
"Hai plend....." Sapa Mikha saat berjalan kearah bangku teman-teman nya di kantin. Mikha langsung duduk di sebelah Susan yang sedang menyeruput teh anget miliknya selepas makan nasi goreng. Hampir saja Susan tersedak karena saking terkejutnya dengan tepukan Susan di punggungnya.
"Kamu jangan ngagetin Aku toh, kalo Aku keselek bakso gimana?" Tanya Susan yang cemberut.
"Ah elah, Elu mah yang diminum teh anget, begimana ceritanya bisa keselek bakso?" kekeh Andra yang tengah menyantap bakso.
"Lah, karna Aku duduk di depan mu, makanya Aku takut keselek bakso.." kata Susan.
"Gak ada hubungan nya kali San," Rudi menimpali.
Dan begitulah ritual pagi mereka sebelum belajar. Mereka selalu menghabiskan waktu di kantin untuk sekedar sarapan pagi, menghabiskan waktu bersama sahabat, padahal tiap hari mah jumpa.
"Eh, denger-denger hari ini ada anak baru loh" kata Egha sambil berjalan menuju kelas.
"Masa sih? Cowok kah?" Mikha bertanya antusias.
"Kamu itu kalo udah ngomongin lelaki pasti deh ampere meternya kenceng bener, ckckck" Nur menepuk jidad nya yang gak pening.
"Yah mana tau kalo lelaki bisa menjadi pasangan halal Aku... hihihi" Mikha cekikikan.
"Huuuu.... ngehalu aje lu neng,," Andra menoyor kepala Mikha.
"Hei hei hei,, ini kepala masih di fitrahin loh sama emak bapak Aku bang, jan asal ngeplak ae donk lu"
"Maapkeun abangmu ini sayang ku Mikha,,,," Andra mengedip-ngedipkan mata nya, membuat yang lain pada jijik melihat tingkahnya.
"Eneng gak mau maapin abang, terlalu sering Abang sakiti Eneng, huh..." Mikha bersidekap sambil buang muka.
"Mulai deh drama pagi, bosen tau gak," Rudi menyela adegan drama mereka.
"Jan gitu lah Rud, Aku seneng gangguin Mikha, lucu sih adek ku yang satu ini," Andra mencubit pipi Mikha yang di balas dengan tawa oleh Mikha.
Mikha bersyukur memiliki orang-orang terbaik disisi nya yang mau menjadi sahabatnya semenjak mereka masuk sekolah menengah ini. Karena memang sifat nya yang suka mencari teman, jadilah mereka berdelapan selalu bersama walaupun mereka gak membuat geng.
Di dalam anggota mereka terdapat 4 orang laki-laki dan 4 orang perempuan, diantarnya Andra yang usianya 2 tahun lebih tua dari mereka semua, Samuel, usianya setahun di atas mereka, ada Suji OK, yang selalu dipertanyakan "OK" nya sama temen-temennya, ada yang bilang itu singkatan dari Orang Kaya, ada juga yang bilang itu singkatan dari Orang Kere, padahal Suji juga adalah salah satu anak gedongan. Pas ditanya sama Suji, Dia sendiri pun gak tau apa arti OK di namanya, karena emang gak ada penjelasan. Ada juga Rudi yang paling Alim di antara semua nya, diantara empat lelaki itu Rudi lah yang paling muda, paling polos juga. Saat yang lain sudah kenal rokok di masa SMA ini, Rudi lah yang masih belum tersentuh dengan benda itu.
Sedangkan anak-anak cewek, ada Sunny Mikhayla si cewek yang mudah bergaul dengan siapa aja, walaupun Mikha suka keganjenan sama cowok, pecicilan juga, tapi yakinlah, sebenernya Mikha menutupi dirinya yang gak pernah kenal dengan pacar-pacaran. Bukan gak banyak yang naksir Mikha, tapi Mikha lebih suka hanya berteman dengan mereka, sebab Mikha berfikir belum waktunya dia menginjak jenjang itu, lagian gak ada yang bisa meluluhkan hati Mikha.
Mikha seperti matahari bagi teman-teman nya, sebab matahari menyinari dunia yang gelap sehingga menjadi terang. Lagian waktu Mikha dilahirkan saat Fajar, Matahari muncul malu-malu dengan membawa sinar terang bewarna jingga kemerahan yang indah, sehingga ayah Mikha yang melihat keindahan itu membuatkannya nama Sunny. Itulah arti nama Sunny yang ada di namanya. Begitulah penjelasan dari orang tua Mikha, Mikha juga gak ambil pusing dengan arti namanya.
Ada Miliana Susan yang anak nya lemot banget, tapi dia adalah temen kesayangan Mikha, sebab mereka sudah bersahabat sejak di bangku TK. Susan juga sangat bersyukur bisa selalu bersama dengan Mikha, karena Mikha berteman dengannya gak pernah membedakan dia dengan yang lain. Karena sifat nya yang lemot dan agak ceroboh, banyak anak-anak yang gak mau berteman dengannya waktu itu, hanya Mikha yang selalu berada disisinya.
Yang selanjutnya ada Nur Aini, seperti nama nya yang berarti Cahaya mata, Nur adalah anak yang sangat cantik, Sholehah juga, sedap di pandang mata siapa saja yang melihatnya. Dialah sosok yang selalu memberikan nasehat pada teman-teman nya, Sikapnya yang dewasa dan keibuan membuat teman-teman nya merasa nyaman berada di dekat Nur.
dan yang terakhir adalah Egha Dwi Putri. Sosok Egha adalah yang paling menghidupkan suasana di grup mereka, walau terkadang juga sangat mematikan, sebab apa? Egha adalah sosok anak yang selalu tegas dengan siapa saja, termasuk ke temen-temen nya. Dia juga gak kalah pintar dari anak-anak grup mereka, jadi mereka cocok aja semua berteman satu sama lain.
Sesampainya di kelas, bel pun berbunyi, mereka duduk di tempatnya masing-masing, Mikha dan Susan duduk di pojok depan dekat pintu, Sedangkan di belakang mereka duduk Andra dan Samuel. Nur dan Egha duduk di bangku depan barisan kedua, dan di belakangnya ada Suji dan Rudi.
Eits, jangan salah, walaupun mereka suka main, ada juga yang malas, tapi mereka bukan termasuk anak yang nakal, alih-alih memilih tempat duduk di pojokan belakang, mereka lebih memilih duduk di depan. Karena ketika dalam hal belajar, gak ada satupun dari mereka yang main-main. Mereka akan selalu serius.
__ADS_1
Tak lama, Bu Dwi masuk kelas, hari ini adalah jadwal Bu Dwi masuk kelas karena pelajaran pertama mereka adalan Kimia. Bu Dwi juga adalah wali kelas XI. IPA 3, jadi dengan santai Bu Dwi duduk di bangku kebesarannya. Setelah anak-anak mengucapkan salam dan di balas Bu Dwi, Bu Dwi memberikan pengumuman pada mereka.
"Pagi anak-anak, hari ini Ibu punya sesuatu untuk diberitahukan pada kalian, bahwa hari ini ada anak baru yang akan masuk ke kelas kita, karena ada satu dan lain hal, mereka pindah ke sekolah kita, semoga kalian semua bisa bergaul dengan baik ya sama mereka." Bu Dwi tersenyum setelah mengatakan tujuannya.
Samuel mengangkat tangan dan bertanya, "Cowok apa cewek Bu?" huuuuuu.... Sam mendapatkan sorakan dari teman-temannya, yang hanya di balas tawa cengengesan ala Sam. Bu Dwi menggelengkan kepala melihat siswanya yang heboh setiap kali temannya bertingkah.
"Kalian lihat sendiri saja, " Bu Dwi melihat ke arah pintu dan berkata, "Silahkan masuk Nak," kata Bu Dwi.
Sesosok pria yang tinggi, tampan, memiliki garis rahang yang tegas, bibir tipis, hidung mancung, rambut belah samping, rapi sekali, berjalan masuk kedalam kelas. Mata para wanita yang melihat keindahan ciptaan Tuhan itu tak ada yang berkedip, termasuk Mikha and de geng. Mikha sendiri terpesona luar biasa sama tuh cowok, apa lah lagi cabe-cabean yang ada di seberang.
Mata Mikha tak berkedip, melihat sepasang mata yang juga tengah menatapnya walau tak lama. Mata hitam legam, seakan Mikha ikut tersedot kedalam lautan mata itu. Tapi seketika Mikha tersadar, dan mengalihkan pandangan nya.
"Nah, silahkan kamu perkenalkan nama kamu Nak," Kata Bu Dwi yang memecah keheningan.
Anak itu mengangguk, "Pagi semua, perkenalkan nama saya Fikri Damarice, Saya pindahan dari Sekolah Negeri di kota C."
"suit...suiiitttt... Udah punya pacar belum akang?" Goda Nia, salah satu cabe-cabean di kelas.
"Kamu itu, pikirannya pacaran mulu, anak sekolah?" Bu Dwi memperingati.
"Kali kali aja jodoh saya Bu," Nia senyum-senyum gak jelas.
"Woooooo...." Nia berhasil mendapat sorakan dari teman sekelas.
Belum reda sorak sorai buat Nia, mereka masih di kejutkan lagi dengan kedatangan 2 pria tampan lainnya, yang gak kalah tampan dengan Fikri Damarice, serta seorang perempuan yang cantiknya aduhai.
Jika tadi mata para cewek-cewek yang dimanjakan, maka sekarang mata cowok-cowok yang dimanjakan dengan pemandangan di depan, cewek cantik, tinggi semampai, kulit putih bersih, hidung mancung, mata bulat, bulu mata lentik, beeeuhhhh ini sih cantiknya kayak bidadari surga.
"Pagi, kenalin, nama ku Doni Gunadarma, kalian bisa panggil aku Akang Doni," Doni menaik turunkan alis nya, Doni termasuk pria tampan yang ramah, tapi dia sebenernya playboy cap teri. "Kalian yang cewek-cewek boleh nanti kita tukar WhatsApp." Doni melanjutkan..
"Mau donkkkk......." Teriak cewek-cewek yang tertarik sama Doni. Doni tersenyum gembira melihat mereka antusias.
"Selamat pagi, kenalin nama Aku Agung Hermawan," singkat, padat, jelas.
"Segitu aja perkenalannya? dikit banget? belum sebutin nomor wa nya mas,," Sisil yang berteriak membuat Agung tersenyum. Hanya saja Agung memang bukan tipe cowok yang mau mengumbar nomor telepon.
"Silahkan selanjutnya, kamu yang cewek, perkenalkan nama kamu nak," sela Bu Dwi.
Cewek itu mengangguk, "Pagi semuanya, nama saya Aliya Sachi Irawan, kalian bisa panggil saya Aliya, dan saya adalah calon tunangannya Damar."
What!!! Berita ini membuat hati para gadis jadi asem, cowok yang paling ganteng yang baru masuk ternyata udah punya calon tunangan? yah,, gak bisa donk di perjuangin, begitu pikir beberapa gadis.
"Masih calon kan? belum jadi tunangan? berarti masih bisa donk abang Es untuk di kejar?" tiba-tiba Mikha menyela perkenalan Aliya.
"Maksud kamu apa? Siapa yang kamu panggil Es? Aku emang calon tunangan dia, paham kamu!" Aliya marah. Sedangkan Damar hanya menatap Mikha dingin, Tak ada aura mematikan dari tatapan itu, tapi lebih ke tatapan kosong dan gak peduli.
"Sudah-sudah. Kenapa jadi ribut, Ibu harap kedepannya kalian bisa akur, kita ini keluarga IPA 3, jadi jangan sampai ada perang di kelas ini.
"Baik Bu...." Jawab anak-anak kompak.
__ADS_1
"Silahkan kalian cari tempat duduk, masih banyak tempat yang kosong." Bu Dwi mempersilahkan mereka. Mereka berempat memilih tempat duduk di belakang, seperti biasa di sekolah lama, Aliya selalu duduk dengan Damar.
"Sssttt... Mikha," panggil Sam. Mikha yang dipanggil menoleh ke belakang, "Apa?" Tanya Mikha bingung.
"Lu tuh kalo ngasih nama orang yang bagus dikit ngapa. Masak anak orang lu panggil Es?!"
"Lah kan emang nama nya Es, tuh liat Damarice. Tadi si cewek sombong itu manggil nya Damar, tinggal ice nya. Dalam bahasa Inggris, Ice itu kan Es? jadi dimana salahnya? Aku cuma mentranslate kan aja," Kata Mikha masa bodo.
"Iya, tapikan dia tuh anak baru, kamu gak liat muka dia?" Tanya Andra.
"Emangnya muka dia kenapa?" Mikha menoleh melihat kearah dimana Damar duduk.
"Sstttt...." Sam menaruh telunjuk di bibirnya. "Dia emang ganteng, Tapi liat donk dari cara dia mandang orang, seakan-akan dia mau nelan semua orang yang natap dia." lanjut Sam.
"Masa sih? kalo Aku liat biasa aja sih, cuma mungkin kurang bersosialisasi kali anaknya, udh ah, ntar di tegur Bu Dwi". Mikha langsung membalikkan badannya menghadap papan tulis.
Masih sempat untuk Mikha melirik kearah Damar, dan ternyata Damar juga tengah menatap kearahnya. Eits... jangan-jangan.......
Setelah pelajaran hampir berakhir, Bu Dwi membuka suara, "Mikha, sebagai Sekertaris kelas, kamu tolong atur absensi untuk mereka, sekalian kamu masukkan mereka kedalam denah kelas, dan atur juga untuk daftar piket ya,"
"Baik Bu, akan saya laksanakan." Jawab Mikha cepat. Lalu setelah jam pelajaran usai, Bu Dwi pamit keluar kelas, dan pelajaran akan di lanjutkan ke pelajaran selanjutnya.
"Fiuhhh... Aku letih dengan pelajaran Kimia, Fisika, apalagi matematika" Suji memijit pelipis nya.
"Kalo kamu gak suka ya pindah aja ke IPS, kemaren ngapa malah ke IPA," Jawab Egha.
"Aku lebih gak suka pelajaran yang ada di IPS," jawab Suji lagi,
"Pelajaran apa emangnya?" tanya Nur juga penasaran.
"Sejarah" Jawabnya singkat.
"Kok gitu?" tanya Mikha
"Soalnya aku gak mau mengulang masa lalu di sejarah, kehidupan terus berjalan bro and sis,," Jawab Suji kepedean.
Plak... Rudi memukul keras bahu Suji.
"Aduh, ngapa lu mukul Ku?" Suji kesakitan.
"Terlalu banyak menghayal" Rudi mengetuk jidat Suji dengan pulpen.
"Yah kan emang gitu,, dari pada mengulang masa lalu, baik kita berjalan terus ke depan, masa lalu cukup di bikin pelajaran aja," kata Suji santai
"Bolehkan Aku tendang dia sekali?" Tanya Andra yang geram dengan jawaban Suji.
"Aku ikhlas Bang,, Aku rela," jawab Mikha drama.
Mereka lantas tertawa dan bercengkrama seperti biasanya sebelum guru dari pelajaran kedua masuk.
__ADS_1
"Berisik, sungguh mereka kekanak-kanakan." Aliya yang menatap mereka merasa benci, apalagi setelah tadi Mikha mau merebut calon tunangan nya. Yah, walaupun masih calon tunangan, tapi setidaknya kan ada kemungkinan mereka akan menikah, begitulah pemikiran Aliya.