
Hari senin kali ini sangat berbeda dengan biasanya, dulu, Gladis hanya tinggal mandi, sarapan lalu berangkat sekolah. Kali ini berbeda, ia harus memasak dulu untuk sarapan, walaupun hanya nasi goreng dan telur ceplok, menu yang sangat sederhana.
Tapi, Gladis harus rela bangun pagi, selesai membuat nasi goreng. Gladis kembali berjalan ke kamarnya di lantai atas hanya untuk sekedar mandi dan berganti pakaian. Tidak lama, ia hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk menyelesaikan kegiatannya.
Setelah siap, Gladis turun lagi ke dapur, dengan tas yang sudah ia jinjing. Sesampainya di dapur, Gladis segera membuka kulkas untuk mengambil susu lalu di hangatkan, kemudian menaruh nasi goreng beserta telor ceplok di atas piring dan membawanya ke meja makan. Tak lupa, ia pun menyiapkan untuk Leon juga.
Baru saja Gladis menuang susu yang telah di hangatkan ke dalam gelas, Leon datang dengan tampang dinginnya, duduk di kursi meja makan dengan santai.
Gladis menaruh gelas berisi susu itu di dekatnya satu, lalu di taruh di dekat Leon satu.
Tidak ada percakapan yang tercipta di ruang makan, baik dari Leon maupun Gladis. Mereka makan dalam diam dengan pikiran masing - masing.
"Gue boleh nebeng lo ke sekolah gak" tanya Gladis yang melihat Leon baru saja meneguk susu dan hendak berdiri.
"Emang lo gak punya kendaraan apa" Leon malah balik bertanya
"Kan motor gue ditinggal di rumah papa" balas Gladis enteng, ia melihat Leon yang tengah berpikir hingga akhirnya menyetujui.
Leon segera berjalan ke luar, karena jam sudah menunjukan pukul 06:15 , ia tidak ingin terlambat. Dengan cepat Gladis menyusul Leon setelah membereskan meja makan dan menaruh piring kotor di wastafel, biar nanti pulang sekolah ia cuci.
Setelah di luar, ternyata Leon sudah siap hendak berangkat.
"Cepetan" teriak Leon galak.
Gladis sangat panik takut ketinggalan, ia menjinjing sepatu yang belum sempat dipakai. Dengan memakai kaus kaki, Gladis berlari menuju mobil Leon yang sudah di luar gerbang.
Setelah, menutup gerbang dan menguncinya, barulah Gladis masuk mobil Leon.
__ADS_1
"Hufftt" Gladis meghembuskan nafasnya lega, pekerjaan paginya cukup menguras tenaga dan jiwa raga.
"Lo bisa gak sih, gak nyusahin gue" bentak Leon tiba-tiba membuat Gladis kaget, pasalnya Leon berkata sambil menjalankan mobilnya dengan cepat, keluar dari perumahan elit itu.
"Gue nyusahin apanya sih hah, cuma nebeng doangan lo gak ikhlas banget hah?" protes Gladis dengan kesal, menarik sepatu yang tadi di jinjing kemudian dipakainya.
"Yaiyalah gue gak ikhlas, mobil mahal gue terus di tumpangin sama cewek urakan kayak lo" imbuh Leon membuat Gladis sedikit tercengang, apa kata Leon sangat keterlaluan, Gladispun tak ingin numpang di mobil Leon, tapi motornya belum ia bawa.
Walaupun Gladis tahu bahwa pernikahan mereka terpakasa, tanpa ada cinta, dan satu lagi, Leon amat memusuhi dan membenci Gladis. Tapi, Gladis tak terima jika ia yang terus di salahkan. Ia kesal dan juga marah pada sosok tampan di sampingnya ini.
"Berhenti, turunin gue di sini" ucap Gladis tatkala ia melihat halte bus, tidak jauh lagi dari sekolahnya.
Leon memberhentikan laju kendaraannya, ia menatap Gladis yang ada di sampingnya, Gladis hendak turun.
"Sadar diri juga lo" sinis Leon melihat Gladis turun, dan.
"Berani lo hah, banting - banting pintu mobil gue" teriak Leon marah, Gladis membalikan tubuhnya kemudian menjulurkan lidahnya mengejek Leon.
Leon menggertakan giginya, matanya menyorot tajam kearah perempuan yang tengah berjalan di atas trotoar, Leon menggenggam setirnya kesal, kakinya terulur dan menginjak pedal gas meninggalkan Gladis.
Untungnya jarak dari halte bus ke sekolah sangat dekat, lima menit saja, Gladis sudah sampai di depan sekolah Wibawa Taruna yang berlantai 3.
"Gladis" sapa Imel dan Salsa yang baru saja turun dari motor mereka.
Kedua gadis itu mendekat kearah Gladis, merangkul pundak Gladis dengan senyum hangat mereka. Inilah yang sangat Gladis syukuri, mempunyai dua sahabat yang sangat dekat dan perhatian.
"Yuk, masuk kelas" ajak Gladis pada dua orang itu.
__ADS_1
Mereka berjalan beriringan, seringkali adik kelas menyapa dan menggoda mereka. Maklum, ketiga perempuan itu cantik-cantik dan juga populer.
"Heran gue, perjalanan ke kelas aja banyak tantangannya ya" ucap Gladis yang memang sedikit cuek dengan laki-laki karena masalah di masa lalu yang membuatnya sedikit trauma.
"Elah, itu mah bukan tantangan kali Dis, itu mah perjalanan yang menyenangkan mata" imbuh Imel yang baru saja duduk di kursinya.
"Lo jangan terlalu cuek juga kali Dis, sama cowok. Anggap aja cuci mata" sambung Salsa yang duduk di depan Gladis. Mata Salsa sangat berbinar kala mereka membicarakan para cowok.
"Bener tuh kata caca, apalagi kan sekarang lo udah merid nih" goda Imel yang mendapat anggukan setuju dari Salsa.
"Hmm, terserah kalian aja ya Melisa" jawab Gladis malas, Imel yang hendak membuka mulutnya pun terpaksa terhenti, karena bel sudah berbunyi dan guru pun sudah tiba.
**
Selesai sekolah, Gladis menyempatkan diri pulang ke rumah orang tuanya untuk mengambil motor. Untungnya tadi Gladis di antar Imelda, jadi ia tidak harus naik kendaraan umum.
Setelah mampir dan ngobrol ringan dengan mama nya, Gladis pun pamit hendak kembali ke rumah Leon.
30 menit berlalu, kini Gladis sudah tiba di kediaman Leon, ia menjinjing paper bag yang tadi diberikan mamanya.
"Dari mana aja lo" suara Leon mengagetkan Gladis, lelaki tampan yang tengah duduk kursi ruang tamu.
"Gue tadi ngambil dulu motor di rumah, biar gak ngerepotin orang lain" balas Gladis cuek, Gladis berjalan kearah dapur.
Meletakan paper bag yang di bawanya dan mengeluarkan isi di dalamnya. Ternyata, satu loyang pudding dan beberapa buah mangga hasil panen dari depan rumah Gladis.
Gladis meletakan puding dan mangga kedalam kulkas, kemudian ia berjalan ke kamarnya untuk mengganti pakaian dan mandi.
__ADS_1