
Kebetulan ini hari minggu, dan seperti biasa, keluarga Mikha selalu melakukan senam pagi, kata si Papa sih biar badan sehat terus, gak gampang sakit, jadi olahraga harus rutin dilakukan, minimal seminggu tiga kali. Tapi Kalau Mikha sih tiap hari nya udah bisa di bilang olahraga, karena dari gerbang sekolah menuju kelasnya, Mikha selalu pake jurus jogging, sebab ruang kelas Mikha letaknya jauuuuuhhhh sekali, itu dikarenakan letak sekolah yang memanjang ke belakang.
Selesai senam pagi, Papa merehatkan badannya dengan membaca koran di pinggir kolam, biasalah, orang bisnis mah selalu up tu date.
Kalau Mama jangan di tanya, wanita super yang satu itu hobi nya masak dan bikin kue, tiada hari tanpa makanan manis di rumah, maka daripada itu papa menggerakkan hidup sehat, semakin banyak makan manis, semakin banyak kamu harus bakar lemak.
"Mik,, nanti bantu Mama ya,," Teriak Mama dari dapur.
"Mikha yang sedang belajar dandan di ruang tv setelah mandi pun menoleh, "Tolong apa Ma?"
"Itu, sebelah rumah kita, ada tetangga baru, kemaren baru pindah, jadi nanti kamu anterin kue kesana ya, bilang aja salam perkenalan," Mama berkata sembari berjalan kearah Mikha.
"Kenapa harus Mikha ma?" Tanya Mikha bingung.
"Tante Diana itu punya anak yang seumuran kamu, mana tau kalian bisa jadi temen kan? lagian kamu juga bisa jadi tour guide buat anaknya, ajak jalan-jalan kek, apa gitu.."
"Iya deh, ntar Mikha anterin." Mikha kembali fokus pada make up nya.
"Kamu itu udah cantik alami, tapi kenapa sok-sokan make up segala sih Mik?"
"Ya gapapa Ma, bentar lagi ada lomba make up di sekolah, untuk memeriahkan ulang tahun sekolah, jadi Mikha harus bisa dandan yang cantik," Mikha menjelaskan pada Mamanya.
"Hmmmm gitu, ya udah selamat dandan, Mama lanjut buat kue dulu," Mama mengelus kepala Mikha.
Mama Mikha itu sayang banget sama Mikha, sebab dia adalah anak satu-satunya yang lahir di keluarga nya. Dulu sih Sang Mama pernah hamil, ketik usia Mikha 3 tahun, tapi saat itu terjadi kecelakaan yang membuat Mama harus kehilangan bayinya, dan itu juga yang membuat Mama Mikha gak bisa hamil lagi.
"Ma, liat deh hasil dandanan Mikha, menurut mama gimana?" Tanya Mikha yang menghampiri Mamanya di dapur. Mama Mikha langsung menoleh kearah anaknya, dan sungguh sangat terkejut melihat hasil dandanan Mikha. Tapi Mama hanya tersenyum, gak memberikan komentar yang iya-iya ataupun yang enggak-enggak. "Kok malah senyum sih ma?" Tanya Mikha penasaran. "Jelek ya?" Mama masih tersenyum.
"Udah, kamu cantik, nih anterin kue nya ke rumah tante Diana." Mama menyodorkan piring yang sudah berisikan kue.
"Ya udah Mikha jalan dulu ma," Mama mengangguk, tak lama setelah Mikha jauh dari pandangan, Mama baru tertawa lepas. Ada-ada saja si Mikha, batin mama.
Melewati ruang tamu, dan menuju ke halaman, Papa yang tengah menyiram bunga menoleh karena mendengar langkah kaki. Papa tertawa melihat Mikha, "Kamu mau kemana Nak? kamu dandan ya?" Tanya Papa menahan geli.
"Iya Pa, cantik gak?" Tanya Mikha antusias.
"Iya cantik,,, Anak papa yang cantik mau kemana?" Tanya Papa lagi.
"Ini, mau nganterin kue ke tetangga baru, ya udah Mikha jalan dulu Pa,"
"Iya, hati-hati nak,,"
"Iya pa, gak usah khawatir, cuma kesebelah doank.."
Papa hanya geleng-geleng kepala melihat kepergian Mikha. Mama keluar dari rumah sambil cekikikan. "Kamu liat anak kamu pah?"
"Liat, pasti mama nih yang ngerjain Mikha," Tebak Papa.
"Habis nya Mikha lucu sih pa, Kita liat aja nanti pas pulang, pasti akan ada badai," Kata Mama sambil tertawa memegang perutnya.
"Kamu ini suka sekali ngejailin anak,," Paa mencubit gemas Pipi Mama.
"Mama suka, habis nya gak ada lagi yang bisa mama jailin,," Mata Mama terlihat sendu. Kalau sudah begini papa pasti tau lah mama kenapa.
"Ya udah, mana kue Papa? bentar lagi Papa siap nyiram bunga nih," Papa mengalihkan pembicaraan.
"Oh oke, Mama siapin." Mama langsung masuk ke rumah menyiapkan kue buatannya untuk Papa.
Sementara dirumah sebelah....
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh." Mikha mengucapkan salam dengan lengkap.
"Waalaikum salam...." Ternyata ada sahutan dari dalam. Pintu terbuka menampilkan sesosok wanita paruh baya yang bisa di bilang sangat cantik. mungkin kalau gak salah usianya seperti Mama Mikha. Tapi wajahnya yang ayu itu memudarkan usia tua sepertinya.
"Iya, Adek cari siapa ya?" Tanya Tante Diana.
"Tante ini Tante Diana kan ya?"
"Iya saya sendiri.."
"Alhamdulillah ada orang nya, emmhh ini tante, saya Mikha anak dari Bu Rahma rumah sebelah, mau nganter kue buatan Mama saya, katanya untuk perkenalan tetangga baru.." Mikha nyengir menampakkan barisan gigi putih nya.
"Oh,, kamu Anaknya Rahma, ayo masuk.."
"Eh gak usah tante, Saya mau anterin kue aja kok,," tolak Mikha dengan halus.
"Udah gapapa, masuk dulu, kita cerita-cerita dulu. Tante juga punya anak seusia kamu, sekolah di SMAN 1 C, kamu sekolah dimana?" Tante Diana menarik lengan Mikha membawanya langsung menuju dapur.
__ADS_1
Loh, kok sama kayak SMA Aku ya?, batin Mikha. "Eh, Anu, saya juga di SMA itu Tante," jawab Mikha.
"Oh ya? wah, berarti kalian satu sekolah donk,"
Jangan-jangan anak Tante Diana adalah salah satu dari murid baru kemaren?, Mikha menutup mulutnya hampir tak percaya, Tapi siapa? Siapa dia?.
"Sebentar ya, Tante panggilin anak tante dulu, kamu duduk manis disini dulu ya cantik,," Tante Diana menoel dagu Mikha. Tanpa bisa melawan, Mikha hanya menuruti kata-kata Tante Diana. Duduk menunggu sembari bermain game di hape nya. Untung lah dia bawa hape, kalo enggak ada can mati bosan dia nunggu Tante Diana lama banget.
Tak lama turunlah tante Diana dan...... Anaknya? Loh kok? Nah kan bener, pasti salah satu dari murid baru, "Damar Es?! Ups..." Cepat-cepat Mikha menutup mulut nya. "Maaf Tante,," Lanjut nya.
Tante Diana hanya geleng kepala sambil senyum, "Gapapa... Mikha, Tante tau kok kenapa kamu panggil dia Es?" Tante Diana tersenyum dan menepuk bahu Damar. "Kalian udah saling kenal kan? Ya udah, duduk dulu ya, Tante buatin minum dulu," Mikha hanya mengangguk mengiyakan.
Sumpah disini suasana nya akward banget, gak tau mo ngapain, mana si es batu diem aja lagi sambil mandangin gak jelas.
"Pffttt...."
Dia tertawa? Beneran dia ketawa? Dia ngetawain apa?, batin Mikha. "Kenapa kamu ketawa?"
"Menurut kamu?" Tanya Damar balik.
"Mana aku tau kamu ngetawain apa. Kamu pikir Aku cenayang bisa tau isi pikiran kamu?" dengus Mikha
"Kamu mau ngelenong dimana?"
"Maksud kamu?" Mikha auto bingung.
"Kamu kan bawa hape," Jawab Damar singkat.
Mikha langsung membuka kamera hape nya, dan ketika dilihat,
pict. by google
Astaga.... Mikha gak bisa berkata-kata melihat penampakan dirinya. Mau ngakak, malu dirumah orang, mau tutup muka masih keliatan itu alis. Ternyata Alis Mikha tebalnya kayak Alis Sinchan gaesss,, Tadinya Mikha pikir itu biasa aja, tapi mungkin karena keringetan dijalan, bedak menipis, alis menebal. Sungguh Mikha malu luar biasa.
"Kamu gak tau aja, ini tuh lagi trend sekarang. Alis tebal gini banyak menarik perhatian pria tau." Mikha ngeles, mencari alasan biar gak nampak kalo dia gak pande make up.
"Oh gitu," Senyum Damar tipis sekali, kalo gak diperhatikan dengan seksama, gak akan nampak.
Astaga,,, senyum itu,, dia dingin tapi punya senyum yang indah, aku terpesona,,, batin Mikha.
"Makasih tante.. Mikha minum ya, haus.." Mikha langsung menyambar gelas sirup yang disuguhkan tante Diana tanpa malu-malu. Setelah selesai, Mikha melirik tante Diana yang sedang menatap nya.
"Mikha jelek ya tante?" Celetuk Mikha.
"Enggak, siapa bilang kamu jelek? Kamu cantik kok, buktinya Tante terpesona liat kamu," jujur tante Diana
"tapi,,"
"karena Alis kamu? Tante kira itu lagi tren sekarang," potong tante Diana.
"hehehe... Mikha gak bisa buat alis tante, Mikha kira buatnya begini." Mikha mengelap Alisnya.
"Kamu cuci aja di kamar mandi Mik, nanti Tante kasih handuk." Tante Diana berdiri dari tempat nya untuk mengambilkan handuk baru untuk Mikha.
"Emhh,,, anu, kamar mandi nya dimana ya?" Tanya Mikha pada Damar.
Damar hanya menunjuk menggunakan dagunya, membuat Mikha ngomel gak jelas.
"Dasar es batu, dia kan punya mulut, kenapa gak di bilang aja sih," gerutu Mikha.
Setelah membasuh wajah nya, Mikha merasa lebih nyaman, karena make up yang dia buat tadi sungguh beneran buat Mikha malu.
"Tante, udah agak siangan ini, Mikha pulang dulu ya," Mikha beranjak pamit pada Tante Diana.
"Loh, gak makan siang disini Mik? si mbak udah masak banyak loh,," tawar tante Diana.
"Hmmm,,, lain kali aja tante, Mikha masih ada yang mau di kerjain lagi dirumah, makasih udah ditawarin. Mikha pulang ya tante."
"Ya udah, hati-hati ya, eh tunggu, biar dianter Damar ya."
"Gak usah tante, gak usah, beneran gak usah, Deket juga rumah nya disebelah." Elak Mikha.
"Udah gapapa, sana kamu anter Mikha pulang." Tante Diana mendorong Damar.
"ck.. kek anak kecil"
__ADS_1
Mikha yang mendengar itu mau murka, tapi gak enak sama tante Diana. Jadi Mikha tahan rasa marah itu sampe di luar pagar.
"Cukup! Aku gak mau kamu anter. Cukup disini aja." Mikha menahan emosi.
"Siapa juga yang mau anter kamu, Kepedean." Damar langsung balik badan meninggalkan Mikha. Sontak Mikha terbengong melihat tingkah bocah es itu. membuat kepala Mikha berkedut nyeri.
"Huh, dasar kamu ya. Awas aja kamu Es Kutub, Aku bales nanti kamu ya," teriak Mikha di pintu pagar. Damar yang mendengar itu hanya tersenyum meremehkan. "Silahkan," bisiknya.
Mikha berjalan dengan menghentakkan kakinya, rasanya hatinya kesel banget, sebel banget, kok ada manusia sedingin itu, sekejam itu, liat aja ntar, Mikha cemberut sampai-sampai bibirnya maju lima mili.
"Pulang-pulang kok cemberut?" Tegur sang Mama yang sedang duduk menonton acara masak kesukaan nya di dampingi papa.
"Sebel Mikha tuh Ma,"
"Sebel kenapa? coba cerita dulu," Papa melambaikan tangannya menyuruh Mikha mendekat.
"Anaknya Tante Diana nyebelin." Mikha bersidekap sambil memanyunkan bibir nya.
"Kok bisa?" Mama penasaran.
"Ya bisa donk Ma, ih sebel Mikha tuh. Mama sama papa juga deh, suka bener jailin anaknya, kan Mikha malu tadi Ma,,"
"Emang tadi Mikha kenapa?" tanya Mama.
"Gara-gara Alis Mikha kayak Sinchan, Mikha diketawain sama anaknya tante Diana."
"Emang anak nya tante Diana siapa? kok bisa buat kamu sebel?"
"Namanya Damarice, orangnya dingin, kayak es kutub, cocok deh namanya Damar Es." ujar Mikha.
"Husss,, kamu itu kalo ngomong sembarangan," kata Papa.
"Emang bener Pa, ejaan nama dia tuh Damar Ice, Ice itu kan Es pah, cocok emang nunjukin wataknya yang dingin kayak es, gak bisa di sentuh, menggigil kalo deket-deket dia." Mikha mulai bersungut-sungut.
"Kamu kan mataharinya, berarti bisa donk kamu mencairkan bongkahan es?" goda papa.
"Gak mau Mikha tuh Pa,, malesin sih deket-deket dia tu, dia nya aja juga cuek bebek gitu kok."
"Batu aja kalo di tetesin air walaupun cuma setetes-setetes bisa bolong juga Dek, apalagi es balok, kena matahari ya pasti cair lah. Gak caya? coba deh,"
"Papa ni kayak iklan di tipi aja, iya deh nanti Mikha coba, tapi males terlalu ngarep Mikha tu Pa, sukur kalo dia jadi mau berteman, kalo masih diabaikan Mikha, haaa,, tiada ampun untuk si es."
"Jangan gitu, tar kamu kecantol koh dek,," Mama yang mulai menggoda,
"Boleh di aamiin kan gak ma?" Tanya Mikha antusias.
"Emangnya kamu tertarik?" tanya Papa,
"Kalo dia senyum tuh ganteng banget Pah, tadi Mikha ada liat, sekilas dan gak lebar, tapi senyumnya itu memikat Pah "
"Anak kamu Pah kalo udah bahas cowok semangat 45, tapi sampe sekarang mama belum pernah denger dia putus cinta,"a menyenggol papa.
"Jangan di doain Mikha putus cinta donk Ma, kan Mikha pengennya satu hati sampai mati,,"
"Kayak lagu ya dek?" papa tergelak.
"Papa tau lagunya?"
"Tau lah,, Papa kan pernah muda, Papa duluan yang merasakan asam garam kehidupan."
"Jadi sayur asem dong ya Pa? hahaha.." Mikha tertawa lebar.
"Kamu ini dek, Papa serius,,"
"Mikha juga serius pa,, coba deh papa nyanyi kalo papa tau,," tantang Mikha.
"Oke, gini lagunya, Semoga kau dan aku
Satu hati sampai mati Setia tak terganti, nanananana"
prok prok prok....Tepuk tangan meriah di berikan Mama dan Mikha,, "Wesss,, salut sama Papa, suara papa itu gak ada yang ngalahin, top punya deh, number wan di hati Mikha,," Mikha memuji lebay pada sang papa. Papa hanya tertawa melihat tingkah anak gadis nya ini.
"Udah kamu jangan kesel lagi, belajar dandan aja lagi, bir hati senang, keselnya ilang," ejek Mama.
"Mikha gak jadi ikutan Ma lomba dandan nya, Ntar yang ada Mikha di ketawain satu sekolah gegara Mikha buat alis Shin-chan."
"Biar jadi kenangan dek pas tamat sekolah,,"
__ADS_1
"Ogah... Dah dah dah, Mikha mau naik ke atas dulu, mau ngerjain PR, ngomong sama mama sama Papa selalu deh Mikha di ledek mulu." Mikha berlalu meninggalkan papa dan mama nya menuju kamar. Yang di tinggal malah tertawa cekikikan.