
"Eh gengs nanti kita ke kafe biasa yuk" ajak Caca
"Boleh tuh, dah lama ga nengokin tuh kafe, sekalian nengokin mbak2 kasir nya yang manis itu lho" kata Yudha sambil cekikikan
"Lo mah Yud pikirannya cewek mulu" cibir Imel
"Si Yudha mah lagi kantuk2 nya juga kalo di suguhin cewek cantik langsung melek tuh anak, bener gak bro" kata Royyan
"Yoi brader...hahaha" kedua lelaki itu saling tos sambil ketawa
Di kursi lain, Gladis tengah melamun ga jelas, pasalnya pulang sekolah kali ini dia berencana membeli cincin pertunangan dengan Leon
"Dis, lo gimana?" tanya Caca membuyarkan lamunan Gladis
"Eh, apanya yang gimana Ca?" jawab Gladis seperti kebingungan
"Euh nih anak, pikiran lo tadi kemana hem? Di tanya malah balik nanya" kata Caca mengintrupsi
Gladis nyengir dengan jari tangannya membentuk huruf V
"Tadi kita berencana buat nongkrong di kafe biasa Dis, lo mau ikut ga?" kata Imel
"Emh, maaf deh kali ini gw gak ikut dulu, soalnya mama minta gw temenin ke Mall" dalih Gladis sukses besar membohongi sahabatnya
"Tumben tante Dona ngajak lo, ga bakal kebobolan tuh dompet emak lo kalo lo ikut, hehe secara kan mata lo selalu khilaf kalo lihat diskonan wkwkwk" kata Caca yang di setujui Imel.
Maklum tuh anak 2 tahu banget kebiasaan sahabatnya itu, kalo lihat diskonan mirip kucing nemu ikan, matanya berbinar penuh minat dan siap terkam. Haha
"Kesempatan gak datang duakali Melisa, ya kan" kata Gladis dengan senyum lebarnya sambil memainkan mata genitnya membuat Melisa alias gabungan dari nama Imelda dan Salsa mengangguk setuju.
"Yaudah kalian havefun ya gengs, gue cabut dulu" kata Gladis sambil berlalu meninggalkan ke empat sahabatnya
***
"Gladis, cepetan nak. Itu Leonnya udah nunggu lama" ucap Dona di ambang pintu kamar Gladis
"Iya ma, ini juga udah ko. Emang kudu sekarang banget ya beli cincinnya" balas Gladis yang baru saja selesai memakai sneakersnya.
"Iya Dis, yaudah buru tuh di tungguin your future husband, hehe" goda Dona seraya mendorong pelan punggung anak gadisnya itu
Gladis berjalan menuruni anak tangga dengan Dona yang mengekor di belakangnya
"Nak Leon, nih Gladis nya udah siap lahir batin buat nak Leon halalin" goda Dona kepada Leon
"Ish ma, apa-apaan sih, malu-maluin tau" cicit Gladis memang sedikit malu, wajarlah Gladis dan Leon tidak akrab.
"Ahk, kamu mah bukan malu tapi mau Dis, apalagi Leon ganteng gini, sayang loh kalo gak kamu manfaatin sebaik mungkin. Nanti di gondol cewek lain baru nyaho kamu, hehe" kata Dona tidak bosan kalo masalah goda menggoda anak dan calon mantunya itu.
__ADS_1
"Ish mama, udah ah Gladis mau pergi dulu, bye!" kata Gladis sambil melengos meninggalkan Dona dan Leon. Gladis berjalan menuju mobil Leon.
"Maafin tante ya Le, tante mah suka bercanda, apalagi kalo ngegoda Gladis tante mh jagonya" ucap Dona
"Iya tante, wajar ko, Gladisnya aja yang baperan. Hehe" ujar Leon
"Kalo gitu Leon pamit dulu ya tante biar gak kemaleman pulangnya" pamit Leon seraya memberi salam
"Iya nak Leon, hati-hati ya jangan kebut-kebutan, nitip awasin Gladis kalo misalnya dia kalap mata" Kata Dona melepas kepergian Leon.
Setelah Leon dan Gladis di dalam mobil, Gladis terdiam seribu bahasa. Bahkan perjalanan hampir sampaipun Gladis maupun Leon gak ada yang berbicara.
"Turun lo" pinta Leon sedikit kasar
"Selow aja kali, gue juga ogah lama-lama sama lo" balas Gladis sambil mencebikan mulutnya tak suka akan sikap Leon
Leon berjalan mendahului Gladis tanpa menghiraukan. Gladis yang tak mau berantem pun hanya menghela nafasnya panjang seraya mengikuti setiap langkah Leon.
Setelah menaiki lift, barulan Leon dan Gladis sampai di toko perhiasan yang mereka tuju.
"Lo pilih mau cincin yang seperti apa, tenang gue yang bayar" ujar Leon sombong
"Ck, sombongnya lo kutil" balas Gladis tak suka
"Orang ganteng dan kaya mah bebas" sanggah Leon
"Mba, saya mau cincin tunangan yang paling mahal yang ada di toko ini" ujar Gladis pada penjaga toko tersebut
"Sebentar ya kak, saya ambilkan dulu cincinnya" balas penjaka toko itu
Tak berlangsung lama, si mbak penjaga toko sudah membawa sepasang cincin yang dilihat dari kejauhan aja sangat berbeda dari yang lain.
"Ini kak cincin terbaru dan termahal yang ada di toko kami, cincin ini terbuat dari berlian murni" ucap penjaga itu
Woah... Gladis sangat mengagumi dan langsung jatuh cinta sama cincin yang si mbak penjaga tokonya tunjukan. Sepasang cincin berlian yang cantik,simple dan elegan membuat jiwa kewanitaan nya bergetar hebat. Siap sih yang gak tergoda sama perhiasan, apalagi perempuan, perhiasan tuh aksesoris no 1. Bahkan sekarang perhiasan tuh menandakan status sosial juga.
"Berapa harga nya mba" tanya Gladis tak sabaran ingin segera membawa pulang cincin cantiknya itu.
"Cincin ini di bandrol dengan harga 99.9 juta kak" ucap si mbaknya dengan senyum ramah
Leon yang tengah menyesap kopi yang di suguhkan oleh pihak toko pun terlonjak kaget mendengar harga satu pasang cincin.
Wah gila sih pikir Leon
"Gak salah tuh mba harganya?" tanya Leon seraya berdiri dan berjalan menghampiri Gladis
"Iya kak, ini cincin limited edition yang ada di toko kami" ucap sang penjaga toko ramah
__ADS_1
Leon melihat bentuk cincin yang soal harga menurut seorang Leon yang masih duduk di bangku SMA ternganga dan dibuat tercengang.
"Kenapa, gak mampu lo beliin gue tuh cincin! Bukannya lo tuh horang kaya ya? Harga segitu mah kecil kan buat lo!" ujar Gladis dengan kesenangan yang membungbung tinggi telah membuat seorang Leon syok.
"****** lo!" ujar Gladis dalam hati
"Ekhem, enak aja gue mampu ya beli tuh cincin. Harga segitu mah gak ada apa-apanya buat gue" ucap Leon enteng sambil mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya.
"Bobol nih celengan gue buat nih cewek lampir. Nyesel gue tadi mancing-mancing dia" keluh Leon dalam batin
Untungnya Leon sudah menyiapkan tabungan yang lumayan untuk biaya pertunangan dan pernikahannya.
Kalo ada yang nanya dari mana Leon punya duit banyak?
Jawabannya yaitu Nahiber
Setelah menyelesaikan pembayaran, Leon buru-buru membawa Gladis keluar dari Mall tersebut sebelum uang tabungannya terkuras habis.
Bukannya Leon pelit atau apa, tapi pengeluaran untuk acara pernikahannya pun harus Leon persiapkan. Karena Leon tak ingin merepotkan kedua orang tuanya. Bahkan tanpa sepengetahuan Ghani dan Gina, Leon ternyata sudah membangun rumah masa depannya untuk sang istri dan anaknya kelak.
"Leon, gue laper pengen makan dulu" ucap Gladis memberhentikan langkah Leon yang hendak menuju parkiran
"Yaelah kalo lo laper, nanti aja makannya di rumah. Gue gak bisa nemenin lo lama, gue mau cabut" tolak Leon yang segera memasuki Mobil sport cat biru kebanggaan nya.
"Biadab lo Leon, kalo gue mati kelaperan lo yang tanggung jawab" Gladis mendengus kesal tapi tetap memasuki mobil Leon, rasa lapar yang melanda ia tahan dulu dari pada di tinggal Leon, masalahnya Gladis tidak membawa uang sepeserpun karena dompetnya tertinggal di kamar. Sungguh sial sekali pikir Gladis
"Kalo lo mati ya gue kubur lah" jawab Leon enteng sambil menginjak pedal gas melajukan mobilnya
***
Setelah 25 menit berlalu, sampailah mereka di sebuah bangunan 3 lantai bernuansa hitam putih kepunyaan keluarga Leon.
"Lo bawa gue ke rumah siapa sih, ko gak langsung pulang aja ke rumah gue" tanya Gladis heran seraya ikut turun mengikuti Leon
"Katanya lo laper, cepetan masuk jangan malah bengong gitu kayak orang ****!" ujar Leon kasar bahkan meninggalkan Gladis yang masih terpaku di tempat
Setelah pintu bercat putih itu di buka, nampaklah dua orang anak kembar yang sedang lari-larian menghampiri Leon.
Gladis pun berjalan memasuki rumah tersebut, baru saja sampai di depan pintu langsung di sambut hangat Ummi nya Leon yaitu Gina.
"Hallo Gladis" sambut Gina dengan senyum mengembang
"Assalamu'alaikum tante" ucap Gladis sambil sun tangan pada calon mama mertuanya
"Waalaikumsallam nak, yuk masuk. Katanya kamu laper" ujar Gina
"Ini pasti si kunyuk itu yang kasih tau ke tante, hadeuh bikin malu aja tuh curut, awas aja nanti gue bales lo Leon brengsek!" ucap Gladis dalam hati
__ADS_1