Merangkai Butir Cinta

Merangkai Butir Cinta
Bab 1 = Sabar


__ADS_3

..."Manusia hanya berencana Alloh lah yang menentukan, dan manusia hanya menginginkan Alloh lah yang menakdirkan."...


...Syahla Aisha Azzahra...


...* * *...


Mentari sedang tidak menampakkan sinarnya, begitupun kicauan burung yang enggan memamerkan suara Indahnya, pagi yang menyejukkan sanubari, ditemani rintikan hujan yang enggan berhenti.


Akhir akhir ini hujan melanda kota Bandung, memang menurut prakiraan cuaca dari mulai september hingga kurang lebih 5 bulan kedepan akan memasuki musim penghujan, maka tak heran jika hujan turun di setiap paginya.


Sama hal nya di sabtu pagi ini, hujan yang tak berhenti sejak dua dini hari, yang mungkin bagi sebagian orang cuaca pagi ini sangat cocok untuk tidur kembali, apalagi di masa masa transisi seperti Syahla, masa setelah menyelesaikan pendidikan SMA nya menuju masa yang akan mengawali kehidupan sebenarnya.


Kini Syahla telah menyelesaikan pendidikan MA (Madrasah Aliyah) sebenarnya Orang tuanya ingin memasukkan Syahla ke pondok pesantren, namun karena terkendala biaya orang tuanya pun memasukkan Syahla ke Madrasah Aliyah, setidaknya di madrasah Aliyah lebih mengutamakan Ilmu Agama dibanding sekolah umum lainnya.


06.00


Sabtu pagi ini hujan masih mengguyur, momen seperti ini dimanfaatkan pak Nadim, bu Halimah dan Syahla untuk bekumpul bersama sekedar berbincang, di temani teh hangat yang siap dinikmati.


"Ayah, Ibu, do'akan Syahla ya, pagi ini pengumuman hasil SBMPTN akan segera di buka." ucap Syahla mengawali pembicaraan


"Nak, tanpa kamu minta, Ayah dan Ibu selalu mendo'akan yang terbaik untukmu, apapun hasilnya nanti kamu harus terima dengan Ikhlas ya nak." Jawab pak Nadim seraya mengelus kepala anaknya


"Syahla, seiring berjalannya waktu kamu akan tumbuh dewasa, suatu saat nanti kamu akan dihadapkan dengan berbagai ujian, ingat pesan ibu ya nak, hadapi semua itu dengan ikhlas, sabar dan bersyukur di setiap takdir yang Alloh berikan." ucap bu Halimah dengan senyum manisnya


"Dan perlu kamu ingat juga nak, tiada yang bisa mengubah Takdir kecuali Alloh, Takdir itu milik Alloh, maka tugas kita hanyalah tawakkal kepad-NYA dan meminta perlindungan dari-NYA." ucap pak Nadim


"Terimakasih Ayah, Ibu, nasihat kalian akan Syahla ingat sampai kapanpun, do'akan Syahla semoga Syahla kuat menjalaninya." ucap Syahla kemudian berhambur dalam pelukan keduanya


Pagi ini pengumuman hasil SBMPTN akan segera di buka, karena keterbatasan biaya Syahla mengikuti program beasiswa bidikmisi, dan program beasiswa itu bisa diikuti 2 kali kesempatan saja, jika tahun ini gagal maka ada 1 kesempatan lagi untuk mengikutinya tahun depan.


Cita cita Syahla memang sangat tinggi, ia ingin menjadi seorang Dosen, ia ingin merubah kehidupan orang tuanya, selama ini orang tuanya lah yang menjadi motivasi hidupnya, alasan Syahla memilih jalur bidikmisi karena ia mengerti keadaan orang tuanya dan ia tidak ingin menyusahkan orang tuanya.


Tepat pukul 07.00 pagi pengumuman hasil SBMPTN telah dibuka.


Syahla menghela napas, kemudian ia mengetik ID dan password nya untuk membuka akun di situs PTN untuk mengetahui hasilnya.


Ia pun kembali menghela napas dn memejamkan mata sebelum memencet tombol enter.


"Bismillah." ucapnya lalu ia segera membuka mata perlahan

__ADS_1


"Ayah, Ibu, Syahla tidak diterima." sorot mata Syahla pada handphone yang ia pegang


"Qodarulloh nak, yang sabar ya, mungkin ini belum rezeki kamu." ucap bu Halimah sambil mengusap punggung anaknya


"Iya nak sabar, InsyaAlloh ada 1 kesempatan lagi tahun depan, jangan menyerah dong, anak ayah masa gitu" ucap pak Nadim sambil megusap kepala anaknya


"Iya Ayah, Ibu, Syahla ikhlas, do'akan Syahla dalam setiap langkah yang Syahla jalani." Jawab Syahla dengan mata berkaca kaca


"Do'a kami selalu menyertaimu nak."


"Terimakasih atas segalanya Ayah, Ibu." Jawab Syahla kemudian berhambur dalam pelukan keduanya


"Ayah, Ibu, Syahla ke kamar dulu ya."


Sebenarnya mereka tak tega melihat anak semata wayangnya itu bersedih, tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali hanya mendo'akan yang terbaik untuknya.


...* * *...


Syahla duduk termenung menatap jendela kamarnya, sambil menyaksikan hujan yang terus mengguyur, kini satu satunya harapan yang telah ia perjuangkan terbayar sudah, ia tak menyangka bahwa dirinya tidak diterima di Universitas yang sudah lama ia cita citakan.


Dering panggilan masuk menyadarkan lamunannya, Syahla segera mengambil handphone nya di atas nakas.


"Wa'alaikumussalam Ana."


"Syah, Alhamdulillah aku keterima, kamu gimana hasilnya?"


"MaaSyaaAlloh Alhamdulillah Ana, aku ikut bahagia. Qodarulloh aku tidak diterima Ana."


"Serius Syah? kamu pasti bohongkan?"


"aku ga bohong Ana."


"Yaa Allah Syah, lebih baik aku yang tidak diterima."


"Ana ga boleh gitu ah ga baik, ini sudah menjadi bagian takdirku, apapun hasilnya aku harus menerimanya."


"Maafkan aku Syah...yang sabar yaa...


Syah, dulu kamu pernah bilang, kalau kamu ga lulus SBMPTN kamu tidak akan lanjut kuliah ?"

__ADS_1


"Begitulah Ana, aku mengerti keadaan orang tuaku, aku tidak ingin menyusahkan mereka, kemarin saja aku ikut SBMPTN lewat jalur beasiswa bidikmisi, kalaupun jalur reguler rasanya tidak mampu Na."


"Aku mengerti kamu Syah, pokoknya kamu harus semangat, aku selalu mendo'akanmu sahabatku."


"Aamiin Yaa Alloh, terimakasih Ana, aku bersyukur memiliki sahabat sepertimu, mudah mudahan Alloh mempertemukan kita tidak hanya di dunia tapi juga hingga ke Jannah-NYA."


"Aamiin Yaa Alloh Yaa Robbal'alamiin, sama sama sahabat fillah ku, Syah besok pukul 07.00 kita berangkat yaa."


"Iya Ana, besok aku tunggu di rumah yaa."


"Iya Syah, udah dulu yaa, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Syahla menaruh handphone nya kembali di atas nakas.


"Yaa Robb mengapa rasanya sakit sekali kenapa harus aku yang tidak diterima, apakah memang aku ditakdirkan tidak akan kuliah." batin Syahla setelah mendengar pernyataan sahabatnya.


"Astagfirulloh, tidak seharusnya aku seperti ini, Ampuni hamba Ya Robb, hamba tahu ini sudah menjadi ketentuan-MU." batin Syahla kembali menyangkal bahwa yang telah ia lakukan itu salah.


Kirana Ayu lestari, Syahla selalu memanggilnya Ana, Ana adalah sahabat Syahla sejak duduk dibangku sekolah menengah atas hingga saat ini. Syahla dan Ana memiliki cita cita masuk perguruan tinggi negeri yang sama, bahkan mereka ingin terus bersama bukan hanya di dunia tapi juga hingga ke Jannah-NYA.


Ana dan keluarganya sangat baik kepada Syahla, Ana terlahir dari keluarga berada, Ana merupakan anak ke 4 (anak bungsu), saat ini Ayahnya memegang sebuah perusahaan, sedangkan pamannya (adik ayahnya) mengelola pondok pesantren, semua aset itu bukanlah milik mereka, namun milik ayah dan ibu mereka (kakek nenek Ana) yang sudah di wariskan kepada ayah dan pamannya.


Meskipun mereka diberi kelebihan harta, namun sifat rendah hati selalu melekat dalam diri mereka, bagi mereka harta hanyalah titipan dan bagi mereka derajat manusia dimata Alloh itu sama, dan sesungguhnya yang membedakan itu adalah keimanan dan ketakwaan seseorang kepada Alloh SWT.


..."Kekayaan tidaklah di ukur dengan banyaknya harta, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati."...


...(HR. Bukhori dan Muslim)...


...* * *...


...Note :...


...Saya kasi bocoran nih, nanti di pesantrenlah awal mula pertemuan dan disana pula akan muncul konflik permasalahan....


...Alhamdulillah...


...Tasikmalaya, 12 Januari 2022...

__ADS_1


...Ig : finahanfh_...


__ADS_2