Musuh Jatuh Cinta ?

Musuh Jatuh Cinta ?
Balapan


__ADS_3

"Wih... Sang ketua sudah sampai rupanya" ucap si biang rusuh siapa lagi kalau bukan Rizal Billyardi Ramadhan.


Leon menghampiri dimana anggotanya tengah duduk, di sofa panjang didalam sebuah bangunan yang sangat luas. Karena didalam bangunan itu nampak anggota nya berkumpul dan saling bercengkrama. Lebih dari sekedar bangunan, tempat ini mirip seperti rumah besar yang tersedia semua fasilitas lengkap. Bahkan sebagian anggota nya ada yang tinggal disini. Dan Leon tidak mempermasalahkannya malah dia sangat senang bisa menampung anggotanya yang kompeten dan bisa di andalkan.


Walaupun disekolah ia hanya dikenal dengan geng mobil yang notabene kalangan atas. Tapi diluar Leon merangkul semua kalangan. Dan geng ini bukan hanya sekedar geng biasa. Tetapi NAHIBER adalah raja nya dunia bawah alias mafia.


Setelah melakukan tos ala lelaki dengan semua anggotanya. Leon pun duduk diantara Rizal dan Sandi.


"Kapan acaranya dimulai" tanya Leon tak sabaran


"20 menit lagi kayaknya bos" sahut deni anggota Nahiber


"Mending kita berangkat sekarang aja" ujar Leon mengkomando. Lantas ia bangkit dan diikuti oleh anggotanya yang lain. Gak banyak hanya 10 orang anggota yang ia bawa, sesuai kesepakatan.


Diarea balapan Royan cs sedang berbincang bincang sambil menunggu kedatangan Nahiber. Gladis Chaca dan imel pun tak ingin absen kalau mengenai balapan. Mereka ingin menyemangati Royan sang ketua agar bisa menang melawan Leon. Bahkan tak jarang ketiga dara itu ikut andil dalam hal balapan melawan anggota nahiber yang perempuan.


"Karet lo!" cibir Royan yang baru saja melihat Leon turun dari mobilnya


"Gak sabar lo pengen kalah dari gue" ucap Leon sambil menatap remeh kearah Royan


"Cuih... Yang ada elo yang bakal kalah dari gue!" geram Royan


"Buktikan!" Tutur leon sambil memamerkan senyum miring nya


Motor hitam yang di tumpangi Bintang kini bersanding dengan motor merah Royan. Suara dari kedua mesin kendaraan ini memanasi area balap. Kedua kendaraan itu menimbulkan suara yang saling bersahutan dari gas kendaraan masing masing. Seorang wanita dengan potongan rok selutut dan baju seksi memegang bendera di depan dua kendaraan yang akan beradu.


Dimulai dari hitungan ke


Tiga


Dua


Satu


Dan kedua kendaraan itu melesat membelah jalan. Berlomba loba dengan kecepatan dan dengan harapan salah satu dari mereka sampai di garis finis terlebih dahulu.


Leon menarik pedal gas motornya dalam dalam. Begitu juga dengan royan yang menarik gas motornya dengan kecepatan tinggi. Tapi kecepatannya kalah jauh dengan motor yang di kemudikan leon. Motor itu melesat menjauh dari motor royan dan berakhir di garis finis untuk yang pertama.


Kalah. Itulah hal yang akan royan dapat saat ia balapan melawan leon di arena balap, beda paska royan di jalan raya dia jagonya.


"Arghh..."pekik royan frustasi sambil membuka helm fullface nya


Tatapan mencemooh terlontar begitu saja lewat muka leon.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya leon dengan sombongnya


"Masih ada Gladis yang akan memenangkan balapan kali ini" ujar royan tak mau kalah


Wanita yang tinggi semampai dibalut jaket kulit warna hitam, celana jeans warna hitam dan snakers putihnya itu tengah duduk manis diatas motor kesayangannya. Bola mata hazelnya nampak begitu berkilau kala cahaya mengarah padanya, hidungnya yang mancung ditambah bibir tipis yang berwana merah alami dan rambut lurus yang dicurly dibagian ujungnya tengah memangku helm fullface sedang menatap tak suka pada sosok Leon yang tengah tertawa bahagia dengan kemenangannya melawan royan.


"Dis lo siap kan untuk melawan Ratu?" tanya Imel yang tengah berdiri disisi


"Always mel, tenang aja gue bakal bikin tawa mereka hilang seketika" balas Gladis dengan mata yang tak lepas dari Leon cs.


Imelda menepuk pundak Gladis memberi semangat "Gue selalu dukung lo Dis".


"Gladis... Lo harus menang pokoknya. Mama disini mendoakan mu nak" teriak Chaca heboh seperti biasa


"Cha, lo kapan nikahnya tiba-tiba punya anak segede kingkong. Emang lo bikin Gladis pas lo masih jadi ****** gitu?" cerocos Yudha yang tak tau jalan pikiran Salsa yang mengaku ngaku ibu dari Gladis


"Lo gak akan ngerti yud. Hanya gue yang punya IQ diatas rata-rata yang mengerti asal muasal dia" balas salsa geram pada Yudha yang selalu saja mengkritik panggilan sayangnya pada Gladis.


"Gini gini gue tau cha, gimana asal muasal Gladis asal lo tau. Dia itu tercipta dari air kental yang keluar dari batang yang dimasukan kedalam gua hira. Dengan gerakan gerakan yang ... Emmmhhh, terus selang beberapa minggu menjadi embrio dan beberapa bulan kemudian menjadi janin dan keluarlah si Gladis" jelas Yudha panjang kali lebar kali tinggi di kali NOL.


membuat semua teman2nya dibuat geleng geleng kepala dengan lemesnya mulut seorang Yudha yang dengan mau nya menjelaskan sesuatu rumus yang gak ada faedahnya sama sekali.


"Lo berdua kalo mau bahas soal membuat anak jangan disini deh. Mending hotel aja" protes imel yang tak tahan akan arah obrolan Yudha dan Chaca


"Coba apa Yud" balas salsa polos apa pura pura polos


"Itu yang tadi cha, yang kata kamu asal usul Gladis itu. Kita praktekan yuk" rayu Yudha dengan suara menggodanya


"Praktek apa sih Yud. Perasaan besok disekolah bukan pelajaran olahraga deh" ucap salsa masih polos


"Olahraga di ranjang cha" goda imel dengan menyikut lengan salsa


Salsa yang banyak ngemilin micin malah berpikir keras. "Gue bingung deh sama kalian, bukannya olahraga itu di lapangan ya?" tanya salsa kelewat polos atau minta dipolosin. Tadi aja tau asal usul manusia nah sekarang kemana teori itu larinya.


"Sini deh cha gue sentil aja ginjal lo" geram Gladis


"Muka lo polos cha, apa minta gue polosin sih" erang Yudha frustasi menghadapi salsa yang bodohnya udah bawaan sejak masih menjadi embrio.


Menyudahi obrolan yang sangat sangat tidak berfaedah. Kini Gladis sudah siap siap dengan mengenakan helm dan di samping kirinya bertengger juga Ratu diatas motornya dengan seringai yang sulit diartikan, Gladis tidak menanggapinya. Ia tetap pokus pada jalanan dan selesai bendera dikibarkan. Gladis melesat seperti angin, membelah jalan dan mendahului Ratu yang mengekor. Kecepatan motornya ia tambah, memacu motornya terus menerus melewati dua tikungan dan garis finis sebentar lagi akan ia temui. Dengan sangat percaya diri Gladis kembali menarik pedal gasnya dan beberapa menit kemudian ia sudah sampai digaris utama meninggalkan Ratu.


Suara tepuk tangan sangat riuh terdengar dari anggota dan pendukung Gladis. Memang tidak akan di ragukan lagi seorang Gladis Putri Darendra.


Gladis melepaskan helmnya dan segera ia dikerubungi oleh Imel salsa dan semua temannya untuk menyambut kemenangan dia.

__ADS_1


"Gila gila. Si Gladis jago banget kalo soal balapan. Serasi sama si Leon yang sama sama jago" cicit sandi sambil menghembuskan kepulan asap rokok dari mulutnya.


"Najis banget gue diserasiin sama si lion" ucap Gladis dengan melirik sebal kearah dimana leon cs berdiri.


"Emang gue mau sama lo. Yang ngaku ngaku namanya Gladis tapi kelakuannya gak ada anggun anggun nya sama sekali" cibir leon dengan tatapan bencinya.


"Bomat! Gue gak peduli tuh. Sok alim lo"


Gladis mulai sebal dengan pemandangan didepannya. Ia geram melihat sosok leon dengan wajah sok cool nya itu. Entah kenapa rasa bencinya semakin menjadi tatkala mereka saling mencibir satu sama lain.


"Guys kemon kita cabut. Sesak gue berada satu jalanan sama para makhluk halus." Ujar gladis pada teman-teman nya. Mereka pun menyalakan mesin motor masing masing dan melaju membelah jalan di gelapnya malam.


Sedangkan di sisi lain Ratu tengah mengeluarkan segala sumpah serapahnya karena lagi-lagi dia harus kalah dari Gladis.


--------


"Kamu baru pulang?" tanya Dona membuat Gladis yang baru saja masuk ke rumah tersentak kaget.


"Astagfirulloh... Mama ngagetin tau" gladis mengusap dadanya


"Dari mana aja kamu, gak lihat jam berapa ini" bukannya menjawab Dona kembali bertanya. Dona menyilangkan tangannya di dada


Gladis nyengir


"Kamu ini perempuan Dis, tapi kenapa kelakuan kamu ini... Astagfirulloh, heran mama sama kamu"


Mulai deh ceramah nya, batin Gladis.


Bukannya menjawab gladis memilih untuk menunduk diam. Dia tak ingin melawan perkataan ibu yang sudah melahirkan nya. Untuk mengusir rasa jenuh nya Gladis mengigiti kuku kuku tangannya seolah olah ia sedang cemas.


"Kakak kamu dulu anak baik, gak pernah pulang selarut ini. Jam satu ini Gladis... Jam satu !. Kalau kamu kenapa napa gimana?"


Gladis masih menunduk merenungi kesalahannya. Ini pertama kalinya dia ke gep pulang larut malam. Biasanya dia akan menginap di rumah Salsa kalau ada acara balapan, tapi tadi tiba-tiba Gladis ingin pulang ke rumah.


"Maaf ma... Tadi Gladis ngerjain tugas di rumahnya Salsa, eh malah keasyikan nonton drama korea sampe lupa waktu. Hehe" alibi Gladis mencari alasan agar mama nya tidak tambah marah.


"Ini terakhir kalinya kamu pulang larut. Awas saja kalau sampe mama tau kamu pulang telat lagi" ancam Dona


"Iya ma, Gladis janji gak ulangin lagi" balas gladis dengan nafas lega


"Besok ikut mama ke acara temen mama. Kamu harus dandan yang cantik, mama udah siapin gaun nya di kamar kamu" ucap Dona sebelum beranjak meninggalkan Gladis yang tak bergeming.


"Cepat tidur"

__ADS_1


"Iya ma"


__ADS_2