
"Put, tunggu..." Doni menarik tangan Egha yang hendak meninggalkan kelas.
"Maaf, ada apa?" Tanya Egha sinis.
"Put, kamu gak inget Aku?" Tanya Doni.
"Aku tau kamu, kamu Doni, murid pindahan." Jawab Egha cuek. "Dan inget, nama ku Egha, bukan Puput." Egha berusaha melepaskan tangan Doni.
"Iya, Aku tau kamu Egha, tapi kamu Puput nya Aku."
"Kamu salah orang." Egha berlalu pergi meninggalkan Doni. Setelah Doni tersadar dia juga bergegas menyusul Egha, karena langkah kaki nya yang panjang, alhasil Doni masih bisa meraih tangan Egha lagi setelah beberapa kali Egha menolak.
"Masalah kamu apa sih? Jangan ganggu Aku bisa gak?!" Teriak Egha.
"Aku cuma mau ngobrol sama kamu, Aku kangen sama kamu Put, kenapa kamu jadi gini? Kenapa kamu lupain Aku? Temen masa kecil kamu?" Doni mulai memelas. Sungguh perasaan nya saat ini gak karuan, ada rasa kecewa, sedih, dan marah bercampur jadi satu, dan Doni gak suka perasaan itu.
"Tapi Aku gak mau ngobrol sama kamu, dan sekali lagi Aku tegasin sama kamu, Aku bukan Puput."
"Aku yakin kamu Puput, walaupun penampilan kamu berubah, tapi hati Aku bilang kamu itu Puput nya Aku." Tegas Doni.
"Ck.... Mau mu apa sih?" Tanya Egha malas.
"Aku cuma mau bicara sama kamu, tolong donk.." Kali ini Doni bener-bener memelas.
"Tapi Aku gak mau, dan Aku gak akan pernah mau." Egha kembali berusaha ingin meninggalkan Doni. Tapi dengan kelincahan Doni, Egha masih juga belum bisa lari dari jangkauan Doni.
"Cukup Ya Don, kita gak punya hubungan apa-apa, dan Aku gak mau kita punya hubungan. Jadi tolong jangan ganggu Aku. Please.." Egha menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Aku juga mohon please, ngobrol sama Aku sebentar," Doni gak kalah memelas nya.
"Ck..." Setelah berfikir lama, Akhirnya Egha luluh juga dengan perjuangan Doni. "Ayuk ke kafe untuk ngobrol," Doni menggenggam tangan Egha dan membawa nya ke parkiran motor nya. Yang Doni gak tau, dibelakangnya Egha tersenyum bahagia dengan sikap Doni yang seperti ini, hanya aja terlalu gengsi untuk mengakui bahwa Egha senang karena Doni ingat padanya.
Sepeda motor melaju dengan kecepatan sedang. Dimana hiruk pikuk jalanan kota membuat kemacetan yang tak terhindarkan. Sebab di jam-jam ini adalah waktu anak sekolah pada pulang. Tak sampai setengah jam, mereka sampai di sebuah kafe yang cantik banget, nuansa hijau tak lepas dari pandangan, sejauh mata memandang, akan terkesan memberi kesegaran bagi siapapun yang melihat nya.
Namanya Green Cafe, cafenya di design untuk anak-anak remaja, begitu masuk kedalam, rasa nyaman berbaur dengan aroma wangi bunga yang sepertinya sedang mekar. Cafe ini gak kalah cantik dengan Bonsai Cafe. Masing-masing memiliki ciri khas nya sendiri.
Masuk lebih jauh ke dalam, kita akan menemukan area outdoor yang kesannya romantis banget. Ada tempat duduk di bawah pohon rindang, ada juga di sediakan tikar duduk untuk mereka yang ingin lesehan, tampak ada beberapa anak-anak sekolahan atau anak kuliahan yang sedang belajar bersama di bawah pohon. Tempatnya asri banget. Egha terpukau dan terkesima melihat pemandangan ini. Darimana Doni tau ada tempat sebagus ini? Pikirnya.
"Ayok kesini, kamu mau duduk di bangku nya apa ngeleseh kayak mereka?" Doni menarik tangan Egha.
"Duduk di bangku aja, itu di bawah pohon itu." Tunjuk Egha pada sebuah pohon Tabebuya bewarna Pink.
Ilustrasi gambar by. pinterest
Karena Egha emang suka dengan warna Pink, jadinya ketika melihat bunga itu yang sedang mekar, hati Egha langsung meleleh, sepanjang jalan menuju bangku tak pernah lepas senyum menawan Egha tampilkan. Serasa di Negeri Sakura.
"Kamu suka?" Tanya Doni yang terpukau melihat senyum manis Egha. Senyum itu lah yang selalu dia rindukan semenjak kepindahan Egha.
"Iya, Aku suka." Jawab Egha sembari memegang beberapa kelopak bunga yang sedang gugur. "Kamu tau tempat ini dari mana?" Tanya Egha penasaran.
"Dari kak Lisa, kan dia kerja di kafe ini, katanya pemilik kafe ini tuh keren banget orang nya, cantik, ramah. Kak Lisa juga pernah tu di suruh bangun tengah malam cuma untuk buatin pisang goreng untuk pemilik kafe yang lagi ngidam," jelas Doni.
"Masa sih?"
"Iya, dan parah nya, pisang goreng nya gak di makan sama bos nya. hahaha"
Cerita mereka pun semakin seru, bahkan Egha pun lupa bahwa dia sedang tak ingin ngobrol dengan Doni. Tak lama pesanan mereka pun datang, vanilla cheesecake, jus strawberry kesukaan Egha pun ada disini.
"Kamu sebenernya inget sama Aku kan?" Tiba-tiba Doni menanyakan pertanyaan yang serius.
"Inget" jawab Egha jujur.
"Trus kenapa kamu cuek sama Aku?"
"Jadi Aku harus ngapain? berlaku seolah-olah kita itu akrab gitu?"
"Ya bukan gitu juga, setidaknya kamu bisa tegur Aku kek,"
__ADS_1
"Ngapain? penting banget apa Aku negur-negur kamu?"
"Put..."
"Apa?"
"Put..." Doni menarik tangan Egha agar Egha menatapnya.
"Apa sih?" Benar saja, Egha menoleh ke arah nya.
"Perasaan kamu gimana sih Put sama Aku?" Tanya Doni serius.
Deg...deg...deg...
Tolong, jantung Egha serasa mau copot, ini pertanyaan yang sebisa mungkin di hindari sama Egha. Egha gak mau di tanya seperti ini kalo Doni sendiri belum jatuh cinta sama Egha.
Bukannya Egha gak seneng dapet pertanyaan kek gini, tapi ini terlalu mendadak.
"Maksud kamu?" Egha berusaha menetralkan suaranya.,
"Ya itu maksud Aku Put, Aku tanya dan Aku butuh jawaban."
"Kenapa kamu butuh jawaban?"
"Biar Aku tau gimana perasaan kamu ke Aku." Jawab. Doni sambil menatap mata Egha.
"Emangnya perasaan kamu sama Aku gimana?" Tanya Egha ragu.
"Kamu masih temen masa kecil Aku. Kamu sahabat terbaik Aku. Aku sayang sama kamu karna Kamu sahabat terbaikku dari kecil. Jadi Aku mohon, jangan lagi kamu menghindari Aku. Aku butuh kamu Put..."
Nah kan,, nah kan... Udah Egha duga pasti jawabannya cem gini, apa gak nyakitin coba? Egha berusaha sangat keras menahan gejolak amarah di hatinya. Emang cowok satu di depannya ini gak tau diri. Udah jelas Egha mengekspresikan perasaannya, tetep aja dia gak tau Egha tu suka sama dia.
Egha sekuat tenaga mengepalkan tangan kanannya, karna tangan kirinya masih di pegang sama Doni. Dengan sangat berat hati Egha menjawab, "Yah kalo kamu anggep nya Aku kek gitu, Aku pun sama. Cuma beda nya sekarang sahabat ku udah nambah banyak, bukan cuma kamu aja. gitu juga sama kamu." Egha bener-bener menahan sesak di dada, pengen langsung mengeluarkan air matanya, tapi gak bisa.
Doni terpaku mendengar jawaban Egha, dia hendak menanyakan sesuatu lagi tapi Egha keburu bangkit dari tempat duduk nya dan berkata, " Udah sore. Aku harus pulang. Makasih traktirannya dan makasih udah bawa Aku kesini." Egha langsung berlari meninggalkan Doni tanpa Doni sempat mengejar Egha.
Egha pulang menggunakan ojek online. Dalam perjalanan pulang, tak bisa Egha menahan lagi bendungan yang sudah di tahan di matanya. Sepanjang jalan Egha menangis sehingga membuat kang ojek menjadi bingung.
"Gapapa atuh kang, udah jalan aja sesuai alamat di aplikasi. Biarin saya begini sebentar aja." Pinta Egha.
"Bukannya gak boleh neng, tapi ini udah bukan sebentar, sejak Eneng naik motor dan kita udah jalan hampir setengah jam, Eneng nangis terus..."
"Gapapa Bang, Aku gapapa. Ini udah berenti nangis kok." Egha mengusap air matanya mencoba menghentikan tangis nya.
"Kalo ada uneg-uneg harus di keluarin Neng, jangan di pendem, ntar jadi penyakit, Eneng pasti punya sahabat untuk tempat cerita,"
"Iya, saya punya Bang."
"Tapi Eneng tau gak, kalo tempat curhat yang paling baik itu sama siapa?"
" Siapa?"
"Ibu..."
Degh.... Iya, Egha selama ini tak pernah terbuka soal perasaannya, Egha tak pernah bercerita pada ibunya kalau dia menyukai Doni, sahabat masa kecilnya. Mungkin pulang nanti Egha mau curhat ah, manatau dengan curhat sama Mama akan mendapat pencerahan, pikirnya.
"Makasih ya Bang, saran Abang beneran bagus,"
"Sama-sama Neng, ini udah sampai di lokasi Neng,"
"Oh iya, udah sampe rupanya, makasih bang."
"Jangan lupa bintang 5 ya neng,"
"Kalo ada bintang 7 saya kasih bang," Egha tertawa.
"Ada-ada aja si eneng mah,,"
Egha masuk kedalam rumah dengan wajah yang lesu.
__ADS_1
"Kok baru pulang Put?" Tanya seorang yang berjalan dari arah dapur yang ternyata adalah Siska, Mama Egha.
"Iya Mah, tadi ketemu temen lama." Jawab Egha lesu.
"Kok kamu lesu? Emang nya tadi kamu di apain kok sampe gak semangat gitu?" Tanya Siska curiga.
"Mama nih, jangan jauh-jauh mikirnya, Pupit gak di apa-apain ma, tapi Puput lagi sedih nih," Egha memanyunkan bibirnya.
"Anak gadis Mama kenapa Sedih? Coba cerita.."
Egha menatap Mama nya, di wajah teduh itu, terlihat kenyamanan yang selalu Egha dapatkan, hanya soal Doni, iya Doni. Egha tak pernah bilang kalau dia mencintai laki-laki itu. Egha hanya takut. Tapi entah apa yang di takuti nya.
"Mah,, Kalo Put cerita, janji ya Mama jangan ketawa,"
"Emangnya cerita Kamu lucu banget?"
"Ish Mama,,,"
"Iya deh iya... Mama janji gak bakal ketawa." Mama tersenyum cerah.
"Ini loh Ma, mama gau kan Doni anaknya tante Naima yang dulu sebelahan sama kita?"
"Naima? yang tau lah sayang, Doni itu kan temen masa kamu masih di kota D dulu ya? Apa kabarnya dia ya? Eh, tapi kok tiba-tiba? Ada apa?
"Iya, sekarang Doni pindah ke sekolah Put Ma,,"
"Mereka pindah kemari?"
"Enggak, dia tinggal ama kakak nya"
"Oh,, mama rindu banget soalnya sama tante Naima,"
"Iya, Put tau.."
"Jadi kamu mau cerita apa?" Siska mengelus kepala Puteri nya. Sontak saja hal itu membuat Egha menangis. Dan Siska terkejut dengan hal itu, sebab Puteri nya tak pernah menangis.
"Kamu kenapa sayang? Mama ada salah?" Tanya Siska kelabakan. Egha hanya menggeleng. Lalu dibiarkannya Egha menangis sampai Egha merasa lega. "Kalau udah lega kamu bisa cerita ke mama." Sambungnya.
"Ma..." Egha berucap dengan suara serak.
"Kenapa sayang?"
"Ma, sebenernya Put udah lama suka sama Doni, bahkan jauh sebelum kita pindah, waktu itu Put ngerasa gak enak kalo liat Doni sama cewek-cewek, padahal itu cuma temen kita." Egha menghentikan ucapannya. Lalu melanjutkan, "Bahkan sampe sekarang perasaan itu masih ada, Put masih aja sayang dan suka sama dia, padahal Put tau dari dulu sampe hari ini Put jumpa sama dia, dia masih playboy Ma," Egha menangis sesenggukan.
"Kamu gak salah kok menyukai seseorang. Mama salut loh, kamu bisa bertahan dengan rasa itu sampe saat ini. Seharusnya kamu bilang jujur sama Doni kalo kamu suka dia nak," Mama menasehati.
"Iya, awalnya Put mau bilang ma, tapi hari ini dia buat pengakuan kalo dia cuma anggep Put sahabat nya, teman masa kecilnya, Put sesih banget Ma,," Egha masih menangis tersedu.
"Ya udah, kalo emang dia anggep nya itu, kamu juga harus bisa ikhlas toh? Kalo kalian jodoh, ntar pasti kalian menikah," Mama menampilkan senyum tak biasa.
"Put gak ngarep deh Ma bisa berjodoh sama dia. Put cuma berharap bisa melupakan rasa suka sama dia, karna Put juga harus bisa Move on juga kan,"
"Iya, tapi apa kamu gak nyesel mau gak suka lagi sama Doni?"
"Entah lah Ma, sekarang kayaknya perasaan Put masih kuat banget sama dia."
"Mudah-mudahan sampe nanti masih kuay ya Nak,," Siska berbisik.
"Gimana Ma?" tanya Egha.
"Eh, enggak sayang, Mama cuma berharap yang terbaik untuk kamu." Siska memeluk Puteri nya sayang.
"Makasih ya Ma udah mau dengerin curhat Put, Put sayang banget sama Mama.."
"Mama juga sayang banget sama kamu nak, Ya udah, pergi mandi sana, liat tuh, wajah cantik anak Mama jadi merah, mata bengkak, lucu kamu Put, kayak badut, hehehe" Siska tergelak melihat penampilan anaknya.
"Ya udah, Put masuk kamar dulu Ma," Egha beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamar nya. Egha gak tau aja, sepeninggalannya dia, mama nya tersenyum penuh arti, dimana sebenarnya keluarga Egha sudah ada pembicaraan dengan keluarga Doni untuk perjodohan mereka, Siska bersyukur karena ternyata Egha menyukai Doni, tinggal lagi gimana caranya Doni bisa menyukai Egha.
Dikamar, Egha merasa sesak di dada yang di tahannya serasa berkurang banyak, tak pernah dia merasa lega seperti ini, bersyukur sekali punya Mama yang sangat mengerti dirinya.
__ADS_1
Jika Doni hanya menganggapnya sahabat, apa boleh buat, seperti yang dikatakannya tadi, dia harus move on, gak boleh sedih-sedih sama perasaan yang gak jelas. Egha juga berharap mudah-mudahan kelak Doni bisa jatuh cinta sama Dia, tapi tetep aja, Egha gak berharap banyak.
Mandi dan menyegarkan diri adalah pilihan terbaik saat ini, udah gerah, ditambah lagi muka sembab habis nangis, jadi lengket semua. Mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu, lalu Egha masuk ke kamar mandi...