
..."Semua ada karena Alloh yang berencana, dan semua terjadi karena Alloh yang menghendaki."...
...Syahla Aisha Azzahra...
...* * *...
Embun pagi menyejukkan hati
Semilir angin seolah bernyanyi
Kicauan indah tiada henti
Menanti hadirnya sang mentari
06.00
Mentari baru saja menampakkan sinarnya, Syahla membuka jendela kamarnya dan menghirup udara pagi sembari memejamkan mata, lalu mengucapkan basmalah untuk mengawali pagi yang indah.
Seperti biasa setelah selesai sholat subuh, Syahla membantu ibunya membersihkan rumah, sementara ibunya menyiapkan sarapan pagi, setelah selesai membersihkan rumah, Syahla menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, semua kebiasaan itu sudah Syahla lakukan sejak SMP dan berkat orang tuanya lah Syahla menjadi anak yang mandiri.
...* * *...
Di meja makan satu keluarga Agamis nan harmonis tengah menikmati sarapan pagi, walaupun dengan lauk pauk sederhana, mereka sangat mensyukuri pemberian sang Pencipta, apalagi yang memasak Ibunda tercinta, segala yang sederhana akan menjadi yang teristimewa.
"Nak, hari ini kamu jadi ikut kajian." ucap ayah seraya mengambil gelas berisi air
"Jadi ayah, nanti Syahla berangkatnya pukul 07.00" jawab Syahla
"Jangan pulang terlalu sore, dan jangan lupa bawa jas hujan." ucap ayah memberikan amanah
"Sekalian ibu titip belanjaan ya nak."
ucap ibu sambil memberikan catatan belanjaan
"Siap baginda raja dan baginda ratu, amanah yang kalian berikan akan saya laksanakan, siap." ucap Syahla sambil membungkuki badanya, lalu diikuti tawa oleh semuanya
"Ya udah ayah, ibu Syahla siap siap dulu."
Semua kembali melakukan aktivitasnya masing masing, pak Nadim pergi ke kebun, sedang kan bu Halimah menyapu halaman rumah.
...* * *...
"Assalamu'alaikum Bu," ucap seorang gadis yang turun dari motor matic nya dan mulai menghampiri bu Halimah
"Wa'alaikumussalam, eh neng Ana, gimana kabarnya." jawab bu Halimah yang menghentikan menyapu halamannya
"Alhamdulillah baik bu, ibu sekeluarga sehat?" Jawab Ana
"Syukur Alhamdulillah kalau sehat, ibu sekelurga juga Alhamdulillah sehat, ayo neng masuk." jawab bu Halimah lalu mengajak Ana masuk ke rumah
"Iya bu terimakasih, Syahlanya ada bu?" tanya Ana yang mulai memasuki ruang tamu
"Syahla ada lagi siap siap, bentar ya ibu panggilin dulu, silahkan neng nya duduk." jawab bu Halimah lalu menuju kamar Syahla
__ADS_1
Sudah menjadi rutinitas bagi Syahla dan Ana mengikuti kajian yang di adakan di Mesjid Agung kota, waktu yang mereka tempuh dari rumah menuju Mesjid Agung lumayan lama yakni sekitar satu jam, maklum rumah mereka berada di Pedesaan sedangkan Mesjid Agung berada di pusat kota, kajian yang diadakan setiap hari minggu itu banyak di hadiri orang, baik dari penduduk lokal maupun luar kota.
Tak lama bu Halimah kembali diikuti Syahla dengan dress abu muda dan khimar yang senada, kemudian Syahla berpamitan pada ibunya.
"Hai Ana, maaf ya nunggu lama." ucap Syahla
"Ga papa, kamu mah udah biasa kok."ucap Ana terkekeh
"Aku atau kamu yang suka lama hmm." ucap Syahla menyipitkan sebelah matanya
"Hehe." ucap Ana sambil mengangkat dua jarinya
Bu Halimah hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka.
"Ya udah Bu, Syahla berangkat dulu yaa." pamit Syahla sambil mencium punggung tangan ibunya
"Iya sayang fii amanillah." jawab bu Halimah sambil mengelus kepala anak semata wayangnya
"Bu, saya juga pamit dulu." ucap Ana
"Iya neng fii amanillah, salam buat ayah bunda ya neng." ucap bu Halimah
"Iya bu, nanti saya sampaikan." Jawab Ana
Kemudian mereka menaiki motor nya, seperti biasa Ana yang mengemudi dan Syahla yang duduk di jok belakang, motor yang di tumpangi mereka pun mulai melaju.
"Assalamu'alaikum Bu." ucap Syahla sambil melambaikan tangannya
"Iya Bu." teriak Syahla
...* * *...
Semua jama'ah dengan khusyuk mendengarkan ceramah yang di sampaikan oleh Ustadz Malik Al Bukhori.
"Para jama'ah sekalian sudah seharusnya kita sebagai manusia mempercayai bahwa setiap takdir ketentuan dan semua hal yang terjadi dalam hidup takkan lepas dari genggaman Alloh SWT."
"Jika kita mempelajari dan memahami Qhodo Qodar Alloh (keputusan dan ketetapan) maka kehidupan kita cenderung dihadapi dengan kebahagiaan dan ketentraman. Sebaliknya jika kita tidak mempelajari dan memahami Qhodo Qodarnya Alloh, maka resiko yang akan kita dapatkan adalah kegelisahan dan kesedihan bahkan sampai berlarut larut, Na'udzubillah."
Tak terasa air mata Syahla mulai membasahi pipi mendengar ceramah yang di sampaikan Ustadz Malik.
Syahla beristigfar memohon ampun kepada Alloh karena selama ini ia telah salah menyikapi takdir yang Alloh beri, dan mulai saat ini ia Ikhlas menghadapi kenyataan bahwa dirinya tidak bisa melanjutkan pendidikannya, kini Syahla merasa bahwa kekecewaan yang ada pada hatinya berganti dengan ketenangan.
"Mungkin hanya itu yang bisa saya sampaikan, mohon maaf apabila ada kesalahan, mudah mudahan apa yang saya sampaikan bisa bermanfaat bagi kita semua, dan semoga kita bisa mengamalkannya, marilah kita tutup Majelis Ta'lim ini dengan bacaan Hamdalah dan Kifaratul Majelis bersama sama."
Setelah selesai kajian, merekapun keluar Mesjid untuk membeli makanan sambil menunggu Adzan dzuhur.
Di halaman Mesjid terdapat taman yang lumayan luas, dan juga pengelola telah menyediakan rumput sintetis untuk bersantai bagi para pengunjung, dan biasanya setiap hari minggu taman selalu ramai di kunjungi orang.
Setelah membeli makanan merekapun duduk diteras mesjid yang menghadap taman sambil menyantap makanan yang mereka beli.
"Syah, maafkan aku ya." ucap Ana dengan raut muka sedih
"Maaf untuk apa Ana?" tanya Syahla dengan penuh keheranan
__ADS_1
"Aku malu sama kamu Syah, seharusnya yang pantas keterima itu kamu, bukan aku." Ucap Ana
Syahla menghela napas pelan
"Ana kamu percaya Takdir Alloh ga?"
"Ya aku percaya Syah, tapi yang lebih berhak itu kamu, kamu itu pintar, cerdas, bahkan dalam bidang apapun kamu selalu unggul." ucap Ana
"Ana, selama itu takdir Alloh aku akan menerimanya, seberapa besarpun ikhtiar dan do'aku jika Alloh belum menghendaki, semua takkan terjadi, maka dari itu aku akan belajar mengikhlaskannya, karena aku percaya takdir Alloh itu pasti yang terbaik." ucap Syahla dengan senyum manisnya
"MaaSyaaAlloh, benar katamu Syah, sekarang aku paham, mulai sekarang aku akan belajar menerima apapun yang di takdirkan Alloh." ucap Ana setelah mencerna ucapan Syahla
"Nah gitu dong, ini baru sahabatku." ucap Syahla dengan sedikit tertawa
"Eh Syah kamu mau ga mengajar di pesantren Kakek ku, kebetulan disana kekurangan tenaga pengajar, kamu mau kan?" ucap Ana dengan harapan Syahla bersedia menerima tawarannya
"Tapi Ana ilmu ku masih kurang, aku pun tidak kuliah, ditambah lagi aku bukan lulusan pesantren." ucap Syahla menjelaskan keadaannya
"Syahla, gapapa meskipun ilmu kita sedikit, setidaknya kita masih bisa mengamalkannya, disana pun kita akan belajar, kita akan mengaji bersama." ucap Ana yang berusaha membujuk Syahla
"Serius Ana, kita akan mengaji?" tanya Syahla meyakinkan
"Iya Syah, kamu mau kan?" ucap Syahla dengan harapan kali ini bersedia
"InsyaAlloh Ana, aku harus izin dulu sama ayah ibu, nanti aku kabari lagi ya." ucap Syahla
"Okk, ditunggu ya." ucap Ana
Adzan dzuhur berkumandang merekapun melaksanakan kewajibannya, setelah itu merekapun bersiap siap untuk pulang dan menikmati perjalanan yang dihiasi pemandangan alam yang indah.
...* * *...
..."Yang telah berlalu tidaklah dihilangkan dengan bersedih hati akan tetapi dengan ridha, kerelaan, pujian kepada Alloh, kesabaran, keimanan, kepada takdir, dan ucapkan Qodarallah Wa maa Syaa 'A fa'ala (semua ini takdir Alloh, Alloh melakukan apa yang di kehendaki-NYA)."...
...(Al-Imam Ibnul Qoyyim)...
...* * *...
...Note :...
...Saya kasih bocoran nih, nanti di pesantrenlah awal mula pertemuan dan disana pula akan muncul konflik permasalahan....
...|...
...Alhamdulillah...
...Tasikmalaya, 14 Januari 2022...
...Ig : finahanfh_...
...
...
__ADS_1