Merangkai Butir Cinta

Merangkai Butir Cinta
Bab 8 = Apakah Hanya Pelampiasan


__ADS_3

Rumah semi minimalis ber cat putih, menjadi saksi perjalanan hidup Syahla dan kedua orang tuanya. Bagi Syahla Rumah ini adalah tempat terindah yang ia miliki, sekaligus tempat hilangnya semua luka dihati.


Hari ini adalah hari kedua Syahla berada dirumah, seperti biasa rutinitas yang ia lakukan ketika dirumah adalah membatu ibunya membereskan rumah dan menyiapkan sarapan pagi, setelah sarapan, Syahla pun lekas membersihkan diri.


Tak terasa sore nanti Syahla harus kembali ke pesantren, kalau boleh Syahla ingin lebih lama lagi di rumah, tapi mau bagaimana lagi ia harus bertanggung jawab atas amanah yang ia emban.


Jam masih menunjukan pukul 08:00 pagi, dan Syahla baru selesai membersihkan diri. Ia pun beristirahat sejenak sambil merebahkan badannya di kasur kesayangannya, dua bola mata Indah itu menatap langit langit kamar. Pikirannya masih dipenuhi sosok yang ia harapkan riuhnya di dalam do'a bisa menjadi hal nyata, namun saat ini sosok itu akan meng khitbah sahabatnya sendiri.


Tepat hari ini Rayyan akan mengkhitbah Asyifa. Bagi Syahla takdir Alloh itu memang sangat indah, Alloh menyatukan dua insan yang sama sama terjaga dalam ketaatan, dua insan yang sama sama faham akan ilmu agama, dua insan yang sama sama sedang berjuang mengharap Ridho Alloh.


Sedangkan Syahla jauh dari itu semua, ia hanya seorang perempuan yang harapnya lebih besar daripada do'a nya, perempuan yang hatinya selalu berharap pada selain-NYA sehingga Alloh timpakan pedihnya sebuah pengharapan.


"Astagfirullohal'adzim, ampuni hamba Yaa Robb." Batinnya setelah menyadari kesalahannya


"Nak, boleh ibu masuk?" Ucap bu Halimah di balik pintu yang menyadarkan lamunannya


" Iya Bu masuk saja." Jawabnya


Kemudian bu Halimah pun masuk dan duduk di samping Syahla


"Nak, diluar ada tamu katanya dari pesantren Al-Barokah, cepat ganti baju ya nak, soalnya sudah di tungguin." Ucap bu Halimah


"Yaa Alloh, kesalahan apalagi yang aku buat, bukankah kesalahan kemarin membuat umi membenci aku.


Yaa Alloh, jika memang umi Laila tidak menginginkan aku ada di pesantren lagi, lebih baik aku yang akan mengundurkan diri." Batinnya


"Nak? " Ucap Ibunya yang melihat anaknya melamun


"Oh Iya bu, Syahla ganti baju sekarang. " Jawabnya


" ada masalah apa nak, cerita ya sama Ibu? " Tanya Ibunya


" Tidak ada masalah apa apa bu. " Jawab Syahla


"Nak kalau ada apa apa kamu cerita ya sama Ibu jangan di genggam sendiri. Ya sudah nak, ibu mau ngambil air minum dulu ya." Ucap Ibunya


"Iya bu." Jawab Syahla


Bukannya Syahla tega membohongi ibunya sendiri, Ia tidak ingin menambah beban pikiran ibunya, cukup ia saja yang merasakan dan menyelesaikan masalah yang datang menghampirinya.


" Nak, sudah selesai ganti bajunya?" Ucap bu Halimah di balik pintu


"Sudah bu." Ucapnya sambil membuka pintu

__ADS_1


Mereka pun berjalan menuju ruang tamu, disana sudah ada ayah Syahla yang sedang asik mengobrol dengan tamu itu, namun alangkah terkejutnya Syahla, seseorang yang bertamu itu adalah Rayyan dan ibunya, tapi bukankah hari ini ia akan mengkhitbah Syifa?


Bu Halimah dan Syahla pun duduk berhadapan dengan Rayyan dan ibunya.


" Nak Syahla sehat?" Ucap bu Rania


" Alhamdulillah baik Bu." Jawabnya


" MaaSyaaAlloh nak Syahla ini sudah cantik sholeha lagi, MaaSyaAlloh didikan bapak dan ibu itu luar biasa hebat." Ucap Bu rania


" Aamiin InshaAlloh Bu, mudah mudahan Alloh meridhoi kami, Alhamdulillah kami masih bisa menjaga titipan Alloh satu satunya ini." Jawab Bu Halimah


Gadis dengan balutan dress army itu pun mengulurkan tangan sembari mengucapkan salam kepada ibu Rania, setelah itu ia menangkupkan kedua tangan di dada saat mengucapkan salam kepada Rayyan. Kemudian ia pun hanya bisa menunduk gugup, perasaan dalam hatinya campur aduk, karena tak pernah membayangkan sebelumnya, orang yang selalu ada dalam bagian do'anya kini ada tepat di hadapannya.


"Baik nak Rayyan, sekarang sudah ada anak saya, alangkah baiknya nak Rayyan sendiri yang berbicara mengenai niat baik itu." Ucap pak Nadim


Deg...


"Yaa Alloh ada apa ini? niat baik apa yang ayah bicarakan barusan?" Ucapnya dalam hati


" Sebelumnya mohon maaf Pak, Bu, karena kedatangan saya yang secara tiba tiba, tujuan saya datang kerumah Bapak dan juga Ibu, saya ingin mengkhitbah Syahla untuk menjadi istri saya, emm apakah Syahla bersedia?" Ucapnya


Deg...


" Nak, bagaimana apakah kamu bersedia?" Ucap pak Nadim


" Emm, kalau Syahla bagaimana ayah dan ibu saja." Ucapnya yang masih berkelut dengan pikirannya


" Nak, yang akan menjalankan kehidupan itu kamu, yang akan mengarungi bahtera rumah tangga juga kamu, walau bagaimanapun jawaban ada di tanganmu nak, ayah tidak bisa memutuskan secara sepihak, kalau kamu butuh waktu gapapa nak, jangan terburu buru." Tutur pak Nadim


" Yaa Alloh apa yang harus aku lakukan, sementara Ayah dan Ibu menatapku penuh harap, disisi lain Ayah Ibu tidak mengetahui ada hal dibalik ini semua.


Yaa Robb disaat Engkau mengabulkan semua do'aku tapi kenapa hati ini ragu, sebenarnya ini yang aku inginkan, aku bahagia dengan khitbah ini.


Tapi bagaimana dengan mas Rayyan? Apakah dia bahagia juga?


Apakah dihatinya masih ada mba Syifa?


Apakah ini hanya pelarian semata?


Aku dapat menangkap jelas dari cara bicaranya atas keraguan itu, ragu untuk memilihku.


Yaa Alloh jika memang ini jalan takdirku aku ikhlas menjalaninya dan aku yakin datangnya mas Rayyan juga semata mata atas izinm-MU. Yaa Alloh permudahlah urusanku, Aamiin." Gemuruh Batinnya

__ADS_1


" Syahla bersedia Ayah." Ucap Syahla membuat semua orang tertegun


" Kamu yakin nak? Jika kamu masih ragu lebih baik sholat Istikhoroh dulu " Tanya pak Nadim


" InsyaAlloh Syahla yakin Ayah." Ucapnya meyakinkan


" Baiklah Nak kalau kamu yakin, Ayah juga merestui pernikahan kalian. " Ucap pak Nadim


" Baiklah nak Rayyan, niat baik nak Rayyan meng khitbah putri kami, saya Terima." Lanjutnya


" Alhamdulillah terimakasih nak Syahla. Pak Nadim, Bu Halimah mungkin sebaiknya pernikahan ini kita percepat saja jangan lama lama, lebih tepatnya niat baik itu harus di segerakan, bagaimana Pak Bu? " Tutur Bu Rania


" Kalau saya bagaimana kesiapan Rayyan dan Syahla aja Bu Rania. " Jawab Bu Halimah


" Iya Bu, saya setuju." Ucap Bu Rania


" Baiklah anak anakku, Bagaimana kalau pernikahan ini kita langsungkan bulan depan saja? apakah kalian bersedia?" Lanjutnya


" Iya Bu. " Ucap Rayyan singkat


" Bagaimana dengan kamu nak? " Tanya Bu Halimah


" InshaAlloh Syahla bersedia Bu jika memang itu yang terbaik. " Jawabnya


" Alhamdulillah, baik atas kesepakatan bersama dan tanpa ada keterpaksaan dari siapa pun InsyaAlloh untuk pernikahannya kita laksanakan bulan depan." Ucap Pak Nadim


Entah apa yang ia rasakan, rasanya untuk bahagia disaat seperti ini egois, karena ada hati yang terluka dalam kebahagian ini.


***


Bismillah......


Sebelumnya saya ingin meminta maaf apabila dalam penulisan ini ada kesalahan dan kekurangan, saya hanya ingin belajar dan mengasah kemampuan saya dalam bidang menulis.


Cerita ini murni dari imajinasi saya, dan mudah mudahan lewat tulisan ini bisa bermanfaat bagi saya dan bagi semua pembaca.


Terimakasih sebelumnya.


Alhamdulillah..


Tasikmalaya, 14 April 2023


Fina Hanifah

__ADS_1


__ADS_2