
Hari ini tepat enam bulan Syahla mengabdi di pesantren Al Barokah ini, hari harinya Syahla lalui dengan penuh rasa Syukur dan kebahagiaan.
Pagi ini Ustadz Usman dan Umi Laila akan melepaskan putra semata wayangnya Fahmi Alaydrus untuk membina rumah tangga sekaligus menjadi Imam yang baik bagi keluarganya kelak, Fahmi Alaidrus akan menikah dan mengarungi bahtera rumah tangga dengan pilihan hatinya Rania Shanum.
Saat ini Ana merasa kehilangan akan sosoknya, bagaimana tidak, Ana sudah menganggap kakak sepupunya itu seperti kakak kandungnya, Ana tidak memiliki kakak laki laki, kedua kakaknya Ana itu perempuan, Ana dan fahmi kadang seperti tom and jerry, kadang juga seperti jari tengah dan jari telunjuk.
Prosesi akad nikah Fahmi dan Rania telah selesai, tamu undangan pun mulai berdatangan memasuki gedung, do'a dan ucapan terus bergulir pada kedua mempelai.
Terlihat dua gadis memakai dress couple dengan balutan baju berwarna army dan paduan hijab greenmint, kedua gadis itu mulai memasuki gedung.
saat dikeramaian mata Syahla menangkap sosok yang selama ini ia kagumi, ya laki laki itu adalah Rayyan Syahid al-Fatih, tetapi yang pasti, saat Syahla mengetahui keberadaan Rayyan, Syahla selalu menundukan pandangannya, karena Syahla tahu hal ini akan berujung zina mata, Rayyan datang dengan seorang ibu paruh baya, lebih tepatnya mungkin beliau ibunya Rayyan, namun Syahla merasa tak asing dengan seorang ibu yang ada di samping Rayyan, ia merasa pernah bertemu tetapi entah dimana.
Di saat Syahla memperhatikan mereka, Syahla melihat mereka berjalan kearahnya.
Kemudian Syahla pun menunduk dan merutuki dirinya sendiri.
"*Istigfar Syah, jaga pandanganmu*." ucapnya dalam hati
Dan benar saja mereka datang menghampiri Syahla dan Ana.
"Assalamu'alaikum Nak maaf, boleh bicara sebentar?" ucap ibu itu
"Wa'alaikumussalam iya boleh bu." ucap Syahla
"Nak, ibu rasa ibu pernah lihat kamu, kalau ga salah, kamu itu yang nolong ibu di apotek bukan?" ucap ibu itu berusaha mengingat
"Iya bu itu saya." jawab Syahla
"Alhamdulillah akhirnya kita ketemu, maaf ya ibu lupa belum ngucapin terimakasih." ucap ibu itu
"iya gapapa bu." jawab Syahla dengan senyum khasnya
" oh iya nak perkenalkan nama ibu Hasna, dan ini anak ibu Rayyan, nama kamu siapa Nak?" ucap ibu itu
"Nama saya Syahla bu, ini sahabat saya." jawab Syahla menoleh ke Ana
"Saya Kirana bu, panggil aja Ana." ucap Ana
"Kirana keponakannya Ustadz Usman bukan nak?" tanya ibu itu
"iya bu saya keponakannya Paman Usman."jawab ana mengiyakan
__ADS_1
"MaaSyaAllah, dulu Ibu sama Almarhum suami Ibu suka main kerumah paman kamu nak, dan seingat ibu kamu itu masih kecil, tapi sekarang kamu sudah besar jadi pangling nak. " Ucap Ibu Hasna
"iya bu Ahamdulillah, bu mohon maaf saya mau pamit kesana dulu." ucap Ana lalu menoleh ke arah Syahla
"Syah aku kesana dulu ya." lanjutnya kemudian berlalu dari mereka
kini tinggal Syahla, Ibu Hasna dan Rayyan yang ada di sana, Syahla merasa nervoust, padahal ia berharap Ana tidak pergi.
"Eh nak Syahla udah punya calon belum?" ucap Ibu Hasna
Deg..
"*Ya Rabb kenapa Ibunya Rayyan tanya soal ini*." batin Syahla
"emm saya bu? saya belum punya, emm minta do'anya aja bu." jawab Syahla sedikit gugup
"emang ga ada yang deket gitu sama gadis secantik kamu nak?" tanya ibu Hasna
"emm mungkin jodohnya belum datang aja bu." jawab Syahla spontan
"Ibu percaya sama kamu nak, kamu ga mungkin dekat dengan laki laki yang bukan mahram, ibu tahu kamu menjaga marwah kamu sebagai seorang perempuan." ucap Ibu Hasna
"Aamiin semoga Allah selalu memberkahimu nak." jawab Bu Hasna
"Rayyan juga belum punya calon, nak Syahla mau ga jadi menantu Ibu?" Lanjutnya
Deg
"*Yaa Rabb hamba harus jawab apa, hanya Engkau yang tahu hamba menginginkannya, tapi hamba sadar Yaa Rabb, meskipun hamba hanya melihat raut di wajahnya, yang jelas tidak menginginkan hamba, hamba dapat menangkap jelas dari sorot matanya atas keraguan itu, hamba juga sadar bahwa hamba hanya orang biasa dan tak pantas bersanding dengannya*." batin Syahla
Belum sempat Syahla menjawab, Rayyan langsung memotong pembicaraan mereka.
" Bu, ayo kita kesana, Rayyan masih ada kerjaan Bu, nanti keburu siang." sanggah Rayyan dan hanya di beri anggukan oleh ibunya
"Nak Syahla, Ibu duluan ya, Assalamu'alaikum." ucap Bu Hasna
"Iya Bu Wa'alaikumussalam."jawab Syahla
Lalu mereka pun berlalu dari hadapan Syahla
__ADS_1
"*Yaa Allah... aku berusaha memendam dan menjaga perasaan ini, aku tidak pernah lelah dan berhenti menyebut namanya dalam do'aku, tapi ketetapan ada pada-MU Yaa Rabb, Aku serahkan segala urusanku pada-Mu*." batin Syahla
Adzan Dzuhur berkumandang, acara pun di jeda terlebih dahulu untuk melaksanakan Sholat dzuhur, disamping aula terdapat Mesjid besar yang menghadap perkebunan teh.
Setelah melaksanakan Sholat dzuhur, Syahla dan Ana beristirahat sejenak di teras mesjid yang menghadap perkebunan teh.
"Syah, tadi kamu dan ibunya Rayyan lagi bicarain apa? soalnya aku perhatiin kaya yang serius gitu." tanya Ana penasaran
"kamu sih ninggalin aku, harusnya kamu bilang dulu kalau mau pergi, kan aku malu bicara sama mereka." jawab Syahla kesal
"latihan Syah biar nanti ga malu lagi hihi, eh jawab dulu pertanyaanku tadi." pungkas Ana
" engga bahas apa apa, cuma nanya aja aku udah punya calon apa belum." jawab Syahla
" terus terus kamu jawab apa?" tanya Ana penasaran
"aku jawab bahwa aku belum punya." jawab syahla
"terus reaksi ibunya Rayyan gimana? apa jangan-jangan nawarin kamu jadi menantunya?" tanya Ana semakin penasaran
"iya Ana, tapi mungkin itu hanya sebatas basa basi aja." jawab Syahla
"MaaSyaaAllah serius Syah? aku do'akan semoga jadi kenyataan Syah." ucap Ana
"ga mungkin Ana, aku pun tidak menganggapnya serius, mungkin ibunya Rayyan ingin cepat cepat anaknya menikah, mengingat umurnya yang kian bertambah, ia ingin segera menimang cucu, jadi spontan lah ibunya bilang seperti itu." tutur Syahla
" tapi Syah, ibunya Rayyan tahu mana wanita yang baik, kamu kan sholeha cantik lagi, jadi ibunya rayyan memilih kamu." puji Ana
"engga Ana, aku biasa aja, jangan berlebihan." ucap Syahla
" eh Syah, tadi kan ibunya Rayyan bilang bahwa kamu pernah menolongnya di apotik, tapi kok aku merasa ada kaitannya sama sosok yang kamu kagumi?" tanya Ana
" Benar Ana, memang ada kaitannya, Rayyan dam sosok yang aku kagumi yang pernah aku ceritakan pada kamu, itu adalah orang yang sama." jawab Syahla
"MaaSyaaAllah Syah, jujur aku terharu, mungkin Allah menakdirkan Rayyan mengajar di pesantren ini, untuk bertemu kamu Syah, Allah mendekatkan kalian." ucap Ana
"tidak Ana, aku tidak mengharapkannya, cukup aku do'akan saja." jawab Syahla
"eh Ana kita ke aula yu, sebentar lagikan acara akan dimulai." lanjutnya
Syahla dan Ana berniat kembali ke aula, namun saat berjalan menuju aula, Syahla dan Ana berpapasan berpapasan dengan Rayyan, yang justru Rayyan sedang menghampiri mereka.
" maaf, boleh bicara sebentar?" ucap Rayyan dengan pandangan ke arah Syahla
Deg
"Yaa Allah ada apa ini, kenapa hatiku berdetak lebih cepat." batin Syahla yang sedang menunduk
" boleh ustadz boleh kok." bukan Syahla yang jawab tapi Ana
" Syah aku duluan ya, mari ustadz Assalamu'alaikum." lanjut Ana dan pergi meninggalkan mereka
" Yaa Allah Ana, kebiasaan deh kamu, selalu ninggalin aku kalau lagi di posisi seperti ini." batin Syahla
"Emm..i-iya Ustadz ada perlu apa?" ucap Syahla yang terlihat canggung
"soal ucapan ibu saya tadi, tolong jangan kamu anggap serius yaa, sebenarnya saya sudah memilih seseorang untuk saya khitbah, cuma saya belum bicara sama ibu saya." terang Rayyan
" iya ustadz ga papa." jawab Syahla singkat
"satu lagi, jangan panggil saya ustadz, panggil aja Rayyan, permisi." ucap Rayyan lalu pergi dari hadapan Syahla
Syahla hanya menatap kepergian Rayyan, rasanya seperti ada petir di siang bolong, kala mendengar penuturan Rayyan bahwa ia akan mengkhitbah seseorang.
" Yaa Allah kenapa rasanya sakit sekali, aku sadar aku terluka karena rasaku sendiri." batin Syahla kemudian berlalu menuju aula
...* * *...
...Alhamdulillah.....
...Tasikmalaya, 29 Agustus 2022...
__ADS_1
...Ig \= finahanfh_...