
Pandangan Elora terus menengadah, menatap sebuah bangunan yang terlihat sangat besar di sekelilingnya.
Ornamen dan infrastruktur yang terlihat begitu kuno, namun terlihat sangat indah dengan beberapa obor dengan api yang terlihat berkobar sangat besar menerangi setiap sudut ruangan demi ruangan.
Langkah Elora tiba-tiba terhenti, hingga satu prajurit menabrak tubuhnya dari arah belakang.
..."Maaf Tuan Putri!" katanya....
Elora menoleh, dia mengulum senyum lalu menganggukan kepala.
..."Tidak apa! tapi, ... apa kalian yakin? tidak salah membawa orang kedalam Istana sebesar ini?" Dia masih terus bertanya, seolah tak pernah puas denga setiap jawaban bahkan hampir sepanjang perjalanan dia tanyakan....
..."Tidak Nona. Sudah berapa kali Anda menanyakan pertanyaan itu! lebih baik segeralah berjalan kembali, dan temui Baginda Raja sekarang juga."...
..."Baiklah, maaf jika aku terlalu banyak berbicara." Elora tersenyum canggung....
Gadis itu kembali melangkahkan kaki, hingga dirinya sampailah di salah satu ruangan, dimana seorang pria paruh baya sedang duduk memegangi kening seraya menundukan kepala.
..."Baginda? Nona Elora sudah berhasil kami temukan."...
__ADS_1
Ucapan itu sontak membuat Charles mengangkat pandangan, dan langsung menatap Elora yang juga sedang menatapnya tanpa ekspresi apapun.
Rambut terurai yang terlihat sedikit acak-acakan, juga beberapa luka goresan yang tampak memerah. Diantara pipi, kening juga kedua punggung tangannya.
Dengan segera Charles bangkit, berjalan cepat dan menghambur kedalam pelukan putri satu-satunya itu.
..."Elora! akhirnya kau pulang! Ayah tak tahu harus apa jika kau benar-benar lenyap karena Naga siluman itu!" Suaranya terdengar bergera....
Beberapa prajurit terdiam, saat melihat pemandangan manis di depannya, sementara Elora hanya diam tanpa reaksi apapun.
..."Apa kamu tidak senang? kau pulang sekarang!?" Charles mendorong kedua bahu Elora sampai pandangan keduanya kembali beradu....
Elora diam, iris coklat gelapnya bergerak-gerak, menatap sosok tinggi di hadapannya dengan tatapan bingung.
Salah satu prajurit mendekat.
..."Sepertinya Tuan Putri dibiarkan terjatuh dari ketinggian, kepalanya terbentur sampai mengakibatkan Tuan putri hilang ingatan."...
Deg!!
__ADS_1
Charles terhenyak, jantungnya berdebar dengan sangat kencang, juga dada yang terasa sesak saat mendengar pernyataan salah satu Prajuritnya.
..."Tidak apa, kita bantu dengan pengobatan tabib. Mungkin saja bisa mengembalikan ingatan Tuan Putri lebih cepat lagi." Katanya kepada Charles yang langsung mendapat anggukan darinya....
Para prajurit itu mundur beberapa langkah, kemudian segera beranjak pergi, membiarkan anak dan ayah itu menghabiskan waktu bersama.
Charles berteriak, memanggil-manggil nama istrinya dengan sangat kencang, sampai suaranya menggema di ruangan besar itu.
Mendengar suara suaminya terus memanggil-manggil. Alina yang sedang duduk di tepi ranjang sambil menangis pelan pun bangkit, kemudian berlari kearah luar ruangan kamarnya.
Dengan tergesa-gesa Alina berlari kearah suara. Dan disanalah Carles dan Putrinya Elora, sedang berdiri berhadapan dengan kedua tangan Charles yang kini tampak memegangi kedua pipi Elora.
Alina berdiam diri beberapa saat, menatap pemandangan itu dengan hati yang terasa lega.
..."Hah, ... Putri ku! akhirnya kau pulang." Alina menghembuskan nafasnya pelan, dia kembali melangkahkan kaki, lalu memeluk Elora dengan sangat erat....
Lagi-lagi Elora diam, dia tak bereaksi apapun.
..."Astaga Putri ku! Ibu tidak tahu harus apa jika kamu tidak dapat kembali kesini." Alina kembali menangis pelan, dengan tangan yang terus mengusap-usap punggung anak gadisnya pelahan dan penuh kelembutan....
__ADS_1
Mendengar rintihan pelan Alina. Elora kembali memejamkan mata, dia menarik nafas sebanyak mungkin, lalu menghembuskannya perlahan.
..."Ingatlah sesuatu Elora! ingatlah sesuatu tentang dirimu saat ini." Gadis itu membatin....