon milik ibu kontrakan karena ponselku sudah aku jual buat bayar kontrakan sebelumnya, beruntung aku sangat hafal dengan nomernya.


Entah kebetulan atau suatu keberuntungan, saat itu bos tempat Clara bekerja sedang mencari karyawan baru untuk menggantikan karyawan lama yang resign karena ikut suaminya yang pindah tugas ke luar kota. Tentu saja aku tidak akan melewatkan kesempatan itu.


Awal kedatanganku ke sini Clara nampak terkejut mendengar kisah hidupku yang pilu. Ia merasa iba padaku, pada dasarnya kami teman dekat sejak sekolah dasar hingga kami menganggap satu sama lain sebagai saudara. Clara juga yatim piatu sepertiku hingga ia bisa merasakan bagaimana hidup seorang diri di dunia ini.


Aku tinggal di kontrakan kecil bersamanya, kontrakan yang hanya memiliki luas tiga kali enam. Bos kami yang bernama pak Axel, sangat baik padaku. Bahkan Clara bisa menyimpulkan kalau beliau suka padaku. Namun aku tidak menggubrisnya, mana ada seorang bos besar bisa memiliki perasaan lebih pada karyawannya.


Axel kafeel Christiano, pria tampan berusia dua puluh lima tahun yang sudah mapan. Usaha parfumnya sudah memiliki cabang dimana mana. Parfum idaman para laki laki dan pria karena bisa saling mengikat keduanya.


Tapi kalau di pikir, omongan Clara ada benarnya. Pasalnya pak Axel begitu memberikan perhatian lebih padaku di banding kepada karyawan lainnya. Namun aku tidak mau berpikir jauh, aku anggap suatu keberuntungan jika dia memang menyukaiku. Belum tahu saja dia siapa sebenarnya aku, aku tidak mau menaruh harapan hingga terluka untuk yang kedua kalinya.


Setelah merasa lebih baik, aku kembali ke toko berkumpul bersama teman teman lainnya.


" Muntah lagi?" Tanya Clara yang sedang duduk sambil menatapku.


Aku hanya menganggukkan kepala saja.


Aku memang tidak menyembunyikan kehamilanku pada teman teman. Tapi aku merasa bersalah karena aku telah membohongi mereka semua, aku berbohong jika aku sudah menikah dan suamiku bekerja di luar kota. Itu pun atas dasar ide Clara. Benar benar aku telah mengumpulkan dosa tanpa aku sadari.


" Terus apa kamu merasa pusing?" Tanya teman priaku yang bernama Agas.


Belum sempat aku menjawab tiba tiba suara pak Axel mengejutkan ku.

__ADS_1


" Siapa yang pusing?" Tanyanya sambil menghampiri kami. Sontak kami semua langsung berdiri.


Tanpa aku sadari, badanku terhuyung ke depan karena kepalaku yang mendadak pusing.


" Eits hati hati!" Pak Axel menopang tubuhku.


Ia membantuku duduk kembali, yang membuatku merasa tidak enak hati, pak Axel duduk di depanku membuat semua teman temanku meninggalkan kami.


" Pak saya jadi merasa tidak enak, karena kedatangan Bapak, mereka semua jadi pergi." Ucapku.


" Tidak apa apa, lagian mereka memang harus kembali bekerja. Dan sebentar lagi juga sudah masuk jam makan siang." Sahutnya.


" Begitupun dengan aku Pak, aku juga lanjut kerja dulu sebelum tiba jam makan siang." Aku beranjak dari kursiku hendak menyusul mereka namun tangan pak Axel mencekalku.


" Ada yang ingin aku bicarakan berdua denganmu." Ucapnya.


" Aku sudah tahu siapa kamu dan apa statusmu." Aku merasa terkejut dengan ucapannya. Bagaimana dia bisa tahu tentang aku? Padahal selama ini aku tidak pernah mengumbar status keluargaku kepada siapapun.


" Apa Bapak menyelidikinya? Untuk apa?" Aku bukan orang bodoh yang tidak akan hal itu.


" Maaf... " Ucapnya. Tiba tiba tangannya menggenggam tanganku, aku langsung menarik tanganku kembali sebelum ada yang melihatnya.


" Jujur dari awal aku berjumpa denganmu, timbul rasa suka dalam hatiku. Ada keinginan untuk bisa memilikimu, awalnya aku pikir kamu single. Tapi keadaanmu membuatku curiga, aku sempat bertanya pada salah satu temanmu, dan aku benar benar terkejut saat aku tahu kamu sudah menikah dan sedang hamil saat ini." Ucapnya. Aku hanya diam saja tanpa meresponnya, aku sudah tidak sabar ingin tahu apa saja yang ia temukan tentang jati diriku.


" Tapi aku merasa ada yang janggal di sini, bagaimana seorang suami membiarkan istrinya yang sedang hamil muda untuk bekerja? Dari sini aku mulai menyelidiki asal usulmu." Sambungnya. Aku tersenyum kecut mendengarnya.


" Itulah sebabnya aku menyelidiki latar belakangku tanpa sepengetahuanmu." Ucapnya lagi.


" Kau keponakan seorang model terkenal di kota Jakarta, kau menjalin hubungan dengan suaminya hingga kau hamil anaknya. Dan kau memilih pergi dari rumah itu karena tidak mau sampai om kamu tahu jika kamu mengandung anaknya."

__ADS_1


Mataku membulat dengan sempurna, bagaimana ia bisa tahu sedetail ini? Rahasia yang aku simpan rapat rapat kecuali dengan Clara. Apakah Clara mengkhianatiku? Apakah dia yang menceritakan semuanya kepada pak Axel? Pikiran seperti iri tiba tiba bersemayam di dalam hatiku.


" Lean." Aku terhenyak saat pak Axel menggenggam tanganku dengan erat. Aku mengedarkan pandangan takut ada yang melihatnya, rupanya teman temanku sedang pergi. Mungkin mereka mencari makan karena memang saat ini tiba jam makan siang.


" Lean, aku ingin melindungimu darinya. Aku ingin kamu menikah denganku, aku akan menerima anak itu sebagai anakku sendiri. Aku akan menyimpan rapat rapat rahasia ini, hanya aku yang tahu. Tidak dengan keluargaku, aku benar benar mencintaimu dan menginginkanmu sebagai pasangan hidupku. Aku tidak mau kamu menjadi milik orang lain Lean."


Aku termangu mendengar ungkapan cintanya. Aku tidak menyangka seorang pria seperti Pak Axel bisa jatuh cinta dengan wanita hina sepertiku.


Apa katanya? Mau menerima anak ini sebagai anaknya? Sebenarnya dia manusia atau malaikat? Bahkan ayah kandungnya saja tidak menginginkannya. Dia hanya menjadikan aku sebagai pelampiasan nafsu sesaat. Aku cukup terharu mendengar setiap kata katanya, namun aku cukup sadar diri siapa aku.


" Lean." Pak Axel kembali memanggilku hingga aku menatap wajahnya, kami pun saling melempar tatapan satu sama lain.


" Aku tahu kamu pasti bimbang mengambil keputusan ini. Tapi percayalah! Cintaku tulus untukmu, aku tidak memandang seperti apa masa lalumu. Aku mau menerimamu apa adanya, aku mau menerima kalian berdua. Jika kita menikah, setidaknya dia tidak akan curiga jika suatu saat kalian bertemu dalam keadaan kamu membawa anakmu. Tentu saja anakmu akan aman bersamamu Lean. Pikirkanlah baik baik ucapanku, kamu tidak akan terus terusan bisa menghindar darinya. Lambat laun kalian pasti akan di pertemukan. Apa yang akan kau kau jawab jika dia bertanya siapa dan dimana ayah dari anakmu? Apa kau akan mengatakan jujur padanya?"


Apa yang ia pikirkan memang benar adanya, aku hanya bisa menggelengkan kepala karena aku sendiri tidak tahu apa yang akan aku jawab jika sampai semua itu terjadi.


" Untuk itu menikalah denganku! Aku akan melindungi, mencintai dan menyayangi kalian berdua. Tinggalkan masa lalumu dan sambutlah masa depanmu."


" Apa kau menerimaku dan menikah denganku?"


Eng ing Eng... Mau nggak nih? Langsung gas si pak Axel mah buat dedek Lean bingung aja...


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak ya...


Terima kasih...


Miss u All...


TBC....

__ADS_1


__ADS_2