NEKAT TABRAK MOBIL SUAMI, SAAT BERGOYANG

NEKAT TABRAK MOBIL SUAMI, SAAT BERGOYANG
Bab 3


__ADS_3

Tak ingin berbuat gegabah, aku segera menghubungi Kakak perempuanku satu-satunya,  yang tinggal masih satu kota dengan ku. Aku merupakan anak ke tiga, mempunyai seorang kakak laki-laki dan perempuan.


Mbak Niken kakakku itu merupakan anak tertua di keluarga kami, dia berprofesi sebagai dokter anastesi, yang bertugas di rumah sakit swasta terbesar di kota ini.


Semenjak kecil, aku selalu meminta pendapat kakakku itu, karena pemikirannya yang bijak dan juga tidak grusa-grusu.


"Ada apa Nit, tumben masih pagi begini sudah telpon kakak" sapanya, dengan suara nya yang selalu ceria.


Sifatku yang sedikit kekanakan dan manja, begitu mendengar suara kakakku itu, aku justru tak dapat lagi menahan isak tangisku, sehingga membuat Kak Niken terkejut, dan khawatir.


"Anita, hei ada apa?? Kenapa kamu menangis?" tanya Kak Niken khawatir.


"Apakah kamu sedang sakit?? Danur mana?" tanyanya lagi.


Setelah tangisku sedikit reda, aku kemudian menceritakan kepadanya, tentang apa yang sedang aku alami.


Setelah mendengar ceritaku, tak kata yang keluar darinya, aku hanya mendengar hembusan nafasnya, yang terdengar kasar.


"Sudah Kakak duga. Dulu ketika Ayah dan Ibu menentang hubunganmu dengan Danur, itu bukan tanpa alasan dek" ucap kak Niken.


"Tapi melihatmu yang tak dapat lagi di belokkan atas keinginanmu itu, akhirnya Ayah dan Ibu terpaksa merestui kalian" ucap kak Niken, dengan suara beratnya.


"Kamu tahu? Keluarga Danur itu, terkenal suka memanfaatkan orang lain, mulai dari Ayahnya, ibunya, sampai Kakak-kakaknya, semuanya seperti itu.


Dan sekarang kamu telah menjadi korbannya juga" ucap kak Niken lagi.

__ADS_1


"Terus aku musti gimana Kak, kenapa kalian tidak bilang, dulu?" jujur saja, aku jadi begitu menyesal, setelah mendengar cerita kakakku itu.


"Hahaha,  tidak bilang katanya, mulut kami itu dulu sampai berbusa, yang menasehati, tapi kamunya aja yang sudah tertutup mata hati, dan telinganya" ejek Kak Niken tertawa.


Mendengar tawa kak Niken, aku jadi semakin kesal.


"Terus sekarang aku harus bagaimana donk kak??" rajukku kesal.


"Setelah ini Kakak, kesana. Ingat, jangan berbuat bodoh!" seru Kak Niken, kemudian segera mematikan ponselnya. 


Setelah mencerita kan semuanya kepada orang yang tepat, hatiku terasa lebih lega.


Sambil menunggu kedatangan Kak Niken,  aku tiduran dikamar, sambil iseng melihat status orang-orang yang tersimpan di kontak.


Tiba-tiba saja mataku melihat sebuah video, dari status Rio salah satu karyawan percetakan suamiku.


Caption yang tertulis dari status itu, "Alhamdulillah dapat tumpangan gratis dari pak bos dan calon bu bos" begitu tulisnya.


"Kurang aj**, bisa-bisanya, mas Danur menunjukkan perselingkuhannya, dengan santai seperti itu, pada bawahannya.


Dan kenapa Rio seolah biasa saja, melihat suamiku, begitu mesra pada perempuan itu??" gumamku, semakin penasaran dengan semua ini.


Tak mau semakin stress, aku pun mematikan ponsel, dan merebahkan tubuh, sambil menunggu kedatangan kak Niken.


Jarak dua jam kemudian, Kak Niken datang.

__ADS_1


Aku segera memeluk Kakakku itu.


"Udah, jangan nangis lagi, ayo kita beri pelajaran, pada suamimu itu" ucap Kak Niken, mengusap punggungku.


"Mana Kopermu, ayo Kakak bantu membereskan semua barang-barang kamu" ucap Kak Niken, memasuki kamarku.


"Surat-surat penting bawa semua dek, termasuk buku nikah kalian, supaya kamu nanti mudah, untuk mengajukan proses perceraian" ucap Kak Niken, membuat hatiku berdenyut, ketika mendengar kata cerai.


Karena jujur saja, aku tak ingin rumah tangga ku hancur seperti ini.


Setelah semua masuk ke dalam koper, Kak Niken kembali memastikan.


"Perasaan dari tadi, Kakak gak liat kamu memasukkan perhiasan-perhiasan kamu deh!" Kak Niken memandangku.


"Emm, itu Kak, aku sudah tidak punya perhiasan" jawabku jujur.


"Kok bisa!!?" seru Kak Niken tak percaya. 


"Perhiasan kamu kan dulu banyak dek!!" serunya lagi.


Dengan sedikit takut, aku katakan pada kakakku itu,  kalau selama ini, perhiasanku, selalu di pinjam oleh Mas Danur, dengan alasan yang sama,  ingin membesarkan usaha, dan bodohnya, aku selalu percaya itu.


"Ya Allah dek" ucap Kak Niken, menatapku iba.


"Terkadang, bodoh dan bucin itu, memang tak bisa dilepaskan, satu sama lainnya" ejeknya sambil tertawa prihatin.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum kecut, mendengar ejekan kakakku itu.


BERSAMBUNG 


__ADS_2