NEKAT TABRAK MOBIL SUAMI, SAAT BERGOYANG

NEKAT TABRAK MOBIL SUAMI, SAAT BERGOYANG
Bab 8


__ADS_3

"Dek, Mamah nanyain kamu nih, lagi bareng sama Kakak atau enggak" seru Niken kepada sang adik, yang sddang tiduran di kamarnya.


"Terserah Kakak deh, mau jawab apa, aku lagi males nyalain ponsel" jawab Anita, masih berbaring sambil mengelus perutnya.


"Ya udah, Kakak bilang aja ke Mama ya! takut Mama Papa khawatir sama kondisi kamu" putus Niken akhirnya. 


'Ya Allah, kok tiba-tiba pengen makan rujak gini ya' gumam Anita, terlihat gelisah di tempat tidurnya.


Di pikirannya sekarang sedang terbayang rujak buah yang begitu segar, sampai-sampai membuat liurnya ingin menetes. 


Anita segera beranjak dari kamarnya, menuju dapur sang kakak.


"Kak, gak ada buah mangga nya ya, yang madih muda" ucap Anita, kepada sang Kakak, yang tengah memeriksa ponselnya. 


"Ya gak ada lah dek, buat apa coba, Kakak simpan mangga muda" jawab Niken terkekeh. 


"Uhh, aku pengen banget makan rujak kak" ucap Anita terlihat kecewa.


"Malem-malem gini??" tanya Niken terheran-heran. 


Niken yang sudah 5 tahun menikah, tapi belum juga di karuniai anak itu,  tampak terheran-heran pada adiknya itu.


Anita mengangguk dengan wajah memelas.


"Ya ampun,  Bang Vino lagi di jerman kayak gini, mbak mana berani keluar malem-malem kayak gini dek" ucap Niken terlihat bingung.


"Emangnya pengwn banget ya?" tanya Niken lagi.


"Iyaa" jawab Anita, kemudian duduk di dekat kakaknya. 


"Coba kakak lihat gofood dulu, siapa tahu ada" ucap Niken, kemudian mencari makanan yang di idamkan adiknya itu, melalui ponselnya. 


"Yah, gak ada dek" ucap Niken, setelah beberapa lama, memantau ponselnya itu.


"Ditunda besok bisa gak ya?" tanya Niken menatap wajah adiknya itu.


"Pengennya sekarang" jawab Anita memberengut. 


"Kakak coba tanya teman-teman kakak dulu di grup yaa" ujar Niken, merasa tak tega pada sang adik.


Niken segera menulis di grup sesama dokternya itu, untuk bertanya, adakah yang tahu, dimana beli rujak malam-malam begini.

__ADS_1


Tak lama beberapa temannya itu menyahut.


"Ngidam ya Non!!" 


"Wahh, ada yang ngidam nih..!"


"Niken, selamat yaa, akhirnya.. " 


Teman-teman nya malah menafsirkan lain, tentang pertanyaan nya.


"Bukan gue, tapi si Anita nih, malem-malem ngiler, sama rujak" tulis Niken.


"Wah, si Anita sudah hamil??, salam buat dia dong, selamat atas kehamilannya" tulis Dea, salah satu temannya, dan masih banyak lagi yang mengucapkan selamat. 


Hingga kemudian, ada pesan masuk jalur pribadi dari dokter Andrew, yang bersedia mencarikan Anita rujak.


Niken segera berterimakasih, pada teman sejawatnya itu, yang kebetulan malam ini sedang free, tak bertugas.


Dokter Andrew merupakan teman Niken di rumah sakit, dokter spesialis obgyn atau kandungan itu, memang ramah dan ringan tangan pada teman-teman nya.


"Nih, dokter Andrew lagi nyariin" seru Niken, memberitahu adiknya yang terlihat meruncingkan bibirnya, sambil mengelus perutnya itu.


"Dokter Andrew ??" tanya Anita tampak tak percaya. 


Anita sangat ingat dengan dokter berkacamata, dan terkenal dingin itu.


Sampai-sampai, dia dijuluki kulkas berjalan, sangking dinginnya.


Wajahnya memang tampan, karena masih ada darah keturunan Jerman, sehingga wajahnya begitu tampan. 


Sayang beribu sayang, lelaki itu sampai sekarang masih saja betah menyendiri, dengan status jomblonya.


"Kok dia mau sih Kak, padahal dia kan orangnya dingin banget, mana jarang senyum lagi" ucap Anita penasaran.


"Huss, lagi bunting jugak!!" peringat Niken pada sang adik.


Anita hanya nyengir, menanggapinya. 


"Walaupun dingin kayak gitu, tapi cuma dokter Andrew yang selalu bersedia membantu teman-teman nya yang membutuhkan pertolongan mendadak. 


Orangnya Juga aslinya sangat ramah, Kakak tahu itu, karena dulu sempat nemenin Mas Vino dulu, waktu bakti sosial di Kalimantan, bareng dokter Andrew juga" ucap Niken, membela temannya itu.

__ADS_1


"Memangnya dia belum nikah ya Kak?" tanya Anita penasaran.


"Belum, kenapa..kamu mau sama dia??" tanya Niken, menggoda adiknya. 


"Iiih, siapa jugak!" seru Anita kesal.


Tak lama, bel pagar rumah Niken berbunyi, Niken segera menyuruh satpamnya, untuk mempersilakan dokter Andrew untuk masuk. 


Pria berkaca mata,  dengan rambut nya yang sedikit gondrong itu, terlihat sangat tampan, mengenakan jaket berwarna coklat, dan celana jeans nya.


Sama sekali tak terlihat seperti seorang dokter.


"Silahkan duduk dokter!" ucap Niken, kemudian duduk bersama di ruang tamu, bersama Anita juga.


"Ini rujaknya" ucap dokter Andrew mengangsurkan dua box rujak ke meja.


"Kok dua dokter?" tanya Niken, kemudian menyerahkan rujak itu pada sang adik, yang terlihat sudah tak sabar untuk menyantapnya. 


"Takutnya dokter Niken juga ngidam" jawab dokter Andrew, dengan raut wajah datar.


"Amiin" jawab Niken terkekeh.


"Woww, perlahan saja makannya Non!!" seru Niken yang melihat adiknya itu makan dengan sangat lahap, sampai menjilati jari-jari tangannya, yang terkena bumbu rujak. 


Dokter Andrew tampak tersenyum samar, melihat tingkah Anita.


"Dokter Andrew mau?" tanya Anita, terlihat malu, karena di perhatikan oleh dokter Andrew.


"Tidak, buat kamu saja, saya tidak suka rujak" jawab dokter Andrew. 


"Ya sudah, ini sudah malam, saya pamit dulu" Ucapnya kemudian berdiri, untuk keluar. 


"Eeh, tunggu dokter, ini semua berapa ya?" tanya Niken merasa tak enak.


"Tidak usah, itu spesial buat ibu hamil" jawab dokter Andrew, kemudian keluar. 


"Terimakasih ya dok" ucap Anita, dan Niken bersamaan. 


"Ckk, masih dingin aja ternyata, aku pikir dia sudah berubah" decak Anita, kemudian melanjutkan makan rujaknya.


"Biasanya pria dingin kayak gitu, justru malah setia, gak kayak laki lo noh!!" ucap Niken mencibir.

__ADS_1


Bersambung 


__ADS_2