Musuh Jatuh Cinta ?

Musuh Jatuh Cinta ?
Rumah Baru


__ADS_3

Hari mulai pagi, sang mentari menampakan dirinya dengan sinarnya yang cerah.


Hari ini, Gladis dan Leon akan pindah kerumah mereka sendiri. Karena, sebelum menikah, Leon sudah mempunyai rumah pribadi.


Gladis dan Leon pamit pada kedua orang tua Gladis, dan mereka berangkat menggunakan mobil Leon, karena tidak banyak barang yang Gladis bawa.


Hanya beberapa baju, dan buku-buku sekolah.


Fakhri dan Dona melepaskan Gladis dengan penuh haru.


"Mama sama papa, jangan lupa berkunjung ke sana ya" kata Gladis, kemudian mengecup tangan kedua orang tua nya


"Iya, nanti mama sama papa akan berkunjung kerumah kamu" balas mama Dona diiringi senyum


Setelah pamit, Leon dan Gladis menuju kediaman baru mereka.


Tak butuh waktu lama, karena perjalanan lancar, jadi mereka tiba di rumah baru mereka setelah berkendara selama 20 menit.


Gladis tertegun dengan rumah di depannya, walaupun tidak sebesar rumah kedua orang tuanya, apalagi tidak sebesar rumah keluarga Leon. Tapi, rumah ini sangat indah dan pas dengan desain rumah minimalis modern-klasik dengan dua lantai.


Dengan tema serba putih hitam, namun warna putih sangat mendominan, rumah ini terasa sangat nyaman walaupun Gladis belum menempati nya.


"Malah bengong disitu, cepat masuk!" perintah Leon pada Gladis yang sedang menikmati desain dan interior rumah Leon.


"Eh, iya" ucap Gladis lalu membuntuti Leon dari belakang.


Setelah masuk kedalam rumah, Gladis lebih terpukau lagi dengan desain dan furnitur nya.


Ada beberapa lukisan dan ukiran dari kayu yang memenuhi dinding dan sudut - sudut rumah.


Leon terus berjalan menaiki tangga, Gladis pun terus mengikuti sampai depan pintu kamar kemudian Leon membuka pintu kamar tersebut.


"Ngapain lo ikut masuk" sentak Leon pada Gladis yang ikut memasuki kamar itu.


"Bukannya ini kamar untuk aku juga kan" tanya Gladis penasaran.


"Enak aja, ini kamar gue. Lo tidur di kamar sebelah, cepet keluar" ujar Leon mengusir Gladis keluar dari kamarnya.


Gladis merasa kesal juga atas perlakuan Leon, dengan marah, Gladis menyeret kopernya kemudian berjalan menuju kamarnya yang ada di sebelah kamar Leon.

__ADS_1


"Tidak buruk" ucap Gladis kala memasuki kamarnya.


Cukup luas, walaupun tidak seluas kamar Leon.


Gladis membaringkan tubuhnya di ranjang, tak berselang lama, ia pun tertidur.


**


Sore hari, Leon bangun dari tidurnya dan merasa lapar. Buru - buru lah Leon bergegas menuju dapur. Tapi sayang, tidak ada apapun yang bisa ia makan, Leon menarik nafasnya kasar. Maklum di rumah ini tidak ada pembantu dan jarang Leon kunjungi, terakhir kali dua hari lalu saat Leon dan teman-temannya Liliwetan di rumah ini.


Dengan malas, Leon kembali berjalan melewati tangga menuju kamar Gladis. Berharap Gladis bisa masak, karena Leon terlalu malas untuk sekedar membeli maupun order online.


Kebetulan kamar Gladis tidak dikunci, Leon masuk kamar tanpa mengetuk dahulu. Didalam kamar, Gladis tengah meringkuk dibawah selimutnya tertidur nyenyak.


Leon mengguncang tubuh Gladis pelan. "Hei, cewek urakan. Bangun" masih mengguncang guncang tubuh Gladis.


Namun, Gladis tidak terusik sama sekali, hanya terdengar beberepa kali lenguhan.


Dengan kesal, Leon menarik kaki Gladis hingga dia terjungkal kebawah berserta selimutnya.


Gladis mengaduh kesakitan, kepalanya terasa berat karena terbangun mendadak.


Leon hanya tertawa melihat Gladis yang terjungkal kelantai akibat ulahnya.


"Jangan lebay deh. Masa gitu aja sakit" Leon meledek Gladis yang tengah mengaduh di lantai.


"Cepet bangun, gue laper" Leon kembali berucap dengan gampangnya.


"Terus hubungannya sama gue apa" tanya Gladis sewot, lalu berdiri dan membenarkan rambut dan pakaiannya yang berantakan.


"Ya lo masak lah" balas Leon enteng kemudian berjalan hendak pergi.


"Ada ya orang gak tahu malu seperti ini di dunia. Bangunin tidur dengan cara kasar, terus suruh gue masak lagi, emang gue pembokat lo!" cerocos Gladis yang sama sekali tidak ditanggapi Leon.


"Ini, tanggung jawab lo. Buruan masak! Gue udah laper" Leon berlalu begitu saja tanpa menoleh.


Gladis menggertakan giginya kesal, dengan malas ia berjalan menuju kamar mandi untuk sekedar hanya mencuci muka, takut - takut ada belek di matanya kan gak lucu.


Sesudah itu, Gladis buru-buru bergegas menuju dapur, takut singa jantan ngamuk.

__ADS_1


Leon yang sedang menunggu masakan Gladis jadi, ia duduk di meja makan sambil menatap laptop nya serius.


Gladis mendelik sekilas kearah Leon, tatkala ia melewati meja makan. Gladis segera mengeluarkan bahan-bahan masakan dari dalam kulkas dan mencuci beras.


Setelah beras yang sudah dicuci di letakan di penanak nasi, barulah Gladis memotong sayur dan mencuci ayam. Karena hanya itu bahan yang ada.


Leon tak melepaskan pandangannya, melihat gerak gerik Gladis. Leon sedikit tersenyum.


Satu jam berlalu, kini Gladis selesai dengan pekerjaannya. Ia dengan cekatan menata nasi dan lauk pauknya di atas meja makan. Leon pun sudah sangat lapar, lalu menutup laptop dan menggesernya.


Dari wangi dan penampilannya sih sangat menggugah selera, tapi tidak tahu dengan rasanya.


Leon mengambil nasi, sayur dan lauk pauknya. Baru saja satu suapan, Leon kembali berhenti.


Gladis mengernyit, apakah masakannya tidak enak? Atau apa.


"Kenapa" Gladis penasaran mengapa Leon menghentikan suapannya.


"Gak enak" balas Leon tanpa menoleh, kemudian dia kembali menyendokan nasi ke mulutnya. Kini gerakannya sangat cepat, bahkan tanpa malu, Leon menambahkan lagi nasi kedalam piringnya. Menyendok kembali sayur dan lauk pauknya.


Gladis terheran, ia meletakan sendok di piringnya kemudian berganti menatap Leon heran.


"Katanya gak enak, tapi makannya banyak amat" sindir Gladis dengan tersenyum sinis.


"Gue lagi laper, jadi, makanan gak enak lo ini gue toleransi" balas Leon datar, tak berselang lama makanan yang ada di piring Leon sudah hambis, bersih tanpa sisa.


Setelah meneguk beberapa tegukan air putih. Leon berdiri dari duduknya, menyambar laptop lalu berjalan menuju sofa yang berada di ruang tamu.


Gladis berulang kali menonjok udara, karena kesal dengan tingkah laku Leon yang seenaknya sendiri dan kenapa sikapnya Bossy begitu.


"Dasar cowok Bossy, bilang masakan gue gak enak, tapi apa hah, dia makannya lahap bener kayak kesurupan" gerutu Gladis kesal, kemudian menghabiskan suapan terakhirnya.


"Gue sumpahin lo biar keselek" ujar Gladis asal.


"Uhuk-uhuk" terdengar suara batuk yang lumayan kencang, seringai tipis timbul di bibir Gladis.


Leon yang berada di ruang tamu terbatuk-batuk, untung tadi ia membawa secangkir air putih dari dapur.


"Ada yang mengutukku kah" ucap Leon setelah meneguk air putihnya. Leon kemudian teringat dengan Gladis dan masakannya. Menurut Leon, masakan Gladis enak, namun apakah Leon akan berkata jujur dengan egonya yang tinggi itu? Entahlah, hanya Leon dan Tuhan yang tahu.

__ADS_1


__ADS_2