Merangkai Butir Cinta

Merangkai Butir Cinta
Bab 6 = Sesak Karena Harap


__ADS_3

Rayyan syahid alfatih adalah nama yang Syahla harapkan menjadi imamnya. Nama yang begitu indah seindah wajahnya, seindah tutur katanya, seindah adab dan kesopanannya, seindah akhlaq yang ada pada dirinya.


Syahla mengaguminya karna Rayyan membangun sekolah gratis untuk anak kurang mampu, dan yang membuat Syahla mengaguminya karna bakti Rayyan kepada kedua orang tuanya.


Setelah menunaikan sholat isya, Syahla dan Ana berniat untuk tidur lebih awal, karena acara siang tadi yang cukup padat membuat mereka ingin beristirahat.


Merekapun mengibaskan tempat tidurnya masing masing sambil membaca basmallah, dan memang mengibaskan tempat tidur sambil mengucapkan basmallah adalah salah satu Sunnah Nabi Muhammad SAW saat hendak tidur.


Setelah itu mereka pun berbaring di tempat tidurnya masing masing.


" Ana, besok hari sabtu dan minggu libur kan ya, nah kebetulan aku mau pulang dulu kerumah. " Ucap Syahla yang menyamping kearah tempat Ana tidur


" Hari minggu aja Syah pulangnya, biar bareng sama aku naik motor. " Tawar Ana yang juga menyamping ke arah tempat Syahla tidur


" Gapapa Ana, aku mau pulang besok aja, aku sudah ga sabar ingin ketemu ayah dan ibu ku, kamu tahu kan Ana menahan rindu berbulan bulan itu berat rasanya, aku sangat merindukan mereka, aku ingin peluk mereka, bertukar cerita dengan mereka, Yaa Alloh aku rindu sekali mereka... " Tutur Syahla


" Ya sudah gapapa Syah, tapi kamu yakin mau pulang sendiri. " Tanya Ana


" InshaAlloh aku yakin Ana. " Jawab Syahla


" Ana, besok pagi paman kamu ada ga? soalnya aku mau pulangnya pagi pagi. " Ucap Syahla


" Ada Syah, kamu tinggal ke ruangan paman ku aja. " Ucap Ana


" Syah, aku mau ngasih tahu kamu suatu hal. " Lanjutnya


" Okey, soal apa? " Jawab Syahla


" Tentang Ustadz Rayyan, Syah" Ucap Ana


" Iya Ana, memangnya ada apa? " Jawab Syahla sedikit penasaran


" Besok Ustadz Rayyan akan mengkhitbah Ustadzah Syifa, Syah. " Ucap Ana


Seketika badannya terasa kaku, Syahla merasa hatinya hancur berkeping-keping kala mendengarkan penuturan sahabatnya itu. Dengan cepat Syahla pun menjawab pernyataan sahabatnya itu


" MaaSyaaAlloh, memang mereka berdua itu cocok Ya Ana, sama sama cantik dan ganteng, terus Sholeh dan Sholeha lagi, intinya mereka itu pasangan yang sempurna. " Ucap Syahla


" Matamu ga bisa bohong Syah, sabar ya Syah, aku do'akan semoga kamu mendapatkan seseorang yang lebih baik lagi, tenang ya Syah, karena Alloh sudah menyiapkan seseorang yang terbaik menurut versi-NYA. " Tutur Ana


" Iya Ana, Aamiin Yaa Robbal'Aalamiin, kamu juga sama ya, semoga do'a yang baik kembali padamu. " Jawab Syahla yang memang tidak bisa menyembunyikan mata nya

__ADS_1


" Aamiin Allohumma Aamiin, udah sekarang tidur ya Syah. "


Ana sengaja menyuruh sahabatnya untuk tidur karena ia tidak ingin melihat sahabatnya itu bersedih, Ana merasakan apa yang sahabatnya itu rasakan. walau bagaimanapun Ana juga seorang perempuan yang memang pernah merasakan kagum akan seorang insan, namun bedanya rasa yang Ana miliki itu terbalaskan, dan dalam waktu dekat Ana akan di persunting oleh Insan pilihannya.


Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam, seperti biasa sebelum tidur Syahla selalu membaca Ayat Qursy, surat Al-palaq, An-nas, Al-Ikhlas dilanjut dengan dzikir dan do'a sebelum tidur, tak lupa Syahla pun menyalakan Alarm pukul dua untuk melaksanakan Sholat Tahajud.


Semua santri sudah terlelap dalam tidurnya, termasuk Ana sahabatnya yang mungkin sedang di Alam mimpi, sementara Syahla masih menyaksikan langit langit kamar dengan tatapan sendu, sungguh Syahla merasa terperangkap dalam sebuah harapan. bagaimana tidak, siang tadi ibunya Rayyan menawarkan dirinya jadi menantu, dan hari esok Rayyan akan mengkhitbah orang lain.


hati perempuan mana yang tidak terbawa perasaan ketika ditawarkan jadi menantu oleh ibu dari laki laki yang disukai, kalaupun Syahla tidak memiliki perasaan terhadap Rayyan mungkin Syahla tidak akan merasakan kekecewaan.


" Untuk temanku, yang mungkin akan dipilih dia yang kuharapkan jadi Imamku, selamat karna kamu beruntung mendapatkannya, kamu punya segalanya, cantik rupamu, cantik pula hatimu, indah tuturkatamu, indah pula akhlaqmu.


siapa lah aku yang tak ada apa apanya jika dibandingkan denganmu, aku sadar bahwa memilikinya adalah ketidak mungkinan yang pasti terjadi. Sekali lagi kuucapkan selamat, kamu memang wanita Sholeha yang pantas bersanding dengannya. "


Batin Syahla yang kemudian terlelap dalam tidurnya


* * *


06.00


Setelah meminta izin kepada Ustadz Usman, Syahla pun mengemas barang yang akan di bawa, tak banyak barang yang ia bawa, toh ia hanya pulang dua hari saja dan hari senin ia harus sudah ada di pesantren, ia pun bersiap untuk pergi ke terminal bus, sebelumnya Ana berjanji akan mengantarkan Syahla sampai terminal bus.


" Ana makasih ya, kamu udah mau nganterin aku. " Ucap Syahla


" Iya Syah sama sama, seandainya hari ini aku tidak ada tugas kuliah, mungkin aku juga akan pulang sekarang. " Ucap Ana


" Pokonya kamu fokus dulu sama perkuliahan mu Ana, lagian kamu mau pulang kapanpun pasti bisa. " Ucap Syahla


" Yaudah Ana aku mau naik bus dulu ya, sebentar lagi bus nya mau berangkat, Dah Ana Assalamu'alaikum. " Lanjutnya lalu bergegas menuju bus


" Iya Wa'alaikumussalam Syah, Fii Amanillah. " Jawab Ana


Syahla pun menaiki bus, perjalanan yang Syahla tempuh memakan waktu kurang lebih satu jam, di perjalanan Syahla menyaksikan pemandangan yang begitu indah, setelah melewati perkotaan ia pun akan melewati perkebunan teh, jika sudah melewati perkebunan teh itu artinya rumah Syahla sudah semakin dekat.


Setelah menuruni bis, Syahla harus berjalan untuk menuju rumahnya sekitar seratus meter, Syahla sengaja tidak memberitahu ayah ibunya bahwa ia akan pulang, karena ia ingin memberi kejutan kepada kedua orang tuanya.


Saat Syahla sampai pekarangan rumah, ia melihat ibunya sedang menyapu halaman, Syahla pun terus berlari karena tak sabar ingin segera memeluk ibunya.


" Assalamu'alakum ibuuu.. " Ucap Syahla


Sontak ibu Halimah menoleh kebelakang kala mendengar suara itu, suara yang amat ia rindukan.

__ADS_1


" Wa'alaikumussalam nak.." Jawab bu Halimah


Seketika Syahla langsung memeluk sang ibu dengan eratnya, sampai air mata tak terasa mengalir di pipinya, begitu pun bu Halimah yang membalas pelukan Syahla kemudian mengecup pucuk kepala anaknya.


" Kamu baik baik saja kan nak? " Ucp bu Halimah sambil menghapus air mata Syahla


" Alhamdulillah Syahla baik bu. "Ucap Syahla


" Ayah dan ibu sehat juga kan? Oh iya bu ayah dimana? Lanjutnya


" Alhamdulillah ayah dan ibu sehat nak, ayah ada di dalam, ayo nak kita masuk. "Ucap bu Halimah


Lantas Syahla pun memasuki rumah


" Asslamu'alaikum Ayah.. " Ucap Syahla yang sedikit berlariĀ menuju ayahnya yang sedang membaca koran, kemudian Syahla pun mencium punggung tangan ayahnya


" Wa'alaikumussalam nak.. " Jawab ayahnya kemudian mengusap pucuk kepala anaknya


" Gimana nak, kamu betah disana?" Tanya ayahnya


" Alhamdulillah Syahla betah ayah, disana Syahla banyak mendapatkan ilmu, dan Syahla ingin menerapkan nasihat yang ayah berikan dulu, yaitu menggali sambil menebar. " Tutur Syahla yang tersenyum bahagia kemudian memeluk ayahnya


" Aamiin yaa Robbal'Aalamiin, semoga Alloh selalu memberkahimu nak. " Ucap ayahnya lalu kembali mengusap kepala anaknya


Begitulah Pak Nadim yang selalu mendidik dan membimbing anaknya agar berada di jalan Alloh, seperti salah satu nasihat yang pak Nadim berikan kepada Syahla yaitu menggali sambil menebar, maksudnya kita harus menggali atau memperdalam ilmu Agama, setelah itu kita harus menyebarkan atau mengamalkannya.


* * *


Bismillah......


Sebelumnya saya ingin meminta maaf apabila dalam penulisan ini ada kesalahan dan kekurangan, saya hanya ingin belajar dan mengasah kemampuan saya dalam bidang menulis.


Cerita ini murni dari imajinasi saya, dan mudah mudahan lewat tulisan ini bisa bermanfaat bagi saya dan bagi semua pembaca.


Terimakasih sebelumnya.


Alhamdulillah..


Tasikmalaya, 12 November 2022


Fina Hanifah

__ADS_1


__ADS_2