
Dua minggu setelah kejadian hari itu Fiona bangun dari tidurnya dan merasakan mual yang luar biasa. Ia bergegas turun dari tempat tidurnya dan berlari secepatnya ke dalam kamar mandi.
Setibanya di dalam ia langsung memuntahkan semua isi perutnya.
"hoek,,, hoek,,, hoek,,, Ada apa denganku dari kemarin aku merasakan mual yang luar biasa". Ucapnya pada pantulan dirinya di dalam cermin toilet.
Setelah merasa cukup lebih baik, ia memutuskan untuk keluar dari kamar mandi dan mengambil minyak angin yang ada di laci mejanya kemudian mengoleskannya ke beberapa bagian tubuhnya .lalu kemudian berjalan keluar kamar untuk mengisi perutnya karena dari kemarin dia tidak makan apapun.
Setibanya di dapur rasa mual itu kembali menghampirinya setelah mencium aroma bawang goreng yang dimasak oleh ibunya.
Ia langsung berlari ke wastafel dan kembali memuntahkan isi perutnya. "hoek,,, hoek,,, hoek,,,
sang ibu yang melihat putrinya terlihat pucat dan lemah segera menghampirinya dan memijat punggungnya untuk memberikan pertolongan pertama.
" Sepertinya kamu sedang sakit apa perlu Ibu antar ke klinik". Ucapnya pada sang anak yang terlihat begitu lemah dan pucat.
" tidak perlu ibu aku hanya masuk angin biasa, mungkin juga maagku sedang kambuh karena dari kemarin aku belum makan apapun".
Mendengar penuturan sang anak, sang ibu langsung menuntunnya ke meja makan dan memberinya semangkuk sup yang baru ia masak. Namun Fiona malah menolaknya sambil menutup hidungnya, karena dia tidak suka dengan aroma bawang goreng dari sup itu.
__ADS_1
Sang Ibu yang mulai curiga dengan tingkah Fiona memutuskan untuk membawanya ke klinik untuk memeriksakan dirinya.
"sebaiknya kamu segera sarapan nak, kita akan ke rumah sakit setelah kamu sarapan". ia lalu memberikan segelas susu dan roti untuknya dan Fiona mulai melahapnya....
Beberapa saat kemudian akhirnya mereka tiba di sebuah klinik yang tidak jauh dari rumahnya.
Sang ibu lalu membawanya masuk ke ruang pemeriksaan, lalu kemudian berbalik dan menunggu diluar. Beberapa menit kemudian dokter pun keluar menghampiri sang ibu sambil tersenyum dan berkata. " selamat ya Bu' sebentar lagi anda akan menjadi seorang nenek".
Bagai disambar petir, sang ibu luruh kelantai begitu saja setelah Mendengar penuturan sang dokter. Sejumlah tanda tanya bersarang dibenaknya.
Bagaimana mungkin anaknya yang selama ini tidak pernah dekat dengan pria manapun tiba tiba hamil di luar nikah Tanpa menunggu lama ia lalu bergegas masuk ke ruang rawat Fiona.
Melihat kedatangan sang Ibu Fiona langsung memberinya pertanyaan. "Dokter bilang apa Bu'. Sebenarnya Fio sakit apa? "
Mendengar pernyataan sang ibu, Fiona merasakan tenggorokannya tercekat. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada ibunya. Ia merasakan sakit dan hancur secara bersamaan.
Perlahan ia mengelus perutnya yang masih rata, dan kemudian berlari keluar meninggalkan sang ibu yang masih mematung ditempatnya.
Setelah berlari cukup lama, akhirnya Fiona sampai di sebuah gedung yang menjulang tinggi.
__ADS_1
Perlahan ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya dan mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung tersebut. Tujuannya saat itu hanyalah ia ingin menemui Nathan, karena dia berpikir Nathan lah yang telah membuatnya hamil.
Setibanya di lobby ia lansung menuju meja resepsionis dan bertanya. "Selamat siang kak di mana ruangan Pak Nathan".
" Siang Mba mohon maaf sebelumnya Anda siapa dan Ada perlu apa dengan Pak Nathan". Jawab sang resepsionis sambil tersenyum kearahnya.
"Saya Fiona Mbak Kak Saya temannya Nathan". Sang resepsionis lalu menyuruh Fiona naik ke lantai 12 dimana ruangan Nathan berada.
Ia mengumpulkan seluruh ke beraniannya dan perlahan mengetuk pintu. Mendengar ketukan pintu dari luar Nathan langsung menyuruhnya masuk. "Silahkan masuk".
Nathan yang tidak mengenal Fiona langsung melihat ke arahnya dan berkata, "Siapa kamu Ada perlu apa kamu kemari".
Tanpa berbasa-basi Fiona langsung menyodorkan surat keterangan dokter yang menyatakan Jika dia hamil dan sebuah jam tangan yang sengaja ia ambil saat makan masih tidur malam itu dan berkata " aku hamil anakmu, aku harap kamu tidak lupa dengan kejadian malam itu".
Nathan tampak frustasi, apa yang dikatakan Fiona ia langsung mengajak kasar rambutnya dan berjalan ke arah Fiona. "baiklah aku akan bertanggung jawab", ucapnya sambil menyodorkan kartu namanya. "Tolong hubungi saya kembali di nomor itu".
Tanpa mengatakan apapun Fiona langsung pergi meninggalkan ruangannya. Setidaknya ia sudah menemukan jalan keluar dari masalahnya. Meski ia sendiri tidak yakin jika Nathanlah yang telah membuatnya hamil...
.
__ADS_1
.
.