
Hari ini adalah hari yang paling bersejarah bagi Leon dan Gladis. Pasalnya hari ini mereka akan bertunangan. Walaupun hanya di hadiri keluarga dari dua belah pihak saja, tapi tetap membuat Gladis tak nyaman, oke! Gladis sudah di sibukan dengan drama kostum dan makeup pan, hello ini mau tunangan apa mau pentas seni sih?
Memang ya kalo anak gadis satu-satunya itu selalu di perhatiin sama emak, apalagi Dona yang sudah mendapat gelar nenek dari anak sulungnya Gio merasa kalau semua ini demi kebahagiaan anaknya.
Eist, apakah Gladis bahagia dengan pertunangannya ini ??
Sebenarnya Gladis tidak terlalu menanggapi semua ini, baginya semua ini sebagai balas budi kepada orang tuanya, Gladis tak ingin membuat kedua orangtuanya kecewa, jadi ya...dia terpaksa menerima.
Di sisi lain Leon malah sedang menemani kekasihnya yaitu Ratu yang juga termasuk anggota Nahiber.
Leon tengah hanyut dalam dunianya bersama sang kekasih, telpon dari Ummi nya pun ia hiraukan.
Sudah berpuluh puluh kali Ummi nya menghubungi, tapi harus bagaimana Leon tengah bercumbu mesra menikmati sesi ciuman panasnya bersama Ratu.
Leon tentunya ingat dan tahu betul bahwa malam ini ia akan bertunangan dengan MUSUHnya itu. Leon enggan untuk beranjak walau satu sentipun. Ciuman yang tengah mereka lakukan lantas membuat Leon lupa akan segalanya, padahal jam sudah menunjukan pukul 7 malam.
Sampai ketukan pintu dari Sandi menghentikan aksinya.
Tok tok tok
"Leon, hp lo bunyi terus tuh! Lo lagi apa sih sampe2 bunyi telpon aja ga lo angkat?" teriak Sandi
"Ck... Nih anak ganggu mulu kerjaannya" ucap Leon kesal karena harus menghentikan kegiatannya.
Ceklek, pintu Leon buka dan menampakan Sandi yang tengah berdiri
"Lo pengganggu San!" kesal Leon
"Ganggu apa ****, lo lagi molor atau apa Le" tanya Sandi yang menerobos masuk hendak melihat ponsel Leon, namun matanya menangkap sosok wanita cantik yang sudah tak asing lagi
"Hahaha... Jadi lo lagi mesum ya sama si Ratu" ucap Sandi jahil
"Apaan sih lo San, buruan cabut lo! Dasar ganggu!" ujar Ratu sambil melempar bantal love ke muka Sandi, namun Sandi dapat menangkap bantal tersebut sehingga tidak mengenai wajahnya.
"Sellow Rat, ini masih sore woy. Nanti aja mesum2an nya pas tengah malem" goda Sandi seraya meletakan bantal love tadi ke sofa bed yang ada di kamar itu.
"Lo juga sih Le, telpon lo bunyi udah berpuluh puluh kali gak lo angkat, takutnya kan penting jadi gue datang buat bangunin lo, ehh ternyata lo malah lagi indehoy sama nih cewek" cerocos Sandi
"Bacot lo San, yaudah gue cabut dulu, ini ummi yang telpon. Nitip pacar gue awas aja kalo sampe dia lecet" kata Leon memperingati
"Tenang Le, pacar lo gak bakal lecet ko. Palingan juga baret dikit, hahaha" canda Sandi
Leon mengambil jaket dan kunci mobilnya dan berpamitan sama Ratu dan Sandi.
"Hati-hati ya beb, salam buat calon mertua" teriak Ratu sebelum Leon hilang dibalik pintu
Sekarang di kamar itu tersisa Sandi dan Ratu. Mereka sangat akrab, bahkan tanpa sepengetahuan Leon Sandi dan Ratu menjalin asmara.
Sandi menghampiri Ratu yang dari tadi duduk di sofa, Sandi mulai duduk di samping Ratu. Membelai rambut gadis itu penuh cinta, Sandi tau ini salah karena telah menghianati Leon, tapi Ratu pun tidak menolak saat Sandi mendekatinya.
"Tadi kamu habis ngapain aja sama Leon, hm?" tanya Sandi yang semakin memperkecil jarak diantara mereka.
"Ga ngapa-ngapain ko, kita cuma ciuman aja" balas Ratu enteng
"Oh ya, kalo gitu biar aku bersihkan jejak yang ditinggalkan Leon" ucap Sandi seraya mencium bibir merah merekah milik Ratu dengan lembut.
Tak ada penolakan, mereka malah memperdalam ciumannya, Sandi bakhan memeluk pinggang Ratu dengan fosessive, sedangkan Ratu sudah mengalungkan tangannya di leher Sandi.
***
Pukul 8 malam Leon baru saja tiba di rumahnya, untung saja keluarga Gladis belum datang, jadi Leon ada waktu untuk berganti pakaian.
"Kamu dari mana aja sih Le, ummi telponin dari tadi gak kamu angkat" ujar Gina yang baru saja melihat Leon yang ingin naik tangga
"Biasa ummi, abang tadi ada urusan dulu sama temen" dalih Leon
"Yaudah, cepetan sekarang kamu ganti baju. 15 menit lagi keluarga om Fakhri dateng loh" ucap Gina menyuruh putra sulungnya berganti pakaian
__ADS_1
"Iya ummi abang yang cantik" balas Leon sembil mengecup pipi kiri ummi nya lalu beranjak menuju kamar yang ada di lantai 2.
Sekarang sudah pukul 08:30 malam, keluarga Gladis pun sudah sampai dan bahkan sekarang mereka tengah berkumpul di satu ruangan yang menghadirkan dua keluarga Leon dan Gladis.
Suara tepuk tangan dan ucapan selamat dari seluruh keluarga yang hadir meramaikan acara pertunangan dua remaja itu sesaat setelah Leon dan Gladis saling bertukar cincin.
Dan acara dilanjutkan dengan makan malam bersama.
"Ma, Gladis pusing nih mau pulang duluan ya" pinta Gladis pada mamanya
"Kamu sakit de" kata Dona sambil menempelkan telapak tangannya di kening Gladis
Memang agak panas
"Yaudah, kamu pulang ya. Dianterin Leon" kata Dona lalu berjalan menghampiri Leon
"Nak Leon tante mau minta tolong boleh tidak" tanya Dona pada Leon
"Iya boleh tante"
"Kamu anterin Gladis pulang ya, kasihan Gladis, kayaknya lagi sakit, gapapa kan" kata Dona pada Leon
"Oh, iya tante gapapa ko" ucap Leon sopan
Tak banyak bicara, Gladis berlalu meninggalkan rumah kediaman orang tua Leon, memang Gladis tidak bohong kalau soal pusing yang dia rasa sekarang ini.
Gladis baru saja mendaratkan bokongnya di jok mobil, tapi ucapan yang tidak enak di dengar terlontar dari mulut Leon dengan lancarnya.
"Lo nyusahin banget sih jadi cewek" kata Leon dengan nada kesal
Gladis tak ingin menjawab, mungkin karena pusing ditambah nyeri dibagian kepalanya.
"Kenapa lo diem, bisu? Atau saking sakitnya nya lo, sampai lo mau mati?" kata Leon yang membuat Gladis jadi naik darah
"Heh lo, kalo misalnya lo gak mau nganterin gue, jangan sok2an baik deh di depan orang tua gue, pake ngata-ngatain gue bisu lah, mau mati lah" kata Gladis kesal dengan perkataan Leon tadi
"Dasar lo, manusia palsu!" kata Gladis sambil membuang muka
"Lo yang cewek urakan, lo gak pantes buat gue. Tunangan bodoh ini gue gak terima!" kata Leon sembari melemparkan cincin tunangannya ke sembarang arah
Deg! Gladis tak terima apabila harga dirinya di injak-injak seperti ini
"Emangnya gue mau dijodohin sama cowok palsu kayak lo gini. Ihh ogah banget gue, mending cari cowok lain yang lebih berpaedah, ketimbang lo"
"Oh, lo berani sama gue?!"
"Kenapa engga"
Leon menepikan mobilnya di sisi jalan raya
"Turun lo" pinta Leon pada Gladis
"Santai aja kali bang**t, gue juga gak sudi satu mobil dan dianterin cowok palsu samp*h kayak lo" kata Gladis sambil membantingkan pintu mobil Leon
Dengan emosi Leon meninggalkan Gladis di sisi jalan seorang diri, mirip seperti kejadian lalu.
"Sial" kata Gladis sambil menendang botol bekas minum yang ada di depannya
Tidak terduga, botol itu mengenai seorang preman yang tengah mabuk dan kebetulan sedang berkumpul bersama dua temannya
"Woy, siapa yang nendang ni botol sialan ke muka gue" teriak preman tersebut
Gladis menepuk jidatnya
"Mampoes gue" pikirnya
Ketiga preman yang tengah berkumpul tadi berjalan menghampiri Gladis
__ADS_1
"Wihh, cewek cantik nih" ucap salah seorang
"Hahaha iya bro, cewek cantik, sexy lagi" timpah temannya
"Cantik, temenin kita2 yuk" kata mereka sambil memperkecil jaraknya dengan Gladis
"Sial, mana lagi pusing di tambah ketemu preman lagi. Haduhh nasib gue..." jerit Gladis dalam hati
"Sori bang, tadi gue gak sengaja nendang kalengnya" kata Gladis meminta maaf
"Oho ho... Gapapa ko sayang, asalkan kamu temenin kita buat senang-senang" kata preman itu yang ditimpali tawa dari kedua temannya
Ketiga preman tersebut mengurung Gladis, alhasil Gladis tidak bisa berkutik sama sekali
"Tolong! Tolong! ... Pergi lo dasar preman" teriak Gladis berusaha meminta tolong
"Srekk" preman itu merobek bagian atas gaun biru milik Gladis
"Teriak aja yang kenceng sayang, disini sepi gak ada yang bisa nolongin kamu lho" kata lelaki itu sambil terus mendekat dan hendak mencium Gladis
"Bugh!" suara pukulan terdengar keras
"Siapa lo! Berani lo lawan kita?" tanya salah seorang pada sosok pria yang barusan memukul temannya
"Lo gak perlu tau siapa gue, tapi lo perlu lepasin cewek itu" ucap pria itu dingin
"Kalo engga, lo mau apa?" tantangnya
Pria tadi tidak banyak bicara, dengan satu kali pukulan, preman itu terjungkir ke tanah dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah.
"Sial, hajar dia" kata preman yang tengah tersungkur pada kedua temannya
Perkelahian pun tidak terelakkan, ketiga preman tadi melawan satu orang pria yang entah siapa.
Dalam sekejap saja, ketiga preman itu sudah terkapar dengan luka memar dan bau darah yang keluar dari mulut dan hidung mereka.
Pria tadi dapat mengalahkan 3 orang sekaligus, hebat!
"Lo gapapa kan?" tanya pria itu pada Gladis
"Gue gapapa ko, terimaksih ya" kata Gladis sambil memegangi baju bagian atasnya yang tadi sempat di robek oleh preman itu
Dengan cekatan pria tersebut melepaskan jaket hoodie yang dikenakannya lalu di pakaikan pada Gladis untuk menutupi baju Gladis yang terbuka
"Te, Terimakasih" kata Gladis
"Iya sama-sama" pria tadi berjalan kearah mobil yang terparkir di tepi jalan raya
"Masuk, gue anterin lo pulang" ucap pria itu
"Makasih" ucap Gladis
"Hm"
Gladis pun masuk kedalam mobil pria tak di kenal itu, dengan seorang supir yang mengemudi.
Dengan hati-hati Gladis melirik kearah pria asing tersebut, matanya, hidungnya, bibirnya, garis rahangnya, semua sempurna. Gladis baru kali ini melihat pria yang ganteng namun juga manis seperti kelinci ini.
Akhirnya Gladis sampai di depan rumahnya, setelah tadi memberikan alamatnya pada supir pria itu.
"Terimaksih ya sudah nolongin dan nganterin gue" kata Gladis yang baru saja turun dari mobil
"Iya, sama-sama"
"Btw, nama lo siapa" tanya Gladis
"nanti juga lo bakal tau, yaudah masuk gih. Sampai jumpa Queen" kata pria tersebut lalu meninggalkan Gladis yang mematung, heran dengan panggilan Queen yang diberikan lelaki asing padanya.
__ADS_1