
Leon yang baru saja memasuki kamar langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia menatap langit langit kamarnya sambil memikirkan semua perkataan Abi nya. Percakapannya tadi siang terus terngiang ngiang di telinganya.
"Abang... Cepetan siap siap, sebentar lagi kita berangkat" teriak Gina dari luar kamar
"Iya Mi..." sahun Leon malas
"Ahhhkkkk... Masa gue mau di jodohin sih, emang nya ini taun berapa pake acara begituan" erang Leon prustasi
"Abang... Cepetan! Jangan teriak teriak. Nanti telat" Gina kembali bersuara
Tanpa ba bi bu. Leon langsung melesat ke arah kamar mandi dan bersiap siap untuk mengikuti acara makan malam berkedok perjodohan yang di lakukan oleh orang tuanya.
"Wihh... Sulung nya umi ganteng banget sih" ucap Gina yang melihat penampilan anaknya dengan stelan kemeja. Tak seperti hari hari biasanya yang berpenampilan badboy.
"Kalo gini kan adem lihat nya. Baju nya rapih dan antingnya gak ada. Gak bikin sakit mata" ujar Ghani mengintrupsi
"Apaan sih Bi. Abang terpaksa ya" kelakar Leon
Dia sangat enggan untuk menghadiri acara tersebut. Terlintas di pikirannya untuk kabur.
"Jangan coba-coba kabur ya bang" peringat Gina.
Leon menarik nafas nya panjang. Entah kenapa Umi nya ini tau rencana yang sudah ia siapkan.
Sesampainya di restoran yang sudah di booking. Keluarga Leon tiba lebih awal.
"Mi... Abang ke toilet dulu sebentar" pamit Leon
"Jangan kabur!" peringat Gina
"Ck. Iya"
Di sisi lain keluarga Darendra baru memasuki area parkir di sebuah restoran. Dona beberapa kali merapihkan make up dan hiasan rambut Gladis. Pasalnya anak itu gak bisa diem.
"Kamu bisa anggun sedikit gak Dis, jangan malu-maluin mama dong" ucap Dona yang melihat gaya anaknya duduk
"Ck" gladis berdecak
"Ini kaki di rapetin. Jangan ngangkang gini kayak laki kalo lagi duduk" ucap Dona sambil membenarkan cara duduk gladis.
"Awas nanti kalau depan teman mami kamu duduknya gini" peringat Dona
Gladis hanya mampu menuruti dan mengangguk paham apa kata mama nya saja. Dia sudah tak mau lagi untuk berdebat. Cukup sudah saat di rumah pas lagi mau di make up in.
Fakhri keluar dari mobil di susul Dona dan Gladis. Mereka berjalan kearah dimana tempat yang sudah di janjikan.
"Hai Gin" sapa Dona pada Gina
"Hai juga Don, lama kita gak ketemu" balas Gina dan langsung cipika cipiki
Sedangkan Ghani dan Fakhri menyapa sewajarnya lelaki.
"Ini anak kamu ya Don" tanya Gina memulai percakapan setelah mempersilahkan keluarga Darendra untuk duduk
"Iya Gin ini anak aku, gimana?"
"Cantik Don anak kamu. Siapa namanya sayang" tanya Gina pada Gladis yang dari tadi duduk diam memperhatikan kedua orang tuanya.
"Gladis, tante" ucap Gladis sekenanya
"Aduh imutnya... Kelas berapa Gladis"
"Kelas 3 tan"
"Jangan panggil tante dong. Panggilnya Umi aja yah" pinta Gina yang di angguki Gladis
"Oh iya, anak kamu mana Ghan?" tanya Fakhri yang dari tadi tidak melihat anak dari temannya itu
__ADS_1
"Oh, lagi ke toilet dulu sebentar kayaknya nervous tuh anak" canda Ghani yang di sambut tawa oleh Fakhri.
Tak berselang lama Leon muncul dan menghampiri tempat duduknya. Leon tidak terlalu memperhatikan sekitar. Ia hanya pokus pada ponsel yang di pegang nya.
"Nah, ini dia dateng yang di tunggu tunggu" ucap Ghani menatap ke arah Leon.
"Wah... Ini anak kamu Gin, ganteng banget mantu aku" heboh Dona tapi tak membuat Gladis bergeming dengan ponselnya seraya menunduk. Dia tidak terganggu sama sekali oleh obrolan heboh ibu nya.
"Hallo om, tante. Saya Leon " ujar Leon sambil menjulurkan tangannya.
Deg.
Gladis berpikir sejenak tentang apa yang lelaki itu katakan.
Leon? Apa?
Sebuah nama yang masuk daftar blacklist nya. Dengan penasar Gladis mendongkak kan kepalanya menatap kearah depan. Berharap hanya sebuah nama yang kebetulan mirip dengan musuhnya itu.
Betapa terkejutnya Gladis. Mata nya melotot tak percaya dengan pemandangan seorang lelaki dengan setelan kemeja rapih. Tidak seperti yang biasanya ia lihat.
Tak kalah syok, Leon pun membulatkan matanya tak percaya. Dengan gadis yang duduk tepat di depannya. Dengan Gaun biru langit dan wajah dengan polesan make-up tipis yang tengah menatapnya dengan mata yang hampir loncat keluar.
Leon berharap dan berdoa dalam hati semoga gadis yang di jodohkan dengannya itu bukan Gladis.
"Lo"
"Lo" ujar mereka berbarengan seraya menunjuk satu sama lain
"Kenapa lo ada di sini" ujar Leon sinis
"Terserah gue lah, lo juga kenapa bisa di sini" balas gladis tak terima bertemu dengan musuh yang selalu mencari gara gara dengan geng nya itu.
"Kalian udah saling kenal" tanya Gina
Keduanya mengangguk
"Ini apa maksudnya ma, pa" tanya Gladis melirik kearah mama dan papa nya meminta penjelasan.
"Jadi gini sayang. Mama sama Papa sepakat buat jodohin kamu sama anaknya temen kita. Yaitu anaknya tante Gina dan om Ghani" jelas Dona
Gladis kembali menatap mama dan papanya. Dia tidak percaya akan semua ini. Apa ini mimpi? Tapi setelah dia mencubit tangannya terasa sakit. Berati bukan mimpi dong. Berbalik Gladis menatap horor kearah Leon. Tetapi lelaki itu malah memasang tampang acuh so cool nya.
Tidak habis akal, Gladis meminta Leon agar tidak menyetujui perjodohan konyolnya ini. Apa kata dunia coba. Gladis di jodohkan dengan musuh nya sendiri.
Catet.
Musuh!!!
Tapi sekali lagi Leon tidak meresponnya. Apa lelaki itu menerima semua ini? Apa yang di rencanakan Leon? Itulah pikiran Gladis.
"Nah... Kalo sudah saling kenal gini berarti tinggal langsung tunangan aja dong" ucap Gina yang di sambut persetujuan dari orang tua Gladis.
"Minggu depan aja gimana?" usul Ghani
"Bi..." cicit Leon yang dari tadi diam. Tak habis pikir bahwa orang tuanya akan mempercepat perjodohan ini ke jenjang yang lebih serius. Dari tadi Leon diam karena mungkin menurutnya hanya sebuah perkenalan dulu, rencananya tinggal bilang gak cocok terus udahan, kelar.
"Apa? Ini sudah di tentukan. Kamu gak bisa nolak" ujar Gina menatap lurus kearah Leon.
"Yasudah. Berarti kita sudah sepakat bahwa bulan depan tunangan dulu?" tanya Fakhri dan Dona memastikan.
"Iya Dona... Akhirnya kita jadi besanan juga" cicit Gina heboh.
"Nah bang, besok-besok kamu sama Gladis pergi beli cincin pertunangan ya. Biar sisanya serahkan sama kami para orang tua" lanjut Gina memperhatikan Leon yang dari tadi memasang wajah kusut.
"Abang... Denger umi gak sih" sentak Gina karena Leon dari tadi tidak memperhatikan
"Iya iya umi" ujar Leon pasrah.
__ADS_1
***
Selesai acara makan malam, kedua orang tua Leon menyuruhnya mengantarkan Gladis pulang. Walaupun enggan, tapi harus bagaimana lagi, Leon tidak bisa membantah Umi nya.
Sekarang untuk pertama kalinya Gladis dan Leon duduk di mobil yang sama.
"Cih"
"Cih" ujar mereka berbarengan. Membuang muka masing-masing
"Lo jangan ge-er dulu ya. Gue terpaksa nganterin lo" ujar Leon tak suka pada Gladis
"Dih... Siapa juga yang mau di anter sama Lo!. Gue juga terpaksa ya!" balas Gladis yang masih memandang ke luar kaca mobil
Leon mulai melajukan mobilnya menuju rumah Gladis yang tidak tau dimana keberadaan nya. Leon hanya menyusuri setiap jalan yang menurutnya benar.
"Kenapa lo terima perjodohan ini" tanya Gladis menatap heran pada lelaki di sampingnya itu
"Gue gak punya pilihan" ujar Leon dengan mencedikkan bahunya
"Terus lo kenapa gak nolak?" tanya Leon. Siapa tau dengan begini Leon akan membatalkan perjodohannya kalau gladis menolak.
"Gue juga sama. Gak punya pilihan" ucap Gladis lesu. Dia kembali menundukan kepalanya. Dia merasa sesak dan tak nyaman duduk di samping musuh bebuyutan nya. Gladis bergerak kesana kemari sambil sesekali memainkan ponselnya.
"Lo ambeyen" sentak Leon yang terganggu dengan pergerakan Gladis
"Sembarangan kalo ngomong. Gue gak nyaman duduk deket lo. Turunin gue di sini" jawab Gladis meminta Leon menepikan mobilnya.
Tanpa banyak tanya Leon menurut. Ia pun sebenarnya tak mau satu mobil dengan Gladis.
"Lo beneran mau turun di sini?" tanya Leon yang melihat sekeliling jalanan yang agak sepi
"Iya. Lo banyak tanya banget sih. Gue minta turun ya turun" pinta Gladis sewot
"Ok. Siapa juga yang betah lama lama sama lo" balas Leon.
"Tunggu" Ujar Leon dengan refleks memegang tangan Gladis
"Apaan sih, jangan pegang pegang deh" Gladis menepis tangan Leon
"Perjodohan ini jangan sampe bocor ke orang lain, terutama temen temen lo dan sebangsanya" Ujar Leon tapi tidak di indahkan Gladis
Gladis turun dan seketika Leon menancap gas meninggalkan gadis itu tanpa menoleh sedikitpun. Untungnya Gladis sudah menghubungi Royan minta di jemput.
Tak berselang lama, Royan datang dengan motor merahnya.
"Lo dari mana Dis, tumben pake dress. Biasanya celana jeans mulu yang lo pake" ledek royan
"banyak bacot lo"
Gladis menyembunyikan tentang perjodohannya, sesuai permintaan leon. Dan lagi Gladis tidak berniat sedikitpun untuk membeberkan perjodohannya. Bagi Gladis perjodohan ini adalah bencana.
"Woy. Cepetan naik, malah ngelamun nih anak" Royan menepuk pundak Gladis membuat cewek itu kaget
"A-a a a... I i iya ini naik" ujar Gladis terbata bata
"Lo kenapa sih aneh gini" tanya Royan penasaran. Dia mulai melajukan motornya membelah jalan
"Eng-gak papa ko Ja, gue lagi banyak pikiran aja" elak Gladis
"Lo kaya manusia aja banyak pikiran"
"Ya emang gue manusia lah. Menurut lo?"
"Gue kira lo Bidadari Dis"
"Gembel !"
__ADS_1
***