
Malam sudah tiba, suara jangkrik ramai terdengar.Melewati jalan setapak yang diterangi beberapa obor di sepanjang jalan, Hersa bersama bude, mbok Rara, Agik, Lea dan juga beberapa warga, berjalan kaki menyelusuri jalan setapak menuju gubuk Acik.
Jalan ini banyak dikelilingi pepohonan bambu, pisang, juga kelapa.Hersa bisa melihat banyak mahluk berpenghuni disetiap pohon, ada yang wujudnya tidak berkepala, berwajah dua, dan masih banyak lagi.
Hersa berusaha untuk tetap fokus menghadap ke depan, walaupun ia tahu ada dua sosok tuyul yang sedang bergelayutan di kedua kakinya.
Kakinya terasa sangat berat, bahkan ia terlihat tertinggal dibelakang rombongan.Agik menghampiri Hersa bersama dengan Lea, Hersa menatap cemas Lea.Wajah gadis itu pucat, matanya merah berair.
"Hersa Lo kenapa jalannya lama amat?"Tanya Agik bingung
"Gue--"
"Hueekk!!"
Hersa membelalakkan matanya terkejut, dahinya sedikit berkerut.Dilihatnya Lea muntah, hampir saja muntahan itu mengenai kakinya.Agik dengan sigap menepuk-nepuk bahu Lea, lalu berkata,"Le, Lo kenapa muntah? Lo sakit?"
Setelah puas mengeluarkan muntahan, Lea melirik curiga kearah Hersa lalu berucap,"Bau bangkai.."
Hersa bingung mengapa Lea menatapnya dengan tatapan seperti itu, apa Lea muntah karena dua tuyul yang bergelayutan di kedua kakinya?
"Sebenarnya, di kaki gue ada yang nempel"bisik Hersa.
__ADS_1
Agik langsung ciut dan berlari kebelakang Lea, "apaan sih Lo! ngapain kebelakang gue?!"bentak Lea
"L-lo kan tahu, gue takut sama hal-hal beginian!"Jelas Agik dengan suara gemetar
"Bilang aja modus!"ejek Hersa.
"Lo bisa usir gak tuh dari kaki Lo?"tanya Lea
Hersa berfikir sejenak lalu menggeleng tanda tidak tahu, Agik menepuk jidatnya.
"Gak tau, terus gimana dong?"tanya Hersa
Agik hanya mengangkat kedua bahu nya, sementara Lea sibuk menutup hidungnya.
"Tunggu gue! pelan-pelan dong jalannya!"teriak Hersa yang mulai tertinggal jauh dari mereka
*****
Di dalam sebuah gubuk yang tidak jauh berbeda dari rumah mbok Rara itulah Hersa dan temannya berhenti, terdengar jelas suara jeritan dan tangisan dari luar gubuk.
Pintu gubuk Acik terbuka lebar, banyak penduduk sudah berkumpul disana.Didalam gubuk kecil itu hanya muat beberapa orang sementara yang lainnya berdiam diri di luar gubuk.
__ADS_1
Hersa bisa melihat sosok wanita berwajah rata yang waktu itu ia lihat berada di dalam tubuh Acik, tubuh Acik terus meronta-ronta diatas ranjang bambu meski sudah diikat sedemikian rupa.
Mbah Ratna dengan santai mengucap-ucapkan mantra dan menyiprat nyipratkan air pada Acik, suara bisikan dari warga dapat Hersa dengar dengan jelas.
"Jangan sampai penduduk mengusir Acik" itulah yang dipikirkan Hersa.
Ambu dan bapak Acik tengah bertabah di samping ranjang, mereka terus berdoa mengharap kesembuhan anaknya yang disertai dengan tangisan terutama sang Ambu.
"Baru sampai toh nak? tadi kemana saja?"tanya bude Ningsih kepada Hersa
Hersa, Lea dan Agik turut duduk di tanah yang beralas tikar yang terbuat dari rajutan daun kelapa."Hersa tadi--"
"Bunuh!! Bunuh!! Hersa!! Bunuh!!"teriakan histeris Acik memotong ucapan Hersa, matanya tertuju fokus pada bude Ningsih dan mbok Rara.
Tubuh Acik meronta-ronta, ranjang itu sudah setengah terangkat.Acik sudah seperti diambil alih oleh sosok wanita itu, Mbah Ratna semakin kencang melantunkan mantranya.
Seluruh suasana menjadi semakin heboh setelah Mbah Ratna terpental jatuh ke tanah, bahkan sampai muntah darah.
Mbok Rara terus menangis, dan membacakan doa-doa.
Bersambung...
__ADS_1
______________________________________________