
Panas matahari siang sangat menyilaukan, banyak penduduk memanfaatkan sinar ini untuk menjemur biji-bijian yang telah terpanen di ladang.Tapi tidak dengan bude Ningsih, wanita berkulit sawo matang, berbulu mata lentik dan beberapa kerutan diwajah itu asik berdiam diri di dalam gubuk.
Bude Ningsih duduk diatas kursi bambu, ia tengah menajamkan sebuah pisau pada sebuah batu, "Pisau kesayangan, berikan aku keberuntungan hari ini!"gumamnya sembari menggesekkan pisau itu pada batu.
Tangannya sedikit gemetar, wajahnya penuh penyesalan.Kepalanya tidak bisa berhenti memikirkan masalalu menyeramkan itu, ia sangat rindu pada Tito suaminya.
"Tok..Tok...Tok.."
Suara ketukan pintu membuat bude Ningsih sedikit terkejut sekaligus menghentikan aktivitasnya, "Bude, bukakan pintunya!"
suara itu sedikit berat dan serak, ia mengenalnya itu adalah Hersa ponakan kesayangannya.
Bude Ningsih menyimpan pisau itu pada sebuah guci di sebelah tempat menyimpan air, lalu membukakan pintu untuk ponakannya.Tampak Hersa sudah datang, baju putih dan celana panjang hitamnya telah kotor terkena cipratan air lumpur.
"Capek bude, boleh minta teh hangat tidak?"keluhnya sembari mengusap keringat yang bercucuran di dahinya lalu melepas caping atau topi berbentuk kerucut agar meredakan panas
"Haduh..sudah berkeringat begini minta teh hangat?"protes budenya dengan menyunggingkan senyuman kecil di sudut bibirnya.
"Hersa lagi kepingin minum teh hangat, bude."
__ADS_1
"Buatkan ya.."rengek Hersa
Bude Ningsih mengangguk setuju, lalu masuk diikuti oleh Hersa."Kamu ambil air dulu di sumur! persediaan air di bak sudah habis, kamu bisa toh?"tanya budenya sembari memanaskan air pada tungku perapian dengan bahan bakar kayu.
Hersa mengambil handuk kecilnya lalu mengalungkannya pada lehernya dan berkata, "Iya bude, Jangan lupa teh hangatnya tidak usah terlalu manis!"pintanya lalu pergi ke sumur untuk mengambil air.
Di sebelah warung mbok Rara lah sumur itu berada, sumur itu milik dari mbok Rara dan keluarganya.Karena Hersa dan bude Ningsih tidak punya sumur jadi mereka menumpang air pada sumur mereka, Mbok Rara dan bude Ningsih adalah kawan lama.
Hersa bisa saja mengambil air dari sungai panjang yang mengalir di kaki gunung Andara, namun karena jaraknya terlalu jauh mereka mau tidak mau harus menumpang air pada mereka dengan membayar itu dengan hasil panen mereka nanti.Tidak gratis loh...
"Mbok, Hersa izin ngambil air..."
"Iya, ambil saja."sahut mbok Rara yang sibuk memisahkan bibit padi di setiap kantong plastik.
"Mbok, terimakasih airnya.Hersa pamit pulang"baru saja Hersa hendak pergi mbok Rara menghentikannya.
"Kamu datang ke rumah Acik toh?"tanya nya dengan suara setengah tertahan, "Mbok juga lihat yang kemarin ya?"sela Hersa
"Maksud kamu apa toh?"Tanya Mbok Rara kemudian menghampiri Hersa dan mengajaknya duduk di sebuah kursi panjang tanpa senderan.
__ADS_1
"Acik..Hersa lihat, yang ada di dalam tubuh Acik bukan Acik, tetapi orang lain.Sesosok wanita berwajah rata, dan dia meminta tolong pada Hersa."Jelas Hersa kemudian menatap pohon pisang yang tumbuh besar di depan rumah mbok Rara.
"Kamu lihat anak itu? itu namanya tuyul."bisik mbok Rara, tubuh Hersa bergidik ngeri mendengar nama itu.
Ditatapnya dua anak kecil berkepala botak, itu tengah bergelayutan di dahan pohon pisang."Biarkan saja mbok, selagi mereka tidak mengganggu."sahut Hersa.
"Tapi mbok, yang Hersa tanya--"
"Kabarkan bude mu, mbok ikut jenguk Acik nanti malam.Mbok masuk dulu, hati-hati bawa embernya!"sela Mbok Rara kemudian masuk dan meninggalkan Hersa
Hersa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung dengan prilaku mbok Rara.Kenapa mbok Rara bersikap aneh begitu?
Ia kembali mengangkat ember itu kemudian pergi menuju gubuknya, Membiarkan rasa penasarannya menjadi topik perjalanannya.
Hersa tidak bisa berlama-lama, karena sekolahnya sudah menantinya.
Bersambung...
______________________________________________
__ADS_1
Jangan lupa berikan like, coment dan vote nya ya teman-teman ♥️
Masukkan juga kedalam buku favorit kalian, ditunggu episode selanjutnya ya...