Misteri Desa Terpencil

Misteri Desa Terpencil
MDT(6) Aura Pembunuh


__ADS_3

'Plakk!!'


Sebuah tamparan mendarat tepat dipipi kiri Hersa, tangan itu adalah milik Lea.Gadis itu sudah memanggilnya berkali-kali sejak tadi, namun Hersa tidak menyadarinya.


"Lo liat apaan, daritadi mata Lo kaya udah mau copot tau ga?"


Hersa mengusap-usap pipi kirinya yang memerah akibat tamparan Lea, "Tamparan Lo kuat amat, kepala gue sampai berasa copot"


Lea hanya terkekeh pelan menyahuti perkataan Hersa.


Hersa kembali menghadap depan, betapa kagetnya ia ketika dilihatnya guru berpusung itu telah menatap dirinya lekat dengan sebuah seringai seram diwajahnya.


"Kamu berani mengobrol di jam pelajaran saya?! Sini kamu!"bentak guru itu


Semua tatapan kini tertuju pada Hersa, pria dengan tahi lalat di pipi ini hanya menggigit bibir bawahnya menahan takut.


Perlahan Hersa melangkah menuju ke depan kelas, betapa kagetnya Hersa ketika ternyata guru berpusung itu mengeluarkan benda tajam yang tidak asing bagi Hersa, itu adalah kaca panjang yang ia lihat di ilustrasi yang diberikan oleh arwah berwajah rata.


"Bukankah anak nakal harus diberi hukuman?"ucap guru itu sembari mulai melangkah maju sambil mengores-goreskan kaca itu pada jarinya.

__ADS_1


Hersa mulai bergidik ngeri, suara seketika senyap di ruangan itu.Tanpa sadar Hersa terus mundur hingga terpentok pada meja guru, "Ayo anak nakal, ini tidak akan sakit"


Kini jarak mereka sudah sangat dekat, perlahan tangan guru itu mulai naik menuju wajah Hersa.Hersa menutup matanya, tubuhnya sudah bergetar hebat.


"Ibu hanya bercanda! Hahaha!!!"


Tidak ada satupun dalam ruangan itu yang berani membuka suara termasuk Hersa, tangan Hersa mengepal kuat menahan getaran tubuhnya.Ia yakin guru dihadapannya ini memanglah orang yang telah membunuh arwah Anin dengan tragis, aura yang terpancar dari guru itu dapat ia pastikan adalah aura pembunuh.


"Berapa orang sebenarnya yang dia bunuh?"itulah yang ada pada batin Hersa.


"TRAKK!!!"


'deg!' Degupan jantung Hersa kembali berdetak kencang, bagaimana tidak!


"Cepat duduk, atau kamu mau saya beri hukuman yang sebenarnya hah?!"bentak guru itu.


Dengan langkah cepat Hersa menuju bangkunya dan kembali duduk di samping Lea, gadis itu hanya bergidik ngeri melihat Hersa.Bibir gadis itu seperti ingin berbicara namun ia tahan, bahunya naik turun tidak teratur.


Hersa mengedipkan kedua matanya menandakan semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


*****


Awan mendung menghalangi sinar mentari di baliknya, banyak burung gagak berterbangan diatas pohon asem tepat dimana Hersa bersama ketiga sahabatnya duduk melingkar.


"Acik!! Entar tuker tempat duduk ya!"Pekik Agik yang mulai memperhatikan sisi takutnya


Acik yang merasa risih digelut Agik menjitak dahi Agik dan berkata, "Lo cowok apa cewek? penakut amat!"


Alea menggosok-gosok lehernya, tangannya tidak berhenti meremas tangan kiri Hersa.


"Agik wajar takut! gue juga ngeri punya guru serem kaya gitu!"bentak Lea lantang


Hersa meringis ketika Alea meremas kencang lengannya, "Aww! Gak usah takut Le, gue yakin Lo bisa buat itu guru k.o"kata Hersa


"Pasti bisa Lea buat k.o lah! Tenaganya aja kaya cowok!"Ledek Acik


Ketiga sahabat itu tertawa lepas setelah mendengar candaan dari Acik, sementara Lea mengernyitkan dahinya sebal.


______________________________________________

__ADS_1


Hai teman-teman, maaf aku lama gak update.


Jangan lupa berikan vote, like dan coment nya ya^_^


__ADS_2