
Peternakan Rossi Dallas Texas
Lennah tidak menyangka, pria yang ditemuinya di acara pernikahan princess Alisha dan prince Richard di Brussels, berdiri di hadapannya. Saat pernikahan Alisha, Lennah memang sempat bertabrakan dengan Raul tapi sebelum mengobrol lebih lanjut, pria itu dipanggil oleh sepupunya dan yang Lennah tahu namanya adalah Raul.
Sekarang, pria yang membuatnya terperangah dan terkesan itu, ada di hadapannya, bikin jantung Lennah berdetak tidak berirama dengan jelas saking gedubrakannya.
"Tunggu... Kamu gadis yang aku tidak sengaja ketabrak aku dan punch kamu tumpah terus aku ganti bukan?... Lennah Rossi? Benar ? Seingatku nama adik bang Leo namanya Lennah Rossi karena sama-sama artinya singa..." ucap Raul sambil menatap lekat ke Lennah yang menjelang petang itu memakai topi cap NY Yankees, baju flanel kotak-kotak merah, kaos putih sebagai dala*man, jeans lusuh dan sepatu Doctor Marteen warna ungu.
Lennah melongo dan hanya mengangguk. "Ho...oh.." jawabnya pelan sedikit tercekik karena tidak menyangka Raul akan mengingatnya.
"Apakah mbak Bia ada? Kata Oom Pedro lagi disini sih ..." Raul celingukan mencari kakaknya di rumah induk peternakan.
"Kak Bia...ada kok ... Ayo masuk, Raul..." ajak Lennah sambil berjalan di depan Raul.
"Peternakan kamu luas ya Lennah..." puji Raul.
"Alhamdulillah... Kami bisa memiliki peternakan seluas ini dan menjadi salah satu pemasok daging dan hasil perkebunan di Texas." Lennah membuka pintu dapur dan melihat Biana bersama Leo sedang duduk di kursi dapur sambil menulis coret-coretan diatas meja.
"Raul?" Biana melihat ke arah pintu masuk dapur dan terkejut melihat adiknya disana. "Ngapain kamu kesini?" Biana pun berdiri dan berjalan menuju adiknya lalu keduanya saling berpelukan. Raul mencium pipi kakaknya dengan mesra membuat kakak beradik Rossi sedikit manyun melihat keduanya.
Kalau tidak ingat Raul itu adiknya Bia, sudah pasti akan aku hajar . - Batin Leonardo.
Aduh, untung kak Bia kakaknya Raul. Kalau bukan, cemburu lah aku... - batin Lennah. Diam-diam Lennah sudah tertarik dengan Raul meskipun saat di Brussels, para sepupu Biana yang pria, semuanya nyaris paripurna, tapi entah kenapa, Lennah hanya terpaku pada pria berambut hitam, berwajah dingin dan matanya itu... Lennah tidak kuat melihat matanya yang bewarna coklat. Tatapannya dingin kalau ke orang lain tapi melihat Biana, tampak lembut dan sayang pada gadis cantik itu.
"Bang Leo ..." sapa Raul ramah yang langsung disambut Leonardo dengan senyum manis dan keduanya pun bersalaman lalu Leonardo memeluk Raul.
"Apa hal kamu kesini?" tanya Biana usai Leonardo dan Raul saling menyapa.
"Melihat persiapan pernikahan kalian sekalian menghitung berapa wine yang harus aku kirim dari Turin..." jawab Raul sambil duduk di sebelah Biana sedangkan Lennah memberikan secangkir kopi untuk Raul. "Terima kasih Lennah" senyum putra Alexis Accardi dan Raveena Dewanata itu.
Lennah hanya mengangguk dengan pipi memerah yang tidak luput dari perhatian Leonardo dan Biana karena Lennah tampak malu-malu. Gadis berambut pirang itu pun duduk di sebelah Leonardo.
"Memang boleh kamu bawa kemari? Kan kita tidak ada kantor cabang disini?" tanya Biana.
"Dibawa sama Alano lah... " cengir Raul. "Pesawat Bianchi kan bisa membawa sekitar empat krat red wine jadi apakah empat krat cukup?"
"Ah aku lupa kalau kamu juga sommelier dan pengusaha wine ..." kekeh Biana. "Ini aku dan singa gurun sedang menghitung para tamu. Bayangkan Raul, keluarga saja sudah segini..." Gadis cantik itu memperlihatkan hasil catatannya pada pria yang memiliki tinggi 187 cm itu.
__ADS_1
Kakak beradik Rossi menatap ke Biana dan Raul yang tampak serius dalam menghitung jumlah tamu undangan.
Ya ampun, Biana kalau mode hitung-hitungan, kok tampak seksih ya? Leonardo menatap penuh cinta ke tunangannya.
Kenapa wajah Raul yang serius, kadar tampannya bertambah berkali-kali lipat. Lennah menatap pria blasteran Italia, Inggris, Indonesia dan Amerika itu.
Introducing Lennah Rossi
"Kalau melihat dari jumlah tamu undangan, cukup kayaknya deh Raul. Apalagi Singa gurun juga mengkoleksi banyak wine di barn nya. Jadi kalau kurang, bisa ambil koleksi Leo" ucap Lenna. "Ini kan perhitungan jika semua orang hanya minum satu gelas."
"Bang Leo punya banyak koleksi wine?" tanya Raul ke arah Leonardo.
"Lumayan tapi ya nggak sebanyak keluarga kamu, Raul..." senyum Leonardo.
"Boleh aku lihat?" tanya Raul.
"Bolehlah. Lennah, kamu antar Raul lihat koleksi wine di barn ya. Biar dia bisa menilai mana yang pantas disajikan saat acaranya kakak" jawab Leonardo sambil menatap adiknya lembut.
Raul pun mengangguk dan menatap lembut mata biru itu. Ternyata, Adiknya Bang Leo, cantik juga.
***
Bangunan Wine
Raul dan Lennah berjalan menuju bangunan yang dibangun khsusus oleh Leonardo untuk koleksi wine dan beberapa minuman lainnya. Keduanya masuk usai Lennah memencet password di depan pintu barn itu.
Raul melihat koleksi Leonardo dan memeriksanya satu persatu ruang khusus wine yang berbasiskan kayu di dalam barn itu.
"Koleksi kalian lumayan" ucap Raul sambil mengambil satu botol wine dari raknya.
"Tapi koleksi keluarga Bianchi dan Mancini pasti aduhai..." senyum Lennah.
"Kamu kuliah dimana Lennah?" tanya Raul sambil berjalan mengelilingi ruang wine itu.
__ADS_1
"Di Dallas University."
"Kenal dengan Bang Chris Armstrong?"
Lennah tertawa. "Kenal lah ! Kak Leo dan kak Chris itu sahabat. Makanya aku kaget kalau mereka bisa jatuh cinta dengan dua gadis bersaudara..."
"Apakah kamu senang dengan Mbak Bia?" tanya Raul sambil menoleh ke arah Lenna yang berdiri sedangkan posisi Raul dalam kondisi berjongkok memeriksa wine di rak bawah.
"Kak Bia keren ! Dia sangat cerdas dan aku dibantu saat test statistik. Kamu tahu kan aku paling benci matematika tapi kak Bia bisa mengajari aku begitu enaknya jadi aku tidak musuhan dengan ilmu pasti satu itu" jawab Lennah dengan mata birunya yang berbinar-binar.
"Syukurlah kamu suka kakak aku... Secara, kamu tahu sendiri kan bagaimana kelakuan berantakannya Mbak Bia" kekeh Raul sambil berdiri dan menatap Lennah yang tampak mungil meskipun tinggi gadis itu 168 cm.
"Raul... Kamu kok jangkung banget?" komentar Lennah.
"Mungkin karena aku suka makan kacang panjang waktu kecil jadinya aku jangkung?" jawab Raul asal.
Lennah melongo. "Iya kah?" tanya nya penasaran.
"Mungkin lho ya... Tapi kedua orang tua aku juga termasuk tinggi terus opa dan Omaku juga tinggi... Jadi, keturunan ini..." senyum Raul.
Lennah terkesima dengan senyuman Raul.
Ya Allah, kalau aku sebuah coklat, aku sudah meleleh dari tadi... Lennah berdehem.
"Lennah, kenapa kamu beda sama Bang Leo ... Mirip tapi wajahmu lebih cantik..." cengir Raul membuat Lennah terkejut dan tanpa sadar memukul bahu Raul.
"Ya iyalah ! Aku kan cewek ! Raul tuh gimana sih !" sungut gadis cantik itu membuat Raul terbahak.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1