
Hari terus berganti, satu Minggu lebih sudah Elora tinggal di dalam sebuah Kastil besar sana dengan segala aktifitas yang masih asing bagi dirinya. Namun dia tetap menjalankan semuanya dengan baik, tanpa banyak bertanya atau pun membantah.
Seperti hari ini. Charles memintanya untuk kembali berlatih memanah, bersama salah seorang Prajurit yang sudah handal dengan kegiatan itu.
..."Sudah makan?" Alina bertanya....
Perempuan itu tiba-tiba datang memasuki kamar putri semata wayangnya.
Elora menatap Alina yang dia ketahui sebagai ibu kandungnya sekilas, kemudian menganggukan kepala.
..."Sudah."...
..."Ada kegiatan?"...
Elora mengangguk lagi.
..."Ayah tidak bilang? hari ini aku harus kembali belajar memanah. Tidak boleh hanya duduk bersama mereka di luar sana." Tukas Elora....
Dia mengingat beberapa kejadian saat Charles benar-benar melarangnya berbaur dengan para dayang.
Alina terdiam, dia menatap gadis di hadapannya lekat-lekat. Entah kenapa, setiap kali melihat Elora dia merasa sedih, karena Alina tahu benar, meski Elora melakukan semua perintah dari Charles, tapi ingatannya belum kembali sebagaimana mestinya.
Alina semakin mendekat, membuat sang putri menjengit keras. Bahkan Elora mundur dengan ekspresi wajah herannya.
..."Kamu mau berlatih? dengan rambut terurai seperti ini?" Alina berkelekar....
..."Hah?"...
..."Biar Ibu kepang rambutnya, akan sangat mengganggu jika di biarkan terurai begitu saja, ... rambut mu sudah sangat panjang, sayang!"...
Alina meraih pundak Elora, merengkuhnya pelan sampai gadis itu berputar arah memunggunginya.
Dengan lihainya Alina mengepang rambut kecoklatan milik Elora. Menyusun dengan sedemikian rupa, sampai rambut itu benar-benar tertata dengan sangat rapih.
Alina berhenti, menatap sebuah tanda lahir milik Elora yang terletak di tengkuk gadis itu.
..."Ah dia memang putri ku, tapi kenapa rasanya berbeda. Dia berubah menjadi selembut ini, tidak pernah membangkang. Dan satu lagi yang membuat perbedaan itu semakin terlihat, Elora dan ayahnya menjadi lebih dekat. Ibu senang kamu seperti ini, tapi sedih karena kamu tidak mengingat siapa kamu yang sebenarnya."...
Batin Alina berbicara, dengan perasaan sesak yang terus menyeruak.
..."Bu? apa sudah selesai?"...
Suara Elora jelas membuat kesadaran Alina kembali tertarik sepenuhnya.
Alina tersenyum, mengangguk seolah Elora dapat melihatnya.
..."Selesai, kamu sudah siap. Dan bisa segera melakukan aktifitas apapun dengan leluasa." Dia berujar, seraya menarik Elora sampai gadis itu kembali menghadap kearahnya....
..."Terimakasih, kalau begitu aku harus segera pergi." Pamit Elora....
..."Dengan siapa kamu berlatih?"...
..."Dengan prajurit ayah."...
__ADS_1
Alina menghembuskan nafasnya perlahan.
..."Ya, ... Ibu tahu dengan prajurit ayah mu. Tapi siapa? ada banyak prajurit ayah mu Elora, sayang!" Ucapnya sambil terkekeh pelan....
Mendengar itu Ayumi hanya tersenyum simpul. Jelas dia sudah menjawab pertanyaan ibunya dengan jawaban yang konyol.
..."Pat, ... Pat siapa yah tadi! aku lupa, Bu."...
..."Patra."...
..."Nah itu, iya namanya Patra."...
..."Kalau begitu cepatlah, dia akan memarahi mu jika kamu terlambat, apalagi dalam urusan berlatih." Alina berseru....
..."Jika dia marah aku akan mengadukannya kepada ayah! itu gampang sekali, nanti ayah yang akan memarahi dia." Kata Elora....
..."Ya ya ya, ... kamu bisa melakukan apapun yang kau mau, kecuali keluar tanpa sebuah pengawasan, itu sangat berbahaya. Ibu tidak mau Naga itu kembali membahayakan nyawa mu!"...
Elora tersenyum.
..."Aku akan lebih hati-hati, Ibu tenang saja."...
..."Gadis pintar."...
..."Hemm, kalau begitu aku pergi."...
Elora segera berjalan kearah pintu keluar, meninggalkan Alina yang masih duduk di tepi ranjang besar milik putrinya.
***
Dia menoleh kearah Elora berjalan, berdiri dan menatap gadis itu tajam.
..."Lamban sekali!" Ucap Patra ketus....
..."Memangnya mau kemana? kenapa harus buru-buru." Elora menjawab santai....
Dia seolah tidak peduli dengan tatapan tajam itu.
..."Ayoklah, kau bilang aku lamban. Tapi sekarang malah kamu yang membuang-buang waktu seperti ini!"...
Patra memutar kedua bola matanya. Dia jengah menghadapi gadis itu, yang saat ini berbuat semaunya.
..."Kenapa harus belajar? Anda sudah mampu menguasai ini? cobalah." Kata Patra dengan pandangan yang tak teralihkan sama sekali....
..."Maksudnya?"...
..."Anda hanya hilang ingatan Nona! apa anda juga kehilangan kemampuan?"...
Elora diam.
..."Cepat lepaskan busur panah pada buah Apel yang ada disana!"...
Patra menunjuk buah Apel yang di letakan diatas tumpukan batu. Yang sudah ia susun sedemikian rupa.
__ADS_1
..."Aku sudah menguasai ini? lalu kenapa ayah meminta aku belajar bersama mu!?"...
Kini Patra yang diam.
..."Jawab, saya tahu kamu tidak bisu! kenapa tiba-tiba diam, huh!?"...
..."Hah, ... ternyata dia benar-benar tidak mengingat apapun. Aku kira dia hanya berpura-pura, boleh saja dia mengalami kejadian mengerikan itu, tapi apa separah itu? sampai dia tidak mengingat apapun. Dia memang berubah menjadi baik, tapi kini dia suka mengacaukan semua pekerjaan orang-orang." Patra berbicara di dalam hatinya....
..."Astaga malah melamun." Pekik Elora cukup kencang....
..."Baiklah Tuan prajurit, jika kau akan terus melamun, sebaiknya aku kembali. Mengganggu pekerjaan para dayang, itu sangat menyenangkan di bandingkan harus terus bersama mu."...
Elora melemparkan alat memanah itu kearah Patra, kemudian berlari begitu saja, meninggalkan Patra yang masih berusaha menarik kesadaran setelah beberapa menit menghilang.
..."Hey!" Patra berteriak....
..."Selamat tinggal, aku tidak butuh kemampuan itu! ada kalian yang selalu menjaga ku bukan." Dia menjawab tak kalah kencang, sambil terus berlari....
..."Anak itu!" Patra menggeleng-gelengkan kepalanya....
Dia benar-benar tidak percaya. Sikap yang di tunjukan Elora saat ini, jelas berbeda dengan Elora dulu. Sosok gadis pendiam, pemarah, namun tetap akan menjadi penurut jika itu berhubungan dengan keselamatannya.
Bahkan gadis itu kini lebih sering tertawa, hal yang bahkan tidak pernah Elora lakukan dulu.
***
..."Lora sudah pergi?" Tanya Charles saat melihat Alina berjaran kearahnya....
..."Kenapa dia harus berlatih lagi? dia sudah menguasai itu?"...
Charles yang saat ini tengah duduk diatas kursi kebesarannya berdiri, dan berjalan mendekat kearah istrinya.
..."Agar ingatannya kembali pulih. Obat tabib saja tidak cukup, kita harus mengingatkan semuanya, termasuk memanah, karena itu hal yang sangat dia sukai."...
Alina menengadahkan pandangan, menatap Charles dengan tatapan sendu.
..."Dia bukan Elora!" Ucap Alina lirih....
..."Dia Elora, hanya ingatannya yang sedang hilang. Kau tahu? mungkin Naga itu melemparkannya dari ketinggian, dan membuat kepalannya membentur sesuatu cukup kencang hingga membuat dia seperti saat ini."...
Mata Alina kembali berkaca-kaca, dan perlahan air mata itu jatuh membasahi pipi.
..."Dia berbeda. Dia lebih banyak tersenyum, dia juga tidak suka berdebat dengan mu sekarang."...
..."Bukan kah itu bagus?"...
..."Ya, ... tapi dia berbeda sekarang. Aku tidak mengenalinya, bahkan hal yang selalu dia hindari kini dia lakukan, salah satunya berbaur dengan para pekerja dan prajurit."...
Charles mengulum senyum, dia mengulurkan tangan, lalu menarik Alina sampai wanita itu masuk kedalam dekapan hangatnya.
..."Kau lelah, kau terlalu banyak menangis. Sudah satu Minggu, seharusnya kau mendukung dia agar cepat pulih, bukan seperti ini." Charles mengusap punggung Alina lembut....
..."Aku hanya takut, dia memanggil kita ayah dan ibu. Tapi dia tidak menginngat siapa kita, dia hanya menjalankan apa yang harus dia jalani." Tangis Alina pecah....
__ADS_1
Charles hanya diam, dia membiarkan Alina menangis. Meminta wanita itu untuk berhenti pun akan sia-sia, dia hanya seorang ibu yang sedang kehilangan jati diri dari putri kesayangannya.