
kini sudah enam bulan Elvira menjadi murid SMA dia dan Gavin semakin hari juga semakin dekat, Elvira sudah bukan babu Gavin lagi, perjanjian telah usai tapi Gavin masih sering menjahili Elvira. Gavin dan intan juga sudah semakin dekat karna Gavin selalu menyempatkan diri mampir ke rumah Elvira, membuat intan juga semakin yakin kalau Gavin dan Elvira adalah pasangan yg cocok, setiap intraksi mereka selalu membuat intan gemas
Elvira dan Raka sedang berjalan menuju kantin untuk menyusul Ganendra dan monika, sedangkan Gavin dan Reza sedang push rangk untuk menaikan kemytic, rank meteka turun karna ganti season. Elvira dan Raka sesekali bercanda dan tertawa, membuat orang yg melihat mereka akan mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih, banyak gosip tentang Elvira dan Raka atupun dengan Gavin beredar, membuat Elvira di cap sebagai 'gadis gatel' karna mendekati dua cowok tertampan di sekolah monika juga sering di gosipkan kalau ia sedang berpacaran dengan Ganendra yg juga popular tapi tak sebanyak gosip Elvira dan Gavin, karna Ganendra memang terkenal ramah dan baik hati tapi Gavin adalah cowok dingin yg sangat cuek, apalagi dengan perempuan hal itu mengundang spekulasi bahwa mereka memang sedang menjalin hubungan khusus, Elvira sampai lelah menjelaskan kalau mereka hanya teman biasa tapi itu tak berguna, orang orang itu tak peduli dengan apa yg dijelaskan oleh Elvira, ditambah Gavin bodo amat
dan malah tentang gosip tersebut, bahkan ia berkata kalau Elvira memang pacarnya tapi Elvira yakin kalau Gavin hanya bercanda, padahal Gavin serius.
Raka dan Elvira sudah sampai di kantin, dan seperti biasa bisikan dan gosip gosip pun terdengar, tapi baik Elvira maupun Raka sangat tidak peduli dengan gosip tersebut, mereka sudah bodo amat sekarang
"El, sini!" itu triakan monika, ia melambaikan tangan dari salah satu meja, terlihat di sebelahnya ada Ganendra yg duduk sambil meminum minuman, tapi yg membuat Elvira heran adalah Gavin yg duduk di sebelah Ganendra dengan wajah yg terlihat kesal sambil melihat mereka berdua dari meja kebesaran gang mereka
"lo lama banget si El, abis dari mana?" tanya monika
"mampir ke perpus dulu gw tadi" jawab Elvira sambil mendudukan diri di kursi tepat di hadapan Gavin. Elvira tersenyum kepada Gavin yg sedari tadi menatapnya dengan tatapan yg sulit di artikan tapi Gavin malah membuang muka yg membuat Elvira sedikit kesal, padahal ia mau Gavin membalas senyumannya dengan manis seperti biasa.
"ngapa lagi lo, ngambek mulu?" tanya Elvira. Gavin langsung menatap Elvira
"gak" jawab Gavin dengan nada datar tak seperti biasanya. tapi Elvira sudah tau kalau Gavin sedang kesal padanya, hal seperti ini sudah biasa jika dia dekat dengan pria lain
" kenapa? kesel sama aku?" tanya Elvira dengan wajah meng aegyo yg memang sengaja di pasang nya,karna setiap Gavin ngambek ia akan baikan kalau sudah melihat wajah Elvira yg meng aegyo tapi bukan hanya karna itu saja Elvira melakukannya ia memang senang saat melihat wajah Gavin yg agak memerah saat melihat aegyo nya, dan benar saja Gavin langsung tidak marah lagi
"nggak, nggak ngambek kok" ucap Gavin sambil tersenyum menampakan kedua lesung pipi yg membuatnya terlihat semakin menggemaskan. teman teman mereka yg melihatnya hanya bisa saling tatap dan melempar tawa renyah
orang orang di kantin yg sedari tadi menatap mereka pun ada yg baper dengan tingkah mereka, tapi ada juga yg cemburu akan hal itu seperti halnya Zahra, kakak kelas mereka di kelas 12 yg memang sudah terkenal karna selalu mendekati Gavin sedari Gavin baru masuk di sekolah mereka, ia juga selalu membully gadis gadis yg pernah dekat atau caper dengan Gavin, dan kini ia tengah mengawasi Elvira untuk target yg selanjutnya
"ih awas aja lo cupu gw abusin lo!" ucap Zahra dengan kekesalan yg memuncak
"Zah, udah aja deh lo deketin Gavin gw gasuka liat lo ngebully orang" ucap Anne sahabat Zahra, orang keturunan bulgaria - jawa yg terkenal karna kecantikan khas blasterannya
" alah bac*t lo Anne, gausah sok nasihatin gw lo!" bentak Zahra yg memang sangat judes pada sahabatnya itu, padahal Anne sangat baik padanya walaupun Zahra jahat, dia akan memakluminya walaupun ia jujur sedikit sakit hati dengan perkataan Zahra yg pedas
"tapi itu gak baik Zah!" ucap Anne menasehati
"udah gw bilang gausah sok nasehatin gw, emangnya lo siapa gw sih?!" bentak Zahra lagi. Anne pun hanya bisa diam merutuki sifat buruk sahabatnya itu dengan air mata yg menggenang di pelupuk matanya dan hampir membasahi kulit putihnya itu. ia sejujurnya kesal pada Zahra, orangtua nya pun tidak pernah memarahinya seperti itu, sebesar apapun kesalahan yg dibuatnya, orangtuanya selalu menasihatinya dengan lembut tanpa kata kasar atupun bentakan
" Zahra! gakboleh gitu, Anne kan bener nasihatin kamu, kok malaah kamu bentak si-" omongan Nabila terpotong oleh bentakan Zahra
__ADS_1
"lo juga diem Nab!, jangan sok suci, mentang mentang emak lo guru ngaji lo jadi sok suci gitu!" kini giliran Nabila yg kena semprot oleh Zahra
"apa apaan si lu gw bilangin kok malah gw dimarahin jangan belagu lo emangnya elo apaan hah?" sahut Nabila dengan penuh emosi
"hah?! gw apaan?, gw ya manusia lah!!" bentak Zahra pada Nabila. kini mereka pun menjadi pusat perhatian orang orang bahkan penjaga kantin pun ikun memerhatikan merekab
"Anne ayo pergi! males gw di sini sama saiton!" ucap Nabila sambil melempar pandangan penuh kebencian pada Zahra. Anne yg sedari tadi mencoba menenangkan mereka pun menoleh pada Nabila kemudian melirik Zahra, seolah ragu siapa yg akan dipilihnya
"awas lo kalo pergi sama dia!" ucap zahra dengan penuh tekanan dan mata yg agak melotot kepada Anne
"em.. gw disini aja Nab, nemenin Zahra" ucap Anne Nabila yg mendengar itu pun hanya menggelengkan kepala
"heran gw sama lo Anne, kok lo mau temenan sama setan" ucap Nabila melempar tatapan penuh permusuhan pada Zahra, sedangkan Zahra hanya menyilangkan tangan dan berdecak penuh kemenangan
"eh, itu siapa sih dari tadi ribut aja?" tanya monika yg kini tengah berdiri di atas bangkunya, untuk melihat pertengkaran Nabila dan Zahra
"eh, itu kan kak Zahra fansnya Gavin paling fanatik seantero sekolah" ucap Raka sambil melihat ke arah Zahra yg tengah menyenderkan diri ke tembok kantin
"fans kamu?" tanya Elvira pada Gavin, tapi malah Reza yg menjawab
Elvira yg mendengar pun hanya bisa ber 'oh' ria saja. tiba tiba gadis bernama Zahra itu menoleh dan menatapnya dengan tatapan penuh permusuhan. Elvira yg menyadari tatapan Zahra pun langsung memalingkan wajahnya, bukan karna ia takut tapi ia malas berurusan dengan orang aneh seperti Zahra
ia sedang memakan bakso yg memang sudah ia pesan dengan sangat lahap, ia memasukan dua bakso sekaligus kadalam mulutnya, yg langsung membuat mulutnya itu penuh. tanpa ia sadari ada yg memperhatikannya sedari tadi, *imut* batin orang yg menatapnya itu
bell sudah berbunyi, ia ingin segera pulang, kini Elvira dan monika sedang berjalan menuju gerbang dan hendak menuju halte untuk menunggu angkot yg akan ia naiki menuju rumahnya. tapi tiba tiba empat motor ninja berhenti tepat di hadapan mereka berdua, mereka langsung mengenali siapa pemilik empat ninja tersebut, yg berwarna merah itu milik Reza, yg berwarna hijau milik Raka, yg berwarna putih milik Ganendra dan yg berwarna hitam milik Gavin
"oy, kalian cepet naik" perintah si penunggang ninja hitam
"lu naik sama gw, cepet!" perintahnya lagi sambil menunjuk Elvira, ia bingung tapi toh tetep naik juga, sedangkan monika yg sama bingungnya dengan dia berboncengan dengan Ganendra.
cukup lama mereka berjalan, di iringi oleh pertanyaan Elvira "kita mau kemana" sedangkan Gavin hanya menjawab "entar juga lo tau" sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah gedung olah raga yg cukup besar. tiba tiba seorang gadis dengan make up yg cukup tebal berlari ke arah mereka
"sayang!" triak nya. siapa yg dia panggil 'sayang' mungkinkah Gavin? tapi kalau memang benar Gavin entah mengapa ia merasa agak kecewa.
tapi ternyata yg ia panggil dengan sebutan sayang bukanlah Gavin, melaikan Reza dan itu entah mengapa membuat Elvira sedikit lega.
__ADS_1
"ih.. kok kamu lama banget sih, aku dah tungguin kamu lama bangt loh" ucap gadis itu sambil memporutkan bibir, ketara sekali ingin terlihat imut, Reza pun hanya yersenyum dan mengelus pipi gadis yg sedang menggelayuti lengannya itu
"beb, ini siapa?" tanya gadis itu pada Reza, sepertinya ia baru sadar akan kehadiran Elvira dan monika disana. gadis itu menatap mereka berdua dengan penuh selidik
"oh, mereka temen aku juga, monika dan Elvira. El, ika, ini yully pacar gw" ucap Reza memperkenalkan
"Elvira"ucap Elvira sambil tersenyum dan mengulurkan tangan, tapi lama tangan itu terulur tak kunjung juga di balas oleh yully ia hanya menatap tangan mulus Elvira dengan tatapan tak suka. karna tak kunjung di balas Elvira pun langsung kembali menarik tangannya dan tersenyum canggung. Gavin yg melihat itu pun menatap yully dengan tatapan tak suka
"apa apaan sikap lo itu, dia kepengen jabat tangan lo, apa lo gabisa liat?" tanya Gavin dengan nada paling dingin yg pernah ia dengar keluar dari mulut pria itu, bahkan pertemuan pertama mereka yg bisa dibilang sangat buruk itu pun Gavin tidak seperti itu
"o.. oh, iya salam kenal yully" ucap gadis itu yg terdengar sangat tidak ikhlas, ia pun mengulurkan tangannya
Elvira sebetulnya kesal dengan sikap sombong gadis itu, tapi ini demi kesopanan, ia harus menjabat tangan gadis itu. Elvira pun mengulurkan tangan, berniat ingin membalas sapaan gadis itu, tapi tiba tiba dan tanpa di sangka sangka Gavin langsung menepis kasar tangan yully dan langsung menyambar tangan Elvira yg sudah setengah terulur lalu menggenggamnya dengan mesra.
semua yg melihat kejadian itu pun hanya melongo dan tak percaya, Gavin orang yg terkenal sangat dingin pada wanita itu mau menolong dan bahkan menggenggam tangan seorang gadis? tidak mungkin. pikir teman temannya. sedangkan yully, ia hanya menatap kesal pada Elvira karna sudah mempermalukannya di hadapan semua orang, apa lagi orang yg paling ia cintai
"vin, emang itu siapa lo?" tanya yully dengan tak tahu malunya
"dia?, pacar gw" ucap Gavin, semua orang yg ada disana pun melotot tak percaya, karna baik Gavin maupun Elvira tak ada yg memberi tahu mereka sedangkan Elvira yg mendengar itu pun hanya bisa membelalakan matanya, tak sanggup untuk bicara ia juga tidak tau kenapa ia bisa begitu, pasalnya ia memang tak pernah merasa begitu tapi jantungnya berdegup tak karuan, tenggorokannya serasa kering dan ia tak kuasa untuk bicara sepatah kata pun padahal ia sangat ingin bicara dan membantah omongan Gavin tersebut,tapi entah mengapa ia pun tak tahu ia merasa senang dengan perkataan Gavin tersebut, padahal jelas jelas ia mengatakan kalau ia ingin membantah omongan tersebut.
setelah mengatakan hal tersebut, Gavin langsung membawanya masuk ke dalam gedung tersebut, masih dengan menggenggam tangan Elvira lembut, jujur Elvira merasa sangat nyaman dengan perlakuan Gavin hanya saja ia masih belum mau mengakuinya. mereka masuk ke dalam stadion bola basket dengan di ekori oleh teman temannya tentunya
begitu mereka masuk mereka langsung di sambut oleh tepukan dan triakan riuh, tapi saat kemudian bisikan bisikan pun mulai terdengar, menggosipi mereka tentu saja
"kamu ngajak aku nonton basket?" tanya Elvira pada Gavin0
"iya, tapi bukan kita yg nonton, kamu yg nonton aku main" ucap gavin yg lalu berbalik dan memegang kedua bahu Elvira, penonton langsung riuh saat itu terutama penonton wanita, juga terdengar siulan dari para penonton pria, tapi mereka tak mempedulikan itu, sedangkan teman temannya hanya bisa menggelengkan kapalanya
"aku main dulu yah, kamu dukung aku" ucap gavin sambil tersenyum menatap wajah manis Elvira yg tengah tersipu, lalu menepuk pelan puncuk kepala gadis itu dengan hangat, penonton yg ada pun langsung rih karna meraka, Elvira sangat malu menjadi pusat perhatian, jadi dia langsung mengajak monika untuk mencari tempat duduk. selama perjalanan mencari tempat duduk Elvira selalu menundukan kepala sebari mencerna ucapan ucapan para penonton yg lain, sedangkan monika masih sibuk membombardirnya dengan partanyaan pertanyaannya
"lo bisa diem gak sih ika, iya nanti gw jawab tapi gak sekarang, kita cari tempat duduk dulu yah.." ucap Elvira sabar karna ika tak kunjung berhenti dengan pertanyaan pertanyaan yg membuatnya semakin pusing, sedangkan monika hanya mengangguk mengerti dengan ucapan sahabatnya itu. tanpa ia sadari ternyata Zahra juga berada disana, ditemani oleh Anne tentunya yg ikut karna paksaan sahabatnya. Zahra melempar pandangan benci pada Elvira, entah apa yg di rencanakan gadis itu, tapi yg jelas dia berkata
"awas aja lo Elvira, tunggu pembalasan gw" ucapnya dengan penuh kedengkian dalam setiap katanya, sedangkan Anne hanya bisa menggeleng dan menghela nafas, pasrah akan sikap sahabatnya yg memang keras itu.
....... masih bersambung......
__ADS_1