Misteri Desa Terpencil

Misteri Desa Terpencil
MDT(7) Cerita dan Pengakuan


__ADS_3

Senja datang di sambut dengan langit berwarna oranye yang berleluasa di langit, tampak matahari perlahan-lahan mulai tenggelam dari ujung pantai.


Para penduduk beramai-ramai berjalan beriringan menuju salah satu pantai yang terletak tepat di belakang pegunungan yang tidak jauh dari rumah mbok Rara.


Kali ini Hersa tidak pergi dengan sepedanya, bersama ketiga sahabatnya ia berjalan mengikuti jejak para penduduk yang menuntun jalan didepan.


Bude Ningsih sudah siap memanen pandan berduri dengan pisau andalannya, pisau yang selalu ia simpan baik-baik.


Sementara beberapa penduduk bersiaga membawa sebuah wadah untuk tempat pandan nanti, kegiatan ini selalu dilakukan rutin setiap hari Kamis senja.


Melakukan persembahyangan di tepi pantai dengan mempersembahkan beberapa makanan khas yang kemudian nanti dimakan bersama sebagai perwujudan terimakasih atas anugrah yang mereka dapat dari lautan yang kaya manfaat.


*****


Setelah selesai melakukan upacara syukuran, kini Hersa dan budenya sudah sampai di rumah mereka.


Bude Ningsih sibuk memasang pandan berduri ke sekeliling gubuk, sementara Hersa sibuk dengan pikirannya sendiri.


Hersa sebenarnya ingin menceritakan hal yang ia alami di sekolah tadi siang, dan ia juga ingin agar berhenti sekolah untuk membantu budenya saja mengurus sawah.

__ADS_1


Walau sebenarnya, tujuan utamanya adalah karena ia takut untuk bertemu dengan guru seram itu, Apa ada yang betah jika punya guru menyeramkan seperti itu?


Bude Ningsih yang menyadari kebisuan Hersa mulai menaruh pandan berduri di sebuah wadah dan beralih untuk duduk di kursi tanpa senderan tepat di sebelah keponakan kesayangannya itu.


"Kenapa toh nak? Dari tadi diem aja?"


Hersa hanya tersenyum sekilas menyahuti pertanyaan budenya, dari sorot matanya dapat bude Ningsih pastikan keponakan kesayangannya ini sedang menanggung suatu beban yang ingin ia sampaikan namun tidak dapat ia katakan begitu saja.


"Ada masalah apa di sekolah?"


"Kalau Hersa bilang mau berhenti sekolah bude setuju?"


Sekilas dapat Hersa lihat wajah budenya berubah sekejap mata, kerutan di dahinya sudah tampak tercetak jelas.


"Kamu di musuhin temen?"lanjut bude lagi


"Gimana caranya Hersa cerita, bude pasti gak akan percaya sama cerita Hersa"


"Belum cerita kok udah bilang gitu toh nak?"

__ADS_1


Hersa menghela nafas berat setelah akhirnya ia menceritakan semua yang ia alami belakangan ini, dimulai dari hati dimana arwah Anin muncul dan mengambil alih tubuh Acik, hingga guru berpusung yang membunuh arwah Anin yang kini menjadi guru baru di sekolahnya.


Di luar dugaan Hersa, bude Ningsih tampak mendengarkan kisah Hersa tanpa memotong ucapannya.


Bahkan Hersa sempat berfikir budenya ini pasti akan menertawakan ceritanya.


"Kenapa gak cerita dari awal toh nak? Pasti selama ini kamu takut sekali toh?"


Hersa nyaman dengan pelukan hangat yang diberikan budenya ini, hatinya sedikit lega karena sudah bercerita lepas dengan budenya itu.


"Dulu memang ada banyak yang melihat penampakan hantu berwajah rata di pohon besar dekat hutan, karena itu pohon itu di beri kain putih."


"Dahulu ada seorang dukun bernama Ajif yang memasang kain itu, karena arwah itu penuh dengan amarah, jika kain itu sampai lepas maka arwah itu akan mengimbaskan dendamnya pada penduduk desa,"Lanjut bude Ningsih


Hersa sedikit terkejut dengan pengakuan bude Ningsih, apa karena kesalahan Hersa pada hari itu arwah Anin jadi mengganggu dirinya?


Apa karena hari itu Hersa melepas ikatan kain itu?


______________________________________________

__ADS_1


Jangan lupa berikan like, coment dan votenya ya πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Tunggu update selanjutnyaπŸ™ŒπŸ™ŒπŸ™Œ


__ADS_2