
Suara bising dari kenalpot memenuhi parkiran sekolah SMA Wibawa Taruna (WITAR) . Salah satu SMA favorit di daerah bilangan Jakarta. SMA yang diisi oleh anak2 dari kalangan menengah keatas. Deruman dari ke lima motor sport itu memenuhi sisi tempat parkir khusus kendaraan roda dua. Kelima orang itu kemudian membuka helm full face mereka setelah mematikan mesin motornya. Terlihat wajah-wajah dari pemilik motor sport tersebut membuat para siswa yang sedang berada di area parkir memekik kagum pada kelima orang tersebut. Kelima orang tersebut terdiri dari 3 orang perempuan dan 2 orang lelaki. Mereka adalah Geng Motor disekolah ini yang bernama 'Garuda' yang beranggotakan Royan Arraja Dinanta, Yudha Rifatul Choir, Gladis Putri Darendra, Nabila Salsa, dan Imelda Violetha Nieck.
Mereka berlima masih bertengger di atas motornya masing-masing. Dan sebelum mereka beranjak, kembali terdengar derum mesin kendaraan yang kembali menggema memenuhi parkiran sekolah. Terlihat kelima mobil berlogo Lamborgini itu memasuki area parkir khusus mobil yang tak jauh dari tempat parkir motor tadi. Kilapan dari mobil sport yang sudah tidak asing bagi seluruh warga SMA WITAR. Kelima pemilik mobil satu persatu terlihat turun dari mobilnya. Dan memandang sengit kearah 'genk Garuda' yang merupakan musuh bebuyutan geng mobilnya yang bernama 'Nahiber'. Bragaleon Alzelvin Munggaran anak pemilik sekolah sekaligus pemimpin NAHIBER. Dengan keempat anggotanya, mereka adalah Rizal Billyardi Ramadhan, Sandi Ivanoell Rudiansyah, Ratu Ardhenia Lestari, dan Ereska Stifani Blair.
Kelima orang yang baru saja turun itu menatap sengit kearah dimana geng Garuda berada. Dengan respon yang sama geng Garuda menatap balik kearah geng Nahiber tak kalah sengit.
Semua penghuni tahu bahwa kedua geng itu terlibat permusuhan yang sengit dan juga rumit. Keduanya sering adu mulut, fisik, bahkan saling menjatuhkan satu sama lain. Kedua geng barbar itu sangat disegani dan ditakuti di sekolah. Mereka dari kubu yang berbeda yang satu geng motor, dan satunya lagi geng mobil. Keduanya pun berasal dari jurusan yang berbeda. Garuda beranggotakan lima anak Ipa. Dan Nahiber dari jurusan Ips. Kedua kubu sangat bertolak belakang.
Royan mengangkat jempol tangannya keudara. Jempol itu ia putar 180° hingga jempol itu terbalik kebawah sebagai ungakapan kata CEMEN pada geng Nahiber. Pasalnya tadi dijalan sebelum mereka kesekolah, seperti biasa mereka akan bertemu di persimpangan jalan dan memulai aksi balap nya di jalan raya. Dan seperti biasa, Garuda selalu menang kala balapan di jalan raya, karena dijalan raya motor masih bisa selap selip. Beda dengan mobil yang sering terkena hambatan, apalagi macet.
"Songong lo ka*pret. Kita lihat aja nanti di sirkuit." teriak salah satu anggota Nahiber, yaitu Rizal.
"Heh. Gue gak akan pernah takut." ujar Royan meremehkan
Dan kembali mereka silih bertatapan layaknya tatapan itu adalah senjata yang langsung akan membunuh lawannya. Tak berselang lama karena Pak Agus selaku guru bp tengah memperhatikan ke 10 orang itu dengan tatapan killer nya.
"Woi nyet, lo berasa bulu kuduk merinding gak" ucap Rizal pada Sandi yang langsung diangguki anak itu.
"BRAGALEON! ROYAN! DAN KALIAN SEMUA MASUK!!! TIDAK DENGAR BEL SUDAH BERBUNYI" teriak pak Agus menggelegar cetar membahana di pelataran parkir. Bukan apa apa memang benar bel sudah berbunyi dua menit yang lalu dan kesepuluh murid yang sudah menjadi makanannya sehari hari selain nasi, malah belum juga beranjak ke kelas masing masing.
Dengan terburu buru takut kena hukuman oleh pak agus yang super ringan alias kebalikannya. Mereka langsung berlari kedua arah berbeda. Karena Ipa dan Ips berlawanan arah.
"Gilla itu si suga, suaranya ngalahin toa mesjid. Bahkan conge-conge dari kuping gua ikut berhamburan keluar." cerocos Yudha setelah memasuki kelasnya.
"Bener tuh yud. Udah dua tahun gue sekolah disini dan suara si suga belum juga kendor. Heran gue, makan apa ya dia" oceh Imel sambil mengusap usap telinganya yang terasa panas.
"Ya pak suga makan nasi lah mel, masa makan genteng" Salsa menimpali dengan kepolosannya
"Gladis... Tolong lo karungin nih anak." perintah Imel pada Gladis yang langsung mendapat pelototan dari Salsa.
"Enggak! Gue bukan beras" tolak salsa cepat
"Makanya, hayuk duduk belajar biar otak lo yang sebiji ketumbar itu berkembang" ajak Gladis pada salsa dan semua temannya duduk di bangku masing2. Untunglah belum ada guru mapel yang datang.
__ADS_1
Sedangkan di lain tempat Leon and the geng sedang asyik di ceramahi oleh Bu Wardi selaku guru matek yang juga killer. Pasalnya mereka telat 7 menit dan bu Wardi mencak mencak sekarang.
"Kalian gak punya jam?" tanya bu Wardi sengit menatap kelima muridnya
"Punya bu" jawab mereka kompak
"Kenapa kalian selalu telat? Kalian gak bisa hargain waktu ya? Atau jam yang kalian pake itu pajangan?" cerocos bu Wardi
"Cuma 7 menit doangan bu" Leon berujar cukup kalem
"Tujuh menit palamu. Kamu tau gak Leon! Waktu adalah uang, time is money, kamu harus belajar menghargai waktu, tujuh menit itu berarti, apa selama ini kamu selalu tertidur saat ibu menjelaskan tentang perkalian pertambahan dan pengurangan" cerosos bu Wardi seperti biasa, hal sepele akan ia panjangkan apalagi kalau masalah telat dan terlambat.
Sedetik saja waktu bu Wardi terbuang maka khutbah yang akan melibihi khutbah jum'at itu siap-siap kalian dapatkan. Menurut Leon, justru ceramahnya lah yang memakan waktu lama dibanding 7menit keterlambatannya.
Setelah cukup puas memberikan kultum pagi, bu Wardi mempersilahkan anak didiknya itu duduk di bangku masing-masing.
"Huh. Dari tadi kek disuruh duduk, kan kaki gue pegel dari tadi dengerin kultum" keluh Rizal pelan karena takut mendapat kultum lanjutan dari sang Ustadzah.
"Iya zal, kaki gue lemes banget,kayaknya nih setan2 yang ada dibadan gue keluar semua deh" balas Sandi tak kalah pelan bahkan seperti berbisik
***
"Busyett nih hujan kayak ngajak ribut. Keroyokan" Yudha mengusap usap rambutnya yang basah akibat terkena air hujan
"Kok hujan ngajak ribut sih yud, kan hujan itu air bukan Nahiber" celetuk salsa polos tanpa permisi
"Kamu cantik" ucap Yudha sambil greget pada cewek di sebelahnya itu.
"Makasih loh yud, kalian semua paling the best kalo sama gue. Muji teruss, gue jadi terharu" ucap salsa mendramatis sambil menyeka ujung matanya seakan akan ada bulir air mata yang akan jatuh.
"Yaudah kalo mau nangis, nangis aja cha" kini Imelda yang bicara
"Aku bukan mau nangis melmel, tapi terharu. Beda tau" gadis yang sering di panggil chaca itu berkata dengan mimik wajah yang minta di tampol kalo kata Imelda
__ADS_1
"Bunuh orang dosa gak sih?" tanya Gladis sarkatis
"Astagfirulloh Gladis, kamu mau bunuh siapa? Jangan gitu nak, nanti mama sedih" Salsa yang selalu alay dan menyebut dirinya mama kala berbicara pada gladis seorang.
Terdengar suara helaan nafas berat dari Gladis membuat ke tiga temannya terkekeh.
"Mau hujat takut dosa" celetuk Royan.
Tak berselang lama sebuah mobil sport warna hitam melaju dengan kencangnya. Membuat genangan air yang ada di dekat tempat Royan dkk berteduh menyiprat tepat ke arah mereka. Disusul oleh ke empat mobil lain yang dengan sengajanya kembali berulah. Royan dkk tau siapa mereka yang pasti dengan sangat sangat dan amat sangat sengaja melewati genangan air supaya menyiprat ke arah mereka. Dan kini seragam yang Royan cs kenakan basah dan kotor akibat ulah kelima mobil itu.
Dengan tanpa dosanya kelima mobil itu berhenti lalu menurunkan kaca mobilnya. Leon cs kompak mengacungkan jari tengahnya. Membuat Royan Yudha Gladis Chaca dan Imel geram bukan main.
"Woi a*jing, sini lo berantem sama gue" teriak yudha pada Leon cs.
Terdengar gelak tawa yang sangat keras dari kelima penghuni masing-masing mobil sport tersebut.
"Hahahaha... Makanya punya sepedah tuh kilo aja di tukang rongsok. Gak guna!" ujar Leon masih dengan tawa mengejeknya
"Harusnya lo yang di kilo di tempat rongsok. Soalnya mulut lo itu SAMPAH!" balas Gladis emosi tak terima jika motor kesayangannya disebut sebagai sepeda rongsokan.
"A*jing berkoar gengs" teriak Leon pada teman temannya
"Lo ta* a*jing nya b*ngsat!" geram Gladis
"Huhuhu... Bleeee" bukan nya membalas, Leon malah menjulurkan lidahnya mengolok olok Gladis. Dan sebelum Gladis melemparkan kata kata pedasnya. Leon langsung menginjak gas pada mobilnya sehinggal seperkian detik mobil sport itu melaju dengan kencang di susul ke empat temannya.
Gladis yang geram terus mencak mencak. Tangannya ia kepalkan seakan siap meninju.
"Aaarrrgghhh..." teriaknya frustasi
"Tenang, nanti kita balas mereka" ujar Royan yang berada di samping lalu mengusap punggung Gladis lembut.
Gladis mencoba menetralkan emosinya, berkali kali ia menarik nafas panjang dan mengeluarkannya. Entah kenapa kalau berhadapan dengan Leon cs pasti emosinya akan langsung naik ke ubun-ubun.
__ADS_1
***