Middle Of The Night

Middle Of The Night
Chapter 08 [Bahaya.]


__ADS_3

..."Lihat! sekarang aku mulai menguasainya bukan?" Elora penuh percaya diri, sesaat setalah menancapkan busur panah itu pada satu buah apel yang di susun sedemikian rupa oleh Patra....


Pria itu bungkam, menatap Elora tajam dengan kedua tangan yang terus di lipat diatas dada.


..."Dari pagi kita berlatih, dan kau baru berhasil pada hampir petang, Elora!" Katanya dengan raut wajah datar seperti biasa....


..."Tapi aku bisa."...


..."Ini baru permulaan!" Patra menegakan tubuh....


Dia berjalan kearah buah Apel yang berada diatas tumpukan bebatuan tinggi, membawanya, lalu mencabut busur panah itu.


..."Kita buat jaraknya semakin jauh." Katanya kepada Elora....


..."Astaga! kau benar-benar tidak mau kalah yah." Elora kesal....


Patra mengendikan kedua bahunya, kembali berjalan mendekat kepada Elora, dan tanpa di sangka pria itu menepuk kepala putri dari Rajanya cukup kencang.


Elora mengaduh kesakitan.


..."Apa-apaan ini!?" Pekik Elora dengan suara tinggi....


Dia mengusap kepalanya kencang, seraya menatap Patra tajam.


..."Hanya berusaha membuat ingatan mu kembali." Jawabnya santai, tanpa beban sedikit pun....


Dan tentu saja itu membuat Elora semakin kesal.


..."Tidak boleh protes, atau aku akan semakin mempersulit mu!"...


Elora berdecak sebal.


..."Sebenarnya siapa yang berkuasa disini? kenapa pula kau yang mengancam ku? harunya aku yang mengancam mu, aku akan mengadukan kelakuan mu kepada Ayah, ... bahwa kau sudah memukul kepala ku dengan sangat kencang tadi."...


Patra tertawa keras, dan kembali menepuk kening Elora tak kalah kencangnya.


..."Silahkan saja!"...


..."Astaga, ... sebentar lagi kepala ku akan terlepas!" Gadis itu menggerutu....


..."Maka cepatlah sembuh. Berusahalah lebih keras, dari sekian yang hilang dari diri mu, hanya satu yang tetap melekat. Kau tahu apa?"...


Elora menimpali dengan sebuah gelengan kepala.


..."Sifat mu yang sangat menyebalkan." Lanjut Patra....


Elora merasa sangat kesal. Dengan sekali tarikan dia merebut buat Apel tadi, lalu melemparkannya kepada Patra sampai mengenai pipinya cukup kencang.


..."Upsss!" Gadis itu berlagak terkejut, dan tertawa puas....


Lalu dia berlari kencang, meninggalkan Patra sambil terus tertawa.


..."Elora!" Teriaknya, berusaha menghentikan gadis itu....


Namun dia tidak mendengarkan, Elora terus berlari, meninggalkan Patra begitu saja, tanpa menyadari kearah mana dia melangkahkan kaki.


..."Hey!" Patra kembali memanggil, tapi gadis itu seolah tak peduli....

__ADS_1


Dengan cepat dan rasa panik dia beranjak, berusaha menyusul Elora yang berlari kearah hutan, dimana dia di temukan dan membuatnya hilang ingatan sampai separah itu.


..."Jangan kearah sana!" Pria itu berteriak sekuat tenaga....


Patra terus berlari, berusaha mengejar Elora yang berlari semakin jauh, dan semakin masuk kedalam hutan itu.


..."Astaga, Elora! kau benar-benar akan membuat kepala ku di penggal oleh ayah mu!" Katanya dengan nada frustasi....


***


Patra yang terus berusaha mengejarnya jauh di belakang. Sementara Ayumi terus tertawa, berniat bersembunyi dari salah satu prajurit ayahnya yang sangat menyebalkan itu.


Langkahnya terhenti, dia membukukan tubuh, dengan nafas yang tersenggal-senggal.


Hening.


Tidak ada lagi suara teriakan Patra memanggil-manggil namanya, hanya tersisa suara hewan-hewan hutan yang tidak Elora ketahui itu hewan jenis apa.


Elora menoleh kearah belakang. Dan Petapa terkejutnya saat dia mendapati hutan belantara, dengan suasana temaram yang mendominasi.


..."Astaga!" Seketika raut wajahnya berubah memucat....


..."Apa aku masuk hutan terlalu jauh? lalu kenapa aku tidak menyadari itu?" Elora bermonolog....


Gadis itu kembali melangkahkan kaki, berniat kembali dan segera menemukan Patra.


Hatinya mulai berkecamuk, perasaannya tak tentu, ketika dia benar-benar tidak tahu harus memilih jalan yang mana.


..."Apa tadi jalanannya bercabang seperti ini!?" Suara Elora mulai lirih....


Dia berpikir.


Mata Elora terpejam, menghitup udara sebanyak mungkin, dan menghembuskannya perlahan.


Kakinya mulai melangkah dengan tergesa, mencari jalan keluar dengan perasaan sedikit panik.


Tentu saja, dia sendirian di dalam hutan, dan itu tidak mungkin membuat perasaannya baik-baik saja.


Hilir angin berhembus kencang, menyapu pohon sampai menjatuhkan dedaunan, diiringi bunyi riuh yang membuat perasan Elora semakin takut.


Tubuh gadis itu menegang.


..."Patra?" Elora mulai berteriak....


Hening, tidak ada sahutan sama sekali. Hanya terus terdengar riuh pohon yang terhempas begitu kencang, saat angin terus menerjang dengan sangat kuat.


Elora berhenti untuk beberapa saat.


..."Patra?" Sekuat tenaga dia berteriak, berusaha memanggil prajurit kepercayaan ayahnya itu....


Gadis itu hendak kembali melangkahkan kaki. Namun cengkraman di pergelangan tangannya justru membuat dia berteriak.


..."Aaaaaaaaa!!!"...


Elora menoleh perlahan.


..."Ini aku!" Patra berbicara, dia berusaha menenangkan Elora yang saat ini sudah terlihat sangat panik....

__ADS_1


Elora benar-benar terkejut dengan keberadaan Patra, yang tiba-tiba muncul entah dari mana.


Elora diam beberapa detik, dan tanpa di duga gadis itu langsung memeluk tubuh kekar pria di hadapannya.


^^^"Disini sangat menyeramkan kau tahu?" Elora memukul dada Patra beberapa kali.^^^


Dia kesal.


..."Lalu kenapa berlari kearah sini? sudah berapa kali aku panggil untuk memperingati mu? tapi kau terus berlari dan tertawa dengan sangat kencang."...


..."Aku tidak tahu!" Elora berbisik lirih, dengan wajah yang menempel sempurna di dada bidang Patra....


..."Sebentar lagi hujan, ayok pulang."...


Elora mengangguk, dia melepaskan lilitan tangan di pinggang Patra, dan mengusap kedua sudut matanya.


Ya, tampaknya gadis itu menangis.


..."Baik, sebaiknya kita cepat kembali, langit mulai gelap."...


Baru saja Elora melangkah, pria itu kembali menahan tangannya.


..."Kita harus kembali, ini bukan jalan yang benar."...


Tanpa ragu dia menarik tangan Elora, membawa putri semata wayang Charles untuk segera keluar dari hutan sana.


..."Lain kali jangan seperti ini!" Patra memperingati....


Elora diam, dia terus berusaha mengimbangi langkah cepat pria di depannya.


..."Kamu tidak tahu resiko apa yang saya akan hadapi saat kamu berada dalam bahaya." Ucapnya lagi....


..."Maaf!" Dia mulai bersuara, menatap punggung kokoh itu, bahkan sesekali menatap pergelangan tangannya yang di genggam sangat erat....


Patra tidak menjawab, dia hanya terus menarik Elora sampai bisa benar-benar keluar dari dalam hutan sana.


..."Kita langsung pulang? tidak berlatih lagi?" Tanya Elora saat mereka tidak kembali pada tempat berlatihnya tadi....


..."Tentu, bahaya sedang mengintai mu saat ini. Apalagi kau kembali memasuki hutan itu! apa kau tidak mengingatnya sama sekali? bagaimana kamu sebelum terbangun di hutan sana, Elora?"...


Patra menghentikan langkahnya, kemudian berbalik badan, menatap wajah sendu itu cukup tajam.


Sementara gadis itu menjawab dengan gelengan kepala pelan.


..."Kau tidak ingat siapa yang berusaha membawa mu pergi? sampai kami dapat menemukan mu di dalam sana? dengan keadaan mu yang menjadi seperti ini?"...


Kening Elora berkerut, sungguh dia tidak mengerti ucapan salah satu prajurit kepercayaan ayahnya itu.


..."Memangnya apa yang terjadi, coba ingatkan aku." Pinta Elora....


Namun Patra menggelengkan kepala.


..."Nanti kau akan mengingatnya sendiri, sekarang ayok pulang. Dan jangan mengatakan apapun kepada ayah mu, mengerti!?"...


..."Tapi, ..."...


..."Tidak ada tapi! setelah kejadian ini kau harus menjadi lebih penurut lagi. Jika tidak, Tuan Charles benar-benar akan membunuh ku."...

__ADS_1


Dia kembali meraih tangan Elora, dan segera membawa gadis itu pergi dari sana.


Sementara sesuatu tampak terbang dari kejauhan, mengintai Elora tanpa ada yang menyadari, termasuk Patra.


__ADS_2