
08:00
Di Aula semua pengurus sudah berkumpul, termasuk kiyai Abdulloh sebagai sesepuh dan Ustad Utsman sebagai pimpinan pondok pesantren Al-Barokah, semua sudah siap untuk menyambut Guru yang akan mengajar Bahasa Arab di pondok pesantren ini.
Acara telah dimulai, sambutan-sambutan pun telah disampaikan, MC pun mempersilahkannya untuk memperkenalkan diri.
"Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh, yang saya hormati Kiyai Abdulloh, Ustadz Utsman, Umi Laila, dan Ustadz Ustadzah yang mohon maaf tidak bisa saya sebutkan satu persatu, sebelumnya perkenalkan nama saya Rayyan Syahid Alfatih, InshaAlloh saya akan mengemban amanah sebagai tenaga pengajar di pesantren Al-Barokah ini, dengan begitu saya memohon bimbingannya dari Ustadz Ustadzah semua....."
"MaaSyaaAlloh..Insan Itu" Batin Syahla
Di tengah acara berlangsung Syahla terkejut karena tenaga pengajar baru itu adalah laki laki yang selama ini ia kagumi, berdegup kencang hati Syahla kala laki laki itu memperkenalkan dirinya.
Ana pun menggoda melihat sahabatnya tengah melamun memperhatikan laki laki itu.
"Hey jaga pandangan." Ucap Ana berbisik
"Astagfirullohal'adzim." Batin Syahla seraya menundukan pandangan
"Mm Ana kenapa Ustadz Rayyan seperti akrab sekali sama kakek dan paman kamu?"
Ucap Syahla mengalihkan pembicaraannya
"Ciee udah tau aja namanya.. ups" ucap Ana kembali menggoda
"Kan tadi udah perkenalan Ana, masa ga denger." Ucap Syahla membela
"Iyaa Iyaa, jangan salting dong Syah, keliatan mukanya sampe memerah gitu." Ucap Ana terus menggoda
"Ish..udah ah, jawab dulu pertanyaanku Anaa."
Ucap Syahla sedikit kesal
"Andai kamu tau Ana, apa yang kamu ucapkan itu benar, hatiku pun berdebar kala dia memperkenalkan dirinya, rasanya tak menyangka laki laki yang ku kagumi saat ini ada di hadapanku."
Batin Syahla
"Iya deh, jadi gini Syah, Alm ayahnya Ustadz Rayyan itu adalah sahabat karibnya pamanku sejak zaman kuliah dulu, jadi ga heran jika mereka begitu akrab." Terang Ana
"Oh gitu..pantesan" Ucap Syahla mengangguk
Rangkaian acara telah selesai kini Syahla dan Ana kembali ke asrama, saat menyusuri koridor pesantren, Syahla dipanggil oleh umi laila untuk ke ruangannya sekarang.
"Syahla tolong ke ruangan saya sekarang." Ucap Umi Laila
"Iya baik Umi." Jawab Syahla
Umi pun berjalan menuju ruangannya dan diikuti Syahla dari belakang.
"Aku ikut Syah." Pinta Ana
dan di beri jawaban anggukan oleh Syahla
Umi Laila adalah istri dari Ustadz Utsman pimpinan pondok pesantren, yang juga merupakan paman Ana.
Syahla dan Ana telah sampai di ruangan Umi Laila, Syahla pun mengawali pembicaraan
"Maaf Umi, ada yang bisa saya bantu?" Ucap Syahla
__ADS_1
"Syahla lihat ini kenapa berkas yang kamu isi semuanya salah, dan data santri juga sebagian ada yang salah, kamu gimana sih bisa ga?" Ucap Umi Laila setengah emosi
"Sebelumnya saya minta maaf Umi, semua ini terjadi atas kelalaian saya, InshaAlloh secepat mungkin akan saya perbaiki semuanya." Ucap Syahla
"Kamu tahu kan berkas ini akan saya kirim besok lusa? dan kamu tahu ga? dari semua kelas hanya berkas kamu yang paling berantakan." Ucap Umi Laila setengah emosi
"Sekali lagi saya minta maaf Umi." Ucap Syahla sambil menunduk
"Sebenarnya kamu bisa ga sih? Kamu lihat dong Asyifa, dia itu sekali di kasih tahu langsung ngerti, dia itu udah pinter, sholeha, cantik, lulusan Qairo lagi." Ucap Umi Laila
Syahla hanya menunduk dan berusaha menahan buliran air mata yang hendak jatuh, Syahla menerima perkataan Umi, bahwa dirinya memang jauh berbeda dengan Ustadzah Syifa.
Di sisi lain Ana tak terima melihat sahabatnya di perlakukan seperti itu, Ana faham betul bahwa cara menasehati yang baik bukan seperti itu, Ana tidak membenarkan apa yang bibinya lakukan, Ana pun berusaha membela Syahla meskipun Umi Laila Bibinya.
"Mohon maaf bibi, saya ikut bicara, tidak sepantasnya bibi bicara seperti itu, membandingkan hidup Syahla dengan Ustdzah Syifa, Syahla tidak seburuk apa yang bibi lihat." Ucap Ana membela
"Ana...ini bibi kamu, berani sekali kamu bilang seperti ini ke bibi." Ucap Umi setengah emosi
"Bukan begitu bi, maksud Ana, Ana hanya ingin bibi menjaga ucapan, agar tidak melukai hati orang lain." Ucap Ana
"Bibi heran sama kamu, kenapa semenjak ada Syahla kamu berani menasehati bibi seperti ini." Ucap umi
Belum sempat Ana menjawab, seseorang mengetuk pintu ruangan Umi.
"Assalamu'alaikum..Umi.."ucap seseorang dari luar
"Wa'alaikumussalam..masuk." Jawab Umi
Ustadzah Syifa pun masuk dengan dihiasi senyum cantiknya.
"Eh nak Syifa, Ada perlu apa?" Ucap Umi laila dengan lembutnya
"Ini Umi saya hanya mau memberikan berkas ini." ucap Ustadzah Syifa sembari memberikan berkas ke Umi
"Oh iya Terimakasih nak Syifa." Ucap Umi Laila lembut
"Sama-sama Umi." Jawab Ustadzah Syifa
"Saya mau pamit dulu Umi, mari Ana, Syahla, Assalamu'alaikum." Lanjutnya kemudian berlalu keluar ruangan
"Kami juga pamit dulu bibi, Assalamu'alaikum." Ucap Ana
"Mari Umi Assalamu'alaikum." Tambah Syahla
"Wa'alaikumusslam." Jawab Umi
Kemudian mereka berdua pun keluar dari ruangan Umi, tapi ternyata, diluar Ustadzah Syifa sedang menunggu mereka.
"Ana, Syahla boleh bicara sebentar?" Ucap Ustadzah Syifa
"Boleh Ustadzah." Ucap Ana
"Iya Ustadzah boleh, silahkan." Tambah Syahla
"Sebelumnya, jangan panggil saya ustadzah ya, malu soalnya saya ga bisa apa apa.. hihi." Ucap Ustadzah Syifa
"Terus panggil apa Ustadzah, apa Kak Syifa aja gitu?" ucap Ana
"Bagaimana kalau dipanggil mba Syifa aja?" Usul Syahla
" boleh kok boleh..asal jangan panggil saya mas aja..hihi." ucapnya
" Eh Syahla, kenapa berkasnya kok dibawa lagi? Tanya mba Syifa
"Ini Ustadzah..eh mba, saya salah ngisi berkasnya." Jawab Syahla merasa kecewa
"oh gitu, nanti saya bantu ya, InshaAllah setelah Sholat Isya saya ke asrama kalian." Ucap mba syifa memberikan bantuan
" Terimakasih sebelumnya mba Syifa, maaf jadi ngerepotin." Jawab Syahla
" Ga papa Syahla, ya udah saya duluan ya." Jawab mba syifa dan berlalu meninggalkan mereka
__ADS_1
Di atas sejadah hitam, Syahla bermunajat kepada Alloh, dan memohon agar hatinya di lapangkan, semenjak kejadian siang tadi Syahla masih teringat dengan ucapan yang dilontarkan umi kepadanya, baginya, cara yang paling ampuh agar hatinya lebih tenang adalah dengan mencurahkan isi hatinya kepada Alloh.
Seperti biasa setelah sholat magrib Syahla selalu membaca Al Qur'an dan dilanjut muroja'ah hafalan.
"Syah maaf ya atas ucapan bibiku tadi, aku tahu kamu pasti sakit hati." Ucap Ana
"ga papa Ana, apa yang bibi kamu ucapkan itu memang benar, justru aku lebih bersemangat untuk jadi lebih baik lagi." Jawab Syahla
"Aku tak tahu Syah, aku harus melakukan apa, apa aku bilang ke kakek aja?" Ucap Ana
"Ja..jangan Ana, tolong jangan bilang ke Kiyai Abdulloh, ini masalah kecil, aku ga mau masalah ini jadi besar." Jawab Syahla penuh penolakan
"Masalahnya ini bukan pertama kalinya Syah." Ucap Ana
"Iya aku tahu nad, tapi tolong jangan bilang ke kiyai ya." Ucap Syahla memohon
"Ya sudah Syah kalau ga mau, biarkan saja kebenaran yang akan menjelaskannya." Ucap Ana
"Ana kenapa ya, semenjak aku kesini, aku merasa umi tidak menyukaiku, bahkan sampai sekarang aku tak tahu mengapa umi sebegitu bencinya kepadaku." Tambah Syahla
"Aku juga heran Syah, mengapa pamanku mau menikah dengan bibi yang sifatnya Naudzubillah." Lanjutnya dengan penuh kekesalan
"Suutttt...." Ucap Syahla seraya menutup mulut Ana
"Kalau ketahuan baru tahu rasa kamu Ana." Lanjutnya
"Ketahuan sekalipun aku tak takut, aku siap membela kebenaran untuk sobatku ini." Ucap Ana membela
"Pandai kali sobatku ini." Ucap Syahla
...\* \* \*...
...Alhamdulillah...
...Tasikmalaya, 30 Juni 2022...
__ADS_1
...Ig: finahanfh\_...