
Ranch Rossi Dallas Texas
Raul dan Lennah pun berjalan keluar dari barn wine yang kemudian ditutup kembali oleh gadis itu. Dalam perjalanan menuju rumah induk, keduanya bertemu dengan Buzz, salah satu tangan kanan Leonardo, yang sedang membenarkan pagar kawat di bagian kandang ayam.
Buster 'Buzz' Cartwright
"Lennah ! Siapa itu?" tanya Buzz melihat Lennah berjalan dengan seorang pria yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Oh, ini adik kak Bia. Namanya Raul" jawab Lennah sambil mengajak Raul berkenalan dengan cowboy tampan itu.
"Raul Accardi" sapa Raul sambil mengulurkan tangannya.
Buzz melepaskan sarung tangannya dan menyalami Raul. "Buzz Cartwright. Kamu adiknya nona Biana?"
"Adik sepupu, tepatnya. Aku tinggal di Virginia, kuliah disana dan mengingat mbak Bia mau menikah, jadi aku harus hitung jumlah botol wine yang harus aku kirim kemari dari Turin..." senyum Raul.
"Raul ini salah satu pewaris wine Bianchi dan perkebunan anggur di Turin. Dia juga seorang sommelier lho Buzz" ucap Lennah dengan mata berbinar.
Buzz melihat bagaimana Lennah tampak kagum dengan Raul. Ya iyalah, secara dia sangat kaya, sedangkan aku? Hanya asisten kakaknya...
"Ah biasa aja Lennah..." ucap Raul merendah.
"So, kamu mau lihat anak-anak sapi kami?" ajak Lennah.
"Boleh deh. Aku sudah lama tidak ke peternakan."
"Memangnya kamu punya?" tanya Buzz.
"Bukan aku, tapi Opa ku. Opa Fathir punya peternakan di Queensland Australia dan sekarang salah satu pemasok bulu wol domba terbaik di Australia dan apel terbaik. Beliau dan Oom aku, Pahlevi, salah satu peternak terbaik Aussie" jawab Raul. "Tapi aku rasa tanah peternakan Rossi lebih luas dari milik Opaku... Berapa ini total nya?"
"Sekitar 10,000 hektar. Kami mengambil beberapa tanah yang dijual jadi kami gabungkan semua... Kami memiliki tempat tersendiri untuk sapi potong, sapi perah, domba, kambing, unggas ... Bangunannya ada sendiri - sendiri." Buzz lalu menunjukkan lokasi yang disebut. "Disana istal kuda koleksi Boss."
__ADS_1
Raul mengangguk. "Hebat kalian ..." puji Raul tulus.
"Butuh kerja keras, Raul" senyum Lennah.
"Aku percaya akan hal itu dan jika hasilnya memuaskan, tentu kalian merasa jerih payahnya terbayar bukan..." ujar Raul. "Macam di perkebunan anggur... Jika bagus panen, kami akan mendapatkan wine terbaik tapi jika terjadi sesuatu... Bisa menurunkan kwalitas dan mutu dari wine itu sendiri."
"Kamu juga terjun sendiri di perkebunan anggur mu?" tahya Buzz yang tidak percaya pria dengan wajah khas Italia itu mau turun sendiri.
"Sebelum aku kuliah di State, aku sudah diajari Daddy untuk mengawasi kebun anggur dari kecil dan jika liburan sekolah, aku membantu panen. Aku memperhatikan bagaimana proses pembuatan wine hingga penyulingan yang bisa menghasilkan rasa pekat dan comforting dari setetes wine" jawab Raul dengan mata coklatnya tampak berbinar saat membicarakan tentang wine.
"Kamu sangat suka wine ya?" goda Lennah.
"Sama saja jika kamu membicarakan peternakan kan Lennah ?" balas Raul sambil menatap gadis itu.
Buzz bisa melihat bagaimana pipi Lennah memerah. Jangan bilang Lennah naksir pria Italiano ini !
***
Raul mengobrol bersama dengan Leonardo dan Biana soal stok wine yang cukup di barn kalau wine yang dibawanya dari Turin kurang. Ketiganya pun membicarakan acara pernikahan besok yang membuat Lennah memilih diam sambil memperhatikan wajah Raul.
Pesona Raul memang tidak main-main. Biana yang duduk bersebelahan dengan Leonardo, juga memperhatikan bagaimana sikap Raul ke Lennah yang tampak lembut, membuat calon pengantin itu memiliki spekulasi sendiri.
Wis kacau nih ... Ajang nikah, malah jadi ajang cari pasangan.
***
London Inggris, Royale Hospital
Galena terkantuk-kantuk di kursi co-as sambil bersedekap apalagi AC di rumah sakit saingan dengan freezer saking dinginnya. Galena sudah memakai sweater leher tinggi dan snelinya plus celana panjang tebal dari wool serta sepatu Crocs lengkap dengan kaos kaki tapi tetap saja, dia masih kedinginan.
Mata birunya yang sudah lima Watt, minta untuk diistirahatkan tapi jam tugasnya masih dua jam lagi. Gadis itu melirik jam tangan Audemars Piguet nya dan tak lama, dirinya menguap lebar dengan ditutup tangan satunya.
Masih lamaaaa... Aku sudah kangen bantal aku... Gumam Galena. Malam ini di divisi Obgyn memang tidak banyak pasien yang datang. Galena sangat senang disini karena sepi, tidak macam di IGD yang pasti gedubrakan.
__ADS_1
Galena menguap lagi sampai tiba-tiba datang seorang suster membawakan segelas kopi.
"Kopi, dok..." senyum suster itu sambil memberikan gelas kopi dari kertas itu.
"Thanks Suster Valerie ... Aku benar-benar butuh kopi..." ucap Galena yang langsung menyesap kopinya.
"Sepi ya dok..." gumam Suster Valerie sambil meminum kopinya.
"Makanya aku ngantuk. Coba didepan aku ada kantong tidur, yakin aku sudah macam kepompong dan ngorok disana !" jawab Galena sambil menguap lagi.
Suster Valerie tertawa. "Semua orang yang berjaga disini, akan seperti anda dok, kalau ada kantong tidur di depan mata."
"Duh ngatukuknyaaaaa !" teriak Galena membuat suster jaga lainnya menoleh sebal.
"Dokter Luna !" panggil seorang suster yang datang tergopoh-gopoh.
"Ada apa?" tanya Galena.
"Itu, superintendent Alex Darling..."
Semua orang di rumah sakit tahu Galena sudah memiliki pacar yang anggota Scotland Yard.
"Kenapa Alex ?" tanya Galena.
"Dia ... Kecelakaan..."
Galena melongo. "Apa?"
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️