
Seluruh suasana menjadi semakin heboh setelah Mbah Ratna terpental jatuh ke tanah, bahkan sampai muntah darah.
Mbok Rara terus menangis, dan membacakan doa-doa.
Warga yang semula berduduk santai kini berlarian menuju rumah mereka masing masing, Agik yang sangat penakut memeluk erat tubuh mungil Lea.
"Waa!! Acik, sadar Lo sadar!!"teriak Agik histeris
"Ck, lepasin gue Agik! Lo mau gue tonjok?!"Ancam Lea
Mbah Ratna terpapar tidak sadarkan diri, kondisi Acik semakin menjadi-jadi.Tali yang mengikatnya pada ranjang mulai melonggar, ranjang itu sudah sepenuhnya terangkat.
Memar-memar kebiruan mulai muncul di beberapa bagian tubuhnya.
Disertai dengan angin kencang yang menerbangkan alang-alang atap gubuk, bulu kuduk Hersa sudah berdiri tegak sejak tadi.
Otaknya tidak bisa berfikir jernih, yang ia pikirkan saat ini hanya keadaan Acik.
Apa Acik sedang kesakitan disana?
Wajah Acik berubah menjadi sangat menyeramkan, kulitnya sepucat mayat hidup, matanya mendelik, dan bibirnya terbuka sangat lebar.
Tatapan Acik tertuju pada Hersa seakan akan roh wanita berwajah rata itu ingin berkomunikasi dengan Hersa, dengan berani Hersa menatap fokus kedua mata Acik.
Dan...
__ADS_1
"Dimana ini?"gumam Hersa
Hersa kini berada di sebuah ruangan penuh dengan alat perkakas, seorang wanita dengan rambut terurai panjang lusuh terantai pada tembok.Tatapan matanya sayu, wajah dan tubuhnya penuh dengan luka juga memar.Ada seorang wanita dengan rambut terpusung berdiri dihadapannya dengan wajah misterius.
badan Hersa tidak dapat ia gerakkan, Seakan ia sedang diberi ilustrasi oleh si sosok wanita berwajah rata.
meski bibir wanita yang terantai itu kelu ia tetap berusaha meloloskan beberapa kalimat, "T..tolong..t..tolong.."
Wanita dengan rambut terpusung itu menarik kasar rambut wanita yang terantai itu, teriakan dan jeritan menggema di ruangan itu.Hersa tidak bisa berbuat apa-apa, Hersa hanya bisa menyaksikan itu semua tanpa bisa melakukan apa-apa.
Tidak berhenti sampai disana wanita berpusung itu mengelupas kulit wajah wanita tak berdaya itu dengan sebuah kaca, darah segar mengalir deras dari wajah gadis itu.Isakan dan teriakan histeris tidak lagi tertahan dari tenggorokan wanita malang itu, wajahnya telah berubah menjadi buruk rupa, yang awalnya cantik menjadi mengerikan.
"Hiks..hen..akh..hiks.."
"Selamat tinggal Anin, maaf aku bukan saudara yang baik!"
Lanjut wanita itu, lalu menusukkan kaca panjang itu ke perut sebelah kiri Anin.Darah segar mengalir deras dari tubuh Anin, wanita itu sudah tidak menghembuskan nafas lagi.
Dengan kejam wanita jahat itu mencongkel kedua mata Anin dan juga menjahit rapat-rapat bibir Anin.
******
"TIDAK!!!"teriak Hersa
Seluruh pandangan tertuju pada Hersa, bude Ningsih sigap menghampiri Hersa.
__ADS_1
"Kamu kenapa toh nak?"tanya bude lembut
Hersa bingung dengan ini semua, disini ia melihat keadaan di gubuk Acik aman terkendali.Bahkan Mbah Ratna baik-baik saja disana, seluruh warga yang dilihatnya pergi juga masih berkumpul disini.
Apa yang terjadi sebenarnya?
Itulah yang sedang dipikirkan oleh Hersa, sedikit takut ia melirik kearah Acik.Wanita dengan wajah rata itu sudah tidak ia lihat berada dalam tubuh Acik.
"Hersa, heh! jangan melamun toh nak!"bude Ningsih menampar pelan pipi Hersa.
Hersa tidak percaya dengan kenyataan ini, apa maksud semua ini?
Apa ia hanya sedang berhalusinasi?
Bersambung...
______________________________________________
Penasaran gak teman-teman?
Jangan lupa untuk dukung author berikan vote, like, coment juga masukkan dalam daftar buku favorit kalian ya...
Cerita ini akan selalu update setiap hari di malam hari ya teman-teman, supaya kalian saat baca juga dapat feel-nya.
Terimakasih untuk perhatiannya teman-teman 💙💙💙
__ADS_1