
Ku scroll kembali isi pesan itu, untuk membacanya dari atas.
Berkali-kali aku beristighfar, membaca percakapan mereka.
Dari hasil aku membaca pesan-pesan itu, bisa aku simpulkan, jika perempuan yang bernama Dinda itu, bekerja di kantor percetakan milik suamiku, sebagai kasir.
Wanita murahan itu bahkan beberapa kali mengirimkan foto vulgar nya ke nomor suamiku, mereka juga sudah tak canggung lagi, saling memanggil sayang.
Dan yang paling membuatku sakit hati, ternyata mobilku, yang kata mas Danur akan dijual untuk mengembangkan usahanya, ternyata akan diberikan kepada wanita murahan itu.
Hatiku begitu sakit dengan pengkhianatan ini, setelah semua yang aku lakukan untuk mas Danur, nyatanya pengorbanan ku, seakan tak ada artinya.
Aku baca lagi pesan-pesan itu, kemudian aku screenshot dan aku kirimkan ke nomor ponselku sendiri.
"Baiklah Mas, memang selama ini aku begitu mencintaimu, tapi cinta tulusku ini hanya berlaku bagi seorang suami yang setia.
Setelah melihat ini semua, tak kan aku biarkan lagi, kau terus menginjak harga diriku" dengan nafas tersengal, aku hapus semua pesan yang aku kirim kan tadi, supaya mas Danur tak curiga.
Segera ku hapus air mataku ini, cukup sudah aku menjadi budak cintanya selama ini, akan aku tunjukkan sisi diriku yang lain, pada suamiku itu.
__ADS_1
Setelah selesai menghapus semua jejak tadi, aku kembalikan ponsel itu pada tempatnya, karena aku sangat yakin, setelah ini, mas Danur pasti akan mencari ponselnya.
Sesuai dugaanku, suara mobil terdengar berhenti di halaman rumah.
Aku segera berpura-pura tidur, supaya mas Danur tak curiga.
Segera terdengar langkah tergesa dari suamiku itu, dengan perlahan, dia membuka pintu kamar, dan mencari ponselnya.
Setelah menemukan apa yang dia cari, mas Danur terdengar keluar lagi, dan terdengar bercakap dengan mbok Kasih, pembantuku, untuk mengunci pintu depan.
Setelah memastikan mas Danur benar-benar pergi, aku segera menggeledah, tempat penyimpanan berkas-berkas penting kami.
Setelah menemukan yang aku mau, lagi-lagi aku dibuat shock, dengan ulah mas Danur.
Surat-surat tanah milikku, dan juga percetakan yang dulu atas namaku, kini sudah beralih semua, menjadi atas namanya.
Bahkan surat-surat ini pun, tidak aku temukan di tempat biasanya.
Aku menemukan nya, di tumpukan file-file pekerjaannya, yang sengaja dia tumpuk, di bawah meja kerjanya.
__ADS_1
'Kurang aj** kamu Mas, ternyata sudah sejauh ini kamu melangkah. Untung lah Allah masih sangat menyayangiku, sehingga semua bisa terkuak, sebelum anak ini lahir' batinku geram, sekaligus bersyukur, karena aku cepat mengetahui nya.
Kupandangi surat-surat itu, aku sungguh masih tak habis pikir dengan suamiku itu, selama ini sikapnya sangat baik kepadaku.
Dia begitu manis, dan memanjakan ku, sehingga membuatku selalu terlena padanya.
Tapi kenapa bisa, dia menjadi berubah seperti ini?? Bahkan dalam pesan yang aku baca dengan kekasihnya itu, dia berkata, akan segera menceraikan ku, begitu anak yang aku kandung ini lahir.
Pantas saja Ayah dan Ibu, dulu begitu menentang pernikahan kami.
Mungkin mereka sudah mendapatkan feeling yang tidak baik, tentang suamiku itu.
'Ayo Anita, kamu harus bergerak cepat sekarang, jangan lagi mau, dibodohi oleh mereka'
Aku terus menyemangati diriku sendiri, agar tak merasa lemah, dengan pegkhianatan ini.
Segera aku amankan saja surat-surat berharga ini, sebelum nanti, akan aku urus kembali, untuk balik namanya menjadi namaku lagi.
Sekarang satu lagi tugasku untuk masalah ini, akan aku cari tahu dulu, siapa sebenarnya perempuan yang telah menjadi kekasih gelap suamiku itu....
__ADS_1
Belum tahu dia rupanya, dengan siapa dia akan berhadapan setelah ini.