
Namaku Dinda, lebih lengkapnya Dinda Maharani. Aku anak tertua dari lima bersaudara.
Sebelumnya aku bekerja sebagai penjaga toko di sebuah minimarket, namun karena adanya pandemi, mini market tempat ku bekerja, melakukan pemangkasan karyawan, karena pembatasan jam operasi toko.
Aku termasuk salah satu dari sekian orang yang di PHK tanpa pesangon.
Sebagai anak tertua, aku mempunyai kewajiban untuk membantu kedua orangtuaku, memenuhi kebutuhan sehari-sehari, termasuk biaya sekolah adik-adikku.
Setelah di pecat dari minimarket, setiap hari, aku berusaha mencari kerja, namun di situasi seperti sekarang ini, mencari lowongan kerja menjadi hal yang amat sulit.
Hingga suatu hari, karena berjalan sambil melamun, aku hampir tertabrak mobil, saat hendak menyeberang.
Untung saja tidak sampai tertabrak dan hanya mengakibatkan sedikit luka di lutut dan siku tanganku. Saat aku berusaha bangun, sesosok lelaki tampan keluar dari mobil pajero putih yang dia naiki.
Aku sungguh terkesima dengan ketampanan lelaki itu, yang kemudian berusaha membantuku untuk berdiri.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya dengan wajah yang sangat cemas.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja" ucapnya lagi.
Aku hanya mampu meringis, menahan sakit di lutut dan sikuku yang berdarah.
"Ya ampun, kamu berdarah!" serunya cemas.
Lelaki yang belum aku ketahui namanya itu, segera membopongku, dan memasukkan ku ke mobilnya.
__ADS_1
Tanpa mengucap sepatah kata pun, dia segera membawaku ke poli klinik terdekat.
Disitulah akhirnya kami berkenalan.
Pria tampan yang mengaku bernama Danur itu, tampak sangat prihatin, saat mendengar curhatanku, yang sedang susah payah mencari kerja.
"Bagaimana kalau dek Dinda kerja di tempat Mas saja?" ucapnya, langsung memanggilku dek, karena usiaku yang baru 19 tahun.
"Memangnya kerja apa Mas? saya hanya punya ijazah SMA" jawabku, dengan hati yang sangat senang, karena akan mendapatkan pekerjaan.
"Mas punya sebuah percetakan, kalau dek Dinda mau, nanti biar Mas taruh kamu di posisi kasir, gimana?" tanyanya dengan memamerkan senyumnya yang terlihat sangat manis, membuat hatiku berdebar saat melihatnya.
Aku pun seketika mengangguk, kapan lagi coba, mendapatkan tawaran menarik seperti ini, mana bos nya cakepnya gak ketulungan kayak gini.
"Ya sudah, biar Mas antar kamu pulang ya? Kalau kamu sudah merasa baikan, langsung telpon Mas saja, biar Mas jemput" ucapnya lagi.
Lelaki yang baru berusia 30 tahun itu, sangat perhatian kepadaku.
Tak jarang Mas Danur mengajakku makan keluar, atau shopping.
Setiap kali aku bilang jangan repot-repot, Mas Danur selalu menjawab "Gak ada yang repot, untuk gadis secantik kamu, jalan bareng sama kamu itu, kayak lagi jalan bareng ma Nikita Willy, tau gak sih?" ucapnya terkekeh.
Mendengar itu, aku menjadi semakin tersanjung.
Memang banyak orang yang bilang, kalau wajahku 11 12 dengan artis papan atas itu.
__ADS_1
Pekerjaan ku sebagai seorang kasir, tak terlalu melelahkan, karena aku hanya disuruh menjaga kasir, dan mencatat seluruh pemasukan dan pengeluaran.
Di tempat kerja, Mas Danur tak segan menunjukkan perhatian nya kepadaku, sehinggga teman-teman yang lain, mulai segan kepadaku.
Hingga pada pagi itu, aku melihat Mas Danur di antar menggunakan mobil berwarna merah hati yang terlihat sangat cantik, setelah mengantar Mas Danurku, wanita itu juga keluar, dan mencium pipi Mas Danur dengan sangat mesra, membuatku hatiku panas dan cemburu.
Setelah perempuan itu pergi, aku segera mendatangi mas Danur, dan mencecarnya dengan berbagai macam pertanyaan, seputar wanita tadi.
Duniaku bagaikan hendak runtuh, saat Mas Danur mengaku, bahwa perempuan tadi adalah istrinya.
Seketika aku langsung berlari meninggalkan mas Danur sambil menangis.
Melihatku menangis, dan pergi meninggalkannya, mas Danur segera mengejarku, dan memanggilku.
"Dinda!! Tunggu, aku bisa jelaskan situasi ini" ucapnya menarik tanganku.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan Mas!! Kamu sudah membohongiku, lalu apa maksud kamu selama ini, selalu bersikap manis dan memberiku harapan?? Kalau ternyata semuanya palsu!!!" teriakku sangat marah kala itu.
Mas Danur segera memelukku dengan erat, dan membawaku ke ruangan nya.
Di ruangan itu mas Danur menjelaskan, bahwa dia sebentar lagi akan berpisah dari istrinya itu.
Dia terus saja merayuku, kemudian mengecup bibir ini untuk yang pertama kalinya......
Meyakinkanku, untuk percaya dengan semua ucapan nya, bahwa dia sangat mencintaiku.
__ADS_1
Bersambung