
Mikha berjalan ke meja belakang tempat dimana empat anak baru duduk. Dengan ramah Mikha menyapa mereka semua, "Hallo akang-akang ganteng? Kenalin nama Aku Mikha, Aku menjabat sebagai sekretaris kelas." Mikha tersenyum manis, manis sekali sehingga membuat mata kedua remaja yang duduk di belakang Damar tak berkedip. Mikha mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan mereka satu per satu, hendak kenalan. Tapi hanya Agung dan Doni yang menanggapi uluran tangan tersebut, sedangkan Damar hanya diam tak menggubris sapaan Mikha.
Kalau Aliya jangan ditanya lagi. udah pasti dia ogah kalo harus bersentuhan dengan orang yang mau merebut calon tunangan nya.
Mendapat sikap dingin dari mereka berdua, Mikha gak ambil pusing dong, jadi Mikha langsung ke meja belakang menghampiri Agung dan Doni.
"Kenalin juga, Aku Doni, kamu bisa panggil Aku Akang Doni," Doni tersenyum menampakkan gigi putih bersihnya.
"Aku Agung, Yang di depan itu Damar, dan dia Aliya." Agung memperkenalkan kedua temannya yang tak merespon ucapan Mikha tadi.
"Oh, oke oke, salam kenal untuk kalian berdua, dan mbak Aliya yang cantik, serta akang Es yaaaangggg.... hmmm...." Mikha menelisik Damar dari atas kebawah. "Dingin bener si akang es mah,," Mikha berbisik pada Agung.
"Maklumin aja ya, Dia emang gitu orang nya," Jawab Agung. Mikha hanya menganggukkan kepalanya.
"Neng gak mau nomor hp Akang?" Yanga Doni dengan genit.
"Ya pasti mau lah..." kata Mikha dengan semangat.
"Pasti mau pedekate ya sama Akang Doni?" tanya Doni lagi.
"Ih, tingkat kepedean temen kamu ini udah over, ngeri aku,,," Mikha mengedikkan bahu menatap Agung. "Iya Aku butuh untuk di masukkan ke grup kelas. Siapa juga yang mau pdkt ama kamu, dari sikap kamu aja Aku dah tau kalo kamu itu playboy cap teri," Sarkas Mikha.
"Kejam banget kamu mbak Mikha, sakit hati akang tau,," Doni memegang sebelah kepalanya.
"Selain over Pede ternyata temen kamu yang satu ini agak miring dikit ya Gung? hati itu letaknya di sini," Mikha menunjuk dengkulnya, "Bukan disini," lalu menunjuk kepalanya.
Sontak perlakuan Mikha membuat mereka tertawa, ternyata Mikha orang nya asik di ajak bercanda. Agung yang melihat mulai terpesona dengan Mikha. Kalau dilihat sekilas, Mikha memang cantik, tapi tak secantik Aliya, tapi kalau diperhatikan dengan seksama, Mikha ini orang nya nyaman untuk di pandang, semakin lama memandangnya, semakin tertarik kita kedalam aura kecantikannya. Cantik alami yang sudah langka.
"Ya udah, masing-masing tolong kasih ke aku nomor kontak kalian, biar aku bisa masukkan dalam grup. Lagian kok murid baru masuk nya rombongan," Mikha menyerahkan pulpen dan buku absensi kelas pada Agung. "Untuk mereka yang di depan kalian, kamu aja deh yang isi Gung, malesin minta sama empunya, bisa-bisa aku menggigil."
"It's oke, Aku tau kok nomor kontak mereka."
Setelah menunggu beberapa saat, Mikha sudah menyelesaikan misinya untuk membuat daftar absen siswa dan meminta nomor kontak mereka siswa baru untuk di masukkan kedalam Grup. "Oke, makasih ya udah mau bekerja sama, tunggu kabar selanjutnya." Mikha berlalu dari meja Agung dan Doni.
Sementara itu, di meja kantin, para rombongan geng Mikha sudah menikmati makan jam istirahat, mereka sengaja duluan, dan sudah memesankan makanan untuk Mikha. Mikha menyuruh mereka duluan sebab dia masih harus berurusan dengan siswa baru.
"Jadi gimana perkembangan hubungan kamu dengan Doni? Aku liat tadi kamu sedikit terkejut ketika Doni itu masuk, jangan-jangan anak itu adalah Doni yang kamu sering ceritain ke kita-kita ya? tanya Nur pada Egha.
"Aku gak nyangka dia bakal pindah kemari, dan Aku masih gak habis pikir, sifat playboy nya masih aja gak ilang-ilang. Gimana Aku mau coba nyapa," Egha sedikit mengurut kening nya.
"Kamu sih, jatuh cinta sama playboy.." Mikha yang tiba-tiba datang langsung ikut memberi komentar.
"Jatuh cinta gak kenal tempat kali Mik,, gak juga bisa milih, tiba-tiba ada rasa, gimana donk?" Egha mengeluh. Jika bisa memilih, Egha juga gak pengen tuh jatuh cinta sama Doni.
Gimana Egha bisa jatuh cinta sama Doni? Dulu mereka adalah tetangga, sebelum Egha pindah dari rumah lama ke rumah yang baru. Egha juga pindah sekolah.
Dulu Egha dan juga Doni adalah teman masa kecil, selalu bermain bersama, Doni sudah seperti kakak yang siap melindungi adiknya dari kejahatan anak-anak seusianya. Bila ada yang membuat Egha menangis, maka Doni tak segan-segan untuk memukul anak itu sampai-sampai Doni selalu terkena masalah.
Egha menyadari perasaannya ketika dia meranjak remaja, di kelas 6 SD. Saat itu Doni yang super duper ramah mulai suka menggoda anak-anak perempuan di kelasnya, membuat Egha cemburu. Egha juga baru tau kalau itu adlah perasaan cemburu, sebab Egha selalu uring-uringan jika Doni dekat dengan anak-anak cewek.
Sampai ketika Egha harus pindah keluar kota karena sang Ayah yang pindah tugas, maka mereka juga berpisah. Perasaan yang Egha pendam nyatanya masih setia sampai saat ini, Egha berusaha untuk melupakan rasa yang pernah ada itu, tapi Egha gak bisa, Egha hanya memikirkan Doni.
Bukannya Egha gak terkejut karena Doni pindah ke sekolahnya, bahkan sampai masuk ke kelas nya, tapi karena Doni juga mungkin gak mengenali Egha setelah 3 tahun berpisah, jadi Egha masa bodo.
__ADS_1
Mungkin ada saat nya nanti Doni menyadari kalau teman masa kecilnya ternyata udah tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kalau dulu Egha sedikit agak hitam karena keseringan main panas-panasan, justru tampilan Egha yang sekarang jauh dari kesan hitam, malah Egha cenderung putih, karena berhasil merawat tubuh nya.
Egha ataupun Doni gak tau aja, kalau dari jauh hari kedua ayah mereka sudah sepakat menjodohkan mereka, para orang tua hanya menunggu momen anak-anak mereka memasuki usia yang terbilang matang untuk melanjutkan perjodohan ini.
"Jadi kamu masih berharap nih kalo bisa jadian sama Doni itu?" Tanya Nur lagi.
"Aku sih gak tau ya, kalau dia masih juga kayak gitu dengan sifat playboy nya, kayaknya aku harus berhenti. Siapa sih yang mau punya cowok playboy, ya gak?" Egha santai menjawab.
"Bener tuh, jangan pernah berhubungan apalagi pacaran sama cowok playboy, gak baik buat kesehatan jantung, makanya Aku gak mau pacaran sama cowok playboy." Andra menyeruput es twh manis nya.
"Bang, Aku tampol mau bang? kok Aku yo gregetan sama kamu, kamu tuh cowok, emang nya sejak kapan abang belok?" Mikha yang makan nasi goreng langsung ngerepet.
"Yeee.... makanya abang bilang, abang gak mau pacaran sama cowok, apalagi yang playboy, jadi Abang sukanya sama cewek aja, dek Mikha mau gak jadi cewek Abang?" tanya Andra menggoda.
"Ogah Aku tuh Bang, kata mama aku gak boleh pacar-pacaran, kan aku masih polos ,," Mikha mengedip-ngedipkan matanya.
"Jijay ah, kamu polos dimana nya coba?" Egha memukul lengan Mikha.
"Polos lah, aku kan belum pernah pacaran kek kelen,," elak Mikha.
"Gak pernah pacaran tapi tukang goda cowok-cowok ya Mik?" Sam buka suara.
"Ih,, ayang Sam kok gitu? kok bener apa yang dibilang? Kan Mikha jadi mau,,, eh malu maksud nya,," goda Mikha.
"lah kan, baru aja di bilang, dah mulai konslet nya nih anak," Suji menambahkan.
"Hari ini kamu yang traktir ya Ji," celetuk Susan.
"Tenang Beib, Ayang Uji akan bayarin makan hari ini."
"PJ lah,, PJ...." mereka berkata kompak.
"Kalian apaan sih," Susan berkata dengan malu-malu.
"Jan malu-malu ah San, kita seneng kok kalo kalian seneng,,cuit cuit..."
"Aku tuh gak jadian sama Uji, kemaren dia nembak Aku, tapi Aku belom terima..." Suara Susan makin mengecil, ternyata Susan malu, dan tampak semburat merah muda di kedua pipinya...
"Kok kamu buka kartu sih? kan Aku malu.."
Hahahaha..... Mereka tertawa sembari masih meledek kedekatan Suji dan Susan. Memang diantara mereka berdelapan, Suji dan Susan sudah menampakkan hubungan yang sedikit berbeda, lebih dari sekedar sahabat.
Maka pra sahabat yang lain pasti mendukung hubungan mereka dong. Karena cuma mereka yang terlibat cinta lokasi. Entah kapan Susan akan menjawab perasaan Suji, yang pasti, Suji akan setia menunggu.
Keceriaan mereka tak luput dari pandangan grup DamarEs, eh, Damarice maksudnya, Damarice yang melihat itu pun jadi mengenang saat-saat dimana dia juga pernah bersenda gurau dengan sahabat-sahabatnya. Tapi kini rasanya semua berbeda.
"Kamu ngapain sih liatin mereka, liat Aku aja sini." Aliya berusaha menarik Damar ke arah nya.
"Kamu itu jangan maksain diri donk, udah tau Damar gak suka sama kamu, ya udah berenti aja kali Al," Agung memperingati Aliya.
"Enak aja, Aku tuh calon tunangan nya Damar, jadi kami bentar lagi akan menikah, inget itu." Aliya ngambek sama Agung.
"Bener kata Mikha, calon tunangan belum tentu akan menikah," Sela Doni yang langsung menyantap bakso nya.
__ADS_1
"Lepas!!" Damar berkata pada Aliya.
Aliya gak terkejut lagi dengan sikap dinginnya Damar, sebab sudah beberapa tahun mereka bersama, jadi Aliya sudah paham betul apa yang terjadi pada Damar. Yah, Aliya menganggap sikap Damar biasa aja, gak di masukkan kedalam hati.
"Aku cuma gak mau kamu terpengaruh sama cewek centil kayak si Mikha itu. Apa bagus nya dia, cantikan Aku kemana mana." Aliya merasa tinggi menilai dirinya. Teman-teman nya yang lain pada mau muntah mendengar kata-kata nya, jadi mereka menganggap itu hanya angin lalu. "Aku masih toleransi kalo kamu cuma liat-liat dia doank, tapi kalo dia udah mulai mau merebut kamu dari Aku, Aku gak akan tinggal diam," Aliya mulai mengancam.
"Bukan urusan kamu! Kamu bukan siapa-siapa Aku!" Kata Damar.
"Tapi Dam...."
"Cukup! Aku muak sama keposesifan kamu, kamu itu bukan siapa-siapa Aku, jadi jangan sampai kamu buat ulah disini gara-gara Aku, karna Aku juga gak akan tinggal diam." Ancam Damar
Agung dan Doni hanya mampu tertawa dalam hati. Mereka sesungguhnya sangat senang ketika Damar sudah mulai bertindak tegas pada Aliya, karna anak itu memang harus di tegasin biar gak merajalela sikapnya, bir gak semena-mena terhadap orang lain.
Disaat yang bersamaan, Doni memandangi kelompok Mikha, melihat kearah Egha, sepertinya dia pernah liat gadis itu dimana? seperti melihat sosok yang sepertinya dia kenal, tapi apakah mungkin? Jika memang iya, betapa senang nya dia karena Doni sudah sangat merindukan teman lamanya itu. Benarkah dia Puput nya?
Yang gak Egha tau adalah sebenarnya Doni juga memendam perasaan pada Egha, tapi karena sikap cuek nya Egha dari dulu, Doni gak berani mengungkapkan isi hatinya sebelum mereka berpisah. Doni mengira bahwa Egha hanya menganggapnya sebatas sahabat, karena Saat Doni dekat dengan cewek lain, Egha gak pernah menunjukkan marahnya.
Doni harus memastikannya nanti. Pasti!
Bel berbunyi, dan mereka pun berbondong-bondong berjalan ke kelas, tak sengaja Mikha dan Damar bertabrakan saat hendak keluar dari kantin.
"Ups, Sorry Es..." kata Mikha menutup mulut nya.
"Awas!" kata Damar.
"Eh, Kamu kok gitu sih? ada ya manusia es kayak kamu, udah kayak Es, dingin, ketus, gak sopan lagi. Bagus-bagus ya Aku minta maaf sama kamu." Mikha tersulut emosi.
"Aku gak peduli." Damar langsung pergi meninggalkan Mikha yang terbengong melihat sikap Damar.
"What!! Astagaaa... ada apa dengannya bro?" Tanya Mikha pada Agung dan Doni yang berhenti di samping Mikha ketika mereka bertabrakan tadi.
"Mereka berdua hanya mengangkat bahu, "Maafin sikapnya ya cantik,,, dia emang gitu," kata Doni.
"Haiihhh.... amit-amit deh aku kalo punya pacar kek gitu, bisa-bisa beku aku tuh duduk di samping dia," Kata Mikha sambil bergidik.
"Hati-hati adek sayang, nanti suka beneran kapok lu,," Sam menasehati.
"Bener tuh, ati-ati aja, ntar suka beneran, jadi pacar beneran,,hahahaha" Andra menimpali.
"Daripada sama Damar Es, mending sama Akang Doni nyok neng Mikha,," Doni mulai menggoda.
"Ih, malesin tau gak, kamu itu Playboy cap teri" Mikha berjalan meninggalkan mereka. Agung hanya geleng kepala melihat tingkah sahabatnya, dan berjalan menyusul Mikha. Mereka pun berjalan berdampingan. Sedangkan di barisan paling belakang, ada Egha yang sudah memperhatikan Doni yang tadi menggoda Mikha, Egha masih gak habis pikir dengan teman mas kecilnya ini, gak tau apa dia kalo Egha tuh cemburu, Eeehhh mana lah mungkin Doni tau yak? Kan Egha gak pernah bilang.
Ketika dia berjalan melewati Doni, Doni menarik tangan Egha, Egha yang di tarik tangannya menoleh ke belakang dan menatap Doni, "Apa? Ada masalah?"
"Kamu mirip seseorang,"
"Mungkin kamu salah orang" Egha melepaskan tangan Doni dan berjalan pergi.
"Puput..." Doni memanggil Egha dengan nama kesayangannya.
Tak sadar Egha berhenti mendengar panggilan akrab itu, Namun Egha cepat kembali sadar dan berlalu pergi meninggalkan Doni yang masih terpaku di tempatnya.
__ADS_1
"Kamu beneran Puput ku,," Batin Doni, lalu dia pun juga ikut berlalu dari tempatnya menuju ke kelas.