
Zeze selalu tanggap ketika mencium aroma makanan. Zeze merebut kantong plastik yang berisi martabak dari tangan Erina. Erina hanya tersenyum melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Ze, pelan-plan dong kalau makan. Nanti tersedak baru tau rasa kamu." Erina memakan martabaknya.
"Enak banget ini Rin. Kamu dapat dari mana?" Zeze terus melahap martabak itu.
"Bayu tadi yang bawa." Erina tak mau kalah dengan Zeze melahap martabaknya.
"Aku udah nggak kuat Ze. Nih kamu habisin sendiri." Erina menyodorkan martabaknya.
"Tenang saja nanti aku sisa in bungkusnya." Zeze melahap semakin rakus.
"Kamu ini Ze gak takut gendut apa?" Erina berbaring di atas ranjangnya.
"Ngapain takut gendut? Yang penting aku happy." Zeze tidak menghiraukan kata-kata Erina.
"Kamu tidur disini ya Ze? Besok kan hari minggu. Besok kita jalan-jalan ke mall yuk? Aku ingin sekali membeli jajanan di mall." Erina menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Oke Oke. Besok kamu yang traktir yah?" Zeze merapikan bungkusan martabak karena isinya sudah berpindah ke dalam perutnya.
"Setuju. Tapi jangan banyak-banyak. Kamu kalau lihat makanan suka lupa akal sehat." Erina mengejek Zeze.
"Ayo tidur! Aku capek dan ngantuk sekali." Erina memejamkan matanya.
"Tidur duluan aja. Aku mau main game lagi. Aku belum ngantuk. Kalau di rumah mamaku pasti ngomel liat aku main game terus." Zeze menyalakan ponselnya lagi.
Erina sudah tertidur pulas namun Zeze masih asyik main game. Zeze sesekali melihat Erina. Erina terlihat sangat lelah. Jam menunjukan puluk dua pagi. Zeze mematikan ponselnya dan berbaring di samping Erina. Zeze terlelap di samping Erina. Pagi harinya Erina bangun lebih dulu. Zeze masih bermain di alam mimpi. Erina beranjak dari tempat tidurnya. Erina menuju kamar mandinya. Setelah selesai mandi Erina keluar dari kamarnya untuk sarapan. Erina menghampiri mamanya yang sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
"Aromanya sangat lezat. Mama masak apa?" Zeze duduk di dekat mamanya.
"Mama masak cumi asam manis kesukaan kamu." mama Erina masih sibuk dengan masakannya.
"Aku sudah nggak sabar mau sarapan. Udah lapar banget ma." Erina memegang perutnya yang keroncongan.
"Ini sudah matang. Kamu bangunkan Zeze dulu sana. Ajak dia sarapan bareng." mama Erina memindahkan masakannya ke piring.
__ADS_1
"Abaikan Zeze ma. Dia masih nyaman tidur. Mungkin tadi malam dia begadang main game ma." Erina menata meja makan.
"Kamu sarapan dulu aja kalau gitu." mama Erina mengambilkan nasi di piring Erina.
"Pagi." sapa papa Erina
"Pagi pa. Aroma makannya bikin papa semakin lapar." papa Erina duduk di meja makan.
"Ayo sarapan dulu." mama Erina mengambilkan nasi papa Erina
"Zeze kan kesini tadi malam? Kemana dia?" tanya papa Erina
"Zeze masih tidur pa." Erina memulai makan makanannya.
"Nanti kalian mau kemana?" papa Erina mengambil lauknya.
"Kita nanti mau pergi ke mall pa. Papa mau nggak nganterin ke mall?" ucap Erina manja.
"Iya nanti papa anterin tapi nanti pulang sendiri yah? Kenapa nggak pergi sama Bayu? Katanya mau dapetin hati kamu tapi kok nggak nongol batang hidungnya." papa Erina memakan sarapannya.
"Pagi." sapa Zeze yang baru bangun dari mimpinya.
"Ayo sarapan dulu." mama Erina mengambilkan piring untuk Zeze.
"Jorok banget sih bangun tidur nggak mandi dulu tapi langsung sarapan. Liatin itu masih ada pulau di muka kamu." Erina menunjuk kearah pulau yang ada di muka Zeze.
"Nggak papa nak. Makan dulu aja baru mandi." mama Erina duduk di kursi makan.
"Erina itu bawelnya kayak mamaku. Mama kamu aja pengertian. Tante tukar sama mamaku aja. Mamaku bawelnya minta ampun." Zeze mulai memakan makanannya.
"Enak aja! Mamaku itu tak bisa digantikan siapa pun." Erina memeluk mamanya.
Sarapan pun dengan suasana yang bahagia. Sesekali pertengkaran Erina dan Zeze membuat suasana semakin ramai. Setelah sarapan mereka melakukan kegiatan mereka masing-masing. Papa Erina sibuk mrmbaca koran di teras rumahnya. Mama Erina menyiram taman di depan rumahnya. Erina duduk di pinggiran kolam renang. Zeze main game di dekat kolam renang. Tiba-tiba mereka terkejut dengan kedatangan Bayu.
"Pagi sayang." suara Bayu mengejutkan Erina dan Zeze.
__ADS_1
"Kamu kok ada disini?" tanya Erina terkejut.
"Kok bisa masuk sih?" Zeze melotot ke arah Bayu.
"Aku mau ngajak kamu jalan sayang. Aku tadi di suruh mama papa kamu langsung masuk kesini." Bayu menghampiri Erina.
"Aku nanti ada janji ke mall sama Zeze. Kasian kan dia kalau aku tinggalin di rumah." tolak Erina lembut.
"Zeze ikut sekalian aja. Aku nggak keberatan kok kalau Zeze ikut. Nanti aku ngajak temen aku deh. Biar Zeze nggak jadi obat nyamuk kita." Bayu duduk di sebelah Erina.
"Kamu mau ikut apa nggak Ze?" tanya Erina
"Ya udah aku ikut. Tunggu in aku mau mandi dulu." Zeze beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu mau ngajak siapa sayang?" tanya Erina penasaran.
"Ngajak si Rio. Siapa tau mereka berjodoh kan seru bisa di ajak kencan bareng." Bayu memeluk Erina.
"Mudah-mudahan aja sayang cocok. Zeze biar nggak fokus sama game terus." Erina bermanja-manja di pelukan Bayu.
"Boleh cium kamu nggak?" Bayu membelai rambut Erina.
"Jangan nanti mama papa aku lihat gimana?" Erina memukul manja dada bidang Bayu.
"Nggak ada yang lihat sayang. Sedikit aja sayang." Bayu menaikkan dagu Erina
"Hmmm.." mereka berciuman di pinggiran kolam renang.
"Kamu ini." Erina melepaskan ciuman Bayu dan wajahnya merah seperti tomat.
"Nggak ada yang lihat kok." Bayu membelai kembali rambut Erina.
"Aku coba telpon Rio dulu yah." Bayu mengeluarkan ponselnya.
Bayu menghubungi Rio tapi tidak ada jawaban. Akhirnya Bayu memutuskan menghubungi Alfa. Alfa menjawab telpon dari Bayu. Bayu mengajak Alfa dan Alfa mau ikut jalan bareng mereka. Alfa dan Bayu janjian di mall yang akan di tuju. Zeze muncul setelah mandi dan berdandan. Mereka langsung berangkat ke mall. Mereka menempuh perjalanan 20 menit dari rumah Erina. Zeze merasa menjadi obat nyamuk di dalam mobil. Erina dan Bayu mengabaikan keberadaan Zeze yang duduk di belakang. Zeze mengeluarkan ponselnya dan main game. Zeze tidak mau memperhatikan mereka. Perilaku mereka membuat Zeze sedikit iri karena Zeze tidak mempunyai pacar yang bisa di ajak mesra-mesraan seperti mereka. Erina tersenyum melihat Zeze kesal duduk di belakang sendirian. Bayu melirik Erina yang menertawakan Zeze. Bayu ikut tersenyum melihat Erina tersenyum seperti itu.
__ADS_1