
Sepulang sekolah seperti biasa Hersa menuju salah satu warung langganannya untuk mengambil pesanan Budenya, bermodalkan sepeda gayung Hersa bersama ketiga temannya menempuh jarak sekitar satu kilometer dari sekolah dengan rumahnya.Melewati jalan putih yang masih belum teraspal, bahkan jalan itu masih dikelilingi oleh pepohonan besar yang menghalangi panasnya terik matahari.
"Gubrakk!!!"
Hersa menoleh kearah salah satu teman laki-lakinya, pria dengan rambut keriting dan tubuh jangkung itu tampak tergeletak jatuh.
Lutut kanannya terluka akibat tergores sebuah batu, pandangannya tertuju fokus pada sebuah pohon besar di sebelah kiri mereka.
Bulu kuduk Hersa mulai berdiri, hawa dingin mulai meniup-niup kulitnya.Pasalnya ketika teman laki-lakinya ini sudah memasang wajah seperti itu, pasti ada sesuatu diluar nalar yang sedang dilihatnya.
"Acik, sadar woi! Lo lihat apaan?!"tanya Egik, teman Hersa.Egik menepuk-nepuk pipi Acik, mencoba berkomunikasi dengan Acik.
Dengan cepat Hersa turun dari sepedanya dan menghampiri kedua sahabatnya itu bersama dengan Lea, satu-satunya anggota wanita dalam persahabatan mereka.
"Dia melihat kita, dia gak mau kita pergi..."gumam Acik, wajahnya pucat pasi, jari telunjuknya sibuk menunjuk-nunjuk pada pohon besar di sebelah kiri mereka."Ada sesuatu lagi, Sa..."ucap Lea pada Hersa.
"Aroma kembangnya kuat banget, kita harus cepat pergi!"bisik Lea, suaranya setengah gemetar.Agik dengan cekatan menutup kedua mata Acik dengan dasi biru miliknya.
__ADS_1
"Dia tidak jahat, dia hanya ingin berkomunikasi."gumam Acik lagi, Hersa, Lea dan Agik memandang satu sama lain.Matahari mulai menenggelamkan dirinya, cahaya mentari mulai meredup.Ditambah ranting dedaunan menghalangi cahaya masuk ke dalam hutan.
"Buruan cabut! udah mau gelap, kita ngga bawa penerangan"Ucap Hersa yang di sahut dengan anggukan dari kedua temannya, Lea dan Agik.
Sekilas Hersa bisa melihat sesuatu dari pohon besar itu, sesosok wanita yang tengah berdiri sambil menunjuk-nunjuk kearah akar pohon.
Sosok dengan kulit keriput putih pucat, rambut hitam tergerai panjang, baju putih panjang menutupi hingga kaki dan berwajah rata.
Hersa mengayuh kuat pedal sepedanya, berharap dapat keluar dari hutan ini sebelum mentari tenggelam sepenuhnya.Meninggalkan sepeda Acik yang terpapar disana, meninggalkan sebuah benda yang membuatnya harus kembali mau tidak mau menuju tempat itu lagi.
*****
Seorang wanita tua dengan pakaian lusuh tampak sudah bersiaga berjaga di depan warung.
"Mbok, si Acik kumat lagi."ungkap Agik
Mbok Rara menatap lekat Acik yang menatap kosong tanah di samping kaki Hersa, tepat di tempat dimana Hersa berpijak.
__ADS_1
"Lohh...dasi di mata Acik lepas kemana?"kata Lea heran, tangannya mengusap-usap bagian belakang lehernya.Lea mulai merasakan keganjilan disini, bulu kuduknya sudah berdiri sejak perjalanan tadi.
"Mbok, gak mau ikut campur.Ini ambil saja pesanan bude kamu!"Mbok Rara menyodorkan sebungkus plastik hitam berisi bibit padi pada Hersa, lalu mengusir mereka dari sana.
Hersa kembali melanjutkan perjalanan menuju ke rumahnya, namun kali ini arah jalan rumah mereka berbeda.Hersa mulai merasakan benih-benih ketakutan dalam dirinya, sebenarnya Hersa bisa melihatnya namun tidak berani mengakuinya.
Hersa tahu apa alasan mbok Rara mengusir mereka tadi, karena ia juga melihatnya.Bahwa yang Agik bonceng bukanlah Acik, melainkan sosok hantu yang tadi Hersa lihat di dalam hutan.
______________________________________________
Gimana readers?
Ceritanya berhasil buat jantung kalian debar - debar gak?
Ini pertama kalinya aku buat cerita horor, jadi minta likenya ya...Karena dengan begitu bisa membuat author semangat buat ceritanya.
Tinggalkan coment juga ya ^_^
__ADS_1