
Di dalam sebuah gubuk tua itu Hersa dan budenya berteduh, Hersa terbaring tidur di atas sebuah ranjang berbahan dasar bambu dan tanpa bantal.Cahaya lampu dari petromax sedikit menerangi ruangan yang gelap nan pengap itu.Beginilah kehidupan Hersa dan budenya, tinggal di desa terpencil yang jarang diketahui orang.Sebelum tidur bude dan Hersa harus mencari alang-alang atau dedaunan untuk dibakar di samping gubuk, berjaga-jaga jika ada hewan tidak diundang masuk dan mengganggu mereka.
Hawa malam ini terasa berbeda, seperti ada sesuatu hal yang mengganjal bagi Hersa.Sedari tadi Hersa mencoba agar bisa tidur, namun usahanya sia-sia.Suara-suara aneh terus menggema di telinganya.
Hersa benci dengan kemampuan ini, kenapa harus dia yang diberikan kemampuan ini oleh tuhan.
"*Krakk!!! Krakk!! Krakk*!!"
Suara itu lagi, sudah tiga kali Hersa mendengar suara kayu yang sedang digergaji dari luar gubuk.Hersa tetap menutup matanya enggan melihat apa yang terjadi, jantungnya berdegup tidak beraturan.
Hawa malam yang biasanya dingin berubah menjadi panas, malam yang harusnya damai menjadi risih.
"Hersa..."
Hersa bisa merasakan telinganya ditiup-tiup, ia tahu ada yang memanggil dirinya.Tapi Hersa tidak bisa mengambil resiko, jika itu bukan orang melainkan 'itu' bagaimana?
Prang!!!
Hersa membelalakkan matanya terkejut, dilihatnya sebuah sosok sudah berdiri di hadapannya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Acik?! ngapain Lo kesini?"
Hersa beranjak dari ranjang dan mengambil nampan plastik yang terjatuh lalu kembali menaruhnya ke meja sebelah ranjang.
Setelah itu dilihatnya Acik sudah menghilang dari hadapannya, kepalanya menengok kesana kemari mencari keberadaan Acik.
Tampak bude masih tertidur pulas di atas ranjang bambu, baru sesuatu terlintas di benaknya. Bagaimana Acik bisa masuk ke dalam? Apa itu benar Acik?!
*****
Ayam jantan berkokok menyambut sang mentari, Awan tebal tampak mengepul di sekitar puncak gunung Andara.Para petani sudah bersiap-siap untuk menanam bibit padi pada ladangnya, begitupula dengan Hersa.
Hersa mengambil alih tugas budenya, siang harinya barulah ia bersekolah hingga senja nanti.Hersa dibantu oleh beberapa petani lain serta ketiga sahabat setianya, namun kali ini sahabatnya yang datang hanya Lea dan Agik saja.Hal itu tentu saja membuat Hersa heran, apalagi di malam kemarin ia didatangi oleh sosok Acik.Apakah benar yang dilihatnya kemarin?
"Acik mana, Gik?"tanya Hersa sembari menanam padi pada lahan.
"Acik dibawa ke Mbah Ratna, sejak kemarin ngomongnya ngelantur Mulu."sahut Agik yang disahut dengan pukulan dari Lea.
"Aduh! kenapa Lo malah pukul gue?!"Pekik Agik yang merasa dirugikan.
__ADS_1
"Ngomongnya jangan kencang-kencang! Jangan sampai terdengar sama para petani lain! Lo tau kan, apa yang akan dilakukan para penduduk kalau tau kondisi Acik?!"Ancam Lea
Seketika mulut Agik menjadi bungkam, ia kembali melanjutkan aktivitas nya menanam padi sesuai dengan jarak yang telah dibuat.
Karena penat, Hersa, Agik dan Lea duduk beristirahat di Dangau yang berada di tengah sawah.
"Gue semalam di datengin Acik, apa mungkin itu roh Acik datang minta tolong sama gue?"Duga Hersa
Lea mengernyitkan alisnya, "Kalau benar begitu, kasihan Acik.Kita harus tolongin dia!"
"Ogah ah..gue ngeri ngurus hal beginian!"Tentang Agik begitu mendengar ajakan Lea, Agik mulai memakan ubi rebus yang disediakan oleh ibunya.
"Gak setia kawan banget Lo! Lo gak kasihan sama Acik?!"Bentak Lea.
"Gini aja, sepulang sekolah nanti kita datang kerumah Acik.Kita lihat kondisinya, siapa tahu sudah disembuhkan oleh Mbah Ratna."Usul Hersa.
Bersambung...
______________________________________________
__ADS_1
Jangan lupa like, coment, rate, vote dan follow author ya...
Sampai jumpa di chapter selanjutnya...🙌